
🍃 Di waktu yang sama
"Jujur sama aku Sya, Kamu ada hubungan apa sama Riki?!" desak Tian menarik tangan Tasya, membuat gadis ini tertarik maju ke arahnya, lalu menahan dengan satu tangan di dada Tian agar tak menubruk.
Dengan nada suara berbisik di belakang warung babeh, akhirnya sedikit demi sedikit hubungan backstreet yang mereka jalani terendus oleh teman-teman MIPA 3, awalnya Nara dan Rama, lalu Yusuf dan Rifal pada akhirnya anak-anak tongkrongan tau dengan hubungan mereka dan cukup terkejut, jika ternyata si bongsor dan boncel nyatanya menjalin hubungan. Hampir setiap hari keduanya terlihat pergi dan pulang bersama di titik penjemputan yang sama.
"Ngga ada Ian, kamu tau sendiri aku, Riky, sama anak IPS 1 itu temenan sejak kelas 10!" jelas Tasya.
"Itu pasangan fantastis abad ini lagi pada ngapain bisik-bisik di belakang? Awas zi na oy!" ujar Vian. Sementara di sampingnya asap putih mengepul dari mulut Rifal.
"Vian, njirr ih amit-amit!" Tasya yang mendengar mengumpat dengan fitnahan keji Vian namun tangannya ditarik oleh Tian.
"Ngga usah ngeles, Sya."
"Kalo kamu ngga percaya ya udah terserah! Aku mau pulang sekarang!" matanya melotot melihat Tian, pemuda yang sudah dipacarinya beberapa minggu ini memang memiliki sifat buruk, cemburuan! Siapa sangka pemuda yang pernah terpuruk karena di keluarkan dari tim basket ternama dan tim nasional kota itu nyatanya adalah pacar posesif bagi si famous Tasya.
Yusuf melongokkan kepalanya ke arah samping belakang rumah semi warung ini, "oy---ributin apa sih?!"
Pluk!
Tasya melemparnya dengan batu kecil yang ada di tanah tempatnya berpijak, "bismillaahi wallahu akbar, rajman lysysyayathiini wa ridhan....." gadis ini melafadzkan do'a yang diingatnya saat dulu manasik haji.
"Govlok, cewek lo Ian---ian! Dipikir gue se tan,"
Tian tak bisa untuk tak tertawa, diantara rasa marah dan kesalnya, pertengkaran Yusuf dan Tasya memang selalu jadi hiburan tersendiri.
"Abisnya ganggu! Obrolan rumah tangga nih!" ujar Tasya.
"Sono!" Tian berseru galak pada Yusuf.
"Iya ah!" ia kembali menarik kepalanya tapi sedetik kemudian ia kembali dan berkata, "putusin aja Sya! Tuman, cowok cemburuan gitu mah dorong aja ke laut,"
Bughhh!
Tian melemparkan tas miliknya ke arah Yusuf.
Bangsadhhhh! Yusuf tertawa merasakan keganasan bongsor yang sedang ngamuk.
Bukan hanya ia yang mengumpat dan terkejut tapi pun anak MIPA 3 lain.
"Astagfirullah! Apaan sih! Cup, orang lagi berantem lo gangguin terus!" ujar Bayu.
"Makanya jangan jalan di tempat Cup, Muti lo gombalin terus, ditembak engga?! Diembat orang tau rasa!" ujar Ridwan.
"Gue denger dia ada dijodohin sama tentara kalo ngga salah," sahut Bayu.
"Ya---berat sainganmu brother! Tentara versus remahan monde, mana preman kampung pula!"
"Preman gini gue mah soleh, waktunya solat ied, gue solat!" jawab Yusuf mencomot bungkusan keripik Cuba diantara jajanan yang dijajakan.
"Judulnya cintaku nyangkut di preman soleh,"
"Bukan---bukan nyangkut, si cupid mah maksa kaya nodong, malak!"
"Ntar, liat gue lulus SMA langsung daftat akmil!" balasnya jumawa.
"Banyak yang cinlok lah di MIPA 3!"
"Lah, lo sama siapa Vi?" tanya Ridwan.
"Ngga kepikiran gue mah. Cewek MIPA 3 galak-galak!" tawanya, Rifal yang sejak tadi hanya diam saja mendadak ikut terbawa dengan obrolan mereka, jujur saja...sejak kejadian di pabrik teh yang ia sengaja mengecup pipi lembut Dea dengan maksud untuk merendahkan gadis itu, kini berbuah tulah untuknya. Ia bukan tipe pemuda yang dengan gampang mengecup dan menyentuh gadis, tapi saat aksi nakalnya itu----kini ia selalu terpikirkan akan gadis sombong itu, Deanada Karishma.
"Ya udah sekarang maunya gimana? Aku mesti ngapain lagi biar kamu percaya?" tanya Tasya.
"Aku mau kamu jangan terlalu deket sama Riki. Aku ngga suka, Sya," jawabnya datar.
"Oke," jawab Tasya meloloskan nafasnya lelah mungkin kali ini Tasya akan kembali mengalah, "baikan nih? Tapi kamu jangan cemburuan gitu! Aku ngga nyaman Ian!"
__ADS_1
"Hm,"
"Janji dulu! Kamu juga deket sama adek kelas tapi aku ngga apa-apa tuh," dumel gadis itu. Tian menangkup kedua pipi Tasya yang chubby, "coba bilang sama aku, adik kelas mana?"
"Ada lah pokoknya!" jawab Tasya merasa terpojokan karena ia pun tak yakin dengan penglihatannya tadi saat istirahat.
Keduanya kembali ke arah depan dengan keadaan yang sudah kembali baikan, bahkan kini Tian sudah mengacak rambut pacar mungilnya itu.
Keduanya terkejut saat menemukan tas Tian ternyata sedang di unboxing oleh Yusuf dan yang lain.
"Anj immm! Tas gue diacak-acak?! Balikin cup, kaya semula!" bukannya membela Tasya malah ikut-ikutan membongkar tas Tian.
"Kali aja nemu duit," jawab Yusuf anteng saja tanpa takut dengan amukan Tian.
"Sini Sya, kalo ngga salah nih, gue pernah nemu foto cewek di tas Tian!" ajak Yusuf, sementara Tian sendiri duduk di samping Rifal dan Tasya antusias duduk di samping Yusuf.
"Mata lo, cewek mana?!" Tian mendorong kepala Yusuf.
Tak berapa lama, Gilang terlihat berlari dari arah sekolah dengan terburu-buru.
Sontak mereka yang tengah nongkrong bareng ikut diam melihat kepanikan Gilang.
"Ada apa Lang?"
"Kenapa om Lang?"
"Vina dah balik?" tanya Gilang baru ingat dengan gadis itu.
"Udah sama Rika, sama Mita," jawab Vian.
"Si Onde sama yang lain mana?" tanya nya lagi, melihat hanya tinggal tersisa Vian, Rifal, Bayu, Ridwan Tian, Yusuf dan Tasya saja.
"Udah pada balik lah, mau ngapain lagi?" jawab Ridwan.
"Nara pingsan, mana lagi digendong Kenzi."
"Ha?!"
"Mama gue pingsan? Dimana sekarang?!"
__ADS_1
"Nara pingsan om Lang? Dimana?" mereka cukup terkejut dengan ucapan Gilang barusan.
"Uks. Gue balik dulu ambil mobil Rama," Gilang segera menyalakan sepeda motornya bersamaan dengan Bayu.
"Ian aku mau liat Nara,"
"Iya. Cup! Tas gue beresin kamvrett!" Tian tak lepas menggandeng Tasya menuju sekolah lagi, persis kakak dan adik.
"Ra," Tasya menemukan Nara yang sedang ditunggui oleh Rama beserta petugas uks.
Wajahnya pucat dengan suhu badan yang panas.
"Minum dulu," Rama memberikan teh manis pada Nara.
"Belum pada pulang?" tanya Nara. Tasya menggeleng, "urus dulu masalah rumah tangga," jawab Tasya berbisik.
"Biasa si bongsor cemburuan, Ra!" akuinya sudah tak malu lagi mengakui hubungan keduanya di depan Nara.
"Dia-nya keganjenan Ra sama cowok."
Nara tersenyum lemah, "Tasya banyak temennya kali Ian," lerai Nara.
"Tau tuh! Dianya aja yang curigaan, negatif thinking terus bawaannya."
"Udeehhh---udehhh, jadi pada berantem lagi disini, mau gue kasih piring sama gelas ngga nih? Biar afdol lempar-lemparan barangnya?" tanya Rama.
Melihat Tasya dan Tian yang baru saja menyelesaikan masalah, Nara melirik Rama, ia baru ingat dengan masalahnya dan Rama.
Nara hampir membuka mulutnya, tapi ia urungkan mengingat disini masih ada Tian dan Tasya, tak etis rasanya membuka kebohongan Rama di depan orang lain.
"Kok bisa sih Ra pingsan gini, lagian tadi kan masih baik-baik aja. Kenapa ngga bilang sakit?" Tasya berdiri di depan Nara yang masih terduduk di ranjang.
"Ngga apa-apa Sya, cuma ngga enak badan aja. Lagian tadi kerasanya udah deket jam pulang jadi sayang---"
.
.
.
.
Hayoo, ada kejutan apa di karya ini, tebak-tebak buah manggis. Karena fokus kita bukan lagi di PaRam---MaRa. 🤭🤭 Kisah papa--mama MIPA 3 hanyalah pembuka dan pengiring kisah yang sebenarnya 🤗
__ADS_1