
Jika dibandingkan solat di masjid, Nara lebih cepat selesai karena tak harus berjalan, dan sering kali bacaan suratnya yang panjang. Gadis itu sudah duduk di sofa tengah membawa serta buku tugas dan pulpen, sementara bi Asih sibuk menyiapkan makan kedua anak majikannya di meja makan.
Tak berapa lama, terdengar langkah sandal dan obrolan saling menyahuti dari luar, pintu terbuka dan terdengar ucapan salam.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," cicit Nara. Akhsan masuk ke dalam kamar, dan Rama duduk di samping Nara.
"Ngerjain apa?"
"Tugas kemaren, kan besok dikumpulin. Emang kamu ngga ngerjain?"
"Tugas yang mana?" tanya Rama membuat Nara berdecak dan merotasi bola matanya, ia heran---pemuda ini ke sekolah niatnya apa?
"Oh yang pelajaran pak Asep, yang halaman 59? Oh itu aku ngga perhatiin jadi ngga ngerti--" jawabnya enteng.
"Dih! Terus apa yang kamu perhatiin, aneh! Ke sekolah tuh mau apa coba?!" sengak Nara.
"Merhatiin ketek si bapak yang basah! Aku ke sekolah lagi misi cari mantu buat abah," jawabnya sungguh membuat Nara ingin mencekiknya. Bi Asih saja yang berada di ruang makan sampai mengulum bibirnya dengan jawaban Rama. Padahal beda dengan Nara yang terbilang rajin dan pintar, Rama terkesan cuek.
"Ngga ada kerjaan banget kamu merhatiin ketek pak Asep! Terus gimana besok tugas kamu?"
"Gampang lah itu mah, nanti subuh juga beres atau ngga pagi-pagi!" jawabnya simple.
"Nyontek pasti ke Tama," tebak Nara.
"Alright, aku ngga salah pilih cewek, see---kamu bisa ramal apa yang bakalan terjadi kan!" ia memberi Nara jempolnya pada Nara.
"Amit-amit kamu mah ih!"
"Makasih sayang udah bilang aku imut-imut," jawabnya.
"Kamu tuh kesini mau ngapelin aku atau ngapelin bang Akhsan sih?" tanya Nara, akhirnya ia pun malah tak jadi mengerjakan tugas gara-gara pacar barunya yang absurd.
Rama tertawa, "dua-duanya."
"Kamu dari jam berapa kesini kok ngga bilang?" tanya Nara menginterogasi.
"Dari jam setengah 5. Jalan yuk, cari makan!" ajaknya.
Nara menimbang-nimbang dahulu, "tapi bi Asih udah siapin makan?"
"Ya nanti sampe rumah makan lagi, gitu aja repot!" balas Rama.
"Perutku nanti ngga kuat dong meletus, bocor," debat Nara.
"Nanti ku tambal pake selotip, atau ke tukang tambal ban," jawabnya menaik turunkan alisnya. Nara mendorong pelan kepala Rama yang isinya bisa disamakan dengan otak-otak.
"Ya udah aku ganti baju dulu," ijin Nara beranjak dari kursi.
"Pake d@le m4n ya," ucapnya. Sontak saja Nara menghentikkan langkahnya dan menatap tajam nan mendelik, bersiap memuntahkan seluruh kalimat pedasnya.
"Maksudku udah gitu dirangkep pake kaos sama jaket, terus jangan lupa celana. Masa iya keluar ngga pake d@le m4n," lanjutnya kalem, Akhsan yang baru keluar meledakkan tawanya, rupanya Rama 11 12 dengannya senang menjahili Nara.
"Nah kan se frekuensi kita Ram," ujar Akhsan.
"Se-frekuensi mesumnya gitu maksudnya?" balas Nara melengos ke lantai atas. Hanya butuh waktu 10 menit, Nara sudah kembali.
"Mau pada kemana?" tanya Akhsan.
"Nyari jajan," jawab adiknya.
__ADS_1
"Ntar bawain, bungkusin buat gue ya!" balasnya yang sedang memindahkan channel tv.
"Dih! Beli sendiri," sewot Nara.
"Gue ngomong sama Rama bukan sama lo," jawab Akhsan.
"Siap!" Rama hanya mengulas senyum dan beranjak karena Nara sudah melangkah keluar.
"Ngga usah ngerepotin Ram, bang Akhsan emang gitu orangnya ngga tau malu," ujar Nara tak enak.
"Udah ngga apa-apa," usapnya di pucuk kepala Nara, "resiko kalo punya pacar bungsu tuh begini," ucap Rama, memasangkan helm di kepala Nara.
Rama melajukan motornya menembus jalanan kota Bandung di malam hari. Pemuda itu menarik tangan Nara agar memeluk pinggangnya, perlakuan itu membuat Nara sedikit canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka kencan, diatas motor butut Rama.
Rama membawa motornya berhenti di warung makan pinggir jalan dengan konsep lesehan.
...PECEL LELE DAN AYAM SPESIAL...
"Kamu harus coba deh makan disini, enak!" ajaknya membawa Nara duduk disalah satu tempat pojokan. Asap bakaran, suara bising kendaraan yang berlalu lalang dan angin malam meniup spanduk pembatas warung ini menambah suasana malam nan ramai.
Disini hanya tersedia karpet plastik dan meja-meja saja, namun tempat ini begitu ramai didatangi orang untuk makan, entah itu pasangan, jomblowan, ataupun karyawan. Mungkin karena harganya yang ramah di kantong meski suasana kurang ramah.
Beberapa pengamen jalanan keluar masuk, Nara hitung mungkin sudah 3 kali dengan orang yang berbeda.
"Nuhun, a---" ia tersenyum ramah saat Rama memberikan uang receh pada bekas bungkus kopi sebagai tempat uang yang mereka terima dari para pengunjung seikhlasnya. Dengan harapan uang itu akan cukup untuk makan malam itu dan esok pagi.
Sebenarnya makanan yang disajikan tak kalah dengan cafe atau restoran, malah bisa dibilang lebih enak dan yang pasti banyak. Hanya saja tempat dan kemasannya.
"Mau bungkus buat bang Akhsan ngga?" tanya Rama.
"Kayanya jangan nasi deh, soalnya bi Asih masak. Kasian kalo ngga dimakan, ngga nge-hargain. Kalo bungkusnya yang lain aja gimana?" tanya Nara.
"Apa aja," jawab Nara. Keduanya berjalan ke tempat dimana Rama menaruh motornya dengan Nara yang melingkarkan tangannya di lengan Rama.
"Oke, kalo gitu semuanya aja!"
"Eh, jangan! Kebanyakan---" tolak Nara.
"Buat kamu juga nanti," balas Rama.
"Sekali buaya ya tetep aja buaya!!"
Nara sampai terkejut dengan teriakan si wanita yang ngomel-ngomel seraya menangis di depan mereka.
"Gilakk ya! Kamu kaya gitu di belakang aku! Aku percaya aja sama kamu! Dasar playboy cap ikan sotong!" cercanya pada seorang pemuda dengan kemeja kotak-kotak merah. Pemuda itu terlihat memohon-mohon, "denger dulu penjelasan aku yank," si pemuda menarik tangan si gadis seperti sebuah drama pengkhianatan cinta di depan Nara dan Rama. Sampai-sampai keduanya saling melirik dengan tatapan mengernyit.
"Apa lagi dasar cowo baji------!!!" Rama langsung menutup kedua telinga Nara dengan kedua tangannya, tak ingin Nara mendengar umpatan si gadis.
Namun yang lebih mengejutkan si gadis menampar si pria sangat keras di depan mereka.
" Plaaakkkk !!" untung saja si pemuda tak langsung tampan ditampar seperti itu.
Dia yang ditampar tapi Nara dan Rama yang meringis, bahkan Rama sampai memegang pipinya sendiri, "awwww sakit tuh pasti!" ucapnya.
Nara mengangguk "iya, sadis ckckck."
Rama menoleh ke arah Nara, "kamu kalo marah jangan sadis-sadis ya."
Nara lantas tertawa mendengar ucapan Rama barusan.
"Tergantung!" jawab Nara, keduanya melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Beberapa bungkusan makanan menemani perjalanan pulang Nara dan Rama, bang Akhsan tertawa senang karena permintaannya terpenuhi sementara Nara berdecih, kepengen kenyang manfaatin adik.
"Ya udah, yang tadi dimakan ya, aku pulang dulu," Rama pamit sambil menaiki motornya.
"Iya hati-hati."
"Ngga kiss bye nih?" tanya nya menyunggingkan senyuman.
"Aa ustadz mesum!" seru Nara mendorong bahu Rama.
"Kiss nya boongan, ngga kena aja. Biar keliatan pacarannya," jawab Rama
Nara mengangguk-angguk tertawa renyah, "boleh deh! Nih aku kasih, belum sehari jadian aja udah minta kiss---curang!" Nara menempelkan kedua jari tangannya di bibir lalu menempelkannya di pipi Rama membuat Rama tersenyum menang.
Setelah Nara masuk pagar ia mengirim kiss jauhnya, sementara tangan Rama seolah-olah menangkapnya udara.
"Hap! Kena, aku kantongin deh biar ngga ilang!" ia memasukkan tangannya ke saku jaket, seperti sedang mengantongi kecupan.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Nara menatap punggung Rama yang semakin menjauh dan menghilang di balik rumah tetangga.
.
.
.
.
Note :
\*Nuhun : makasih
__ADS_1