Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : EYES TALK


__ADS_3

"Sok buru!" paksa Gilang, malah ia yang ngebet kepingin ditembak Rama.


"Kalem--kalem. Kenapa jadi Nara ini yang ngebet pengen ditembak?" Ridwan menyemburkan kopinya tertawa mendengar pertanyaan awokawok Bayu.


Rama melihat Gilang, tapi tak bisa ia membayangkan wajah Nara di wajah garang Gilang. "Ahh! Susah euy!" ujar Rama frustasi.


"Dicoba dulu a, sok dipegang tangannya---" jawab Bayu. Ridwan sudah benar-benar pegal di bagian kulit perutnya.


Dan bo dohnya Rama manut-manut saja dengan usulan kamvrett ini.


Rama memegang tangan Gilang, "Ra, sebenernya---"


Bwahahahah, kedua teman luknut itu malah tertawa melihat kegugupan Rama.


"Berisik ku nyux!" Rama menendang pelan kaki Bayu dan Ridwan.


"Nara, sebenernya dari pertama aku liat kamu aku udah suka sama kamu---kamu mau ngga jadi pacar aku?" tanya Rama menatap Gilang.


"Astagfirullah!!! Tobat ih!" suara seruan dari bawah mengejutkan mereka, ternyata Vina berada di sana juga, ia tak sengaja melintas setelah pulang dari warung.


"Eh Vin!" Rama menggaruk kepalanya. Ketiga temannya itu malah tertawa terbahak. Begitupun Gilang yang menggaruk kepalanya tak gatal.


Minggu lalu sekolah ini melayangkan surat untuk orangtua, seruan mengadakan study tour untuk seluruh murid di SMA, destinasi tujuannya diantaranya sekitaran Bandung saja, Museum Geologi, Museum Kantor Pos, Museum Sribaduga, dan Museum Konferensi Asia-Afrika.



Beberapa bus pariwisata dengan nomor rombongan sudah berjajar di parkiran sampai keluar dari gerbang sekolah.



Nara sudah datang dengan Akhsan sepaket tas berisi beberapa cemilan dan minuman.


"Jangan ngelayap kemana-mana lagi!" Akhsan mewanti-wanti.



"Iya," Nara menyodorkan tangannya untuk salim.



"Assalamualaikum,"



Seiring perginya Akhsan, Nara masuk ke dalam sekolah.



Giliran study tour begini saja, anak MIPA 3 mendadak rajin dan semangat.



"Rioooo! Itu gummy Muti jangan diambilin atuh! Buat nanti di jalan,"



"Yooo, balikin makanan ayank gue Yo," bela Yusuf.



"Minta satu atuh Ti," sahut Rio.



Terlihat betul mereka begitu sibuk dan antusias, Fajar malahan sudah membawa gitar dan kini anak laki-laki sedang menyetel senarnya seraya nyanyi-nyanyi tak jelas. Dian dan Mery bahkan sudah menyetel ponsel dan tongsisnya.


"Ntar gue pinjem ya tante Mer--"



Nara duduk di tempatnya bersama Mita, Vina dan Rika ikut bergabung.

__ADS_1


"Bawa apa aja Ra?" tanya Rika.


"Ngga bawa apa-apa, cuma cemilan dikit sama minum. Kan kalo di museum ngga boleh makan--minum terus tasnya dititip."



"Owh iya gitu?" tanya Mita.


Nara mengangguk, "setau aku ya kalo di Geologi begitu,"



"Bawa nasi bungkus sama tikar Rika!" seru Fajar menyahut.



"Saravvv, dikira mau piknik di depan fosil!"



Guru-guru sudah memanggil para siswa untuk segera berkumpul di lapangan dengan toa.


"Yu!" ajak Nara pada ketiga teman lainnya.


"Yuk, bentar ih! Sepatu aku ada batunya,"


Mereka berjalan menuju lapangan seperti koloni semut yang berbaris di dinding.


"Yok buru, tuh udah pada dipanggil. Jangan sampe ada yang ketinggalan!" teriak Tama memastikan teman-temannya tak ada yang tertinggal.


"Ian, Ande buru! Matiin dulu hapenya!" teriaknya menarik kedua temannya itu.


"Si bongsor mah tinggalin aja lah! Ngga guna juga bawa dia!" cebik Tasya.


"Yang ada lo ditinggal, ngga keliatan kaya upil!" balas Tian pada Tasya.


"Heyy--hey! Malah berantem," decak Tama kepayahan mengatur teman-temannya yang lebih bisa dibilang anak TK.


"Coba wali kelas, dicek lagi murid kelasnya sudah masuk semua yang ikut belum?" pinta pak Wahyu.


"Sok langsung masuk aja ke bus nomor 3!" pinta bu Hilda.


"Ah, bu pengen nomor 1 atuh bu, da aku mah pengen jadi nomor satu di hatimu!" ujar Yusuf yang langsung dihadiahi toyoran di kepalanya.


"Huu!"


Bu Hilda hanya tertawa melihat tingkah anak kelasnya.


"Kenapa harus ada nomor 3 kalo aku satu-satunya di hatimu bu?!" tanya Rama.


"Eaaa--eaaa---eaaa!"


Diantara murid yang ada di lapangan, MIPA 3 saja yang kayanya ramai, mirip-mirip wisata warga satu kecamatan, padahal muridnya cuma 20 biji doang!


"Rama, Yusufff---" tegur bu Hilda.


"Dalem bu---" balas keduanya.


"Sedalem apa pa?" tanya Andy.


"Sedalem lautan yang tak berdasar," jawab Rama.


"Udah ah bercandanya, sok masuk ke bus---Tama coba ini tolong diceklisin yang udah masuk," pinta bu Hilda.


"Siap bu!"


"Sok, baris wan-kawan! Kaya napi yang mau dipindah tahanan!" teriak Rama lagi.


"Sayang jangan jauh-jauh dari aku!" pinta Rama pada Nara, gadis itu hanya merotasi bola mata saja karena bagaimana pun ia melawan dan menegur akan percuma saja, Rama itu tipe pemuda yang ngeyel.


Mereka semua masuk. Ada Tasya dan Muti di bagian depan lalu Dian-Mery, Vina dan Rika, setelahnya Nara dan Mita. Para gadis memilih duduk di belakang supir sementara sisanya para laki-laki duduk berantakan dan malah bergerombol di jajaran belakang dimana Rama duduk. Memang benar Rama itu bapaknya anak-anak MIPA 3, dimanapun ia duduk mereka pasti ikut.

__ADS_1


Belum apa-apa aktivitas disini sudah ricuh macam suasana konser. Belum lagi keusilan Yusuf dan siswa laki-laki lain. Bikin pusing! Berbeda dengan kelas lain yang anteng dan kalem, hanya sesekali terdengar suara genjreng-an gitar, kebanyakan dari mereka diam dan memainkan ponsel. Memang murid MIPA 3 itu ngga ada matinya, tenaga mereka seperti tak pernah ada habisnya.



Pandangan Nara mengedar keluar jendela bus, dimana lensa matanya menangkap jalanan seolah bergerak mundur.


"Ra,"



"Hm," Mita menyodorkan sebungkus cemilan ke depan Nara.



"Makasih," tangannya masuk untuk mengambil snack yang ditawarkan.



"Oh iya, aku ada ini!" Nara membuka ikatan simpul tasnya lalu mengambil kotak makan kecil berbentuk persegi berisi aneka coklat. Mirip-mirip Sherina yang mau bertualang.



"Woww, mau dong! Seru Vina dari depannya naik ke atas kursi dan menaruh kedua tangan di sandaran demi bisa melihat Nara dan Mita.



"Boleh," Nara menyodorkan kotak coklatnya.



"Emhhh, ini mah coklat silver tea Ra!" ujar Vina.



"Mauuuu," Rika ikut nimbrung dan mencomot coklat Nara.



Nara mengangguk," tanteku kerja di pabriknya sering bawa yang ngga lolos sampe packing karena bentuknya yang patah atau kurang cantik tampilannya. Dan sering kirim ke rumah, soalnya tau--ponakannya suka coklat!"



"Ponakannya tante kamu suka aku ngga?"



Keempatnya menoleh ke samping Mita, dimana Rama sudah berjongkok di samping kursi Mita.



"Ngga!" sengak Nara tapi kemudian gadis itu menawari Rama, "mau?"



Tatapan Rama usil namun penuh makna, "maunya kamu---" jawab Rama.



"Ck, gembel!" decak Vina.



Mita dan Rika tertawa, "iya A itu udah kaya gembel jongkok disitu, tuh yang dibawah udah penuh. Cebok sana!"



Nara membalas tatapan Rama, mungkin diantara mereka semua hanya Nara dan Rama saja yang mengerti arti tatapan ini, seolah kedua insan ini sedang bicara dari hati ke hati lewat tatapan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2