Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : RUANG MAWAR


__ADS_3

"Ruang Mawar..ruang Mawar..." mereka mengedarkan pandangan mencari dimana ruangan Mawar kelas 1. Semenjak Tian membawa kabar jika Tasya di rawat bahkan dioperasi pasukan MIPA 3 langsung menyusun ulang jadwal kegiatan mereka dan menyelipkan kata membesuk Tasya diantara kesibukan.


Cupid sempat bertanya pada suster bangsal Mawar kamar pasien bernama Tasya, jelaslah para suster bilang ngga ada. Mau Cupid berantem sampe gontok-gontokan pun jelas ia tak akan mendapatkan jawabannya.


"Nih suster ngeselin, lama-lama gue kawinin juga!" ucap Cupid membuat malu para penghuni MIPA 3.


"Lo yang be gonya ngga ada obat, ya jelas ngga akan nemu...coba lo tanya begini..."


"Maafin temen saya sus, dia emang baru keluar dari RSJ kalo pasien atas nama Amanda Daniarta Syarif kamar berapa ya?" tanya Tama mengambil alih bidang humas.


"Oh, pasien Amanda...bilang dong dari tadi, tapi adek-adek ngga bisa masuk semuanya ya..." ucap suster.


"Kalo masuk ke hatimu aja sus, boleh engga?"


Langsung saja kepala serta badan Cupid diserbu hujan dorongan dari teman-temannya.


"Gen paRam!" ujar Muti.


"Canda yank..tetep aku padamu, lope lope cenat-cenut!" balas Yusuf, mendadak bangsal Mawar jadi arena konser dangdut koplo kedatangan anak MIPA 3, berisiknya bukan main. Untung tak digeret security, baru datang sebagian belum semua...apalagi kalo semua sudah hadir? Gedung rumah sakit hancur minah!


"Pasien Amanda kamar 3 ya, bisanya 2 sampai 4 orang saja..." ujar suster.


Mereka saling lirik, "gimana? Mau siapa dulu?" tanya Tama.


"Gue Tam," ujar Muti.


"Kalo gitu sepaket sama gue Tam, kan gue sama ayank Muti pahe, paket hemat! Ada dia bonus gue!" imbuh Yusuf.


"Sableng!" gumam Dian tertawa, bahkan suster jaga disana tak bisa tak terkekeh.


"Ya udah gini aja, Cupid, Muti, gue sama Dian duluan...yang lain nunggu di kantin...ntar kita share info di grup, kalo yang lain sampe langsung suruh ke kantin aja..."


"Ide cendekia!"


"Cemerlang!" dorong Vian.


"Ya udah lah, gitu aja. Gue juga pengen jajan dulu!" balas Rika.



Mereka berpisah di depan bangsal Mawar, sementara Yusuf, Tama dan Dian masuk ke dalam bangsal.



"Makan dulu, cepet!" paksa mama Yuanita.



"Sebentar atuh ma, ini susah kunyahnya.." balas Tasya bersusah payah mengunyah makanan. Luka baru didapatnya, bukan dari sabetan samurai ataupun perkelahian dan semacamnya, namun bekas luka sayatan pisau di meja operasi, dokter terpaksa harus memotong usus buntu nya.



"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"



Wajah-wajah lelah, berminyak, kumel kini terpampang nyata di depan Tasya, "Sya!" Mutia langsung menghambur ke arah sahabatnya itu.



"Hay,"



"Sya, bu..." sapa mereka, diangguki singkat mama Tasya.


"Eh, baru pada pulang ini teh? Ngga pulang dulu?"



"Engga bu, biar sekalian keluarnya.."



"Sya, seriusan lo operasi usus buntu?" tanya Yusuf tak percaya.

__ADS_1



"Perlu bukti cup?" tanya Tasya, meskipun wajahnya masih terlihat pucat, tapi jika sudah bersinggungan dengan teman-teman sekolah maka gadis ini akan selalu memiliki energi lebih.



"Tian masih di sekull Sya, sama paRam, masih latihan..." ujar Muti memberikan laporan.



Tasya mengangguk, "tau.." karena sejak tadi pagi, bahkan sejak kemarin Tian memberikan kabar jika hari ini akan terlambat menjemput.



"Neng, makan buah atuh ya...biar mama kupasin?" tawar mama lagi.



"Nanti aja ma," balas Tasya.



"Eh, sok aja Sya. Jangan ngerasa ga enak sama kita lah...kamu sambil makan aja," imbuh Dian diangguki Tama.



"Gue mah heran Sya, nama lo darimana Tasya'nya coba?"



"Ah cupid mah, odob kebangetan...coba lo tulis nama di Tasya...Amanda Daniar**TA SYA**rif." Dian memetakan di udara.



"Halahh susah, udah kaya main tts aja,"



"Ih, cupid!"




"Suka-suka gue Cup,"



"Nih, buahnya udah mama kupasin. Berhubung ada temen-temen...mama ke kantin sebentar buat makan ya,"



"Oh iya bu, ngga apa-apa Tasya tinggal aja, ada kita-kita kok!" ucap Muti dan Dian.



"Mama ke kantin dulu Sya," pamitnya membawa dompet. Muti mengambil alih duduk di kasur samping Tasya.



"Lo sejak kapan kerasa sakit Sya?" tanya Tama duduk di kursi. Sementara Muti mengambil garpu dan memaksa menyuapi Tasya.



"Udah lama, tapi ga pernah gue anggap lah, gue kira cuma lambung aja...kaya biasa, dikasih obat maag udah beres! Tapi waktu 5 hari apa 6 hari ke belakang ya, lupa! Makin kerasa sakit," jawabnya menjelaskan.



"Iya ih, udah mah lagi sakit om bongsor malah marah-marah...btw selamat ya, ngga nyangka jadian!" Dian mengangguk menaik turunkan alisnya.



"Kalo gue mah udah tau lama! Nih anak dua pasti lama-lama demenan," tembak Yusuf memainkan labu infusan Tasya, "Sya kalo ini gue pencet, arusnya cepet engga ke badan lo?"



Mereka tertawa dengan tingkah absurd bin kampungan Yusuf, "paling muncrat Cup," jawab Tama.

__ADS_1



*Plak*! Tangannya digeplak Muti, "ngga usah ngadi-ngadi!"



"Lo berdua mah jahat, kamuflase! Di depan semua orang berantem-beranteman, di belakang mah kita ngga tau abis ngapain!" timpal Muti tertawa, ikut memakan buah milik Tasya.



"Paling si Tasya diajakin ngepush rank, iya ngga Sya?" tanya Tama.



Tasya terkekeh kecil lalu meringis, tertawa masih membuatnya sakit, dan kehadiran MIPA 3 adalah cobaan terberatnya.



"Tian ngga pernah main ML kalo lagi bareng gue...hapenya gue sita."



"Wah, seriusan?!" tanya Dian, padahal jika dilihat-lihat Tian itu paling maniak game jika di kelas.



"Iyalah ketemu pawangnya, kaya ngga tau boncelnya bongsor, galaknya ngalahin semut rang-rang!" jawab Muti.



"Btw, nama Tasya itu dari Daniarta...nama keluarga mama, terus Syarif, nama keluarga papa. Karena mereka pisah terus guenya netral, jadi gue putusin nama gue Tasya..." ujar Tasya masih menerima suapan Muti.



"Ohhh, tapi lo di netral jadi apanya?" tanya Yusuf.



"Tukang kecrek! Puas!" sentak Dian dan Mutia.



"Aduhh, sakit ih perut gue pengen ketawa!" keluh Tasya.



"Nih, anak emak emang ngeselin banget!" tunjuk Muti mengacung-acungkan garpunya pada Yusuf, yang semalam nekat datang ke rumahnya katanya sih ngapel malam mingguan padahal kan semalam masih masuk ke dalam hari rabu. Ngga tau dimana otaknya pemuda itu.



*Drrttt*....



*Woy, udah gantian besuknya! Nih kita nungguin udah sampe ubanan*.



*Tau, nih pawang Tasya udah ngga sabar pengen naik...Tian udah disini bareng rombongan tagonian paRam*.



"Sya, kita mesti gantian sama yang lain nih!" ujar Tama memasukkan ponsel ke dalam saku. Muti merengut dan menyimpan piring buah, tak sadar jika saat ini ia sudah menerima bantuan Yusuf untuk turun dari ranjang, "awas," Yusuf memegang tangannya yang dibalas genggaman tangan Muti.



"Sebenernya masih kangen Sya, cepet sembuh lah! Ditunggu di kelas, ntar kita jelong-jelong lagi sistahhh!" Mutia memeluk Tasya.



"Iya, thanks Cimut..thanks tante Di, kakak pertama, cupid!" satu persatu dari mereka memeluk Tasya dan keluar ruangan, yang ternyata sudah ditunggu Vian, Rifal, Gilang dan Vina, juga ada Tian, pemuda bongsor itu mengganti jatah tunggu mama Yuanita dengan membawa card milik mama Yuanita.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2