
Nara menjatuhkan tubuhnya diatas kasur begitu saja, mengubur diri diantara rasa kecewa dan sesak. Ulang tahun kali ini Allah memberikan hadiah berupa kekecewaan, mungkin agar Nara senantiasa bersyukur dan belajar, tak selamanya hidup penuh akan pelangi atau langit bumi yang begitu cerah.
Ia pernah kecewa, ia tau rasanya kecewa. Tapi merasakan kecewa oleh orang yang selalu berkata, you're the only one, and so special itu berkali-kali lipat sakitnya.
"Ra, kamu ngga apa-apa?" suara bariton Akhsan terdengar dari balik pintu bersama ketukan di daun pintu. Tak ada jawaban dari gadis itu, mungkinkah Nara pura-pura tuli atau memang mendadak tuli?
"Ra, kalo ada apa-apa tuh cerita," sambungnya lagi bergema di balik pintu kamar.
Nara mengangkat wajah yang sudah ia sembunyikan di balik bantal, ia hembuskan nafas demi mengatur nada suara agar tak terlalu bergetar, "ngga, Nara ngga apa-apa bang!"
Nara menyerut ingusnya dan mengelap wajah yang tak sengaja teraliri air mata.
"Dibalik ucapan ngga apa-apa'nya cewek tuh, pasti ada sesuatu." Balas Akhsan.
Handle pintu terlihat bergerak, dan Nara tebak jika abangnya ini tak akan menyerah begitu saja untuk membujuknya, atau lebih tepatnya mengganggu dan kepo. Memang benar, karena sedetik kemudian pintu kamarnya terbuka melebar.
"Tuh kan mewek, mau cerita?" tanyanya berjalan mendekat. Ngga mungkin ngaku kelilipan karena Akhsan bukanlah lelaki bo doh. Apalagi mengaku tak menangis, sudah pasti ia akan tertawa tergelak.
"Rama?!" tembaknya tepat sasaran, mungkin dengan menunduknya Nara dan gestur tubuh gadis itu, Akhsan sudah dapat menduga apa jawaban adiknya itu. Ia adalah lelaki dengan waktu hidup lebih lama ketimbang Nara, asam manisnya hubungan percintaan pernah ia rasakan.
"Kenapa lagi?" tanya nya bernada penasaran. Nara berfikir mungkin tak ada salahnya juga ia bercerita pada abangnya itu, setidaknya beban hati akan sedikit berkurang karena telah ia bagi. Mulutnya mulai terbuka untuk bercerita pada Akhsan, layaknya bercerita pada seorang teman.
Alisnya terkadang berkerut lalu kembali datar dan terangkat menyimak cerita sang adik, "abang cuma mau kasih saran sama kamu, mending kamu obrolin dulu sama Rama jangan main ambil keputusan sepihak. Siapa tau kan ini cuma sa---"
"Bang!" potong Nara mengusap pipinya membuat Akhsan mengatupkan mulutnya.
"Bisa ngga sih lo ngga belain Rama terus, sebenernya yang adek bang Akhsan tuh Rama atau aku? Cowok tuh emang ngga bisa ngertiin perasaan cewek. Saat ini gue cuma mau di dengar bukan diceramahin, abang udah tau kan apa masalahnya, sekarang abang keluar!" gadis itu mendorong punggung Akhsan untuk segera keluar dari kamarnya. Memang jika seseorang sedang ada dalam lautan emosi, saran dan ceramah itu bukanlah solusi yang tepat, maka beginilah endingnya.
"Ck, bukan mau belain siapa-siapa, abang cuma mau kasih tau aja. Awas jangan sampe kamu nyesel nantinya," ucap Akhsan dalam langkahnya, hingga berada di gawang pintu kamar Nara, gadis itu menarik handle pintu dan menutupnya tepat di depan wajah Akhsan.
Blugh!
Beberapa lama Nara melirik kembali ponselnya, ia mencebik kesal bahkan melempar secara kasar benda pipih yang terkadang bisa membuatnya ketawa-ketiwi sendiri, manakala tak ada satupun pesan dari Ramadhan, "nyebelin."
Seharian ini, Nara hanya diam dan cemberut. Sejak tadi pagi moodnya telah hancur oleh Kirana dan Rama.
*Drtttt----drtttt*.
Beberapa pesan masuk, ada grup MIPA 3 ada pula pesan dari Inggrid.
*Ra, jalan yuk! Biar ngga suntuk*.
Nara yang sedang menuruni tangga, terhenti di pertengahan, alisnya terangkat sebelah. Kenapa ia tidak ikut saja, siapa tau dengan pergi keluar rasa sakit hati dan mood jeleknya bisa teratasi.
__ADS_1
*Oke*!
Nara kembali ke kamar untuk bersiap.
Nara!
"Nara! Ada temen-temennya nunggu," teriak papa dari lantai bawah.
"Duduk dulu deh," pinta papa.
"Makasih om,"
Akhsan yang memang sudah menaruh rasa tak suka begitu ketus dan judes. Tak ada senyum yang ia lempar pada Willy atau Gibran. Ia justru lebih memilih naik ke lantai atas menyusul adiknya.
"Cel! Boncel!"
Nara keluar dari kamar dengan stelan baju casual yang rapi dan wangi parfum yang sudah semerbak.
"Lo mau kemana? Jangan bilang mau jalan sama anak-anak itu lagi?! Abang ngga ijinin!" Akhsan menghalangi jalan adiknya.
"Apa sih! Awas minggir!" sengitnya tak mau kalah.
"Bilang dulu mau kemana?" desaknya.
"Ngga usah ikut heboh, mama sama papa aja ngga se posesif abang. Lagian Nara tuh suntuk di rumah, toh orang-orang ngga ada yang bisa naikin mood Nara, Nara mau keluar buat nyari angin---" jelasnya ketus penuh penekanan jika ia bosan di rumah.
"Awas lo kalo macem-macem," ancamnya.
"Apa selama ini Nara pernah bikin kecewa keluarga?" balasnya tak kalah memukul dada Akhsan dengan ekspresi datarnya. Akhsan tak bergeser sedikit pun, tapi Nara mengambil celah samping badan Akhsan dan turun ke lantai bawah.
__ADS_1
"Jangan malem-malem baliknya!" teriak Akhsan, tak Nara hiraukan.
"Yuk!" ajak Nara.
Mereka berpamitan pada orangtua Nara, lalu masuk ke dalam mobil Willy.
"Karokean yuk! Gimana?!" ajak Dea.
"Boleh!" angguk Inggrid. Tapi seolah waktu tertarik mundur ke saat-saat semalam dan tadi pagi, Nara hanya menatap jauh ke luar kaca jendela tanpa mau beralih, arah pandangannya terlihat lurus melihat pemandangan jalanan, tapi pikirannya berputar diantara pusara masalah semalam dan pagi tadi. Suara gaduh Inggrid dan Dea serta Gibran tak sedikit pun mengganggu lamunan kencangnya.
"Ra, lo baik-baik aja kan?" tanya Willy.
"Kayanya nih anak lapar deh, makan aja gimana?" tanya Gibran. Nara hanya mengangguk, berharap apapun ide mereka bisa mengurai pikirannya saat ini.
Sebuah cafe anak muda yang sedang hits dan cukup ramai menjadi pilihan mereka, namun tetap saja... tak jua dapat mengusir kegalauan gadis ini.
...***Diantara keramaian, kesunyian di dalam kepala begitu terasa. Dan namamu yang paling kencang terdengar***......
"Suth!" senggol Gibran pada Willy saat Nara hanya bertopang dagu mengaduk-aduk jus alpukat miliknya.
"*Ra, are you oke*?" Willy menyentuh tangan Nara, membuat gadis itu tersentak, "ha?! Gue ngga apa-apa. I'm oke!" senyumnya nanar dan menggeser gelas tinggi itu lalu menyedot jusnya.
"Oh iya! Masalah di villa, gue sama yang lain minta maaf," ujar Willy membuat Nara menatapnya, terlihat raut wajah menyesal dari mereka, tapi Nara tak dapat memastikan jika itu tulus atau tidak.
Nara mengangguk pelan, dan kalimat Willy barusan malah semakin mengingatkan Nara akan masalahnya saat ini.
"Seseorang pernah bilang, Allah aja maha pemaaf. Masa gue yang cuman hambanya engga," kalimat itu lolos dari mulut Nara, percayalah itu adalah kata-kata Ramadhan, dan saat ini Nara sangat ingin menumpahkan kembali tangisnya.
.
.
.
__ADS_1
.