
"Ra, buruan! Abang tinggal nih!" teriak Akhsan dari luar.
"Iya!" jawabnya tak kalah berteriak seraya berlari ke pintu keluar.
"Lama!" sentaknya.
"Namanya juga cewek, lagi pake sepatu ih! Ngga sabaran!" ketusnya manyun sengaja menyentakkan ucapannya di depan muka Akhsan.
Sudah beberapa hari ke belakang semenjak kejadian diskotik itu, Nara selalu pergi dan pulang bersama Akhsan. Begitu protektifnya Akhsan terhadap adiknya ini. Tapi Nara pun merasa ada baiknya juga, cara ini cukup efektif untuk memberi jarak dirinya dari Willy cs, karena mereka tak akan berani berkutik di depan Akhsan.
Nara naik ke jok belakang, dimana letaknya sedikit lebih tinggi dari jok depan, membuat Nara bertengger seperti burung dara. Motor bergerak sampai gerbang sekolah.
"Dah sampe, turun! Bisa ngga, jangan-jangan kaki loe ngga nyampe lagi?!" cibirnya.
Plokkk!
Nara menggeplak helm Akhsan kencang, membuat pemuda ini membuka helmnya.
"Sakit cel!" alisnya menukik.
"Udah tau nanya, makanya beli motor tuh jangan yang beginian, ketinggian buat Nara!" omelnya sewot menepuk jok belakang motor Akhsan.
"Ya udah. Hati-hati, yang bener sekolahnya! Jangan pacaran mulu!" Akhsan mengacak gemas rambut adiknya itu sehingga jadi sedikit berantakan.
"Ih! Sapa juga yang pacaran, punya aja ngga!" gerutunya merapikan rambut.
Beberapa siswa yang melintas sampai memutar lehernya demi melihat Nara dan Akhsan yang bertengkar manja, mereka pasti akan mengira keduanya adalah sepasang kekasih.
"Ya udah, Nara masuk dulu," gadis ini melengos begitu saja.
"Eh, salamnya mana?" ia menarik tas Nara sampai gadis ini tertarik ke belakang, lalu menyodorkan tangan besarnya di depan Nara.
"Ck, maksa banget pengen disalimin! Punya makmum sendiri makanya, jadi ada yang nyalimin sampe jidatnya aus!" decak Nara mengomel.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Akhsan masih di tempatnya demi mengawasi Nara sampai hilang dari pandangan.
"Nara!" pekik Mita menghampiri.
"Cie--" senggolnya pada bahu Nara dengan senyam-senyum jijay.
"Siapa tuh?! Wah seleranya mahasiswa nih?" alisnya naik turun, keduanya berjalan bersamaan menuju kelas MIPA 3.
Nara tertawa, "dih! Bukan, dia abangku Ta," Nara membetulkan posisi tasnya yang sedikit turun.
"Oh ya? ganteeeng ih!" gemasnya.
"Kenalin dong?" pintanya merengek.
"Cupiddd!" teriak Mutiara berlari keluar kelas setelah sebelumnya Nara dan Mita menghindari Yusuf yang berlari ke arah mereka.
"Yayang uang kas nanti aja dirapel yank, sama uang mahar nikahan kita!" teriaknya di kejauhan. Nara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah kawan sekelasnya.
"Nara," sapa Mutia.
__ADS_1
"Punyaku bulan ini udah apa belum Ti?" tanya Nara melongokkan kepalanya ke arah buku kas kelas.
"Emhh, udah! Dibayarin papa!" tunjuk Mutia ke arah bangku Nara, dimana Rama sudah duduk bak raja dan bersenda gurau dengan anak kelas lain.
Mereka melihat kedatangan Nara , Rama langsung menurunkan kakinya yang selonjoran dan langsung mengusap-usap bangku itu hingga bersih.
"Awas--awas! Permaisuri mau duduk!"
"Assalamu'alaikum sayang," kekehnya nyengir mirip onta nyemil.
"wa'alaikumsalam," cicit Nara tak lagi ketus.
"Dih, muka loe!" Rifal mengusap kasar wajah Rama dengan kalemnya sambil tertawa membuat yang lain ikut menyemburkan tawanya.
"Kebalik kali, Nara yang mestinya salam duluan!" ujar Bayu meralat.
"Ya engga apa-apa, ngga selamanya kan kepala harus masuk duluan kalo mau pake baju?" ucap Rama bertanya.
"Terus apa yang duluan, masa kaki?" tanya Vian.
"Bisa! Loe masukin baju dari kaki ke atas!" jawab Rama.
Mita meledakkan tawanya, "itu mah tutorial mempersulit hidup!" sarkasnya.
Nara ikut melemparkan tawa kecilnya seraya menutup mulut dengan tangan. Rama ikut tersenyum melihat Nara yang kini sering tertawa.
Tatapan usil itu diketahui Nara, membuat gadis itu mengatupkan mulutnya, malu. Sadar akan tatapan berlebih Rama padanya, Nara angkat bicara.
"Kenapa kamu liatin terus?" tanyanya.
Sontak saja yang lain pun ikut memperhatikan tingkah Rama, "siapa bilang aku liatin kamu geer," jawabnya sambil terus memandang Nara sambil tersenyum anjayudin.
Tatapan mereka lantas ikut melihat Nara.
"Ada pelangi di matamu!" jawab Bayu.
"Ada bala-bala si babeh kalii," jawab Ridwan ditertawai yang lain serta hadiah toyoran dari Rifal.
"Aku lagi bersyukur sama Allah, lagi mengagumi ciptaannya yang indah!" balas Rama.
"Ea---ea--ea!" sorakan mereka.
Nara menggulung buku milik Tama yang duduk di bangku sekitar tempatnya berdiri lalu memukulkannya ke bahu Rama.
"Eh--Ra! Itu lagi dikerjain pr-nya!" sewot Tama si ketkel yang sedang mengerjakan pr di sekolah.
"Sana balik ke bangku mu!" bentaknya, wajah Nara sudah malu pagi-pagi.
Rama membuat gerakan menangkis dengan pelan, "ngusir nih? Aku kan mau belajar!" ucapnya tetap kekeh mempertahankan bangku Nara. yang sedang di dudukinya.
"Tapi ini bangku aku, mau didudukin!" nada suaranya mulai meninggi, matanya membola melotot.
Lalu Rama melangkahkan kakinya ke samping, ke arah bangku Mita.
"Ck! Keluar!" perintah Nara sudah melotot.
"Tapi kalau disitu aku tidak bisa belajar!" tunjuknya pada bangku belakang, bangkunya sendiri.
__ADS_1
"Oow---pertengkaran rumah tangga nih!" ujar Gilang.
"Minggir--minggirrr! Drama pertengkaran rumah tangga mau lewat!" seru Vian.
"Ampun si Rama!" decak Vina.
"Sama aja Rama! Kan masih satu kelas satu barisan pula," jawab Nara sudah benar-benar sewot.
"Maksudku belajar mencintaimu," ia langsung melompat keluar dari bangku dan berlari keluar kelas, melihat Nara yang sudah cosplay jadi barongsai imlek.
Bukannya melerai, warga kelas lainnya kembali bersorak seraya memukul-mukul bangku.
"Ahh! Papa Rama big lope--lope pa! Meleleh hati mama, pa!" teriak Gilang sambil bergaya lebay memeluk lengan Rifal.
"Sittt njirrr ah! Jijay!" Rifal menepis Gilang dan mendorong kepalanya.
"Papa we love you pa! Kejar ma, jangan kasih lepas, udah ini pepes aja papa sama tahu!" teriak mereka.
Sungguh mereka memang pasukan gila, Nara memalingkan wajahnya ke arah lain saking malu dan kesal.
Bel istirahat berbunyi. Baru saja MIPA 3 merapikan alat tulisnya, begitupun guru yang baru saja keluar, geng kompleknya datang dengan gaya angkuh nan arogannya. Seperti yang mereka bilang, strata sosial mereka berada diatas Rama dan kawan-kawan, padahal mereka saja yang mungkin tak tau.
"Eh, ada pasukan minion!" seru Andi membuat mereka mendelik sinis.
"Baby ke kantin yuk! Udah lama loh, loe ngga bareng sama kita, kaya ngehindar gutu deh, kesannya!" tanpa basa-basi Dea menarik Nara agar keluar dari bangku.
"Tapi---bentar!" tak bermaksud memberi Nara kesempatan untuk berontak, Dea dan Inggrid menariknya seperti terdakwa korupsi, ditambah Rama dan ketiga temannya sejak ijin ke kamar mandi tadi belum kembali.
"Eehhh--- Nara mau dibawa kemana?!" rasa kekeluargaan disini teramat besar, satu terluka maka semua ikut marah. Rifal, Rio dan Yusuf beranjak dan berlari menghadang.
Willy maju tepat ke depan wajah Rifal yang memang satu tinggi dengannya, kini mereka tak berjarak.
"*Not your business*!" Willy mengeraskan rahangnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.