
Wajah Dea sudah sedikit pias, mungkin karena dinginnya malam ditambah ia yang masih belum sehat dan moment chaos ini. Pemuda dengan rambut yang terlihat tak rapi itu menarik tangan Dea untuk sedikit menjauh dari sana.
"Kenapa ngga bilang dulu kalo mau ke rumah sekarang?" ia membawa Dea keluar dari pagar rumah, sementara gadis berbalut jaket tebal itu masih belum bisa menjawab.
"Aku...cuma mau ngembaliin ini doang Fal, takutnya besok kamu ngga bisa sekolah kalo ngga ada tas," jawab Dea.
Rifal menyeringai, oke...ia menyukai Dea yang naif, baik tidak seperti saat bersama Willy cs, merubah gadis baik di hadapannya sekarang layaknya gadis tak tau diri.
"Aku masih bisa masuk walaupun semua pasokan buku di bumi udah ngga ada, aku masih bisa sekolah meskipun semua pulpen di dunia ngga tersedia lagi."
Tapi Dea tak ingin ikut terkekeh seperti Rifal, ia justru memperhatikan pipi Rifal yang memerah, rasanya tadi siang itu belum ada.
"Itu.." tunjuknya, membuat Rifal hanya melemparkan senyuman, "bukti kalo aku anak lelaki." Jawabnya tanpa ingin memperpanjang urusan.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Rifal. Dea menunjuk ke arah belakang Rifal membuat pemuda ini berbalik, ia baru sadar jika sejak tadi aksi nyosor-nyosornya dipergoki oleh pak Yayat.
Sebenarnya ia malu juga, tapi Rifal ya Rifal, ia cuek saja merasa masa bo doh dengan orang sekitar, ia akan menganggap mereka layaknya dedaunan gugur tak bernyawa.
"Aku ngga bisa lama, harus cepet pulang. Lagian aku mau beli roti bakar dulu," ucap Dea, sayup-sayup obrolan mereka diiringi suara binatang malam yang bersahutan rendah.
"Aku anter," pinta Rifal.
"Fal," gadis itu memegang lengan Rifal.
"Hm,"
Mata Dea sedikit berkaca-kaca, hidungnya aga memerah mungkin karena ia berada di suhu rendah.
"aku mau ngomong," Dea menyampaikan semuanya pada Rifal, alis Rifal mengernyit lalu kemudian menukik tajam.
"Aku memang temen Inggrid, Fal. Tapi kali ini aku udah lelah ngikutin semuanya, aku ngga bisa...aku ngga akan ngalangin Inggrid sama Gibran berikut Kenzi, tapi aku pun ngga akan ikut-ikut mereka. Aku cuma minta tolong kamu yang kasih tau Nara, aku tebak kayanya Kenzi suka Nara," ucap Dea.
"Kamu ngga usah ikut-ikutan lagi, ini sudah masuk ranah kriminal. Biar Rama sama MIPA 3 yang urus, makasih udah kasih tau. Nanti aku salamin buat yang lain, Nara juga pasti makasih banget sama kamu," jawab Rifal.
"Maaf aku ngga bisa langsung ngomong ke Nara, aku harus jaga jarak dari kalian gimanapun Inggrid, Willy sama Gibran temenku...aku hargain perasaan mereka,"
"Aku anter pulang ya? Biar satpam komplek kamu suruh duluan aja, biar aku yang anter kamu beli roti bakar," tawar Rifal, Dea sedikit berpikir namun ia mengangguk begitu saja mengiyakan, perasaannya mengalir begitu saja, Rifal memang terlihat berandal, badji ngan, preman! Tapi....
"Kamu tunggu dulu, aku ambil kunci motor sama jaket!" titah Rifal diangguki Dea, Rifal setengah berlari masuk ke dalam halaman rumah hingga hilang dipintu rumah. Sementara Dea menghampiri pak Yayat.
"Pak, Dea beli roti bakar sama pulangnya dianter Rifal, bapak pulang duluan aja."
__ADS_1
"Oh, tapi neng...aduhh nanti bu Sarah marah neng,"
Terdengar suara mesin motor menghampiri keduanya, "ngga apa-apa pak, biar Dea.. saya yang anter, insya Allah aman!" Rifal mengacungkan jempolnya di udara membuat pak Yayat akhirnya mau tak mau setuju.
"Ya udah atuh neng, bener ya? Jangan terlalu malem neng, nanti bapak dimarahin bu Sarah sama pak Iskandar."
"Sip pak!" jawab Rifal. Selepas kepergian pak Yayat, Rifal memasangkan kupluk rajut miliknya di kepala Dea, "sebelum pake helm pake ini dulu biar ngga dingin!"
Udara Bandung boleh dingin tapi tidak dengan hati sepasang insan muda ini.
"Bau ngga? Soalnya dari pertama beli belum dicuci?!" tawa Rifal.
Dea membulatkan matanya, "ihhh! Jorok!"
"Haha, baru dua kali dipake kok, waktu pas di puncak tea.." jawab Rifal, Dea memegang pundak Rifal sebagai tumpuannya untuk naik ke atas motor Rifal.
"Mau beli roti bakar yang dimana?" tanya Rifal menarik tangan Dea agar mau memeluknya, bukan ia yang modus tapi agar Dea berpegangan.
"Di simpang depan aja," jawab Dea mengangguk gugup, aduhhh!
Rifal kembali menyunggingkan senyuman miring, "pegangan. Nanti kamu jatoh, mendingan jatoh ke pelukan aku aja," kekeh Rifal.
Dea mengernyit, "sejak kapan seorang Rifaldi Elvan Januar banyak ngomong, pake gombal lagi? Setauku kamu orangnya nyeremin, ngga banyak senyum sama orang, kaya psycopath gitu, kerjaan kamu juga tidur kan," aku Dea membuat Rifal tertawa mendengus, "sejak sering denger si Rama gombal!"
"De, duduk aja dulu!" Rifal menepuk-nepuk bangku plastik hijau di sampingnya, pemuda itu sudah duduk duluan rupanya. Dea mengangguk.
Mata bulat Dea bersinar memantulkan lampu kendaraan yang melintas di depan mereka, sesekali ia menggosok hidung yang terasa gatal karena debu jalanan, bahkan rambut panjang lurusnya melambai-lambai sebagian akibat angin malam. Pemandangan indah yang baru kali ini Rifal lihat lagi dari seorang gadis.
Han, kayanya aku ngerasain lagi getaran itu. Sorry, kalo aku ingkar kali ini.
"Besok masih istirahat di rumah?" tanya Rifal membuat Dea menoleh.
"Iya, aku mau di rumah aja. Daripada harus liat Rama sama Nara...mungkin aku absen 2 atau 3 hari ke depan, kakak aku yang pilot pulang soalnya, mau diajakin ke villa yang di Ciwidey sekalian tunangan..." jawab Dea, sayang sekali...kenapa Rifal merasa kecewa dan sedih jika gadis itu ternyata tak datang sekolah.
"Kacamata kamu kemana?" tanya Rifal.
"Kan diganti sama softlens, sengaja pake warna alami mata, biar ngga ada yang tau. Kalo udah di rumah baru di copot.." jawab Dea.
"Aku suka kamu," lirihnya jelas membuat Dea yang sudah mengalihkan pandangan ke jalanan kini kembali ke arah Rifal.
"Emhh?" alisnya terangkat kemudian mata beningnya membulat.
__ADS_1
"Aku suka kamu pake kacamata..." tambah Rifal.
"Oh," Dea terkekeh kecil. Tapi mata Rifal menatap dalam Dea dari tempatnya.
"Neng, ini pesenannya!" Dea beranjak untuk mengambil pesanannya lalu membayar, "berapa bu?"
Emhhh Rifal! Ogebbb! Benaknya.
Dea sudah turun dari motor Rifal berjarak 3 rumah dari rumahnya, khawatir Gibran tiba-tiba melihat keduanya bersama.
"Makasih udah nganter..." ucap Dea, tangannya merambah ke kupluk milik Rifal yang masih senantiasa melindungi kepalanya.
"Eh, simpen aja buat kamu! Toh aku ngga pernah pake juga, waktu itu cuma butuh biar tidur nyenyak aja di villa,"
"Oh, thanks! Kalo gitu aku pulang. Hati-hati!" ucap Dea dibalas anggukan Rifal singkat, "De, kalo aku sering main ke rumah kamu boleh?" tanya nya.
"Asal ngga ketauan boleh. Eh, tapi wa dulu! Takutnya aku ngga ada di rumah, atau lagi ada anak-anak di rumah," jawab Dea.
"Oke,"
Antara senang dan tidak, di sisi lain ia cukup senang mengetahui jika Dea tak seburuk penilaiannya dan orang-orang selama ini, ia juga tak sejutek dan segalak dulu. Tapi di sisi lain ia begitu setia pada Willy, Inggrid dan Gibran, bahkan dengan terang-terangan ia bilang kalau tak mau menyakiti hati ketiganya, ingin menghargai persahabatan mereka, apakah itu tandanya Dea akan sulit ia raih?
.
.
.
__ADS_1
.
.