Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
DEA-RIFAL : KEHIDUPAN TAK SEINDAH SURGA


__ADS_3

Langkah Rifal sempat terhenti sejenak tatkala melihat sang ayah tengah bertengkar hebat dengan istri mudanya. Ia tersenyum menyeringai, bagi Rifal pemandangan ini adalah makanannya sehari-hari sejak dulu. Inilah pula yang merubah kehidupan sempurnanya 180 derajat. Rifal yang baik, Rifal yang penurut menjadi Rifal yang baji ngan dan pembangkang.


Sepulang dari rumah Nara, ia tak langsung pulang ke rumah sebenarnya, tapi berhubung anak geng motor tak ada jadwal racing, dan besok harus sekolah ia memutuskan pulang pukul 11 malam, see...apa yang dilihatnya sekarang, pemandangan kerak neraka tersaji di hadapan, drama kekerasan rumah tangga.


"Matiin aja!" gumamnya mengompori, biar hancur-hancur sekalian semuanya.


"Ini lagi anak! Keluyuran aja kerjanya!" teriak papa Rifal tapi ia tak peduli. Baginya, yang dianggap manusia hanya anak MIPA 3, bu Wilda, Thunderboy, alm. Mama, alm. Hana, ke semua itu adalah orang-orang yang menganggapnya manusia seutuhnya. Semua tindak tanduk papa terekam dan tersimpan rapi di dalam hati dan pikiran Rifal, menjadi tumpukan penyakit hati, Rifal sakit, pa...Rifal sakit, ma.


Tanpa menghiraukan suara-suara barang berjatuhan dan teriakan histeris memacu adrenalin Rifal masuk ke dalam kamar, menutup wajahnya dengan bantal dan terlelap diantara baju yang belum sempat ia ganti, diantara mimpi-mimpi buruk sebuah ikatan hubungan antara manusia.


Suara adzan subuh berkumandang tak lantas membuatnya ingat seruan dan ajakan Ramadhan, solat Fal...sebelum lo disolatin. Tapi lama kelamaan suara Rama begitu jelas terdengar di otaknya, memaksa Rifal untuk terjaga.


Hari ini Rifal tak melihat gadis itu, gadis yang kemarin ia kejar dan memiliki riwayat penyakit asma.


Matanya menghitung hanya ada 4 manusia yang cekikikan dengan Inggrid menjadi perempuan satu-satunya, menempeli Kenzi.



"Belum datang kali ya," gumam Rifal.



"Om Fal!" Mutiara, gadis itu langsung menghambur dan tanpa aba-aba memeluk lengannya saat Yusuf mengejar di belakangnya menyerbu Muti. Bagi siswi MIPA 3, mereka sudah seperti keluarga dan adik Rifal sendiri.



"Yank tunggu ih!"



Rifal menggeleng, "lo berdua ngga tau malu, sekolah udah kaya lattar bollywood aja,"



"Timpuk dia om, timpuk...dasar cowok playboy cap bon utang!" desis Muti.



"Engga yank, itu mah adik kelas junior di OSIS, cuma nanya agenda aja!"



"Awas sana! Gue mah mau sama om Fal aja, sana sama adek manis'nya X A!" tolak Muti.



"Lo, anak bawang berdua..." Rifal melepaskan tangan Muti dari pergelangannya dan memutar badan Muti, lalu kepala Yusuf yang terbalut topi ia putar layaknya tutup toples, "ngga usah kaya bocah! Lo...Mut, lo lagi cembokur...pake so so'an ogah sama si cupid! Dan lo cup, jangan geberrr gombal sana sini, kalo ngga mau cewek minggat kaya ikan sarden!" ujar Rifal membuat Cupid tersenyum lebar kaya onta, sementara Muti manyun kaya bebek, onta dan bebek disatuin jadi apa, cobak?!



"Lagian ayank gue dijodohin sama tentara Fal, gimana gue ngga galon?!"



"Lo kalo mau curhat sama mama Dedeh, bukan sama gue. Kalo lo curhat sama gue, saran gue lo sikat tuh tentara biar pincang dan nyokap Muti kagak mau punya mantu pincang!"


__ADS_1


Beberapa siswa MIPA 3 yang menyusul di belakang tertawa mendengar saran menyesatkan.



"Saravvv ih! Om Fal kriminilll!" ujar Tasya, gadis itu sudah sembuh, dengan di rangkul Tian di sampingnya, rupanya sudah go publik tak memperdulikan suara sumbang teman-teman bekas kelas X keduanya, suka tidak suka inilah pilihan mereka.



"Kriminil mah tanaman Manda," Vian bersuara.



"Kalo lo curhat sama Rifal, lo ditinggal ngorok, cup!" sahut Tian.



"Ada apa sih rame-rame?" tanya Nara.



"Lagi ngocok arisan!"



"Lagi bagi-bagi sembako, ma!"



Kelakar MIPA 3 memang tak pernah ada habisnya, Rifal tak bisa menghentikkan lirikan matanya dari kelas MIPA 2, dimana sosok Deanada tetap tak ada disana, padahal sudah bel masuk sekolah. Hingga pertanyaan Vian menyadarkannya, "Kapan balapan lagi, Fal?"




"Gaskeun, gue ikutlah! Berapa hadiahnya?"



"3 juta, ngga terlalu gede lah sesuai sama biaya pendaftaran cuma 50 ribu. Tapi lumayan buat jajan," jawab Rifal.



"Jangan terlalu sering lah Fal, mendingan lo cari paruh waktu kalo buat jajan, kaya gue!"



"Lo kerja di abah lo sendiri kamvrett," jawab Rifal.



"Jangan salah Fal, si Rama sekarang suka ngikut desain grafis di CV kang Indra," timpal Gilang. Tak ada yang berani membahas ayah Rifal di MIPA 3, mereka sama-sama tau, suka duka mereka lalui bersama.



"Lo kalo gue rekomendasiin ke kang Wawan kira-kira mau ngga Fal?" tanya Rama. Rifal melirik Rama.


__ADS_1


"Ya, lumayan lah buat uang jajan, lo kan jago modif motor, kebetulan si kang Wawan buka bengkel modifan, mumpung masih baru jadi siapa tau ntar lo jadi kuncen senior disana..." Rama terkekeh, Rama memang selalu nyaut-nyaut berfaedah, ia selalu memiliki solusi untuk anak-anak MIPA 3 atas masalahnya.



"Boleh lah, lumayan buat nambah duit jajan, jadi gue bisa keep duit dari bokap buat jaga-jaga!"



"Jaga-jaga apa om Fal? Buat kawin?!" tawa Dian.



"Buat jaga-jaga modal balapan!" tawa Andy.


Sampai bel istirahat rasa penasaran Rifal belum jua terobati, ia yang sedang berjalan bersama Vian dan Andy hendak menuju warung babeh mengedarkan pandangannya mencari salah satu murid MIPA 2, tak terlalu fokus dengan obrolan kedua manusia di sampingnya.


"Vi, Nde..lo berdua duluan aja...gue ke toilet dulu lah!" bohongnya.


"Oke,"


Rifal undur diri dan melimpir ke kantin, ia menepuk pundak salah satu siswi hingga ia terkejut.


"Lo MIPA 2 kan?" tanya Rifal, wajahnya mengernyit melihat Rifal siapa yang tak tau personel MIPA 3 beserta seluruh cerita yang menempel di setiap penghuninya, siswi itu mengangguk.


"Iya,"


"Si Deanada kemana?" tanya Rifal.


Awalnya ia mengerutkan dahi, entah tengah mencari jawaban atau sedang berpikir ngapain nanya-nanya? Ada hubungan apa?


"Oh, Deanada..dia ijin sekolah, sakit katanya sih.."


"Oh," angguk Rifal singkat, pikirannya langsung mengingat kejadian kemarin. Tanpa permisi ataupun berucap terimakasih Rifal langsung pergi begitu saja, ia adalah tipe pemuda yang pelit bilang makasih atau maaf pada orang lain sebenarnya.


Sepanjang sisa waktu di sekolah ia memikirkan satu dan lain hal, tapi itu semua tentang Dea, tak banyak gadis yang mampu bertahan di sampingnya, selain dari makhluk-makhluk kebal cacian MIPA 3 mengingat sifat Rifal yang begitu introvert, emosian, irit bicara ditambah kelakuan minus dan pergaulannya, mereka semua memilih mundur meskipun wajah Rifal ngga jelek-jelek amat, malah terkesan ganteng gahar.


Bel baru akan berbunyi tapi Rifal sudah mencangklok tasnya, tak ada yang harus ia rapikan sampe bermenit-menit karena tak banyak alat sekolah yang ia keluarkan.


"Gue duluan!" ujar Rifal terburu-buru saat bel baru saja berbunyi membuat teman sekelas saling cibir, "boker om Fal? Kaya lagi dikejar se tan?!"


"Buru-buru amat om, do'a aja belom oy!"


Ia bahkan sampai ijin pada guru yang ada disana untuk keluar kelas duluan.


Sebelum benar-benar membelokkan motornya ke kompleks perumahan Dea, ia mampir sejenak ke toko buah dan membeli beberapa buah-buahan, sudah biasa baginya begini saat dulu Hana sakit.


Rifal mematikan mesin sepeda motor tepat di rumah yang besarnya sama dengan rumahnya, dari luar terlihat sepi, ia turun dari motor lalu sekilas mematut penampilan urakannya di kaca spion kemudian merapikannya. Jaket yang tak di sleting ia tepuk-tepuk agar debu jalanan luruh.


"Permisi!" teriaknya sekitar 4 kali.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2