
Pemberhentian pertama, museum Geologi.
...MUSEUM GEOLOGI...
Dengan lambang seperti kompas diantara kata museum dan geologi. Berdiri tiang bendera negri di tengah halaman museum, dengan beberapa fosil kayu yang di taruh di sekitar museum berikut keterangannya. Pepohonan disini cukup banyak jadi tak terlalu panas untuk para pengunjung.
Murid sebanyak ini tidak mungkin dijadikan satu barisan dengan hanya satu pemandu museum saja, bisa-bisa pita suaranya habis dan rusak. Para guru membagi sekolah Nara jadi 3 kloter, dan MIPA 3 terpisah dari MIPA 1 dan 2. Itu artinya Nara terpisah rombongan dari kawan-kawan kompleknya.
Nara mengedarkan pandangannya menyapu keseluruhan ruangan lantai satu museum yang pernah didatanginya dulu saat SMP juga saat SD. Fosil mammoth menyambut dengan jam digital menempel diatas pintu masuk. Ruangan dingin ber-AC membuat para pengunjung betah.
Cukup ramai juga meskipun memang tak sampai berjubel-jubel karena museum ini cukup luas. Itu artinya bukan hanya sekolah Nara dan Rama saja yang mengunjungi museum ini, banyak anak tk, pengunjung biasa, tapi pun ada anak smp pula.
Nara mengumpulkan tas di bagian informasi bersama tas-tas siswa lain. Entah sadar atau tidak ia tak menggubris kawan-kawan komplek saat memanggilnya, karena suara ribut anak-anak juga tentunya. Mereka bagaikan hilang di radar Nara saat ini.
"Ram semangat! Ganbatte!" Gilang menepuk pundak Rama.
"Sok a, bismillah dulu biar lancar!"
"Mau ngapain gitu bismillah, mau ujian?" tanya Rifal.
"Lo liat aja ntar, siap-siap bawa perut kosong buat nampung pajak jadian!" kekeh Bayu.
"Asik!" Yusuf dan Tian yang ikut mendengar berseru.
Siswa laki-laki berada tepat di belakang siswi, percayalah mereka justru lebih heboh ketimbang anak TK, tingkah kekanakan mereka bikin geleng-geleng kepala. Nara mencatat semua penjelasana dari pemandu dan bu Hilda meski ia pun sebenarnya hafal-hafal lupa.
"Cup! Ini pacar lo!" tawa Tian pada fosil hewan mirip kerbau.
"Hahaha, saravv!" tawa mereka berkelakar.
"Bongsor! Tuh bini lo!" tunjuk Tasya ke arah fosil mammoth.
"Iya, ntar bini gue injek lo biar ilang dari muka bumi!"
"Yank, coba pilih mau mahar yang mana?!" tunjuk Yusuf ke arah etalase tertutup yang menampakkan berbagai batuan bumi sebesar-besar batu kali.
"Sue njayyy!"
"Sayang," suara yang berhembus di kuping Nara beraromakan mint mengejutkan gadis itu. Rupanya pemuda itu sudah berada tepat di belakang Nara, sejak kapan?!!
"Ih Rama! Bisa ngga sih jangan ngagetin!" Nara memukul lengan Rama lalu kembali berbalik ke depan demi berkonsentrasi, Nara sedikit kesulitan fokus karena gangguan makhluk-makhluk astral MIPA 3.
"Kaya lelembut berbisik gitu!" kikik Rika.
Bukannya mundur, Rama malah semakin me-mepetkan langkahnya dekat dengan Nara.
__ADS_1
"Ra, tau ngga kenapa dinosaurus punah?" tanya nya mencondongkan wajah ke depan.
"Karena gunung berapi," jawab Mita ikut menimpali.
"Karena hujan meteor," jawab Nara setengah menyimak karena sekarang fokusnya terbagi-bagi.
"Karena udah takdir," jawab Gilang terkekeh ikut-ikutan, sepertinya kelakar mereka lebih asyik ketimbang penjelasan pemandu dan bu Hilda.
"Eh bukan atuh, kenapa dinosaurus punah karena mereka minder sama cinta aku yang ga pernah punah sama kamu, "
"cieeeee!!! Sikat pa!" sorakan anak MIPA 3 terkhusus siswa laki-laki membuat semua pengunjung membalikkan badan ke belakang, ucapan pemandu dan bu Hilda pun seketika terhenti.
"Apa itu! Lagi apa, jangan bercanda---nanti giliran dikasih kuis ngga tau!" ujar bu Hilda sedikit kesal.
"Si Rama ini mah da biang kerok nya!" Vina berujar.
Jika bisa, Nara akan memasukkan wajahnya ke dalam kresek hitam lalu menggelinding keluar museum saat ini juga karena sudah malu.
"Kita lanjut!" bu Hilda mendelik, ingin rasanya ia mengukus anak-anak muridnya itu saking gemasnya.
"Ra, harusnya kamu tuh dimasukin ke sana," tunjuknya pada sebuah kotak kaca berisi peninggalan sejarah.
Nara memejam, mulutnya berdecak, "astagfirullah! Rama, bisa diem ngga?" galaknya menoleh horor. Mereka cengengesan menertawai Rama yang dimarahi Nara.
"GA TAU DAN NGGA MAU TAU!" Nara sampai menggertakkan giginya.
"Jangan atuh, emangnya si Nara peninggalan sejarah?!" jawab Ridwan.
"Ya udah masukkin aja aku sekarang!!" ucap Nara, menantang dan berkacak pinggang pada si pujangga cinta kelas MIPA 3 itu, tanggung kesal, toh! Catatannya pun sudah banyak yang terlewat gara-gara Rama cs.
"Ya jangan lah, karena besoknya kamu bakal denger berita viral!" jawabnya.
"Berita apa? "tanya Nara.
"Anak laki-laki abah haji Nawir tertangkap basah sedang menjarah museum Geologi." Dia memetakan tangannya di udara.
"Karena aku bakal nyuri kamu buat dibawa pulang," jawabnya lagi.
"Aduhhh, hati dedek! Meleleh pa kaya getah karet!" sahut Yusuf, membuat anak-anak siswa lainnya tiba-tiba menggotong Yusuf dan memasukkannya ke tong sampah.
"Weyyy---weyyy saravvv!" teriak Yusuf.
Nara menarik Mita untuk segera menjauh, takut jika nanti kena amukan bu Hilda lagi. Hingga tiba mereka menjejaki langkahnya ke lantai 2 dimana pengetahuan tentang material bumi dan mineral berada, ada pula simulasi gempa bumi dan segala pengetahuan tentang vulkanologi disana.
Teman-teman lain sudah masuk ke dalam ruangan bersama bu Hilda, tapi tiba-tiba saja Rama menarik Nara, "bisa ikut sebentar?" tanya nya dengan wajah serius.
__ADS_1
"Mau ngapain? Kemana?" tanya Nara mengernyitkan dahi.
"Sebentar aja Ra," pintanya memohon. Baru kali ini Rama bersikap begini pada Nara.
"Tapi yang lain udah pada masuk, nanti kita ketinggalan?"
"Nanti aku bawa lagi kamu kesini kalo belum puas," jawab Rama tanpa melepaskan tangan Nara.
"Ya udah oke, kemana?" tanya Nara.
Rama mengajaknya kembali turun ke lantai satu,
"Nara!" panggil Mita yang tiba-tiba menyadari kehilangan Nara.
"Sut! Ngga usah teriak-teriak.Nanti bu Hilda denger, mau liat Nara ditembak ngga?" tanya Ridwan.
"Hah? Rama mau nembak Nara?" Ridwan mengangguk, bukan hanya Mita saja rupanya Vina, Rika, juga mendengarnya.
Nara mengernyitkan dahinya, "kenapa balik lagi kesini?"
Tepat di depan ruangan fosil-fosil purbakala, entah itu kerbau dan musang atau apa Rama tak mengerti, yang jelas menurutnya tempat ini cukup bisa menjaga konsentrasinya menyatakan perasaan.
"Si Aa meni ngga romantis gini nembaknya di depan munding(kerbau)!" bisik Vina, keenam manusia dur janahhh itu mengintip manja di balik tembok, mendengarkan obrolan Rama dan Nara.
Rama sudah berkali-kali meloloskan hembusan nafas gugup, "ya Allah meni susah gini mau nembak juga," gumamnya pelan.
Ditatapnya Nara dalam yang sudah menunggu ucapannya sejak tadi, "Ra, maaf kalo kesan pertama kamu liat aku itu urakan--bandel---suka usil, konyol. Jujur, pertama liat kamu selalu bikin aku pengen dapet perhatian kamu, pengen deket kamu--aku suka kamu, Ra."
Nara mulai tau arah pembicaraan mereka kemana, ia menegakkan postur tubuhnya menampakkan gestur bersiap mendengarkan ucapan Rama lebih serius lagi.
"Di depan fosil yang ngga tau ini teh apa, kerbau apa musang atau apa----aku mau kamu jadi pacarku," ia merogoh saku seragam celananya, bukan cincin atau gelang, coklat apalagi seikat bunga dan puisi seperti Willy, melainkan------
"Permen kaki?" Nara mengerutkan dahinya.
"Biar lidah kamu ngga kelu dan lancar jawab pertanyaan aku barusan!" ia nyengir lebar.
HA-HA-HA-HA!
Tawa menggelegar memecah obrolan keduanya dan menolehkan kepala ke arah tembok ruangan.
.
.
.
__ADS_1
.
.