Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang
Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Tak membuang kesempatan Arhan langsung berkunjung ke rumah Berlian, setelah kemarin mendapat izin bertemu Arsy kapanpun yang ia suka. Tak tanggung-tanggung Arhan membawa banyak mainan, baju, dan juga makanan. Bahkan Arhan juga membelikan mainan yang belum dimengerti Arsy, sebegitu perhatian dan senangnya ia bertemu anaknya.


"Anak siapa ini? Anak papa ya?" Arhan berbicara dengan nada gemas pada anaknya.


Arsy berada dalam gendongannya, dan bayi itu juga tak rewel, mungkin ia sendiri juga tahu bahwa itu adalah ayahnya.


"Sini mama yang gendong." Bu Maharani mengambil alih Arsy dari Arhan. "Cucu Omah, wah! Ganteng sekali!"


Tak dapat dipungkiri, walau dulu ia tak menyukai Berlian, tapi ia sangat sayang pada bayi itu. Dan sekarang pun setelah melihat kesakitan Berlian, ia jadi merasa bersalah, karnanyalah Berlian terluka.


Berlian hanya duduk diam melihat tingkah Bu Maharani dan Arhan. Mareka terlihat sangat bahagia bermain dengan Arsy, dan Berlian tidak punya niat mengganggunya. Bagaimanapun juga Arhan tetaplah ayah kandung Arsy. Walau selama ini Berlian menolak untuk bertemu Arhan tapi ia tak tega melihat Arhan yang kemarin memohon-mohon padanya. Rasanya ia jahat sekali memisahkan ayah dan anak.


Dan berlian sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Arhan, setidaknya ia dan Arhan bisa menjadi orang tua yang baik untuk Arsy, walau mareka tak lagi punya hubungan. Yang lalu biarlah berlalu.


"Terima kasih Lian, aku sangat berterima kasih sama kamu." ujar Arhan yang baru duduk di samping Berlian.


"Hmmm..." Berlian hanya bergumam tanpa berniat memperpanjang obrolan mereka, tak ada lagi yang perlu dibahas menurut Berlian semua juga sudah jelas sekarang. Anggaplah semua selesai, dan Arhan hanya perlu menjadi Ayah yang baik dan nertanggung jawab untuk Arsy.


"Aku mau minta maaf sama kamu. Andaikan aku tahu saat itu kamu sedang mengandung, pasti aku tidak akan-"


"Sudahlah jangan membahas itu lagi, aku tidak menyukainya," potong Berlian. Ia tidak ingin membahas masa lalu, "Itu hanya akan membangkitkan luka lama, lagi pula aku juga sudah mengizinkan Mas Arhan bertemu Arsy, aku rasa itu sudah lebih dari cukup," kata Berlian acuh.


"Kamu benar! Maafkan aku Lian, aku sudah lancang!" Imbuh Arhan. Ia juga merasa tak enak telah membangkitkan luka yang selama ini dirasakan oleh Berlian sebabnya.


Tapi tahukah Berlian bahwa Arhan sangat bahagia berada di sisi Berlian. Jika ia diberi kesempatan. Bolehkah ia mengulang kembali dan memperbaiki semuanya? Sekali lagi, jika ada kesempatan.


...****************...

__ADS_1


Berlian memilih barang belanjaannya, tadinya Ia datang bersama Cakra, namun mendadak saja Cakra mendapat telepon dari rumah sakit, ada pasien. Dan Cakra akhirnya dengan berat hati harus meninggalkan berlian sendiri.


Hmm itulah kehidupan seorang dokter, atau itu juga bisa menjadi gambaran jika berumah tangga dengan seorang dokter. Mereka akan ditelepon mendadak ketika ada pasien, tapi kembali lagi harus diingat pekerjaan seorang dokter adalah pekerjaan paling mulia.


Tengah asiknya Berlian memilih buah, seseorang menepuk pundak Berlian. langsung saja berlian menoleh. Angel? Perempuan yang kini berstatus sebagai tunangan Arhan. Tapi ada apa dengan perempuan itu?


"An..,Angel?" panggil Berlian dengan terbata.


Angel menyeringai, "Sendiri?" Tanya Angel dengan alisnya yang naik sebelah.


Berlian mengangguk datar.


"Mari aku traktir kopi?"


Berlian dan Angel kini duduk berhadapan di cafe yang ada di mall tersebut. Mereka sama-sama di suguhkan green tea latte panas.


"Seperti yang kamu lihat, aku sehat-sehat saja," jawab berlian dingin.


"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, dan seperti jodoh, kita langsung bertemu di sini." Ujar Angel dengan senyum kepalsuannya.


Berlian memang sudah merasa, bahwa ada yang tak beres. Jika ia bertemu dengan Angel, ia yakin Angel pasti ingin menyatakan sesuatu. Bisa jadi tentang Arhan.


"Katakanlah!"


"Aku ingin kamu memperingatkan adik kesayanganmu,"


Berlian menyipit. Heran. Ah setelahnya ia langsung ingat, pasti tentang Charlie. Dugaannya tak akan meleset.

__ADS_1


"Tidak usah pura-pura tidak tahu, dia berpacaran dengan Charlie-adikku, kamu juga tahu bahwa kita sama sekali tidak setara. Dan aku rasa hubungan mereka tak akan berhasil, jadi aku mewanti-wanti adikmu untuk menjauhi Charlie terlebih dahulu." Angel menarik napas, "Jangan langsung berprasangka buruk padaku, aku melakukan yang terbaik untuk mereka. Aku tidak ingin adikmu jatuh terlalu dalam, yang ku takutkan, dia tidak bisa bangkit lagi," Ini adalah suatu hinaan yang disindir secara halus.


Secara tidak langsung Angel mengatakan bahwa Nautiya tak pantas bersanding dengan Charlie.


"Kamu sudah pernah mengalaminya juga kan? Jadi jangan buat adikmu ikut merasakan apa yang kamu rasakan, akibat keserakahan kalian," tambah Angel.


"Kenapa hanya adikku? Kenapa kamu juga tidak mengatakan langsung pada Charlie bahwa kamu keberatan?" kesal Berlian. Ia menganggap di sini Angel sangat memojokkan Nautiya, seolah Nautiyalah yang datang dan menggoda Charlie.


"Berhentilah membual Lian. Ingatlah posisi adikmu, dia bekerja di perusahaan kami. Aku sangat mudah mendepaknya kapan saja," cibir Angel.


"Juga kamu!" Menujuk dengan dagu lancipnya, "Berhentilah mengejar Arhan dengan dalih anakmu, aku tidak suka. Kamu juga tahu kalau dia adalah tunanganku sekarang. Kamu! Hanyalah masa lalunya!" Di akhir Angel menekan kalimatnya.


Berlian menghembuskan napas kesal, bisa-bisanya Angel berpikiran begitu. Siapa juga yang menjadikan anaknya sebagai alat mendekati Arhan, seandainya saja ia tahu bahwa Berlian selama ini mati-matian menyembunyikan anaknya dari Arhan. Nakun siapa sangka, Arhan tetap tahu tentang Arsy. Entah siapa yang memberitahunya.


"Baiklah! Aku akan memperingati adikku. Aku harap, kamu juga melakukan hal yang sama untuk adikmu. Dan tentang Arhan. Tenanglah! Aku tidak akan merampasnya darimu," tegas Berlian.


"Bagaimana bisa aku percaya kata-katamu?"


"Lakukanlah sesukamu!"


"Pindahlah bersama Nautiya, dia akan dipindah ke Bandung, ke kantor cabang. Tenang saja, di sana dia sudah difasilitasi dengan rumah dan kendaraan, aku tidak ingin kamu dan adikmu menjadi penghambat segala rencanaku,"


"Jika aku tidak mau?" tantang Berlian.


Seenaknya saja ia mengatur-ngatur.


"Itu terserah padamu, tapi yang ku tahu, pekerjaan ini adalah impian Nautiya." Angel seolah membuat Berlian tak bisa berkutik dengan kekuasaannya.

__ADS_1


Angel menganggap ia bisa memegang remote kontrol Berlian, dan memgaturnya sesuai keinginannya. Tak ada pilihan lain, Berlian tetap harus ikut keinginan Angel.


__ADS_2