
Hubungan kembali lancar jaya mirip nama perseroan terbatas.
"Langsung pulang ya? Aku mau ke pasar dulu, bantuin abah," Rama memasangkan helm di kepala Nara.
"Kalo ikut boleh engga?" tanya Nara berwajah manis, Rama menatap gadis itu lalu sedetik kemudian tersenyum simpul, ia tau jika Nara selalu merasa kesepian di rumah.
"Nanti kamu kucel kalo sering-sering ke pasar, kumel kaya lap kompor. Dekil kaya uang kembalian pindang tongkol gimana?" kekeh Rama.
"Biarin," jawab Nara tetap kekeh.
"Okelah let's go! Sekali-kali jadi petualang, my market my adventure!" balas Rama dibalas tawa Nara.
"Berani dekil itu baik!" balas Nara, memeluk erat di belakang Rama.
"Cakep!" Rama memberinya jempol di depan wajah Nara.
Tapi sesampainya disana, Nara hanya bisa panik sekaligus khawatir di pinggiran kios salah satu pedagang di pasar, hidup memang penuh kejutan.
*Bughhh*!
Rama, Gilang, Bayu dan Ridwan tengah beradu jotos dengan sekelompok berandalan yang beberapa menit lalu membuat onar serta mabuk-mabukan di pasar. Mereka bahkan mengacak-acak dagangan salah satu pedagang sembako yang tak memberi mereka uang jatah preman.
"Ibu ngga apa-apa kan?" tanya Nara khawatir membantu memunguti barang dagangan yang masih layak jual bersama penjual dan para pembeli yang ada disana.
"Enggak neng, makasih. Ngga khawatir lah kalo ada a Rama sama yang lain mah," jawabnya.
"Iya, untung si aa teh udah pulang mampir dulu ke pasar," sahut yang lain menimpali.
Nara menatap meringis dengan sorot mata ngeri, pasalnya ia baru pertama kali melihat secara langsung orang berkelahi bawa pasukan alias tawuran. Matanya pun membola saat melihat kilatan benda tajam yang dikeluarkan oleh anak-anak berandal itu, "eh! Itu bawa piso lipet!" seru Nara.
Rama tampak menghajar beberapa dari mereka bersama Gilang, Bayu dan Ridwan tapi karena jumlah yang berbeda mau tak mau wajahnya kena cium bogeman juga dari mereka, hingga beberapa saat kemudian teman-teman lain datang membantu.
"Woyyy! Woyyy! *Aya naon ieu*?! (**ada apa ini**?!)" seru Milan dan Iko.
*Greukkk*! Suara sendi dan tulang yang di piting.
Rama memelintir tangan si berandal dan menepis pisau lipat yang ia bawa hingga terlempar ke tanah, menekuk lutut dan mengunci gerakannya.
Mereka mampu menekuk kesemua berandal yang nampak berkeringat, kepayahan, dan meringis kesakitan akibat dihajar Rama dan kawan-kawan.
"*Sok*! Masih berani bikin ulah disini?! Kalo mau dilanjut ayok, tapi kalo sampe masuk UGD gue ngga tanggung jawab!" ujar Gilang meludah ke arah lain.
__ADS_1
"Jangan berani-berani bikin ulah disini lagi! Karena besok-besok lo ngga bakalan gue lepas, catet nama gue, Ramadhan!" Rama menepuk-nepuk punggung salah satunya yang menjadi oknum perusuhnya.
"Kang! Bawa ka kantor polisi!" pinta Rama pada tukang parkir.
"Jangan atuh a! Jangan dilaporin ke polisi, maaf---atuh maaf lah, damai!" pintanya memohon pada Rama, wajah berminyak dan dekilnya itu terlihat masih teler karena minuman lak nat.
"Damai---damai!! Giliran udah k.o minta damai!" sarkas Bayu.
"A jangan dilaporin atuh A!" mohon mereka. Rama dapat lihat ketakutan di wajah mereka. Diliriknya anak-anak pasar temannya, mereka pun dulunya sama seperti mereka termasuk Gilang.
"Oke, gue bisa pegang omongan lo ngga?! Lelaki itu yang dipegang omongannya, tinggalin kebiasaan buruk! Nanti hari minggu, gue tunggu lo semua disini! Jangan sampe ngga datang, karena kemanapun lo pergi, apalagi sampe balik lagi kesini, gue uber!" ancam Rama, mereka mengangguk, "iya, a!" lantas Rama menjauh dan menghampiri Nara.
"Kamu ngga apa-apa kan? Pulang aja ya," ajak Rama menyugar rambutnya hingga nampaklah keringat yang mengucur, tapi tatapan Nara jatuh pada luka lecet di dekat tulang pipi dan belahan bibir Rama.
"Iya, sambil obatin luka kamu itu--" angguk Nara seraya menunjuk luka Rama.
"Lang! Balik ahh!"
Mereka membubarkan diri setelah kejadian itu.
"Sip A!"
Rama memundurkan dahulu motornya yang membawa serta Nara di jok belakang, tautan tangan Nara terlihat posesif di perut Rama. Bukan di rumah ataupun warung baso, Rama justru menghentikan motornya di depan sebuah pohon dekat dengan pos ronda, dimana pohon itu terdapat saung kecil diatasnya, alias rumah pohon, tempat dimana Rama dan kawan-kawan sering nongkrong.
"Bisa naiknya enggak? Mau dibantuin?" tanya Rama menggandeng tangan Nara sementara yang lain sudah naik ke atas.
"Aku bisa naik kok! Ngga bo do bo do amat lah kalo dikejar guguk!" jawab Nara mulai memegang titian menuju rumah pohon.
"Ntar dulu yank---pake dale\_man engga?!" tawa Rama, jangan sampai ia melihat yang belum haknya.
"Ishhh! Pake atuh!" Nara mendorong pelan kepala Rama yang tertawa gembira.
"Bilang aja kamu seneng kalo aku sedekah!" Rama tergelak mendengar ucapan Nara, "ya iya atuh---siapa yang ngga seneng dikasih berkah!"
Satu persatu titian Nara pijaki dengan Rama yang siaga di bawah Nara tanpa melihat ke arah manapun lagi, "*godaan---godaan*---" gumamnya.
__ADS_1
Nara meminta Gilang untuk membeli obat merah dan air minum di warung, sekalian Gilang yang akan membeli cemilan. Rama bersandar dan membuka seragam putihnya, sementara Nara mengeluarkan tissue dari tasnya.
"Anak baru mereka Ram," ucap Bayu.
"Heem,"
"Lo yakin Ram, mau bawa mereka ke sanggar?" tanya Ridwan.
Rama kembali mengangguk untuk kedua kalinya, "yakin. Biar ada wadahnya, ngga luntang-lantung ngga jelas. Seenggaknya mereka punya program dan tujuan hidup, bisa dapet pelatihan juga di sanggar!" jawab Rama.
"Makin banyak atuh anggota sanggar pelangi?" ujar Ridwan.
"Allah ngga akan tidur, kalo ada niatan baik sudah pasti ada rejekinya sendiri," jawab Rama.
"Sanggar apa?" tanya Nara.
"Sanggar buat nampung anak-anak jalanan, anak putus sekolah yank--- anak MIPA 3 juga suka datang kesana kalo lagi ada waktu,"
"Hah?! Iyakah, kok aku baru tau?!" tanya Nara terkejut tak percaya.
"Iya Ra, sering. Kadang kalo lagi pada punya rejeki lebih suka berbagi dikit---atau kadang ikut ngamen, tapi ngamennya pun ngga sembarangan, ada tempatnya tersendiri."
"Kang Rasya kapan lagi liat sanggar Ram?" tanya Ridwan.
"Engga tau, mungkin lagi sibuk di pesantren. Nanti juga kalo mau ke Bandung hubungin," jawab Rama.
Suara langkah kaki naik ke atas terdengar, dari lubang tangga muncul kepala Gilang yang masuk ke dalam rumah pohon. Sebenarnya rumah pohon ini cukup terbuka karena penghuni diatas sini ataupun orang melintas dapat melihat satu sama lain.
"Nih, Ra!" Gilang menyerahkan kresek putih berisi obat merah yang masih tersegel.
"Sini," Nara mendekati posisi Rama, menyentuh rahang tegas pemuda 17 tahun itu.
.
.
.
.
__ADS_1