
"Ma,,,," Rengek Arhan yang berdiri di ambang pintu Bu Maharani.
"Kenapa? Ayok sini." Bu Maharani melambai pada Arhan agar mendekat padanya.
Melihat Arhan, Bu Maharani merasa terharu, rasanya baru kemarin ia melihat Arhan berlarian kecil, kini ia sudah mau berkepala tiga saja.
Arhan duduk di samping Mamanya yang sedang membaca buku.
"Kamu kenapa? Mukanya murung sekali?" Tanya Bu Maharani sembari meletakkan buku ke atas nakas.
"Aku kepikiran sama anak itu ma." Jawab Arhan lesu. Setelah berpisah dengan Berlian, rasanya tak sekalipun ia tidur nyenyak. Bayang-bayang Berlian selalu mengusik tidur malamnya. Inikah yang dinamakan karma?
"Kita akan ke rumah Berlian untuk memastikannya."
"Gimana kalau Berlian menyembunyikannya?" Arhan tahu persis sikap Berlian, walau dia lembut, tapi juga sangat keras. Arhan bahkan tidak bisa mendeskriosikan dengan kata-kata.
"Untuk apa?" Bu Maharani menaikkan alisnya. "Mana mungkin dia tega Han."
"Ma..., aku rasa aku bersalah pada Berlian Ma, jika itu benar anakku." Sesal Arhan, "Aku brengsek ma, aku menceraikan istriku saat ia sedang mengandung anakku."
Penyesalan. Penyesalan selalu menghantui Arhan setiap saat. Rasa bersalahnya pada Berlian terus menghiasinya, rasanya ia belum lega sebelum kata maaf keluar dari bibir Berlian.
"Arhan, jangan bilang seperti itu," Ucap Bu Maharani hancur, "Kalau pun ada yang harus disalahkan, itu mama nak, mama yang menjadi penyebab semua ini terjadi. Mama yang memaksakan kalian bercerai."
Ya! Bu Maharani sadar, jika di sini, dirinyalah yang salah. Namun ia harus bagaimana untuk menebusnya? Membuat Arhan dan Berlian kembali bersama? Ah! Itu tidak mungkin, Arhan sudah bertunangan dengan orang lain.
Menyesal? Tentu Bu Maharani sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya. Ia sempat berpikir, setelah Arhan bertunangan, ia akan dengan mudah melupakan Berlian. Rupanya tidak! Bu Maharani masih sering menemukan Arhan melamun sendiri, dan itu terjadi sejak Berlian keluar dari rumah ini.
Arhan mendesah pelan, lalu mengambil ponselnya dan mengecek lagi instagram Nautiya. Mata Arhan membelalak kala melihat tak ada lagi postingan yang kemarin. Tidak ada lagi foto bayi itu.
"Kenapa fotonya dihapus?"
Untungnya Arhan sempat menyimpan foto bayi itu.
__ADS_1
"Aneh!" Ujar Arjan.
"Kenapa Han?" Tanya Bu Maharani.
"Tiba-tiba foto yang kemarin sudah dihapus sama Tiya." Jawab Arhan dengan ekspresi bingung.
"Tapi kenapa?" Heran Bu Maharani.
"Aku juga gak tahu Ma, apa ini pertanda Berlian ingin memyembunyikan anaknya?" Firasat Arhan berkata begitu. Selama ini Berlian selalu bersembunyi darinya, pasti ada alasannya.
"Han, apa Berlian marah pada Mama? Mama bersalah, mama harus minta maaf kepadanya." Sesal Bu Maharani.
"Gak mungkin Lian marah sama Mama. Kalau pun dia marah, pasti dia lebih marah sama aku Ma."
"Lantas, kita harus bagaimana?"
"Entahlah Ma, Arhan harus memikirkannya dulu." Hembus Arhan, ia pusing.
"Ma, coba mam liat lagi. Apa bayi ini benar-benar mirip denganku?" Tanya Arhan sembari memperlihatkan foto yang disimpannya.
"Ma..., dia pasti benar anakku."
Entah mengapa Arhan benar-benar berharap bila itu benar anaknya.
...****************...
Berlian duduk dengan kesal di samping Nautiya, matanya memandang kesal pada Nautiya. Sedang Nautiya tak berani memalingkan wajahnya menatap sang kakak.
"Ti..., berapa kali kakak bilang, jangan upload foto Arsy di media sosial mana pun." Betang Berlian.
"Iya kak, udah aku hapus kok." Balas Nautiya dengan suara rendah, ia tahu dirinya telah salah karna yelah melanggar larangan kakaknya.
"Kamu kebiasaan deh."
__ADS_1
"Kan aku gemes kak sama Arsy, dia lucu."
"Iya. Tapi gak usah di unggah kemana pun, kalau gemes tinggal gendong, orang dianya ada di sini."
"Iya kak, maaf aku salah." Sesal Nautiya.
"Jangan diulangin lagi tuh." Pesan Berlian penuh dengan nada mengintimidasi.
"Iya kak. Lagian mas Arhan juga gak bakalan tahu kalau itu anaknya dia kok, dia juga gak telalu aktif di instagram." Gerutu Nautiya, ia kadang juga merasa kesal ketika kakaknya terlalu posesif dalam menyembunyikan Arsy. Menurut Nautiya, cepat atau lambat, Arhan pasti akan mengetahuinya juga.
"Aku liat sendiri dia ngelike foto yang kamu unggah."
"Iya, tapi kan dia gak tahu kalau itu anaknya. Kan aku cuma ngasih caption love. Kakak posesif banget sih?" Nautiya juga merasa kesal.
"Sudah-sudah, gak usah berdebat lagi." Bu Rahma melerai.
"Tiya tuh buk, harus diingetin." Sungut Berlian.
"Mau sampai kapan kakak nyembunyiin Arsy dari ayahnya? Lambat laun juga dia akan tahu."
"Dia gak bakalan tahu kalau gak ada yang ngasih tahu Ti, kecuali seperti sekarang, kamu ceroboh." Balas Berlian dengan tajam.
"Lian, dia berhak tahu, itu anaknya." Ucap Bu Rahma lembut, ia ingin Berlian sedikit perhatian.
"Sini Arsy sama nenek." Bu Rahma mengambil Arsy dari gendongan Berlian. "Arsy pasti butuh sosok ayah."
Berlian diam. Ia bingung harus bagaimana. Memberitahukan Arhan? Pasti ia akan disangka ingin mengambil hak ahli waris untuk anaknya.
Tentang kasih sayang ayahnya? Ah belum tentu juga Arhan bisa memberikannya. Dia pasti akan sangat sibuk dengan calon istrinya. Lebih baik saja Arhan tak tahu, jadi Berlian tak akan berharap apapun dari Arhan.
"Mas Arhan akan tahu kebenarannya kak. Hanya saja, aku juga gak ingin dia mengusik kakak yang sudah baik-baik saja."Lirih Nautiya. "Maaf ya kak? Aku gak akan ceroboh lagi."
Berlian tersenyum melihat pada adiknya. "Aku gak pengen Arsy tahu tentang ayahnya. Lebih baik dia tahu ayahnya sudah mati, dia gak akan berharap lebih. Apa pun yang terjadi Mas Arhan gak akan bisa memberikan kasih sayangnya secara penuh pada Arsy. Itu akan menyakiti Arsy."
__ADS_1
Berlian menunduk membayangkan kehiduoan Arsy nantinya. Bagaimana jika ia bertanya tentang ayahnya? Haruskan ia menjawab bahwa ayahnya benar-benat sudah mati?
Maaf baru up😁