Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : PUNCAK 1


__ADS_3

Sekolah mendadak sepi setelah perginya rombongan bus membawa serta hampir seluruh penghuninya, kecuali beberapa staf TU, penjaga sekolah dan security.


Jalanan sibuk kini berubah jadi jalanan dengan pemandangan hijaunya kebun teh, hamparan teh berhektar-hektar ini sebagian milik warga, pemerintah dan perusahaan perseorangan. Ban mobil belum menghentikkan lajunya saat badan bus berbelok menyusuri satu kawasan industri teh hijau, hingga akhirnya deretan villa berjejer megah diantara perbukitan hamparan teh.


2 villa yang saling bersampingan dengan nuanasa putih dan coklat menjadi tempat beristirahatnya rombongan yang di sewa sekolah, letaknya cukup strategis tak terlalu jauh dari jalan besar, pabrik yang sepertinya menjadi tujuan mereka dan kawasan wisata outdoor.


Sejenak mereka meregangkan otot-otot yang kaku akibat perjalanan, "Howaaakkkk! Udara disini boleh gue bekel ke Bandung engga ya? Mau gue jadiin oleh-oleh!" Rio menarik nafasnya panjang, saking panjangnya ia sampai membuat gerakan kuda-kuda dari bawah hingga atas.


"Lebay lu!"


"Lo nafas, tuh daun langsung pada mati!" tawa mereka selalu bercanda dimana pun.


"Honey!! Sini !!!" suara melengking bak tante Kun di malam hari membuat Nara menoleh, bukan hanya Nara tapi mereka semua.


Nara melirik Rama yang sejak tadi menggenggam tangannya, tak pernah semenit pun pemuda itu berada jauh dari Nara.


"Samperin aja, jangan memutus tali silaturahmi," ujarnya. Nara mengangguk setuju, toh merespon tak ada salahnya kan---takutnya mereka akan semakin membenci Rama jika Nara bertingkah sombong.


Nara berjalan ke arah mereka dan menitipkan tasnya pada Vina.


"Honey!" Inggrid memeluk Nara setengah memaksa.


"Kita kangen banget tau sama lo, sejak lo deket sama si preman pasar itu. Lo jadi jauh banget sama kita!" desis Dea.


Nara hanya tersenyum simpul, rupanya tetap saja mulut mereka tak bisa untuk tak menyalahkan Rama," ah masa sih?"


"Foto-foto yuk!" ajak Dea berkeliling, seperti biasa...mereka selalu semaunya mendominasi Nara. Rifal yang memang doyan tidur menghirup udara segar disini, namun matanya melihat Nara yang berjalan bersama anak-anak kompleksnya terlebih matanya sempat bersitatap dengan salah seorang diantaranya, ia mendengus tersenyum miring.


"Cewek lemah so-soan suka minum cocktail," gumamnya.



Nara baru saja kembali dan mencari dimana teman-temannya berada.



"Ra!" teriak Dian dan Mery, Nara berlari menghampiri.



"Yang lain kemana?" tanya Nara.


"Di villa, sebagian sih jalan-jalan keluar kaya kita! Villa kelas kita di situ Ra," jawab Dian menunjuk bangunan Villa sebelah kanan.



"Hm, aku masuk dulu kalo gitu!" pamit Nara.



Suara berisik anak-anak terdengar sampai ke luar, Nara yang baru saja masuk sudah tak aneh lagi disuguhi dengan pemandangan heboh anak MIPA, bersama MIPA 4 dan IPS 1, 2 berbaur jadi satu.



"Ra, kamar kita sini!" seru Mita dan Vina.



Hawa disini lebih dingin ketimbang Bandung, sampai-sampai keempat gadis yang masih bergu mul di atas kasur itu saling berebut selimut. Bukan hanya guru yang menjadi alarm alami, namun hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang cukup membuat mereka terbangun subuh-subuh.


"Itu yang masih di kamar, cepet baris di depan halaman villa! Karena waktu sudah menunjukkan pukul 7!"


"Dipercepat siap-siapnya, kegiatan wisata edukasi kita akan segera dimulai!"


Pak Marwan beserta guru-guru tengah berkoordinasi dengan salah satu staf dari pihak pabrik teh yang membuka sarana wisata edukasi kali ini.


Nara meniupi kedua telapak tangannya, mencoba menyalurkan rasa hangat dari mulutnya.


"Dingin ya?" tanya Rama ikut menggenggam tangan Nara.


"Cieee! Aduhhh udah dingin gini orang lain bisa anget-angetan, lah gue?!" seru Vian mengeratkan topi kupluk'nya.


"Om Vian butuh kehangatan?!" kedip Andy.


"Anjimmm!"


"Yank Muti sini aku angetin yank!" goda Yusuf.


"Angetin di atas kompor cup? Angetin pake dendam membara?" tanya Rifal tertawa.


Tapi perhatian Nara mengarah pada Tian dan Tasya yang kali ini bisa akur meskipun akurnya mereka masih ada jitak-jitakan manjanya.


"Kata si mama jangan makanin terus yang pedes!" Tian merebut keripik pedas dari tangan Tasya secara paksa layaknya jambret hape.


"Sedikit atuh, da disini mah dingin Ian!"


"Itu bibir kamu udah merah gitu boncel!" pelotot Tian lebih seperti perhatian seorang kakak.


"Om Tian! Dua-duaan sambil mesra-mesraan gitu, jangan dua-duaan om, nanti yang ketiganya setan!"


"Setannya lo Onde! Nih! Si boncel makan terus nggak bagi-bagi," alibi Tian.

__ADS_1


"Anak-anak dengerin bapa, disini kalian tidak boleh membuang sampah sembarangan apalagi buang ha jaaat...." ucap Rama memplesetkan dan menirukan gaya bicara pak Marwan.


"Ha-ha-ha-ha " tawa mereka pecah dan ucapan itu dihadiahi cubitan manis Nara di pinggang Rama.


"Ha-ha, bapak saravvv!" tawa Tama.


"Pak, kalo buang kenangan sama mantan boleh engga?" tanya Yusuf.


"Emang kamu punya mantan Cup?" tanya Mutiara.


"Itu kucing oyennya si Rio!" jawab Tian.



"Pake yank, panas!" Rama memakaikan topi miliknya di kepala Nara demi menghalau sinar matahari.



"Ngga lucu Abay!" jerit Rika, sementara Bayu dan Gilang tertawa puas dengan melemparkan ulat yang ada di daun teh pada siswa perempuan, sontak saja meteka berhamburan kecuali Vina yang memang terkenal karena tomboynya.



"Nih anak-anak minta gue gaplok!" Vina sudah mengambil ranting kayu dari pohon yang berdiri diantara hamparan teh.



"Wo wo wo! Tante Vin galak!" seru Abay dan Ridwan.



"Hajar terus tante!" ujar Andy.



"Vin, ck! Sakit peak!" Gilang yang berada di dekat Bayu ikut kena pukulan Vina, niat hati menahan Vina tapi rupanya Gilang malah tersandung batu hingga akhirnya keduanya jatuh bersama.



"Cieeeee!"



"Aduh, jangan disini atuh Lang, Vin! Sok cari kamar!" tawa Rama.



"Udah ih! Tuh kita ketinggalan barisan, becanda terus!" ucap Nara menyusul barisan siswa sekolah lain diikuti Rama dan siswa kelas MIPA 3 lain.




"So sweeet ih!" ucap Muti dan Tasya, membuat mereka kembali menoleh pada pasangan mama papa MIPA 3 ini.



"Lu mau juga ngga Vin?" tanya Gilang.



"Nih, pake topi gue!" tanpa aba-aba Gilang memakaikan topinya ke kepala Vina.



"Basah Bolang! Bau ih!" tolak Vina.



"Om \*\*\*, peletnya ngga ngena tuh! Kurang jampe-nya!"



"Berapa lama belum di cuci?" tanya Vian.



"Emh, belom lama--- setahun yang lalu mungkin!"



"Astagfirullah!! Gilanggggg....." pekik Vina.



Hari pertama ini yang mereka lakukan adalah memperhatikan caranya memetik daun teh, hingga akhirnya teh-teh itu diproses di dalam pabrik teh ternama di Indonesia ini. Bangunan lama namun sempat direnovasi dan berstandar pabrik modern. Bau teh menyeruak di penciuman para siswa, mesin-mesin canggih dan tenaga karyawan yang terlatih juga terdidik menjadi pemandangan mereka sesiang ini.



Sampai tak terasa beberapa jam mereka melakukan tur ini, beberapa nya juga termasuk Nara mencicipi teh yang masih fresh dari sini.


__ADS_1


"Kaya ada manis-manisnya!" tawa Rama.



"Pait kaleee pa! Masa teh hitam manis," jawab Muti.



"Kan minumnya sambil natap Nara!" jawab Rama.



"Ck!" Nara mengusap kasar wajah Rama.



"Aku niat ke toilet dulu ya Ram, Mita anter yuk!"



"Iya, hati-hati yank!"



"Hayuk Ra!" jawab Mita.



"Kalo keburu pulang, duluan aja! Nanti aku nyusul sama Mita!" teriak Nara.



Dan benar saja, acara sudah selesai saat Nara dan Mita keluar dari toilet.



"Udah duluan kali Ra, balik ke villa aja langsung yuk!" ajak Mita diangguki Nara.



Nara langsung menjatuhkan badannya di kasur, kakinya pegal betisnya berasa mau meledak karena berjalan cukup jauh hari ini, sementara yang lain selain memilih beristirahat ada juga yang kembali ngumpul di ruang depan villa.



Sudah cukup lama Nara berbaring tanpa tertidur, "eh iya Rama mana?" ia bangkit dari posisinya lalu berjalan mencari Rama.



"Vin, liat Rama engga?" tanya Nara pada Vina yang sedang nyemil kue bersama siswa perempuan lain.



"Engga, kan dari tadi sama kamu Ra?" Vina balik bertanya.



"Aku dari toilet sama Mita,"



"Coba tanya om Bolang, ma! Biasanya papa suka bareng om \*\*\*!" usul Tasya.



Nara mengangguk menuju ruang depan, saking tak sabarnya ia sampai memanjangkan lehernya agar cepat melirik ruang depan, "Lang, liat Rama?"



Gilang mengernyitkan dahi, "Wan, Bay---si Rama mana?"



"Lah, kirain tadi sama kamu, Ra?!"



"Onde!!!" teriak Gilang.



"Euyy?!"



"Liat Rama ngga?" tanya Gilang.



"Kagak!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2