
Nara berjalan membawa serta tas perlengkapan papa, sementara mama mendorong kursi roda yang papa-nya duduki.
"Alhamdulillah, papa pulang juga. Sudah kangen sama rumah," ucap papa Nara.
"Iya, alhamdulillah."
"Oh ya rumah makan sama konveksi apa kabar, San?" tanya papa, disaat sakit begini yang selalu diingatnya adalah konveksi dan rumah makan.
"Baik pa, ngga usah dipikirin, yang penting papa sehat dulu," jawab Akhsan, mereka masuk ke dalam mobil.
"Ma, pa---2 hari yang lalu. Guru ngasih surat. Sekolah adain acara keluar kaya kunjungan ke pabrik sama kebun teh gitu--"
"Kemana?" tanya mama.
"Baru aja ke museum sekarang lanjut ke kebun teh juga?" tanya Akhsan dari bangku depan.
"Iya, materi kelas 2 sih begitu---mungkin biar langsung praktek lapangan kaya smk, ngga ngerti juga. Katanya sih sambil acara outbond hari jeda abis uts," jelas Nara.
"Berapa hari?" tanya papa ikut bicara.
"Tiga hari "jawab Nara.
Jalanan komplek sudah terlihat, namun pandangan Nara menyapu keseluruh rumah tetangganya termasuk rumah Kirana yang terlihat sepi dari luar.
"Ra, bukain pager!" pinta Akhsan membuyarkan pandangannya dari rumah bercat orange itu.
"Iya," angguknya singkat dan turun dari bangku samping Akhsan. Tangan-tangannya membuka pagar besi lebar-lebar membiarkan mobil melaju kecil, masuk ke dalam portcar. Badan lemas papa selalu setia di sanggah mama masuk ke dalam rumah, sementara Akhsan mengambil tas milik papa.
"Rama ngga ngapel?" tanya Akhsan.
"Engga kayanya, kan dia tau aku mau jemput papa di rumah sakit," jawab Nara.
"Emangnya kenapa?" tanya Nara.
"Engga apa-apa, tumben aja ngga datang," secara mengejutkan Akhsan berujar seperti itu membuat Nara mengernyitkan dahinya, "ngga salah nih? Yang pacarnya Nara, tapi yang ngebet minta datang abang?"
"Gue ngga ngebet, cuma rame aja kalo ada dia, kamu ada yang gangguin!" sarkasnya menutup pintu mobil kasar. Nara merotasi bola matanya.
"Tutup tuh pager!" titahnya sengak macam Fir'aun. Meski misuh-misuh Nara melakukannya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa, seharian ini yang ia lakukan hanya bersantai-santai saja sambil nonton tv.
Sudah ke sekian kalinya ia mencebik, bolak-balik melihat ponsel namun tidak ada notif dari yang dinanti. Hidupnya berasa sepi, bahkan di wa grup MIPA 3 saja ia tak bersua.
"Tumben, kemana sih ni anak ga ada kasih kabar!" dumel Nara. Ternyata ia sudah kecanduan oleh usil dan ramainya seorang Rama.
Dengan gerakan yang tak disadari ia menempelkan ponsel ke dagu, dan mengetuk-ngetuknya, "apa aku chat dia duluan ya?!" gumamnya menatap ke arah lain, sementara acara tv ia anggurkan karena tak lebih penting.
Sejurus kemudian ia menggeleng cepat, "ah engga ah! Gengsi," jawabnya sendiri.
Kelamaan mikir aampe berasa otak muter ujung-ujungnya si kelopak mata terasa berat, gadis itu menguap beberapa kali. Awalnya ia merebahkan kepala di atas bantal sofa, lama-lama matanya terpejam, hingga akhirnya sekarang tv yang lagi nontonin orang tidur.
Akhsan tak sengaja melintas dari kamar menuju dapur, melihat acara yang sejak tadi tak berganti, kini pandangannya berpindah pada si penonton, "yeee si boncel malah tidur! Ululuh enaknya!"
Baru saja berniat usil, seakan Allah tidak menghendaki itu terjadi--terdengar suara bel berbunyi dari arah depan mengejutkan Akhsan. Ia pun terjengkat kaget, dan sontak berbalik.
__ADS_1
"Bi maaf, tolong bukain pintu ya!" pintanya, kebetulan bi Asih melintas, untung saja Nara tak terganggu dan memergokinya.
Hanya 5 menit berselang, bi Asih kembali.
"Den, ada tamu katanya ingin jenguk bapa," ucap bi Asih.
"Siapa bi?" tanya mama baru saja keluar kamar.
"Kurang tau bu," bi Asih kembali ke dapur.
"Mau duduk pa?" tanya Akhsan, melihat papa sudah berjalan tertatih ke arah sofa.
"Papa bosen rebahan, San."
"Ya udah sini,"
"Ini anak malah tidur disini lagi ah! Geletakan kaya kucing," Akhsan membantu papa namun matanya memicing pada Nara.
Papa terkekeh, "kebiasaan kalo udah nemu tempat empuk, ya nempel merem--"
"Iya pa, dari tadi loh dia tidur! Dasar putri tidur," decak kesal Akhsan, heran saja melihat Nara, apa matanya nggak bengkak, tidur saja kerjaannya.
Sayup-sayup terdengar suara seruang orang mengobrol begitu ramai dari ruang tamu,
"Ada siapa San?" tanya papa.
"Oh-"
"Sini, temuin dulu!" mama mengajak papa ke arah depan, "bi tolong buatin minum 3 sama cemilan ya..." pinta mamah pada bi Asih.
"Nggeh bu," Akhsan ikut menyambut tamunya papa, ia menampilkan senyuman hangat nan sopan, "ini yang baru aja diomongin akhirnya nongol," sapa Akhsan pada Rama, layaknya pada teman sendiri.
"Eh, ada tamu !" seru papa.
"Eh, pak! Gimana---katanya sakit, aduhhh! Maaf baru bisa jenguk! Kata Rama---ayahnya Nara di opname di rumah sakit," belum apa-apa ambu sudah heboh.
"Ah, iya mungkin sudah waktunya dikasih ujian sakit saja!" tawa papa diselingi tawa abah.
"Duduk pak--bu. Oh--jadi ini orangtuanya Rama,"
"Iya om," jawab Rama.
Sepasang orangtua itu tengah mengobrol dengan tema yang menurut Rama dan Akhsan tak begitu seru, ya maklum lah orangtua---masa mau ngomongin game online atau sekolah.
Rama memiringkan badannya pada Akhsan, "Nara mana bang? Kok ngga keliatan?"
"Ada, lagi nyelem dia!" kekeh Akhsan.
Rama menautkan kedua alisnya, "nyelem?" sontak saja Rama bingung, Nara tak bilang apa-apa tentang ingin pergi ke laut.
"Sini," Akhsan beranjak mengajak Rama ke ruang tengah, hingga keduanya menemukan seorang putri tidur tergeletak di sofa begitu saja dengan mulut yang sedikit terbuka diantara lelapnya.
"Oh, nyelem di alam mimpi? Kirain nyelem di laut!" Rama tertawa renyah dan mendekati si putri tidur.
__ADS_1
"Tuh! Lo bangunin deh, tu anak udah tidur dari tadi---ngga kuat kalo udah nemu tempat enak, pasti nempel!" Akhsan merapat ke kamarnya demi mengambil laptop untuk mengerjakan tugas, "gue ambil laptop dulu ke atas ya!"
Rama mengangguk di sela-sela usahanya untuk duduk di bawah karpet, lebih tepatnya ia duduk bersila memperhatikan Nara. Tangannya terulur menyingkapkan rambut ke belakang telinga gadis itu, hingga ia sedikit terusik dengan ulah Rama.
"Bangun engga dia?" tanya Akhsan.
"Belum," jawab Rama.
"Wah asli! Kaya orang kena sirep!" decak Akhsan.
"Boncelll!" teriak Akhsan.
"Tuh si Rama digondol cewek lain!" tambahnya, tapi Nara tetap saja diam.
"Udah lah bang biarin aja, cape kayanya-- pules amat tidurnya," jawab Rama tak tega.
"Beuhh, dia mah bukan pules lagi Ram. 11 12 sama bank kee, udah hobbynya dia kalo tidur siang. Ganggu aja, tuh mata busuk kalo kelamaan merem!"
Entah mungkin karena sudah terlalu lama tidur, kesadaran Nara mulai terkumpul, terdengar olehnya suara ngomel-ngomel Akhsan begitu memenuhi lubang pendengarannya.
Mulutnya mulai bersuara dengan mata yang masih terpejam, "bisa ngga sih sejenak menyingkir dari hidup Nara, bang! Ngga si dunia nyata ngga si mimpi, omelan pedes abang tuh selalu hadir tanpa permisi dan tanpa diundang!" suaranya parau membuat Rama dan Akhsan melihat Nara.
"Coba buka mata lo, selebar daun kelor. Kali aja udah ini biji matanya lompat!" pinta Akhsan.
Betapa terkejutnya Nara, saat membuka mata. Dengan alis yang masih mengernyit karena menyesuaikan dengan cahaya lampu tampak wajah Rama yang cool dan tersenyum lebar ke arah Nara. Ia langsung terbangun dan melebarkan kelopak mata.
"Kok?!"
"Iya, barusan aku datang bareng abah sama ambu, mau jenguk papa kamu. Aku cari kamu ternyata lagi asik nyelem disini..." jawab pemuda itu sambil tersenyum.
"Lagian lu mah kalo udah tidur, kaya orang pingsan. Susah bangunnya, lu tidur apa mati sih?" tanya bang Akhsan duduk di sofa single dan membuka laptopnya.
Nara berdecak, sebenarnya malu juga---ia yang biasa tampil segar kini Rama dapat melihat wajah bantalnya. Apa dimatanya masih ada belek, atau justru ia ngiler? Nara mengusap wajahnya pelan.
"Mandi sono, tuh iler lo kaya pulau!" sewot bang Akhsan.
"Enak aja! Aku ngga ngiler ya!" ia beranjak memakai sendal rumahnya sambil memanyunkan bibir menuju lantai atas dengan rambur semrawut mirip-mirip orang gila.
"Ngga ada yang bangunin Nara siii- tega ih! Malu tau!" omelnya di setengah anak tangga.
Setelah bersih-bersih ia segera kembali turun dari kamar melewati kedua pemuda yang malah sibuk maen game online menuju para orangtua di depan. Heran, kalo udah ketemu memet tugas aja dikacangin. Nara mendelik.
"Eh ada abah sama ambu," Nara menyalami keduanya.
"Eh, neng geulis calon mantu Abah, baru keluar neng?"
"Iya abah," Nara terkikik lalu duduk di lengan kursi samping mama.
"Ini neng, abah sama ambu mau jenguk calon besan, kata si borokokok calon besan abah sakit!" ucap Abah.
"Neng---Rama gimana? Pernah bikin sakit hati, atau suka galak?" ambu memajukan duduknya dan setengah berbisik.
Mama tersenyum sampai menyipitkan mata, "kayanya ngga mungkin deh. Rama itu anaknya baik, sopan. Jadi ngga mungkin sampai kasar--iya kan Ra?" tanya mama.
"Kalo ngga sopan atau galak mah kenca weh!" seru abah mengepalkan tangan kirinya yang dipenuhi batu ali di ketiga jarinya.
"Calon idaman lah kalo Rama mah! Seneng saya---sering denger cerita dari Akhsan, Rama pemuda langka," ucap papa Nara tertawa bersama para orangtua lain.
"Wah, lampu hijau nih kayanya! Bah, kumaha atuh bah (gimana dong bah)--- aa udah direstuin calon mertua?" kelakar Rama yang datang dari dalam dan duduk di samping ambunya membuat Nara mengernyit.
"Wah! Lengkap ya, sudah cocok tinggal menunggu waktu saja!" goda Abah.
"Kapan nih bisa datang lagi kesini?" tambahnya.
"Ih si abah mah, ada-ada saja--ya engga akan dikasih sekarang atuh! Belum juga lulus," tepuk Ambu membuat mama dan papa Nara tak henti tertawa.
"Eh ai si ambu, maksudnya bisnis, jangan suudzon dulu atuh!" timpal Abah.
"Boleh bah, insyaAllah! Kebetulan supplier daging kami kemarin bermasalah, kita bisa join ini.." ucap papa.
"Tuh kan, datang kesini selain jenguk bisa kerja sama! Mempererat silaturhami, ya pak?" tandas abah.
"Aa gimana atuh bah?" tanya Rama.
"Kerja dulu! Anak si bapak mau dikasih makan apa nanti, daun?!"
"Ram, gue denger kalian mau ada acara ke puncak?" tanya Akhsan bergabung.
Rama mengangguk, "nah kebetulan titip si boncel ya!" tukas Akhsan.
"Siap abang bro!"
Saat melihat Rama, Nara jadi mengingat sesuatu, "oh iya Ram! Aku mau ngomong bentar!"
.
.
.
__ADS_1
.