Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : MODE SENGGOL BACOK


__ADS_3

Terhitung sudah beberapa bulan mereka berpacaran, meskipun jalannya tak semulus kain sutra.


Tak terasa hanya tinggal menghitung minggu saja, ujian kenaikan akan dimulai. Nara memang sudah sejak lama sering mengikuti les sepulang sekolahnya, namun seringnya sih bolong-bolong itu pun satu minggu hanya 1 sampai 2 kali saja. Berhubung sebentar lagi ujian, ia dipaksa harus getol.


"Langsung pulang atau kemana dulu nih?" tanya Rama saat di parkiran sekolah.


"Ram! Balik?!" sapa beberapa anak kelas lain yang mengenal mereka.


"Oyyy! Sok duluan!" Nara mengangkat sebelah tangannya di udara demi menyapa.


"Aku ke tempat les dulu Ram, hari ini ada jadwal les. Ngga boleh bolong terus!" balas Nara.


"Donat dong, bolong! Les?" alisnya bertaut.


"Kamu Les, kok aku baru tau?!" tanya Rama.


"Iya, biasanya sih sama temennya bang Akhsan. Tapi udah beberapa bulan ini kang Febri sibuk urus skripsi sama tim volinya, jadi mama juga daftarin di tempat les si merah kuning," jelas Nara.


"Oh gitu, oke deh. Yuk! Dimana tempatnya?"



Rama membelokkan stir motor dan menengok kiri-kanan juga menyertakan lampu sen saat ia hendak memotong jalan menuju sebuah gedung tempat les, beberapa anak berseragam maupun pakaian bebas berlalu lalang masuk gedung. Kalo kata Rama, mereka yang berkacamata dan membawa tas gendong yang terlihat berat, adalah calon-calon Albert Einstein, tidak sepertinya calon penerus Rhoma Irahha sang pujangga. Tas gendong berat entah isinya batu kali atau memang buku satu perpus dibawa semua dalem tas.



"Belajar yang bener ya, karena ibu adalah madrasah dan sekolah pertama anak-anaknya," ucap Rama membuat alis Nara saling bertaut, "apa hubungannya?"



"Yaaaa, kamu mau kan jadi madrasah anak-anakku nanti?" tanya Rama, udara sesiang ini cukup panas untuk pertanyaan konyolnya.



"Kejauhan bapak! Iya aku belajar yang bener, biar bisa lulus---biar bisa masuk univ. favorit," jawab Nara tanpa menerima protes.



"Jangan lirik-lirik, jangan tebar pesona, kalo ada cowo yang nanya abaikan! Bilang aja lagi gagu," ucapnya sambil tertawa. Lagi, petuah macam apa yang dia berikan.



"Siap bos !!" Nara berucap layaknya seorang prajurit.



"Bagus!" ucapnya



"Aku masuk dulu ya," pamitnya mengambil tangan Rama dan berinisiatif salim takzim padanya, membuat Rama sedikit terjengkat dan tersenyum.



"Jadi pengen buru-buru ngelamar," ucapnya.



"Jangan salah, aku salim gini bukan buat calon suami. Tapi karena kamu lebih tua!" tawa Nara, dibalas tawa Rama hingga mereka tertawa bersama, "yaaa---penonton kecewe,"



"Ya udah, biar penonton ngga kecewa, biar ratingnya bagus, ku jawab, ditunggu lamarannya, byeee!" jawab Nara berlari menuju pintu masuk.



"Bye!" Rama masih disana untuk melihat Nara, hingga gadis itu hilang ditelan pintu masuk.



"Ra, masuk bareng ?" tiba-tiba seorang pemuda berlari menghampiri Nara ber-wajah oriental karena memang turunan Chinese, teman Nara satu bimbel.



"Boleh, jalan aja." Keduanya berjalan bersama menuju ruangan.



"Ra, lo tuh anak SMA Negri XX kan?" tanya nya seraya duduk di bangku sebelah Nara sambil menunggu guru pembimbing.



"Iya. Kenapa emangnya?"



"Kebetulan! Aku pindah sekolah kesitu juga," jawabnya sambil mengeluarkan buku


'metode menghitung cepat'.



"Oh ya? Kebetulan ya, nanti aku ajak keliling deh, kapan mulai masuk ?" tanya Nara.



"Besok, wah seneng banget gue seenggaknya udah punya satu temen lah!" tawanya membuat matanya menyipit sampai memejam.

__ADS_1



"Hay class!" seorang guru pembimbing masuk ke dalam kelas.



"Hay mister!" seru mereka menjawab.



Nara mulai fokus menatap ke arah guru pembimbing bagaimana pun, niatnya disini adalah untuk belajar. Les tambahan yang tidaklah murah harus ia manfaatkan betul-betul, agar jerih payah kedua orangtuanya tidak sia-sia.



Tanpa sengaja gadis itu menjatuhkan pandangannya ke arah samping, dimana Kenzi duduk. Saat Nara melihatnya, Kenzi seperti kelabakan mengalihkan pandangannya ke lain arah, beberapa kali itu terjadi.



Matanya tertumbuk pada jam tangan di pergelangan tangannya, ia berjalan di koridor bersampingan dengan Kenzi sesekali melempar candaan garing. Kenzi bahkan sudah beberapa kali tertawa renyah oleh kelakarnya sendiri tapi rupanya perhatian Nara bukanlah pada Kenzi, ia justru menatap lurus ke ujung pintu masuk, dimana Rama sudah datang menjemputnya.



Rama tengah duduk di atas motor dengan tampannya, memakai stelan t-shirt putih dan jaket levis dengan warna yang sedikit pudar juga celana levis kebanggaan nya dengan aksen sobekan di bagian lutut, ia menggoyangkan kakinya yang memakai sepatu sneaker.



"Rama!" pekik Nara melambaikan tangan. Pemuda itu tersenyum membalasnya. Namun saat netra-nya mengarah ke samping Nara senyum itu terkesan smirk dengan tatapan tak bersahabat.



"Aku duluan ya Ken," pamit Nara.



"Iya," jawabnya datar menambah kesan pendiem yang nyeremin, tapi baru Nara melangkahkan kakinya, di luar dugaan Kenzi meraih tangan Nara sedikit kasar hingga membuat Nara tertahan dan berbalik, "eh!"



"Hati-hati pulangnya, Ra!" ucapnya sambil tersenyum menampakkan lesung pipinya. Nara lebih terkejut lagi saat pemuda ini mendaratkan tangannya diatas kepala Nara lalu mengacak rambutnya gemas.



"Ken!" tegur Nara menghindar dengan menepis tangan Kenzi.



"Sorry, hati-hati baliknya Ra."



"Iya," tatapannya maaih menajam tak mengerti, namun ia langsung berlari menuju Rama... menatap-nya gamang. Terang saja, Rama menyaksikan adegan yang seharusnya tidak Kenzi lakukan.




"Ra, duluan ya!" Kenzi melambaikan tangan saat mobilnya melintasi Rama dan Nara.



"Iya," jawab Nara mengulas senyuman hambar sebagai bentuk pertemanan. Tapi saat tatapan mereka kembali bertemu, keduanya seolah menatap saling menantang hingga mobil Kenzi hilang dari pandangan.



Rama mengusap-usap rambut Nara seolah sedang membersihkannya dari suatu najis membandel, "nanti di rumah cuci rambut kamu, abis kena najis!" ucap Rama.



"Ram, ayo pulang!" Ajak Nara mengulang.



"Ha? Iya, ayo--ayo..." ia memasangkan helmnya di kepala Nara.



"Mau langsung pulang ?" tanyanya.



"Aku laper euy Ram," keluh gadis bersurai panjang ini sambil memberengut, otaknya hampir aus di gembleng dari pagi.



"Oke, mau makan dimana?" tanya nya mencondongkan wajahnya ke depan Nara, hingga hampir tak berjarak.



Nara terlihat berpikir namun ia seraya naik di jok belakang Rama, "emh, dimana aja deh! Asal..... sama kamyuu!" kekeh Nara berkelakar.



"Emhh, udah bisa gombal! Besok-besok bikin kontes gombalan," ia memutar badan dan mencolek hidung Nara.



"Kan belajar langsung sama gurunya," Nara menumpukan dagu di bahu Ramadhan, *favorit place*!

__ADS_1



Ramadhan membawa motornya melaju ke sebuah cafe, pecah telor nih! Pikir Nara, "ini ngga salah kan masuk sini? Biasanya kalo ngga lesehan warung bakso?"



Rama melirik gemas, "sekali-kali abisin uang, boleh *meren*?! Ngerasain yang namanya cafe takut disangka kampungan !" bisiknya memajukan wajah.



Nara tau pemuda di depannya ini hanya bercanda, karena ia tau sebenarnya Rama sering mengunjungi cafe. Nara sempat melihat foto-foto di sosial media milik Rama atau milik teman-teman MIPA 3, entah itu Tian, Rifal ataupun siswi MIPA 3. Bahkan bukan hanya Rama saja, tapi anak-anak pasar juga sering nongkrong di cafe sepaket gaya borjuis.



Mungkin, teman-teman sekolah selain MIPA 3 taunya mereka hanyalah gerombolan preman pasar. Nara sempat tak percaya kalau tidak melihat buktinya sendiri serta datang ke rumah Rama.



"Bokis banget, di IG nya Tian---aku pernah liat kamu pake appron sambil jadi barista kopi," jawab Nara mengumumkan temuannya pada Rama.



"Ihhh, Narasheila stalkerin aa--" godanya membuat gadis itu dilanda malu, "ih engga gitu, ngga sengaja aja liat!" kilahnya mencubit pinggang Rama.



Rama menggandeng tangan Nara masuk dan memilih tempat duduk. Satu pemuda yang cukup tampan nan teduh menghampiri, Nara cukup terkesima dibuatnya, maklum namanya juga cewek normal yee kan! Sah-sah aja liat cowok ganteng ampe mangap. Tapi yang pasti kayanya dia ini bukan cuma pelayan biasa, dilihat dari ujung rambut hingga ujung sepatu.


"Hey, kakang brooo! Lama ngga ketemu," Rama menjabat tangan lelaki itu.


"Ram, apa kabar?"


"Alhamdulillah, kang bro sendiri?Istri sehat ?" tanya Rama lagi.


"Alhamdulillah, kita berdua sehat wal'afiat,"


"Ra, kenalkan ini kang Rasya yang punya cafe ini," ucap Rama memperkenalkan.


Rasya mengatupkan tangannya seraya tersenyum ramah, Nara sampai kicep dibuatnya, ia tertawa sendiri dalam hati, gilaaa cakep...tapi sayang udah sold out! Nikah muda sii kayanya, fix no debat! Wajar lah orang ganteng.


"Oke bro duduk aja, mau pesen apa nih?" tanya Rasya.


"Kaya biasa aja," jawab Rama.


"Oke sebentar, ana tinggal dulu ke belakang." Ia berlalu ke dapur.


"Siap!" Rama mengokei.


Nara masih menatap kepergian kang Rasya, mata perempuannya tidak bisa berkhianat, "ck--ck! Gantengnya jodoh orang ya Ram!" tawa Nara berkelakar membuat Rama berdecak, "ganteng ya?"


Nara mengangguk dan duduk, "iyalah. Masa mau dibilang cantik,"


"Matanya dijaga tuh!! Dia udah punya istri, lagian ini cowo ganteng di samping kamu dianggap apa ?" ledeknya.


"Dianggap---- gantungan kunci!" tawanya puas melihat wajah keruh Rama menggemaskan.


"Kan biar bisa aku masukin ke kantung saku, mau aku bawa kemana-mana biar pas aku kangen, tinggal ambil!" lanjut Nara.


"Suhu nih gombalnya. Boleh dibawa pulang ngga nih?" tanyanya mencubit pipi Nara.


"Apanya ?" tanya Nara polos.


"Kamuuu..." balasnya terkekeh.


Keduanya kembali tertawa dengan candaan mereka sendiri yang terkesan menggelikan macam anak-anak alay versi SD.


"Maaf aa...teteh. Ini pesenannya!" seorang pelayan cafe lain mengantarkan pesanan Rama dan Nara.


"Yaaa, kok bukan kang Rasya?!" sontak saja Rama menjewer Nara.


"Aduh ih!" aduhnya tapi langsung tertawa.


"Oh iya, aku mau tanya!" ucap Rama sambil memainkan pipet minuman.


"Susah engga, aku belum belajar soalnya!" balas Nara bercanda.


"Serius yank," ia meleng uh.


"Oke--oke," Nara tertawa renyah seraya memasukkan sedotan dan menyedot ice coffee di depannya, jika biasanya Rama yang akan usil begini sekarang gantian Nara.


"Yang tadi itu siapa ?" tanya Rama.


Nara mengerutkan dahi, setengah berfikir," yang mana?"


"Cowok di tempat les tadi," jawabnya menghela nafas.


"Oh Kenzi? Dia temen." Nara kembali menyedit ice coffee miliknya.


"Lain kali, kalo cuman temen ngga usah pegang-pegang..." ujarnya datar, wajah kelam Rama kembali lagi, rahangnya terlihat mengeras.


Gadis itu segera mengiyakan, melihat sikap tak bersahabat Rama. Ia bukan gadis naif dan cukup tau mengetahui seorang laki-laki sedang dalam mode senggol bacok alias cemburu. Ternyata mode cemburu Rama terlihat sangat mengerikan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2