
"Nara siswi kelas MIPA 3, dia bagian keluarga MIPA 3, siapa yang berani sama anggota keluarga, maka semua ikut bereaksi!"
"Gue ngga takut sama loe!" Gibran ikut bereaksi.
"Apalagi gue!" wajah-wajah yang biasa ramah nan penuh canda mendadak berubah seram layaknya badji ngan.
Bahkan Vina, Rika dan Mita ikut menghampiri. Begitupun Mutia, Tasya dan yang lain. Melihat gadisnya maju, Tian menariknya, "diem."
"Lepasin Nara!" ujar Vina.
Melihat situasi semakin tak kondusif, Nara melerai, "please stop, udah guys!" ucapnya.
"Jangan berantem please," pinta Nara.
"Gini aja, aku kelarin dulu urusan sama mereka ya di luar. Biar ngga ribut," lanjutnya memberikan option.
"Beneran Ra? Butuh ditemenin ngga?" tanya Rika.
"Ngga apa-apa asli deh!"
"Fal, udah ya. Gue ngga apa-apa kok!" angguk Nara singkat. Lalu gadis itu berlalu meninggalkan MIPA 3 mengikuti Willy cs.
"Mau keluar aja susah! Kaya lagi mau ngajak jalan sandera!" decih Gibran.
"Ini nih, yang gue ngga mau punya urusan sama MIPA 3! Males!" sewot Inggrid kesal.
"Bebs, kamu tuh kenapa sih ngga mau berangkat bareng? Terus sekarang tuh kamu udah jarang keluar bareng kita lagi tau ngga!" ucap Inggrid merengek pada Nara.
"Aku sibuk kerja kelompok, Grid. Lagian akhir-akhir ini bang Akhsan suka maksa pengen anterin," jawab Nara, langkah mereka kini mengarah ke kantin.
"Mau pesen apa?" tanya Willy pada Nara.
"Emh, batagor aja sama es jeruk!" jawab Nara. Cukup lama mereka menunggu pesanan sampai ke meja.
Nara tersenyum sambil cekikikan melihat pesanan di depannya, membuat keempat manusia di sekelilingnya menatap heran.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Willy.
"Engga, ngga apa-apa kok" jawab Nara mengatupkan mulutnya "keinget sesuatu aja..." batinnya berbicara.
"Bebs nanti pulang sekolah, ikut ke cafe yuk! Ada yang mau diomongin," ajak Inggrid, tatapannya aneh dengan menaik turunkan alisnya ke arah Willy.
"Ngomong apa? Kenapa ngga disini aja?" tanya Nara.
"Disini terlalu rame, Ra. Ngga dapet feel-nya!" tukas Willy.
Nara menatap nyalang penuh dengan rasa malas, tapi bukankah lebih cepat urusan mereka lebih cepat pula ia bisa menjauhi mereka?
Sepanjang menikmati batagor, keempatnya mulai membicarakan topik yang menurut Nara membosankan, memang mereka sangat berbeda dengan Rama dan kawan-kawan.
"Ra, kamu sakit? Kok diem aja?" tembak Willy bertanya.
"Engga, cuma pengen diem aja," Nara menggeleng, ia memakan batagornya dengan tenaga kuda Sumbawa, agar cepat-cepat bisa pergi dari sini secepatnya.
"Ra gue harap rencana gue berhasil," Willy tersenyum penuh makna pada Nara sebelum melanjutkan suapannya.
Gibran menyenggol lengan Willy "tahan abang bro, kita kasih surprise buat Nara ntar di cafe. Kalo loe nyatain disini ngga romantis moment sama tempatnya dong bro! Masa di kantin begini, " bisik Gibran.
"Apa sih bisik-bisik? Ngomongin gue ya! "tembak Dea membuat Inggrid dan Nara ikut mendongak.
Bel masuk ternyata tak bisa menyelamatkan Nara, Willy dan yang lain memaksa mengantar Nara sampai ke depan kelas MIPA 3. Ada rasa panas dingin di badan Nara, seperti sebentar lagi ia akan menghadapi perang terpanas abad ini, gadis itu menghembuskan nafas kasarnya.
"Langkah Nara sampai terjeda, matanya terpejam sejenak saat dari kejauhan saja anak laki-laki kelas MIPA 3 bergerombol di depan kelas, mereka tengah asik bercerita. Bahkan Yusuf saja terlihat begitu antusias bercerita sampai memperagakan cerita demi tersampaikan.
Nara menundukkan wajahnya sambil menggaruk kulit kepalanya, padahal ia tak memelihara kutu.
__ADS_1
Tawa dan obrolan mereka seketika terhenti melihat Nara beserta Willy cs berjalan menuju kelas, tatapan killer dari Rama dan yang lain menyorot penuh pada mereka. Sepertinya Nara ingin pingsan saja saat itu juga.
"Nara, jangan lupa nanti pulangnya!" ucap Willy lantang seolah ingin menunjukkan jika Nara lebih memilih mereka. Nara mengangguk singkat, gadis itu menatap teman-temannya sekilas lalu masuk dan melangkah menuju bangkunya, dimana Mita sedang mengobrol dengan Dian dan Mery.
"Hay Ra, udah selesai?" tanya Mita, diangguki Dian dan Mery. Raut wajah mereka seolah menyiratkan rasa penasaran.
"Kamu ngga diapa-apain kan? Ngga dirujak?" tanya Mery menggeser duduknya di bangku Nara, memberikan si empunya bangku untuk ikut duduk.
Nara menggeleng, "engga. Tapi nanti pulang sekolah mereka mau ngajak ke cafe. Katanya sih ada yang mau diomongin---" Nara duduk menempel pada Mery, ia bahkan sudah menaruh dagunya diatas pundak Mery.
"Mendingan jangan deh Ra! Ko perasaanku ngga enak ya?" ujar Dian.
"Kurang garem kali, makanya ngga enak!" tawa Tasya ikut bergabung.
"Cih, si-alan." desis Dian.
"Aku tau mereka Ra, mereka tuh tukang ngerujak siswa lain. Karena merasa diri mereka itu kaya, hits, orangtuanya kenal baik sama beberapa guru, ngerasa lebih gaul dari siswa lain!" ujar Mery.
"Ngga tau lah. Aku cuma pengen semuanya cepet selesai aja. Bukannya kalo terus menghindar justru bakalan lebih lama lagi?"
"Bener! Mama kita nih!" jawab Mutiara.
"Awas bubar---bubar!" Rama cs masuk ke dalam kelas.
"Yeeee! Pengacau si papa mah!" seru mereka bersorak.
"Lagi arisan ya! Dedek ucup ikutan dong!"
"Iyeee! Arisan cogan!" jawab Vina.
"Ck! Colokan gantung maksud loe?!" sarkas Gilang.
"Ahihihihi!" tawa Rio dan Fajar. Mereka bubar dan kembali ke tempat masing-masing.
__ADS_1
"Sayang habis darimana sama pasukan ogre?" tanya Rama.
"Aku cariin kamu ngga ada," tatapannya telah berubah hangat kembali, tak seperti tadi saat melihat Willy cs.
Nara berbalik, "aku dari kantin sama Willy dan yang lain,"
"Oh! Dia suka tuh sama kamu," tembak Rama menebak.
Nara mengangkat alisnya sebelah, "so tau! Jadi selain jadi keamanan pasar, kamu juga tukang ramal?" tanya Nara.
Rama terkekeh, "aku laki-laki Nara, jadi aku tau," jawabnya menaikan kakinya yang masih berbalut sepatu warrior ke bangku di depan Nara.
Pemandangan sepatu itu jadi fokus utama pandangan Nara, "kakinya bisa diturunin ngga? Lagian tuh sepatu abis jatoh apa gimana, pake diplesterin segala?!" tunjuknya dengan dagu pada bagian samping sepatu berplester corak bintang.
"Iya. Dia aja jatoh sampe robek---sama kaya yang make, jatuh juga, jatuh cinta sama kamu---" jawabnya setengah berbisik. Nara merotasi bola matanya, tak dimanapun kapanpun gombalan receh Rama selalu menghiasi gendang telinganya.
"Nanti pulang bareng? Bilang bang Akhsan ngga usah jemput, biar aa Rama yang anter, aa siap jadi ojeknya neng sayang," ia menurunkan kakinya ke bawah.
"Aku pulang bareng Willy sama yang lain, mereka ngajak ke cafe." jawab Nara tanpa melihat Rama, ia memilih melihat ke bawah seraya memainkan kedua jarinya.
"Oh." That's it, hanya itu saja jawabannya seraya melengos keluar bangku dan bergabung bersama anak laki-laki lain di bangku Tama.
Bel pulang menyelamatkan otot- otot Nara yang sudah tegang karena pelajaran.
Nara segera membereskan alat tulis dan bergegas keluar kelas setelah berpamitan dengan Mita, Rika dan Vina. Ia bahkan tak ingin melihat Rama terlebih dahulu, agar nanti langkahnya tak sulit. Sampai-sampai tatapan satu kelas MIPA 3 melihatnya yang setengah berlari keluar.
"Suttt! Nara mau kemana? Buru-buru?" tanya Gilang.
"Ada janji sama Willy cs," jawab Rama memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil lalu menentengnya begitu saja macam kresek.
"Pasar ah! Kuy!" ucapnya keluar dari kelas. Gayanya begitu urakan, baju seragam yang memang selalu ia keluarkan menambah daftar gaya slengean Rama, ditambah jaket jeans sedikit lusuh selalu menemani Rama kemanapun.
Mereka menaiki motor dengan gaya seingaiannya, Rama bahkan sengaja menggerungkan motornya di depan mobil yang sedang ditumpangi Nara dan Willy cs, menatap sekilas ke arah kaca depan mobil dan pergi. Begitu jelas raut wajah kecewa, tak suka dari Rama. Sudah pasti pemuda itu tau jika Nara ada di dalam mobil.
"Ihhh ! Dasar orang kampung ga beradab, motor kaya gitu mah loak aja!" decih Dea, begitupun dengan Inggrid dan Gibran yang mengeluarkan sumpah serapah nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1