Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Belum Siap


__ADS_3

Sebuah paper bag dan juga kantong kresek putih besar menenteng di tangan Cakra. Yupz,,, Cakra berbelanja sebelum ia datang ke rumah Berlian.


"Ayah?" Berlian langsung menyambut Cakra bersama dengan Arsy yang dalam gendongannya.


"Ayah bawa apa untuk Arsy?" Berlian membuat suaranya seperti anak kecil.


Cakra tersenyum. "Ada banyak, ayo duduk kita lihat-lihat."


Cakra duduk lesehan di depan tv bersama dengan Berlian dan Arsy. Berlian begitu antusias menyambut kedatangan Cakra, karna kemarin Cakra sempat keluar kota, jadi ia tidak datang menemui Berlian.


"Anak ayah udah besar aja." Tukas Cakra sembari mengambil Arsy dalam gendongan Berlian.


"Ayah sudah kangen sekali sama Arsy." Tutur Cakra sembari mencium Arsy gemas.


Ayah adalah panggilan Arsy untuk Cakra. Apa Berlian dan Cakra menikah? Untuk saat ini belum, namun Cakra masih setia bersabar menunghu Berlian membuka hatinya.


Cakra bermain-main dengan Arsy melepaskan rasa rindunya selama ini.


"Lian tolong ambilkan paper bag yang tadi dong." Perintah Cakra.


Berlian mengambilnya dan menyerahkan pada Cakra.


"Aku tadi beli baju buat Arsy, gak tahu deh kamu suka atau enggak." Papar Cakra.


Cakra menidurkan Arsy karna ia ingin membuka barang belanjaan yang dibawanya tadi.


"Gimana, bagus gak?" Tanya Cakra sembari mengeluarkan baju yang dibelinya tadi.


Berlian mengambilnya, "Bagus Mas, wah inu mahal banget, Mas Cakra terlalu berlebihan deh!"


"Gak kok! Aku belinya buat Arsy, bukan buat kamu, jadi gak usah protes."


Berlian menggekeng tak mengerti dengan jalan pikiran Cakra, ia benar-benar mencintai Arsy layaknya anaknya sendiri. Padahal kalau di pikir-pikir ia malah bisa mencari wanita lain yang mau menikah dengannya, dan memiliki anak sendiri. Mustahil rasanya jika tak ada yang mau dengan Dokter setampan Cakra, wanita mana pun tak akan berpikir panjang, ia pasti akan menerima pria sebaik Cakra.


Lalu mengapa ia malah terobsesi dengan Berlian? Seorang wanita yang berasal dari kalangan biasa, dan statusnya? Janda.


"Lian, tadi aku bawain buah juga, jangan lupa di cuci dan masukin kulkas ya?"


"Huh! Mas Cakra!" Berlian kesal karna selalu mengingatkan Cakra, jika berkunjung tak usah repot membawa inu dan itu.


"Udah sana, kan aku selalu bilang, aku beliin buat Arsy, anak aku."


Berlian bergegas mengambil kanyong kresek yang berisi banyak buah dan membawanya ke dapur.


Berlian mencuci apel dan juga buah pir yang Cakra bawakan tadi untuk dimasukkan ke kulkas.


"Li..., kamunudah bikin minum belum buat Cakra?" Bu Rahma datang menghampiri.


"Udah Bu, minumnya udah aku sediain duluan tadi."


"Lian, kenapa kamu gak menikah saja sama Cakra? Dia iti baik dan sayang juga sama Arsy, ibu setuju loh!" Lontar Bu Rahma, ia juga menyukai setiap apa yang ada pada Cakra, sopan dan baik.


"Berlian belum kepikiran Bu." Berlian merasa belum siap membahasa kata pernikahan.


"Kamu mau nunggu apa lagi? Arsy tuh deket sama Cakra, dan juga dia pasti butuh figure seorang Ayah, kamu gak akan bisa memberikan keduanya." Desak Bu Rahma.

__ADS_1


"Aku belum siap bu." Sahut Berlian. Berlian selalu merasa terganggu dengan pembahasan pernikahan.


"Itu selalu menjadi alasan kamu. Jadi, kapan kamu siapnya? Kamu ini nunggu apa lagi sih Lian? Apa yang kamu harapkan Lian?"


"Bu?" Berlian berbalik menatap ibunya, "Aku masih trauma dengan perceraianku,"


"Makanya, untuk melupakan itu semua, kamu harus menikah. Kamu harus bisa membuka lembaran baru, bersama Cakra, itu tidak akan salah, itu pasti bisa mengobati luka hati kamu."


Berlian mendesah.


"Ibu yakin dia adalah orang yang tepat Lian." Tambah Bu Rahma.


"Ya sudah ibu saja yang menikah dengannya."


"Kamu dibilangin," Bu Rahma kesal dengan Berlian, "Atau jangan-jangan kamu masih mengharapkan Arhan? Iya? Begitu?" Tuding Bu Rahma.


Mendengar nama Arhan disebut, Berlian menghentikan aktivitasnya. Ia menghembuskan napas kasar.


"Bu..., aku sama sekali gak mengharapkan Mas Arhan. Hanya saja aku belum bisa membuka hati untuk siapa pun itu."


"Kalau kamu terus-terusan begini, kamu gak akan bisa keluar dari masa lalu, dan kamu selamanya terkunci di situ." Tegas Bu Rahma.


"Lihatlah Arhan, kamu masih hamil, dia sudah bertunangan dengan orang lain. Dia sudah melupakan kamu, sedangkan kamu Lian, kamu masih terkunci dengan masa lalunya."


Berlian tak bisa menjawab. Percuma menjawab, ibunya takkan mengerti. Arhan? Ia masih punya tempat tersendiri di hati Berlian, lalu Cakra? Dia juga punya posisi yang tak kalah penting, namun semua masih belum terasa nyata.


"Giliran Cakra di ambil orang lain, baru deh nyesel!" Cetus Bu Rahma akhirnya sebekum pergi.


...****************...


Hari ini Arhan memberanikan diri untuk menemui Berlian secara langsung. Ia sudah mengasah nyalinya agar tidak menciut begitu saja nantinya.


Masih berada di dalam mobil, Arhan dapat melihat jemuran yang ada di samoing rumah beruoa pakaian bayi. Beberapa kali saat Arhan memantau, hampir selalu ada baju bayi, ini tak mungkin lagi salah, pasti anaknya.


Arhan turun dari mobilnya lalu dengan langkah mantao ia masuk ke dalam pekarangan rumah Berlian. Ia mengetuk pintu juga memberi salam. Tak berselang lama seorang wanita paruh baya membuka pintu, perempuan itu sedikit terkejut.


"Bu?" Panggil Arhan diiringu senyumnya.


Sayangnya senyum Arhan tak dibalas oleh mantan ibu mertuanya, alih-alih membalas, Bu Rahma malah memberikan ekspresi bingung dan gugup.


"Bu? Boleh Arhan masuk?"


Bu Rahma melebarkan pintu dengan ragu. Jelas, ia memang ragu memberikan izin Arhan masuk.


"Duduk nak Arhan." Kata Bu Rahama mempersilakan.


Arhan langsung duduk di sofa yang tak jauhbdari pintu. Ia memandang ke sekeliling rumah, mengabsen setiap sudut yang ada. Tak sia-sia mata lancang Arhan, ia menemukan beberapa petunjuk, mainan bayi, popok bayi, baby walker dan lainnya. Namun Arhan memilih untuk mengunci mulutnya terlebih dahulu.


"Tiya!" Panggil Bu Rahma.


"Iya Bu!" Sahut Nautiya yang kemudian datang . Namun saat menyadari kedatangan Arhan, ia terkejut, dan langsung mengganti raut wajahnya menjadi masam.


"Ada apa Bu?" Tanya Nautiya malas, namun matanya tetap menyoroti Arhan tajam.


"Tolong bikin minum untuk Masmu."

__ADS_1


"Dia bukan Mas aku." Tolak Nautiya kesal.


"Tiya...," Bu Rahma menegur anak gadisnya.


"Lagian dia juga gak mau Bu minuman dari rumah kita." Sindir Nautiya.


Bu Rahma merasa tak enakan dengan Nautiya, ia selalu bersikap kasar pada orang yang tak ia sukai.


"Tiya, ibu gak ngajarin seperti itu, Mas Arhan ini tamu."


"Ck!" Nautiya berdecak kesal, dengan terpaksa ia pergi ke dapur.


"Ada apa nak Arhan tiba-tiba berkunjung?" Tanya Bu Rahma lembut, bagaimana pun juga Arhan pernah menjadi anaknya.


"Arhan mau ketemu Berlian Bu, Berlian ada?" Arhan langsung to the point.


Bu Rahma menyipitkan matanya. Rupanya pria ini belum menyerah juga.


"Ada perlu apa sama Berlian?"


"Ada sedikit bu."


"Lain kali saja ya? Berlian tidak di rumah." Cara halus untuk menolak Arhan.


Arhan pun tahu bahwa bu Rahma sedang berbohong kepadanya. Pasti ia sedang menyembunyikan Berlian.


"Bu, Arhan tahu ibu sangat baik, Arhan juga tahu kalau Arhan memang salah. Tapi kali ini tolong Arhan Bu, tolong ibu jujur sama Arhan."


"Maksudnya?"


"Aku inhin bertemu anakku Bu!"


Anak? Dari mana Arhan tahu, mareka mati-matian menyembunyikan tentang anak kepadanya.


"Mas Arhan jangan ngigau di sini." Timpal Nautiya sembari meletakkan nampan yang dibawanya di depan Arhan.


"Ti..., Mas tahu, foto yang kamu posting itu, itu anaknya Mas kan?"


"Enggak! Siapa bilang?" Berlian berdiri dengan tangan dilipat. "Itu anak teman aku."


"Ti..., Mas tahu, Mas punya feeling."


"Mas Arhan terlalu kegeeran, kak Lian gak hamil, kok bisa punya anak?"


"Ayolah Bu, temuin aku sama Berlian." Rengek Arhan penuh iba.


"Mending Mas Arhan pulang, daripada di sini bikin kacau." Usir Berlian.


"Pleas Ti, mas mohon."


"Enggak! Aku gak tahu apa-apa."


Setelah perdebatan sengit itu, akhirnya Arhan pulang. Namun bukan Arhan namanya jika ia menyerah begitu saja.


Selepas Arhan pergi, Nautiya langsung menuju kamar Berlian.

__ADS_1


"Mas Arhan sudah pergi."


__ADS_2