Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Permohonan


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan oleh Bu Maharani, ia akan menemani Arhan ke rumah Berlian untuk melihat anaknya. Jujur saja, ia juga sudah yak sabar untuk bertemu dengan cucunya itu.


Sekitar tiga puluh menit, mareka sampai di pekarangan rumah Berlian. Rumah tua yang jauh dari kata bagus, apalagi jika dibandingkan dengan rumahnya.


Bu Maharani tak pernah ke sini. Seingatnya ia hanya sekali datang ke rumah Berlian, melamar Berlian secara resmi, namun ia tak pernah menyukai hari itu.


"Ma! Mama liat kan? Itu jemuran ada baju bayi ." Arhan menunjuk ada jemuran yang seperti biasa, nangkring di samping rumah. Jelas! Setiap harinya Berlian mencuci pakaian, tidak ada jasa ART di rumahnya.


"Iya."


"Ayo Ma?" Ajak Arhan, ia turun terlebih dahulu. Sedangkan Bu Maharani mengikutinya dari belakang memasuki pekarangan rumah Berlian.


Bu Maharani memindai keadaan di rumah Berlian, meskipun rumahnya kurang bagus, tapi ini termasuk rumah yang bersih. Ada beberapa jenis bunga di halaman rumah itu, membuat kesan asri siapa pun yang memandangnya.


Arhan mengetuk pintu dan memberi salam. Tak lama setelahnya seorang membuka pintu, anak gadis yang cukuo cantik dengan kulit putih dan rambut panjang lurusnya, ia mirip sekali dengan Berlian. Nautiya.


Jangab tanya bagaimana raut wajah gadia itu. Tahu Arhan yang datang, ia memasang tampang kesal, membuang muka malas seolah berkata 'kamu lagi, kamu lagi'.


Bu Maharani memberikan senyum untuk Nautiya, setidaknya ia harus bersikap layaknya tamu. Namun ia tak mendapatkan balasan dari gadis itu.


"Masuk!"


Bu Maharani dan juga Arhan segera masuk, dan langsung duduk di sofa yang memang dekat dengan pintu. Bu Maharani mengabsen setiap sudut dari rumah Berlian, ia tak pernah datang ke sini, karna dulu memang ia tak pernah menyukai Berlian.


"Bu, ada Mas Arhan sama mamanya." Kata Tiya menghampiri Bu Rahma.


"Di mana?"


"Di ruangan."


"Kamu bikin minum dulu ya? Ibu samperin dulu."

__ADS_1


Bu Rahma langsung menemui mantan besannya dulu, beaan yang membuat anak perempuannya kehilangan masa depan pernikahannya. Haruskah ia mengingat hal buruk itu?


"Eh..., Bu Maharani." Sapa Bu Rahma. Bagaimana pun juga ia harus tetap beraikap baik dan sopan terhadap tamu. Bukankah ada slogan 'tamu adalah raja'? Anggap saja sekarang begitu.


"Iya." Jawan Bu Maharani canggung. Jelas canggung, ia jarang berinteraksi dengab kelurga Berlian.


"Sehat?"


"Alhamdulillah."


Nautiya muncuk dengan nampan yang ia bawa, ia meletakkannya dengan tergesa lalu ikut duduk di samoing ibunya. Nautiya juga penasaran hal apa lagi yang direncanakan Arhan, hingga ia membawa mamanya kemari.


"Kami ke sini, ingin bertemu Berlian." Kata Bu Maharani dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Sudah ku duga." Sahut Nautiya kesal.


"Bisa kan ketemu Berlian sebentar?"


"Ti..., jangan begitu." Bisik Bu Rahma pada anak gadisnya, ia tak enakan melihat Nautiya yang jurang sopan.


"Saya ingin melihat cucu saya." Ujar Bu Maharani tanpa malu.


"Di mana cucu ibu?"


"Tiya!" Arhan tak suka Nautiya bersikap tak sooan pada Mamanya. Kemarin padanya ia tak sopan menurutnya tak apa, tapi jangan ada mamanya.


"Mas Arhan ini gak ada kapok-kapoknya ya? Sudah berkali-kali kami bilang, kak Berlian gak ada, kalau pun ada, dia gak akan mau ketemu sama Mas Arhan."


"Kami berhak bertemu dia." Pungkas Bu Maharani.


"Emangnya ibu siapa merasa berhak?"

__ADS_1


"Saya punya hak melihat cucu saya sendiri."


"Kenapa baru sekarang?"


"Ini bukan kesalahan kami, Berlian sama sekali tidak pernah mengatakan yang sejujurnya."


"Ibu datang-datang mau nyalahin kaka Lian?" Nautiya berdecak kesal, "Ibu masih sadar kan?"


"Tiya..." Bu Rahma menegur Nautiya yang terlalu keblablasan.


"Ibu diam! Mareka udah semena-mena sama kita Bu, terutama Kak Lian. Setelah membuang Kak Lian, mareka datang dan meyalahkan Kak Lian, aku gak terima!" Teriak Nautiya marah.


"Tiya, bukan begitu maksud-"


"Ah..., ibu dan anak sama saja." Potong Nautiya. "Pergilah. Jangan datang lagi ke sini."


Setelah kalimat pengusirannya secara tidak hormat, Nautiya bangkit hendak meninggalkan ruangan yang membuatnya emosi. Tak di sangka Bu Maharani ikut bangkit lalu bersujud memeluk kaki Nautiya, sontak Nautiya kaget dengan perlakuan itu.


"Kalau saya salah, saya minta maaf. Tapi izinkan saya bertemu Berlian." Bu Maharani memohon.


Arhan kaget melihat Mamanya bertindak sejauh ini, ini tak ada dalam bayangannya.


"Ma!"


Arhan bangkit menghampiri mamanya. Ia memegang bahunya mengajak mamanya untuk bangun, tapi Bu Maharani menolak.


"Ma..., bangun, jangan begini."


"Mungkin inu satu-satunya cara Mama bisa menebus kesalahan Mama."


"Maaf! Tapi saya sama sekali tidak luluh. Anggao saja hati saya sekeras batu." Setelahnya Nautiya menarik kakinya dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2