Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : BERAT UNTUK BICARA


__ADS_3

Tasya memutuskan menaruh ponselnya, lama-lama membaca chat grup MIPA 3 bikin ia sakit kulit perut dan kram kulit pipi menahan tawa.


"Sya, ada yang mau ngomong!" seru mama Yuanita berbisik, karena seseorang itu kini sedang ada di panggilan whatsapp.


"Siapa?" tanya Tasya berbisik.


"Om Wilman,"


Oh, kata itu yang Tasya lemparkan sebagai jawaban. Ia tak bisa egois, jika sang ayah telah menikah lagi maka mamahnya pun patut bahagia dengan seseorang lainnya. Om Wilman sudah menjalin hubungan dengan mama Yuanita sejak beberapa bulan yang lalu, entah kapan pastinya. Yang jelas, 3 bulan lalu mama membawa seorang pria paruh baya berstatus duda memiliki satu orang anak sama-sama perempuan namun tinggal bersama ibunya seperti dirinya, ia bekerja sebagai staf administratif di pengadilan agama kota Bandung, sejauh ini ia baik, agamis, dan tak pelit tentunya.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam om,"


"Syafakillah Tasya, maaf om ngga bisa datang kesana..lagi dinas di luar kota, acara pertemuan sama kementrian agama di Jember,"


"Ngga apa-apa om, aamiin. Makasih om,"


"Oh iya, bukan bermaksud apa-apa, cuma om kirim uang jajan ke nomor rekening Tasya, anggap aja buah tangan yang wakilin om besuk Tasya ya, biar nanti kalo Tasya mau mamayu abis sakit terus ngga dikasih sama mama, bisa jajan pake uang itu," kelakarnya disusul tawa mama. Mama terlihat bahagia bersama om Wilman, seperti lepas semua beban, hanya restu yang bisa Tasya beri buat mamanya dan do'a agar mama sehat dan bahagia selalu.


"Nuhun om. Iya om, sekarang mama banyak larang jajan," adu Tasya, pria itu tertawa hingga ekor matanya berkerut beberapa lipatan, ia membetulkan kacamata bingkai kotak.


"Jangan jajan sembarangan lagi, kalau bisa janganlah makan-makan seblak gitu, bikin aja sendiri jangan terlalu pedes. Makan buah-buahan, jangan telat makan!"


"Siap om!"


"Nanti kalo udah balik ke Bandung, om ke rumah deh ya! Kalo gitu sok atuh, selamat istirahat...om matiin telfonnya ya..."


"Iya om, om juga jangan capek-capek ya om,"


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


Sempat bicara singkat dengan mama Yuanita, namun tak lama panggilan telfon dimatikan. Baru saja mereka bicara dengan om Wilman, pintu kamar diketuk, awalnya mama Yua dan Tasya menganggap itu keluarga pasien di sebelah, tapi saat suara yang mereka kenali datang menyapa, keduanya menoleh.


"Sya,"


"Papa?" senyum Tasya terkembang, sesosok pria yang ia kenali sejak lahir ke dunia datang bersama seorang perempuan.


"Mas, mbak.." sapa mama, cipika-cipiki dengan Yani.


"Sya, gimana sekarang kondisinya?" tanya perempuan berjilbab itu.


"Baik bun," jawab Tasya. Ia harus berlapang dada jika memiliki ibu 2 sekarang, awalnya ia sempat bertanya-tanya, kenapa? Tapi kemudian seiring dengan berjalannya waktu ia mengerti kalau kebahagiaan kedua orangtuanya bukan lagi dengan bersama.


"Papa lagi ke Bandung atau...."


"Papa sengaja ke Bandung, begitu dapet kabar dari mama kamu...papa sama bunda langsung meluncur!" jawabnya diangguki bunda Yani.


"Loh, Rizwan mana?" tanya Tasya.


"Di titip di rumah tantenya bunda, di dago."


Kecupan hangat Tasya dapatkan dari kedua orangtua dan bunda sambungnya itu, lama mereka mengobrol hingga satu pertanyaan itu lolos dari mulut Yani.

__ADS_1


"Kapan atuh Tasya nyobain tinggal sama bunda sama papa, sama Rizwan?" sorot mata papa penuh harap. Merupakan impiannya, untuk bisa menghabiskan waktu bersama Tasya.


"Kapan Wilman lamar Nit?" mama Yua mengulas senyuman, "semuanya terserah Tasya sama anaknya Janis, kalo Janis udah kasih...ini nih yang belum, ngomong apa-apa," senggol mama.


"Kalo mama nikah kamu sama papa sama bunda dulu deh, gimana? Biar gantian, papa sama bunda ngerasain ngurusin kuliahnya Tasya," bukan papa tapi bunda Yani yang meminta.


Tasya menatap nyalang, melihat mamanya, "mama mah terserah Tasya, kalo Tasya mau nyoba tinggal sama papa dama bunda mangga, mama ngga larang. Tapi da rumah mama selalu terbuka buat Tasya..."


"Gini deh, kuliah kamu coba milih universitas di Jakarta, gimana?" tanya bunda Yani merayu, ia memang sudah sedekat itu dengan Tasya.


Itu artinya Tasya harus melalui long distance relationship bersama Tian, itu pun kalau mereka sampai di tahap lulus sma.


"Gimana ntar aja deh pa, bun...makasih udah nerima Tasya. Nanti aja dipikir-pikir dulu, masih lama kan setahun lagi..."


"Tapi ngga kerasa Sya, kalo ikut SNMPTN kan cepet, bulan apa tuh mas?"


"Coba nanti Tasya cek ricek aja di internet, kalo minat... Tapi bunda mah berharap Tasya mau, biar bunda ngerasain ngurusin kamu," jawab papanya, suatu beban berat di pundak Tasya untuk memilih, gadis itu hanya mengangguk saja biar cepat.



Hari ini Tian bersama Rama dan tim basket mengajukan ijin dispensasi pada sekolah, pukul 9 pagi mereka berkumpul di tempat acara untuk melewati babak penyisihan Redbull Basketball League sesi Bandung.



Wajah imut dengan rambut yang ia gerai terpampang meski belum mandi, "maaf aku ngga datang buat dukung ya ay,"



Tian menggeleng, ia sudah selesai memakai kaos tim dan sepatunya, Nasya memang benar, ia juga setuju dengan Dian dan Merry, Gifaril tampak begitu keren dalam balutan kaos tim basket dan sepatu, apalagi jika ia sedang beraksi, bikin lawan jenis klepek-klepek kaya butuh air.




"Lambe mu Ian, gue comot juga nih gemes gue! Nara mana Nara!" Rama ikut menyela obrolan mereka, membuat Tasya ikut terkekeh, "itu si paRam? Papa semangat pa! Buat beli susu anak-anak!" tawa Tasya berseru.



"Sip! Sehat Sya, nanti gue traktir anak MIPA 3 jajan cilok sama cimin," jawabnya.



Tasya menatap Tian yang kini berbicara dengan mata sesekali menatap situasi disana, "kata dokter kapan bisa pulang?"



"Ngga tau, belum boleh soalnya demamnya masih ada..."



"Si papa sama bunda dateng semalem?"



"Ada,"

__ADS_1



"Ngomong apa aja cenah?"



Tasya langsung mematung, bagaimana jika Tian tau kalau kedua orangtuanya dan bunda Yani berniat menguliahkan Tasya di Jakarta nantinya?



"Engga, cuma basa-basi aja, nanya kabar sama ngobrol kondisi aku..." jawab Tasya, gadis itu tak mau Tian sampai kepikiran, toh itu masih lama, siapa tau nanti orangtuanya berubah pikiran, ia juga belum memberikan keputusan meskipun semalam mama Yua mengatakan mengijinkan, menyarankan juga agar mau ikut.


🍃🍃



"*Mama mah ngga akan larang Tasya, tapi ada baiknya ikut aja dulu, dicobain...kalo Tasya ngga betah bisa pulang, da mamah juga masih bisa biayain Tasya kuliah di Bandung....ini mah saran mama, bukan mau nyuruh-nyuruh, tapi menghargai papa sama bunda, takutnya kan berpikiran mama larang-larang Tasya, yang namanya hati manusia mah kita kan ngga tau," mama mengusap lembut kening dan membawa rambut Tasya ke belakang telinganya*.



*Tasya mengeratkan pelukannya di lengan sang mama, "kalo Tasya kangen mama, pulang aja ke Bandung pas weekend. Sebenernya papa sama bunda ada omongan ini waktu itu sama mama, tapi mama rasa masih lama lah kuliahnya juga, tapi ternyata hari ini mereka langsung ngomong ke kamu*."



*Tasya diam tak menyahuti, bukan hanya berjauhan dengan mamanya saja yang memberati langkahnya, tapi pun Gifaril. Pemuda itu pernah terpuruk dan kehilangan, apakah ia harus kembali mengalami itu*?



🍃🍃



"Ay, udah dulu ya...kayanya mau mulai, aku belum pemanasan,"



"Iya, good luck bongsornya boncel,"



Tian tersenyum, "bye sayang. Get well soon."



.


.


.


Note :



\*mamayu : keadaan dimana nafsu makan bertambah setelah sakit.

__ADS_1


__ADS_2