Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
DEA-RIFAL : TERTARIK


__ADS_3

Suara decitan pagar besi dibuka menampakkan wanita paruh baya dengan rambut beruban yang ia cepol satu. Perempuan itu menatap Rifal meneliti.


"Cari neng Dea?" dilihat dari penampilan seragam SMA sudah dipastikan itu adakah teman sekolah anak majikannya. Rifal mengangguk, "iya bu."


"Oh ada, neng Dea lagi rebahan di sofa. Masuk dulu a, bawa aja motornya ke dalem..." dilihat dari parsel buah yang dibawa Rifal, sudsh pasti ia berniat menjenguk sang anak majikan.


"Biar saja disitu bi, takut ngga lama." Jawab Rifal, ia hanya jaga-jaga saja, karena sudah pasti anak bos bibi lah yang akan mengusir saya, Rifal terkekeh sendiri dengan pikirannya.


"Neng! Ada temennya!"


Dea yang sedang menonton sambil memeluk boneka minionnya menoleh dengan alis berkerut, teman? Teman yang ia miliki hanya Inggrid, Willy, Gibran dan tentunya Nara. Selebihnya hanyalah sebatas mengenal saja. Gadis yang melepas softlens dan memakai kacamata di rumah ini beranjak, "siapa bi? Biasanya kan kalo temen komplek suka langsung nyelonong?" tanya nya.


"Ngga tau neng, pake seragam SMA, pake motor gede...cowok baru neng Dea meren," goda bibi.


"Cowok? Mana ada..." seingatnya terakhir kali hubungannya kembali kandas baru-baru ini, bukan kandas tapi si laki-laki hanya memberikan harapan palsu, apalagi sekolah mereka berjauhan.


Dea segera menyerbu ruangan depan, saking penasarannya sampai ia terlupa dengan kacamata yang masih bertengger di hidung setelah membaca novel kesayangan.


Gadis itu menghentikkan langkah yang mendadak membeku, "gue denger lo sakit,"


Penampakkan gadis yang begitu berbeda dari biasanya Rifal lihat hari ini, sampai ia harus beberapa kali meneliti, apakah itu Deanada yang ia kenal? Tapi ternyata gadis cantik nan menggemaskan dengan kaca matanya itu adalah Deanada Kharisma, dia begitu....berbeda!


"Lo.." Rifal berdehem demi mengusir rasa tak nyaman dan spechlessnya. Dea menghembuskan nafas beratnya, sudah kadung tau. Mungkin ia akan kembali mengalami pembullyan yang pernah membuatnya sampai trauma dulu, hingga membuatnya sekarang malah memiliki jiwa pembully.


"Ya, ini gue yang sebenernya, lo sekarang tau semua! Gue udah ngga peduli, terserah kalo lo mau bales dendam dengan ceritain sama anak satu sekolah kalo Deanada Kharisma yang selalu tampil bak anak-anak hedon drama korea tukang bully, jutek, angkuh dan segala macem itu ternyata cupu, penyakitan! Biar mereka bully gue sesuka hati, kaya yang udah-udah!" jelas Dea menatap Rifal nanar, tapi tak ada raut minta dikasihani dari gadis pemilik bibir semanis madu ini.


Rifal menaruh parsel buah di meja depan, "apa selalu sesempit itu pikiran lo sama orang baru?" tanya Rifal.


"Ngga semua orang yang datang mau bully lo, apa gue keliatan kaya orang yang mau balas dendam?"


Dea menunduk di tempatnya tak berani melihat Rifal.

__ADS_1


Pemuda ini mendekat, "gue mau jenguk lo, ngga ada niatan buruk sama sekali. Tapi berhubung lo ngasih gue ide, gimana kalo gue iyain?" ia kembali menyeringai membuat Dea tak bisa untuk tak menatapnya.


"Lo udah liat keadaan gue kan? Sebaiknya lo pergi sekarang sebelum Gibran balik..." Dea menunjuk rumah sebrangnya dimana rumah itu adalah rumah Gibran.


"Kenapa emangnya? Gue ngga takut, apa jangan-jangan lo yang takut?"


"Takut apa? Dijauhin? Dibully? Disangka penghianat karena nerima tamu dari MIPA 3?" tanya Rifal mencecar.


Dea diam tak menjawab, mungkin semua pertanyaan Rifal benar semua.


"Gue jadi penasaran siapa lo sebenernya dulu, De. Karena gue yakin, lo bukan lo..."


Obrolan mereka terpaksa harus terhenti karena sapaan mama Dea .


"De, kok ada temennya malah dibiarin berdiri di luar...disuruh masuk atuh, eh ini siapa? Kok baru liat?!" sapa ibunya ramah.


"Ma..dia..."


"Masuk deh masuk, biar ngobrolnya enak!" mama Dea menyipitkan mata melihat sebuah motor terparkir di depan pagar, "eh itu motor siapa yang parkir disitu sembarangan,"


Dea mengulum bibirnya, Rifal nyengir, "motor saya tante,"


Mama Dea berseru, "oh ya Allah! Kirain punya siapa, abisnya belakangan ini suka ada tamu tetangga atau ngga tukang paket sembarangan parkir! Masukkin aja ke parkiran atuh! Jangan disitu, nanti dikira kurir paket!" serunya seraya melengos masuk.


Merasa mendapatkan ijin dan restu agar lebih lama berada di rumah Dea, Rifal segera memasukkan motornya ke dalam carport rumah Dea, membuat gadis itu mencebik kesal dan Rifal terkekeh, entah kenapa ia merasa begitu senang bisa bersama Dea lama. Berawal dari rasa tak suka, merendahkan Dea, menganggapnya gadis nakal, angkuh, dan menyebalkan membuat Rifal ingin memberinya sebuah pelajaran tak terduga yang ternyata membawanya pada sebuah rasa baru, yaitu penasaran akan Deanada Kharisma. Semakin ia masuk ke dalam kehidupan Dea semakin Rifal merasa jika Dea adalah gadis yang bertolak belakang dengan penilaian awalnya, ia mulai tertarik akan itu.


"Ngapain juga lo harus kesini!" ketus Dea masuk.


"Rama bilang, orang jenguk apalagi bawa buah tangan itu rejeki...rejeki ngga boleh ditolak," jawab Rifal meng-copas kalimat Rama sambil terkekeh masuk.


"Si preman pasar?" tanya Dea.

__ADS_1


"Lebih tepatnya anak juragan daging."


"Hm, i know! Gue tau sebenernya si Rama tuh baik, tapi ngga tau...gue ngga suka aja sama sifat tengilnya, ditambah Nara lebih milih dia ketimbang Willy," cerocos Dea duduk di kursi tamu.


Rifal membuka sepatunya dan duduk di sebrang Dea, "terus kenapa lo benci banget MIPA 3? Itu pilihan Narasheila, lo sama yang lain ngga boleh maksa," tanya Rifal.


"Ya engga apa-apa sih, tapi...kita kan temen komplek! Tapi dia lebih milih temen baru," sebenarnya Dea bukan benci tapi lebih pada iri, Nara yang notabenenya orang baru untuk Bandung langsung mendapat sambutan positif, sementara ia? MIPA 3 pun sama, bukan ia tak suka, tapi Nara yang lebih pertama mengenal teman komplek tapi lebih memilih berteman dengan anak-anak MIPA 3.


"Lo bukan ngga suka tapi lo nyimpen iri," tembak Rifal tepat sasaran, tatapan angkuh Dea menyiratkan jika ia mengamini namun tak mau disalahkan.


"Serah lo! Mendingan lo pergi deh kalo mau nge-judge!" usir Dea.


"Ngga, suka-suka gue lah! Toh gue juga udah dapet ijin dari mama lo," seringainya tercipta lagi.


Again, Dea sampai memutar bola matanya jengah.


Bibi membawa segelas air sirup untuk Rifal, gerakan mata Dea mengikuti bibi yang membungkuk, "neng Dea, kata ibu diminum dulu obatnya..."


"Iya, sebentar lagi..." jawabnya enteng.


"Lo minum dulu obat deh, nanti gue kasih jeruk..." tawarnya macam menawari bocah. Gadis itu mendesis, "ish, gue bukan bocah! Lo punya urusan apa sih masih disini, mau minta makan atau mau minta jajan?! Balik sana,"


Rifal pun bingung menjawab pertanyaan Dea itu, yang jelas ia ingin berlama-lama bersama gadis jutek itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2