
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam,"
Deg!
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sesosok pria bertubuh kekar tengah duduk di ruang tamu rumah Mutia bersama papa Muti, keduanya menoleh kompak ke arah Yusuf.
"Yusuf? Temen sekelas Muti kan?!" tembak papa Muti. Yusuf hanya bisa nyengir saja, mau bilang iya mereka kini berstatus pacar, mau bilang engga...ia tebak lelaki itulah yang bernama mas Indra, seorang perwira tentara, orang yang dijodohkan dengan Mutia. Dari perawakannya saja ia langsung bisa menebak, rambut cepak, kulit gosong, badan kekar, belum lagi jaket hijau khas tentara negri, ngga mungkin kan tukang kebon.
Kenapa ia datang di waktu yang tak tepat, disaat Yusuf dan Muti akan jalan...Minggu depan adalah ulang tahun Mutia, jadi rencananya hari ini ia akan berpura-pura mengajaknya jalan biar bisa tau barang apa saja yang membuat Mutiara senang.
"Sini Suf, masuk...mau ada apa nih?" tanya papa Muti.
"Ah, engga om...mau ngajak Muti jalan sama yang lain," jawab Yusuf duduk di sebrang si loreng hijau itu, yang ia tangkap lelaki itu penuh tatapan waspada dan meneliti, ia juga melemparkan tatapan tak bersahabat, seolah tau jika Yusuf dan Mutia memiliki hubungan lebih dari teman, gestur tubuhnya menunjukkan seperti itu, darimana Yusuf tau? Ia kan cenayang, anak buahnya Roy Cimory.
Gadis itu keluar dari arah dalam, "hey!" sapanya, namun air mukanya langsung berubah drastis, ia terdiam saat tau ada Indra juga disana. Wajahnya mendadak pucat. Tangannya meremas tali tas selempang yang dikenakan.
"Dek Muti mau kemana?" tanya Indra.
"Mut, ini ada Indra kesini...masa kamu mau pergi," tegur papanya.
"Pa, Muti ada janji sama Yusuf..." jawab Muti.
Yusuf berdehem merasakan tak nyaman, tapi ia belum bisa ikut menyela ataupun ijin, pasalnya saat ini ia berada di luar radar obrolan.
"Batalkan saja dulu, ngga apa-apa kan Suf? Oh iya, kenalkan...ini Indra, calonnya Mutia..." ujar Papa Muti.
Bagaimanakah rasanya jika orangtua sang pacar mengenalkanmu pada calon suami pacarmu? Tentulah sakit, itu pula yang dirasakan Yusuf, Mutia benar-benar pucat saat ini, ia menggeleng lemah melihat Yusuf dengan tatapan mata nanar. Ia tak mengalihkan pandangannya dari Yusuf barang sedetik pun.
"Cup," cicitnya.
"Papa apa-apaan sih! Yusuf ini..." belum Mutia menjelaskan Yusuf sudah bergerak. Ia mengulurkan tangannya pada Indra, "saya Yusuf, pacar Mutia..."
Bukan hanya papa Mutia saja yang terkejut, namun gadis itu ikut melongo bak tersambar petir. Indra menautkan alisnya, "maaf?"
"Yusuf, pacar Mutiara.." kembali ia mengulang ucapannya.
Rahang papa Mutia sontak mengeras, "Mutiara!" bentaknya.
Indra menyunggingkan senyumnya miring seraya menyambut tangan Yusuf, "saya acungi jempol untuk keberanian kamu memperkenalkan diri, tapi maaf...dek Muti ini calon istri saya,"
"Keluar kamu!" tentu saja reaksi papa Muti marah menyeret Yusuf keluar rumah.
"Papa jangan pa!"
"Yusuf pacar Mutia pa, Yusuf itu..."
"Masuk!" pelototnya.
Bagi Yusuf tak ada kata menyerah, ia memang bebal dari lahir. Esoknya ia tetap menjemput Mutia di depan rumah sekalipun nanti papa Mutia akan mengusirnya lagi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!"
Bukannya disuguhi dengan pemandangan Mutia yang cantik lengkap dengan seragam SMA, ia malah disuguhi dengan papa Mutia yang sedang berkacak pinggang di gawang pintu.
"Wa'alaikumsalam," pria itu meloloskan nafas kasarnya, seolah mengatakan anak ini lagi...anak ini lagi...ck!
"Om," ia mengulurkan tangannya untuk salim takzim, papa Muti memang tak menolak sekasar kemarin, tapi dari raut wajah dan gelagatnya ia tetap tak menerima Yusuf.
"Saya sudah bilang, jangan pernah datang kesini lagi, Yusuf. Mutia sudah punya calon, seorang abdi negara. Hidupnya bakalan terjamin dengan Indra, masa depannya cemerlang! Kamu masih muda, kamu bisa cari gadis lain. Saya tidak melarang jika kalian hanya berteman. Tapi hanya sebatas teman."
"Saya mau jemput Mutia om buat sekolah bareng. Saya sayang anak om lebih dari teman, om.." jawabnya.
Muti dengan seragam lengkap dan tasnya tertahan di belakang pintu yang masih tertutup setengah, ia menahan mulutnya agar tak menumpahkan tangis. Sebenarnya tadi ia sudah akan membuka pintu, tapi rupanya sang papa memergoki kedatangan Yusuf dan menahan putrinya itu.
"Om, gini deh... kasih saya kesempatan buat jadi pacar anak om, saya tau om orang baik....setidaknya beri saya kesempatan untuk bersaing jadi calonnya Mutia. Saya tau om sama tante bakalan nikahin Mutia di usianya menginjak 21 tahun. Maka saya meminta kesempatan selama itu pula untuk memantaskan diri jadi kandidat calon suami putri om," pintanya memohon.
Pria itu mendorong kacamata karena dirasa sedikit merosot, terlihat berpikir keras dengan menautkan alisnya. Kemudian ia nenatap netra pemuda SMA di depannya dengan tatapan tajam penuh intimidasi, tapi dialah Yusuf, mentalnya tak setempe itu...ia balas menatap mata itu dengan tanpa ada rasa dendam tapi keteguhan hati.
"Saya mohon om," lirihnya.
Dari sampingnya Muti memegang lengan papanya, "pa.." manik mata sayu Muti memelas dan memohon pada papanya, Yusuf tau tangan putih yang tiba-tiba muncul dan memegang lengan om Arif itu adalah tangan Muti, ia tau Muti ada disitu, dibalik pintu yang masih tertutup.
"Saya sayang anak om, insya Allah pacaran kita sehat om. Untuk saat ini saya memang tak memiliki apa-apa dibandingkan mas Indra, hanya punya hati untuk bahagiain Muti...tapi bisa saya pastikan nanti jika sudah waktu yang telah ditentukan om, saya akan membawakan masa depan cerah untuk putri om."
"Cupid," Muti menitikan air mata bukan sedih, ia terharu jika cupid yang terkenal konyol bisa segentle dan dewasa seperti ini, apa ia kesambet jin pohon waru?
__ADS_1
Kembali dada papa Muti naik dan turun, meraup dan membuang nafas panjang, "oke. Tunjukan sama saya, kalau kamu memang layak bersaing dengan Indra."
Kedua remaja itu tak menyangka jika papa Mutia akan memberikan kesempatan untuk hubungan keduanya.
"Makasih om, makasih! Saya janji om!" Yusuf begitu senang, dalam satu waktu berdekatan kedua restu para orangtua mengalir untuknya, Allah begitu menyayanginya, hingga tak sadar jika sekarang ia malah sedang mengangkat tubuh papa Mutia macam piala.
"Eh Yusuf!"
"Cupiddd! Papa aku turunin!" seru Mutia.
"Eh! Maaf om, maaf! Maaf refleks om, saking senengnya!" Yusuf tertawa garing menurunkan papa Muti.
"Ya udah om, udah siang.. Takut telat berangkat sekolahnya..." ia memijit tengkuknya sendiri, baru juga direstuin udah bertingkah jangan sampai papa Mutia mencabut ijinnya lagi.
"Cupid ih!" Mutia menjewer telinga Yusuf.
"Aduh, maaf yank...barusan kelepasan, daripada gendong kamu belum mahrom," jawabnya ngeles.
"Pa, Muti berangkat dulu..."
"Mari om, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati..." pria itu tersenyum tipis melihat interaksi putrinya dan pemuda itu, sedetik kemudian wajahnya menatap getir nan nyalang, apakah ia terlalu kolot? Menjodohkan anaknya dengan Indra, ia hanya ingin masa depan Mutia terjamin, mendapatkan pendamping yang sesuai, bahagia, itu saja!
.
.
.
__ADS_1
.