Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Pertunangan Arhan dan Kelahiran


__ADS_3

Arhan bersama keluarganya mulai memasuki hotel, tepatnya memasuki tempat acara. Semua mata tertuju pada Arhan, Arhan adalah pusat perhatian hari ini.


Mengapa begitu? Karna hari ini Arhan akan melamar seorang gadis konglomerat, anak seorang pengusaha kaya raya yang bergerak di berbagai lini bisnis, asuransi, keuangan hingga agrobisnis.


Angel, yaitu anak dari ibu gretha moranatha dan Bapak Jaulin Amar. Ia adalah putri satu-satunya mareka.


Arhan dan keluarganya di sambut oleh keluarga Angel. Tak lupa sesrahan yang dibawa keluarga Arhan untuk Angel. Arhan nampak tampan dengan kemeja batik berwarna biru karya designer terkenal negeri ini. Arhan menyalami kedua orang tua Angel, begitu pula orang tua mareka saling bertukar sapa dan menyerahkan seserahan.


Arhan duduk di kubu sebelah kiri bersama keluarga besarnya, dan yang kubu kanan ada Angel juga bersama keluarga besarnya.


Angel pun tak kalah cantik dengan balutan kebaya warna biru, dan rok batik yang menambah kesan anggunnya.


Acara dibuka oleh seorang MC, tak tanggung-tanggung, hanya untuk MC, Angel menggunakan jasa artis besar.


Setelah MC menyampaikan beberapa patah kata, akhirnya Arhan dipanggil untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Setelah Arhan bangun ia mengambil mic pada MC lalu berdiri di atas tempat yang sudah di dekorasi.


Kemudian MC memanggik Angel, dan Angel megambil mic lalu berdiri menghadap Arhan dengan jarak tiga meter.


"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh?"


"Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh." Jawab para tamu serentak.


"Hari ini saya datang membawa keluarga besar saya, saya ingin menyampaikan makaud dan tujuan saya kepada Angel juga kedua orang tuanya." Arhan mulai melakukan tahapan acara lamaran layaknya orang kaya sekarang.


"Di hadapan orang tua, keluarga, teman dan sahabat saya semuanya, saya Arhan Pratama ingin meminta kepada Angel Moranatha Amar, maukah kamu menjalani hidup bersamaku melalui hari-hari bersamaku?"


"Terimakasih untuk Arhan Pratama yanh sudah menunjukkan keseriusan kamu kepada ku. Di sini, di depan orang tua, keluarga, dan semuanya kamu sudah memintaku untuk menjadi bagian hidup kamu, dan jawabanku adalah...., Iya! Aku bersedia."


Diiringin tepuk tangan riuh dari semua yang hadir di sana.


Kemudian Arhan dan Angel memangkas jarak di antara mareka. Kini tak ada lagi jarak di antara mareka. Arhan memgambil sebuah cincin dan menyematkan di jara manis Angel. Angel juga melakukan hal sama, menyematkan cincin pada jari manis Arhan. Mareka resmi bertunangan. Tak lupa fotografer yang mengabadikan momen indah mareka.


Tapi tak ada yang tahu. Jauh dalam hati Arhan, ia memanggil Berlian. Ia tak melakukan ritual mewah ini saat melamar Berlian. Ia datang melamar Berlian dengan sederhana, juga menikah dengan sederhana, tak ada kemewahan seperti sekarang ini.


"Berlian, Aku merindukan kesederhanaan bersamamu."

__ADS_1


Rasanya untuk apa dekorasi mewah di hotel seperti ini? Sedangkan ia bersandiwara akan isi hatinya di depan semua orang yang ada di sini.


...****************...


Sebuah artikel membicarakan tentang seorang anak konglomerat yang bertunangan dengan seorang pengusaha, mareka di gadang-gadang sebagai perfect couple tahun ini.


Belum lagi artikel yang menyatakan bagaimana mewahnya acara pertunangan marrka.


Berlian melihat dan membaca semuanya. Sakit? Tentu saja. Memang ada yang tidak merasa sakit hati? Di saat Berlian mendekati hari kelahiran, Arhan malah memamerkan tunangan barunya.


"Mas Arhan, bahagia sekali kamu Mas! Kamu bersenang-senanh di atas penderitaanku Mas!" Berlian mengusap perutnya yang membesar, sedangkan air mata terua membanjiri pipinya.


Padahal belum setahun mareka bercerai, tapi Arhan sudah menggandeng wanita lain.


"Tidakkah kamu mengingatku Mas?"


...****************...


Semua panik. Berlian langsung dilarikan ke klinik terdekat. Sepertinya Berlian akan segera melahirkan. Ia kontraksi sudah dari semalam.


"Haus gak?" Tanya Cakra sembari mengelap keringat yang keluar dari kening Berlian.


Berlian memgangguk lemah. Cakra membantu Berlian untuk minum, kemudian ia berbisik.


"Ayo Lian, kamu harus semangat, kamu bisa!"


Akhirnya setelah pembukaan besar dan kepala bayi sudah mendekati keluar, otot panggul semakin mendorong bayi melalui ******, di sini rasa sakitnya bukan main, ingin rasanya Berlian berteriak keras.


"Mas, sakit sekali." Rengek Berlian.


Cakra mengerti bagaimana perasaan Berlian saat ini, ia menggenggam tangan Berlian erat, dam membisikkan kata-kata semangat kepada Berlian, dan entah dorongan dari mana ia mengecup kening Berlian penuh cinta. Berlian tak sempat protes atau melakukan hal lainnya. Justru kecupan Cakra membuatnya semakin semangat. Cakra seperti mencharge energinya yang habis.


"Ayo nak di dorong lebih kuat lagi." Bu Rahma yang berada di sisi kiri ikut menyemangati.


Akhirnya...

__ADS_1


"Bayinya laki-laki ya Bu." Bidan berujar setelah memotong tali pusar.


Berlian menangis mendengar tangisan anaknya, ia bahagia. Cakra juga ikut bahagia dan tersenyum penuh bangga pada Berlian.


"Kamu hebat Lian." Ujar Cakra sembari mengusap kening Berlian.


"Terimakasih Mas selalu ada."


Kini Bayi mungil itu ada pada Berlian, ia sedang memberikan asi pertamanya kepada sang bayi. Berlian membelai tangannya yang kecil, benar-benar kecil dan lembut.


"Anak siapa ini tamoan sekali?" Cakra seolah bertanya pada bayi, dan respon dari Berlian adalah senyum bahagia.


"Namanya Li?" Tanya Cakra pada Berlian.


"Arsy Mas!" Berlian memang sudah mempersiap nama jauh-jauh hari.


"Bagus. Tapi cuma Arsy doang?"


Berlian sedikit beepikir.


"Arsy sulaiman."


Cakra membelalakkan matanya, Arsy sualaiman? Sulaiman adalah nama belakangnya. Ia merasa ikut andil dalam nama anaknya Berlian.


"Serius? Sulaiman nama belakang aku loh!"


"Justru itu Mas! Kamu selalu ada, aku yakin dia akan salah paham dengan kehadiranmu nantinya. Dia akan berpikir kamulah ayahnya."


"Jangan hanya berpikir Lian, bahkan aku siap jadi ayah sesungguhnya untuk Arsy."


"Mas..."


"Kamu harus istirahat dulu ya?" Cakra bangun dan menciun kening Berlian.


"Maaf aku lancang, tapi aku tak tahan." Bisik Cakra lalu berlalu pergi.

__ADS_1


Ah, kenapa tidak marah? Justru Berlian merasa senang dan terseyum-senyum sendiri.


__ADS_2