Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : MENUNGGUMU


__ADS_3

Jika memang hubungannya akan kembali memburuk, mungkin ia akan meminta pindah kelas saja atau mungkin cuti dari sekolah untuk beberapa waktu. Ia benci dengan itu, padahal dulu saat bersama Robi, ia tak pernah sampai begini. Tapi pengaruh Rama begitu besar rupanya.


"Thanks Ra," Inggrid dan Dea memegang tangan Nara yang bebas di atas meja.


"Eh, gimana kalo kita ke club balik dari sini ?" usul Dea merubah haluan destinasi, membuat Nara menggeleng cepat. Ia tak mau cari mati dengan mengkhianati kepercayaan keluarganya dengan mendatangi lagi tempat itu, bisa-bisa besok ia tak boleh keluar rumah lagi.


"Gue engga deh!" jawab Nara.


"Oh ayolah Ra, ini kan masih sore jadi lo ngga akan kena marah sama om, tante?!" desak Dea.


Nara menggeleng lagi, "engga deh! Kalo mau kalian aja, gue pulang. Beneran deh ngga apa-apa," tolak Nara.


"De, kalo emang Nara ngga mau ngga usah dipaksa, " ucap Willy menghentikan paksaan Dea.


"Yah, sayang banget!" ujar Inggrid merengut.


"Udah siii, orang ngga mau lo paksa-paksa." sahut Gibran.


"Kalian duluan aja ke club pake mobil gue, biar Nara gue yang anter pake taksi ntar gue nyusul !" ucap Willy mencetuskan ide.


"Oh ngga usah Will, gue bisa pulang sendiri kok," tolak Nara.


Dengan dalih gadis tidak boleh pulang sendiri, akhirnya Nara menerima tawaran Willy.


"Beneran?" tanya Inggrid.


"Bener, ngga apa-apa." Nara tersenyum, lagipula usahanya keluar ini percuma saja, sia-sia.


"Bentar, aku pesen dulu taksi online!" imbuh Willy segera merogoh ponselnya dan mengetik sesuatu.


Kelimanya keluar dari cafe, dengan Nara yang berdiri di depan cafe bersama Willy, sementara ketiga lainnya kini sudah berada di dalam mobil milik Willy.


"Bye sayang!" teriak Dea melambaikan tangannya dari dalam mobil.


"Gib, itu nanti kalo lo nemu pom, isi dulu bensin sampe full---ntar gue ganti duitnya!" pesan Willy.


"Sip!" jawab Gibran.


"Bye!"

__ADS_1


Nara tersenyum melambaikan tangannya, "bye!"


Keduanya menatap mobil yang melesat pergi dari sana lalu menunggu taksi online pesanan Willy datang.


Sejenak keduanya terdiam mematung di tempatnya berdiri, lesatan kendaraan seolah menjadi pemandangan yang asik untuk keduanya, langit menguning itu menjadi latar sore harinya Bandung, dengan rasa hangat mentari yang masih tertinggal.


"Gimana hubungan kamu sama Rama?" Willy angkat bicara setelah beberapa menit diam. Nara menoleh ke arah pemuda yang tingginya hampir sama dengan Rama, pemuda yang sebenarnya baik nan hangat namun karena sikap egois anak mudanya membuat Willy tak bisa bersikap serta berpikir bijak.


Beberapa lama keduanya saling pandang, mata Nara sedikit berkaca-kaca.


Sorot mata teduh Willy seolah menyiratkan jika rasa itu masih terlalu besar untuk gadis di depannya ini, tapi sayang Nara lebih memilih Rama.


"Baik."


Nara segera menyudahi eyes talk Willy dan memilih memandang jalanan ramai sore ini. Angin jalanan menerpa kulit dan helaian rambutnya, nampak kemilau tersorot cahaya senja, cantik bak jingga.


Sebuah mobil berhenti di depan keduanya.


Kaca jendela mobil terbuka, menampakkan sesosok bapak paruh baya yang melongokkan kepalanya ke arah luar, "mas Willy?"


"Iya betul, Gr48?!" tanya Willy, ia mengangguk.


"Iya," baru saja Nara akan melangkah mendekati pintu mobil, sebuah tangan menahan dengan meraih pergelangan tangan Nara lembut dari samping lain, membuatnya menoleh, lalu sedetik kemudian Willy ikut menoleh, untung saja si bapak supir ngga ikut-ikutan noleh.


"Rama," gumam Nara, melihat wajah familiar yang seharian ini ia lamunkan.


Wajahnya datar tak berekspresi terarah pada Willy, "sorry...Nara balik bareng gue."


Wajah Willy kini terlihat mulai keruh, "Nara pergi bareng gue pulang pun harus sama gue," ucap Willy tak mau mengalah, rahangnya kembali mengeras melihat Rama untuk kesekian kalinya datang diantara ia dan Nara. Meski begitu, keduanya tak meledak-ledak seperti saat istirahat di kelas waktu lalu, bahkan sampai bertengkar dan adu jotos.


Rama menarik Nara agar lebih mendekat, seolah sedang menyadarkan Willy jika Nara adalah pacarnya.


"Nara pacar gue, biar gue aja. Makasih udah bawa sayangnya gue jalan-jalan, dari sini biar gue yang ambil bagian," sorot mata keduanya kini menjelaskan situasi tegang. Tak ada bentakan ataupun pukulan, tapi Nara dapat rasakan jika keduanya sedang menutupi amarah dengan sikap tenang ini, gadis itu merasa sedang berada di antara dua kubu yang bersitegang dalam diam.


"Please, jangan berantem." Nara memejamkan matanya.


"Oke, fine...." Willy mengalah dan membiarkan Nara bersama Rama.


"Sorry Will," cicit Nara menatap Willy nanar. Pemuda itu ikut tersenyum getir, "no problem Ra..." jawabnya terlihat jelas menahan marah.

__ADS_1


"Yuk yank---" ajak Rama.


Rama mengajak Nara pergi dari sana, Willy yang melihat melampiaskan kekesalannya dengan menendang udara, lalu masuk ke dalam taksi online, mengubah tujuannya.


"Ram, lepas!" pinta Nara berontak, membuat Rama melonggarkan pegangannya.


"Aku bisa pulang sendiri!" ketus Nara sambil melipat kedua tangannya di dada, pipinya sudah menggembung menahan marah, kesal dan kecewa.


Kini kembali wajah ramah, usil nan hangat itu menggoda Nara setelah seharian dari kemarin ia tak menampakkan diri, "cie marah ya? Makin gemesin siii ! !" mencolek dagu Nara.


Matanya membola hampir keluar dari tempatnya, "Rama!" bentak Nara, masih saja pemuda ini bercanda seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Kamu tuh apa-apaan sih! Ngga lucu!" sentak Nara, tapi tak lantas membuat Rama terkejut atau mengatupkan bibirnya, ekspresinya pun masih sama.


"Oke, cari yang lucu kalo gitu....tapi apa ya yang lucu menurut kamu?!" tanya nya malah berargumen.


Nara benar-benar tak habis pikir dibuatnya, gadis itu menghentak hendak kembali, pemuda satu ini tak peka dengan keadaannya, tak taukah ia...kalau Nara marah, kecewa olehnya.


"Eh, tunggu!" tahannya menghalangi langkah Nara.


"Oke---oke, kamu maunya aku ngomong apa?" Rama balik bertanya.


Nara mengerutkan dahinya, " kok aku, justru aku yang harusnya nanya, kamu maunya apa?! Aku benci kamu Rama!" ia melepas tas selempangnya dan memukul-mukulkan itu pada Rama.


"Kamu tuh udah ingkar janji---kemana kamu kemarin malam?! Tanpa kabar tanpa pesan kamu bikin aku nungguin seharian kaya orang be go. Dan kamu tau, hati aku sakit waktu tau ternyata kamu semalem sama Kirana, kamu selingkuh? Dan sekarang tiba-tiba kamu datang tanpa permisi, bisa cengengesan seolah ngga terjadi apa-apa, menurut kamu aku harus gimana?!" Nara sampai terisak mengeluarkan semua masalahnya.


Rama meredupkan ekspresi wajahnya, namun tetap tersenyum hangat, kedua tangannya meraih wajah Nara dan menghapus air mata, tapi Nara mencoba menepis.


"Jangan nangis, oke aku salah. Aku minta maaf,"


"Mau cari tempat ngga? Biar aku bisa jelasin? Seenggaknya cari tempat duduk sambil minum, karena dari tadi aku suntuk nungguin kamu, hampir seharian."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2