
Arhan dan Angel duduk di sebuah cafe yang ada di kotanya. Katakanlah saat ini mareka sedang berkencan. Namun apakah Arhan menikmati kencannya itu? Kalian pun tahu jawabannya.
Dipaksa bercerai, dan masih sangat mencintai Berlian. Kemudian ia dipaksa bertunangan, tanpa rasa cinta sedikit pun kepada Angel, apakah hatinya bisa menerima?
Memaksakan diri melupakan Berlian, dan memaksakan diri mencintai Angel, sungguh Arhan tak bisa. Belum lagi bayang-bayang bayi yang selalu menghantui pikirannya, Arhan benar-benar tersiksa.
"Gel, menurut kamu gimana?"
"Gimana apanya?" Balik tanya Angel heran.
"Tentang anakku." Jawab Arhan lesu, sungguh ia berharap bahwa itu adalah anaknya.
"Kamu kok yakin banget kalau itu anak kamu?" Angel tidak suka pembahasan ini.
"Hati aku berkata iya Gel, aku pasti punya ikatan batin sama anak aku sendiri, iya kan?" Terdengar memaksa memang.
"Itu karna kamu terlalu terobsesi, padahal ketemu aja belom. Kamu kok bisa yakin banget kayak gitu?" Sebenarnya Angel ingin cepat-cepat mengakhiri pembahasan ini, namun ia harus tetao meladeni kegalauan Arhan.
"Aku yakin Gel, aku nemuin tespack itu, berapa kali aku bilang sama kamu." Arhan ngotot dengan keyakinannya. Ia mengambil secangkir kopi yang ada di depannya dan meneguknya asal.
"Dengat ya Han, tespack itu gak berarti punya Berlian. Kalau iya itu punya dia, dia akan ngasih tahu kamu tentang kehamilannya, kecuali dia hamil dengan laki-laki lain." Di akhir kalimat Angel berdecak kesal.
"Gak mungkin Berlian seperti itu, jangankan untuk selingkuh, keluar dari rumah saja tidak pernah."
Arhan tak suka jika ada yang membicarakan hak buruk tentang Berlian, siapapun itu, termasuk Angel.
"Terserah padamu Han. Tapi pernah gak.kamu berpikir kalau Berlian benar hamil, dia akan memanfaatkan kehamilannya. Dia gak bakalan mau nanggung hidup sendiri, aku juga tahu dia berasal dari mana." Dengan kata lain, Angel merendahkan Berlian yang berasal dari kalangan di bawahnya.
Arhan tampak berpikir dengan apa yang dikatakan Angel.
"Tapi anak itu mirip banget sama aku Gel." Arhan masih ngotot dengan pendapatnya.
"Ya ampun, kamu kolot banget sih Han? Si Rafathar juga mirip banget tuh sama Siwon, tapi Siwon gak pernah bilang itu anaknya. Kamu yang benar aja." Kenapa jadi bawa-bawa artis ya?
"Masalahanya di sini, Nautiya. Dia yang posting, dan gak mungkin dia posting anak orang lain."
"Terserah kamu deh Han. Aku capek, aku males nanggepin kamu. Kencan kita jadi hancur gara-gara bahas anak yang gak jelas asal usulnya itu. " Kesal Angel dan bangkit dari duduknya, ia meraih tas yang ada di meja.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Arhan bingung. Sepertinya Arhan tipikal orang yang tidak peka.
"Mau pulang. Apa kamu mau nahan aku pulang? Dengan dengerin cerita kamu tentang anak kamu itu?" Kata Angel kasar.
__ADS_1
"Gel..," Arhan ikut bangkit, "Aku minta maaf, aku-"
"Udahlah Han, niat aku ngajakin kamu jalan biar stres aku sedikit hilang, tapi kamu malah bikin aku tambah stres."
"Gel, aku antar." Arhan meraih lengan Angel.
"Gak usah, cari aja anak kamu itu." Angel menarik tangannya kasar dan berlalu pergi.
Arhan mengacak rambutnya fruatasi. Ia kesal, mengapa Angel tifak bisa mengerti perasaanya? Padahal Arhan hanya butuh tempat mencurahkan isi hatinya. Bukankah sudah resikonya Angel menerimanya dalam keadaan seperti ini? Ia adalah seorang duda, dan bisa jadi ia sudah memiliki anak.
Jika Angek siao menikah dengan Arhan, itu artinya Angel siap menerima masa lalu Arhan, termasuk menerima anaknya.
...****************...
Menurut informasi yang Arhan dapat dari suruhannya, memang benar Berlian punya seorang anak laki-laki yang masih bayi.
Arhan yakin jika itu adalah anaknya. Jika bukan, lalu anak siapa lagi? Tidak mungkin anak orang lain, Berlian tak serendah itu untuk memilik anak bersama pria lain.
Siang ini Arhan sudah berjanji untuk makan siang bersama Angel, sekaligus untuk menebus kencannya mareka yang gagal kemarin.
Sampai di tempat yang sudah di janjikan, Angel sudah sampai terlebih dahulu, dan setelah kedatangan Arhan, mareka sama-sama memesan makanan.
"Gel, kamu tahu gak, aku udah cari tahu tentang Lian. Ah..., anak itu maksudku." Arhan tampak berbinar saat membicarakannya.
"Lian lagi lian lagi, rasanya tak akan habis pembahasan tentang perempuan itu."
Setiap mareka bertemu, Arhan akan selalu membicarakan perihal Berlian dan anaknya. Kadang Angel berpikir, apakah hati Arhan terbuat dari batu, hingga ia tak tahu bagaimana caranya menjaga perasaannya?
"Aku yakin Gel, itu anak aku." Kata Arhan di sela makannya, ia tampak sangat lahap kali ini, entah karna ia lapar atau karna ia sedang bahagia karna mendapatkan kabar itu.
"Aku senang sekali Gel, itu pasti anakku." Ulang Arhan tanpa rasa bersalah.
Mendengar itu selera makan Angek seketika lenyap. Angel menghentikan makannya, lalu melihat Arhan yang semangat dengan senyuman yang manis.
"Terus?"
"Aku bakalan temuin Berlian dan anakku." Jawab Arhan polos, tak tahunya Angel sedang menahan amarahnya.
"Setelah itu?"
"Maksud kamu?" Barulah Arhan menatap Angel, merasa ada yang aneh dengan nada bicara Angel yang datar.
__ADS_1
"Setelah bertemu dengan Berlian dan anak yang kamu gadang-gadangkan adalah anak kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Angel dengan nada tinggi.
Benar juga. Setelah itu, apa yang akan ia lakukan? Mengajak Berlian kembali? Meminta maaf? Atau meminta hak asuh?
"A..., a ku."
"Apa?" Teriak Angel dengan urat yang terbentuk jelas di lehernya.
"Aku...., aku akan bettanggung jawab bagaiman semestinya tanggung jawab sworang ayah pada anaknya." Jawab Arhan ragu dan sedikit gagap.
Angel mendesah pelan dan menggigit binirnya menahan emosi agar tak meluap lebih lagi.
"Oh ya? Lalu bagaimana jika Berlian meminta pertanggung jawaban dengan cara kembali padanya, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan Han? Kamu akan kembali padanya?"
"Tentu!" Dan jawaban itu hanya mampu Arhan jawab dalan hatinya saja.
"A...,a ku." Arhan nampak bingung untuk menjawab pertanyaan jebakan ini.
"Kamu gak bisa jawab kan? Jangan kamu memang punya rencana untuk kembalinpadanya, aku lihat kamu sangat bersemangat kalau lagi nhomongin dia." Tuding Angel sengit.
"Gel..."
"Han..."
"Aku gak kenal kamu setahun dua tahun Han, kita sudah kenal lama, kamu gak bisa bohongin aku, aku tahu segalanya, mungkin kamu bisa bohongin Berlian, tapi aku enggak!" Tegas angel.
"Gel, dengerin aku dulu."
"Aku hanya berharap sama kamu Han, kamu gak ngulangin kesalahan yang sama. Kamu gak akan ninggalin aku untuk kedua kalinya, untuk perempuan itu. Aku harap kali ini kamu bisa nepatin janji kamu Han."
"Siapa bilang aku bakalan tinggalin kamu dan gak nepatin janji aku?" Arhan terlihat serius.
"Sikap kamu. Sikap kamu yang mengatakan bahwa kamu gak bisa nepatin janji kamu, kamu masih kelihatan ragu-ragu Han." Angel mulai pasrah dengan Arhan yang sekarang plinplan.
"Aku gak mau kecewa untuk kedua kalinya Han," Lirih Angel dengan nada rendah dan kecewa, "Atau jangan-jangan kamu memang punya rencana untuk itu."
"Kamu terlalu over thinking Gel, aku hanya ingin ketemu anak aku, apa aku salah?" Arhan menatap netra Angek yang mulai sayu, "Aku hanya ingin minta maaf, dan bertanggung jawab sama dia, juga memberi nafkah dan biaya yang selayaknya."
Angel mengangkat kepalanya untuk melihat keseriusan Arhan, tapi ia tak bisa membacanya. Arhan terlalu abu-abu.
"Ok! Aku pegang kata-kata kamu Han, jangab sampai aku kecewa sama kamu lagi."
__ADS_1
"Iya, aku janji."
Hay semuanya, jgan lupa like dan komen ya. Oh ya follow ig aku da alfa02. Terimakasih readersku.