Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
CUPID-MUTI : AKMIL I'M COMING


__ADS_3

Yusuf mesam-mesem sendiri mengingat kejadian tadi sore.


Hubungan gelap?


Hubungan terlarang?


Hubungan tanpa status?


Hubungan yang disesali?


Hubungan atasan dan supir?


Hubungan si pororo sama si krong-krong?


"Kamu tuh gombal-gombal, sering chat, traktir aku, ajak jalan tapi..." gadis ini memberanikan diri mengomel.


"Aku sayang kamu Mut," lirihnya masih bisa terdengar Muti, meski terdistrack deru angin jalanan.


Sekejap pipi chubby itu merona, tangan yang melingkar semakin mengerat posesif..


"Kamvrettt banget!"


Yusuf menenggelamkan wajahnya ke bantal dan berteriak seperti orang gila, "aaaaa!" demi rasa yang membuncah, ia tertawa sendiri, benar-benar sudah gila!


Siapkah ia membongkar dirinya sekarang? Setelah 2 tahun lebih.



Deru mesin mobil papa terdengar sayup-sayup rendah di bawah, memang halus sehalus nyanyian dugong di lautan lepas.



Ia menghentikan ketikan jemari di laptop tanpa mematikannya hingga layarnya masih menyala. Malam ini ia memutuskan untuk benar-bebar berbicara serius dari hati ke hati pada orangtuanya.



Ia turun dengan langkah kaki cepat menuruni tangga, diraihnya tangan pria paruh baya yang sudah menghidupinya sampai sekarang, baginya papa memang panutan, tapi bukan berarti ia ingin menjadi seperti papa.



Dalam jeda waktu sekian puluh detik, otak pintarnya berpikir, menyusun kalimat yang padu padannya tepat, bukan ia tidak pernah mengutarakan keinginannya menjadi seorang prajurit pada ayahnya itu, namun berapa kali pun ia bicara sebanyak itu pula papa menolak. Yusuf anak yang pantang menyerah, sebelum keinginannya tercapai, dan makin kesini keinginannya itu semakin kencang berhembus.



"Pa,"



"Ya?"



Dibawah ternyata mama sudah lebih dulu menyambut, buktinya ia menerima tas yang dibawa papa.



"Mama bikin dulu kopi," nama melengos seraya membawa tas laptop papa, menaruhnya dahulu di ruang kerja suaminya.



"Iya." Lantas papa melepaskan jas sepaket rasa lelah dan memijit pelipisnya demi mengurangi rasa nyeri di pangkal hidung, otak yang ia miliki cukup terkuras hari ini biar perusahaan tetap berjalan, dan semua orang yang menggantungkan hidup keluarganya tetap bisa makan.



"Papa duduk dulu deh, Agas mau ngomong." Pintanya meraih tangan sang papa dan menyalaminya. Ia meloloskan nafas lelah dan langsung saja menjatuhkan badan di kursi kebesarannya depan tv.

__ADS_1



"Soal apa, kalo soal mau jadi tentara...berkali-kali papa bilang engga," jawabnya malas, lebih tepatnya bosan karena putranya selalu membicarakan hal yang sama, padahal jawabannya selalu sama.



"Papa panutan Agas, tak ada lagi sosok yang Agas sangat hormati melebihi papa--mama dan Yang Maha Kuasa," ia duduk di sebrang papanya, yang belum fokus padanya karena mama sudah memberikan secangkir kopi.



"Ngomongin apa sih, kayanya serius banget?" sehedon-hedonnya mama, seperti apapun lingkungan sosialitanya, mama ya tetap seorang istri yang memprioritaskan papa, ia selalu pulang sebelum papa pulang, meskipun mama Yusuf bukan tipe emak-emak yang suka dasteran.



"Biasa, anak mama mau jadi tentara..." jawab papa setengah mencibir, mama berohria, "apa sih lebihnya tentara Gas? Mana kulit iteman kaya abis disiram aspal, capek, di fisik terus, mana keras pelatihannya gaji ngga seberapa,"



Ya memang begini kalo otaknya fans Alderebahan sama fans Rambo ngobrol, ngga akan nyambung!



"Agas sayang mama, Agas sayang papa...tapi Agas ngga mau kalo nantinya Agas malah kecewain mama--papa sama diri Agas sendiri, Papa panutan Agas, tapi tidak harus menjadi seperti papa, Agas bener-bener bangga punya papa pekerja keras, sukses meraih cita-cita dan Agas mau seperti itu...tapi biarkan Agas jadi diri Agas sendiri, please."



*Bicara dari hati ke hati, cup. Insya Allah om sama tante bisa luluh..gue bantu do'a sekampung*! Ujar Rama tadi saat di cafe. Dan ternyata ucapan Rama memang menunjukkan tanda-tanda kebenaran, saat ia menurunkan egonya, berusaha berpikir positif dan berusaha merayu, alis papa terlihat bertaut, lalu saling menatap.



"Huft, gini loh Gas...anak papa cuma Agas...Agas tau papa itu berangkat dari nol, meniti usaha bisnis sampai sebesar ini, banyak perut yang bergantung di bisnis papa...lantas kalo papa sudah tak mampu, apa bisnis dan perjuangan papa harus berhenti dan mati?" tanya nya.




"*Are you sure*? Apa kamu sanggup? Apa kamu tau bagaimana kehidupan tentara?"



"Tau pa. Tanpa harus papa kasih tau, Agas sudah tau. Banyak pa...banyak prajurit ataupun aparat yang punya usaha lain, Agas yakin bisa... Kasih Agas kesempatan pa, ma...untuk buktiin..Agas ingin raih cita-cita Agas tanpa mengesampingkan cita-cita mama papa buat Agas..."



Rama benar, akhirnya papa dan mama Yusuf mengangguk meskipun ragu.



"Buktikan, buktikan kalo tekad kamu sekuat itu...agar mama dan papa percaya!"



"Makasih ma! Pa!" Yusuf langsung menyerbu ke pelukan mama dan papa.



*Akmil i'm coming*!



Tian datang bersama Tasya ke rumah Rama. Karena disinu halamannya cukup luas untuk berlatih fisik.


"Halah, lo berdua kemana-mana berdua udah kaya si buta dari goa hantu bareng tenyomnya!" ujar Yusuf. Sontak saja si gadis mungil itu tak terima dengan bibir yang bersungut-sungut ia langsung turun dari motor dan menyerang Yusuf.


"Si alan ih! Cantik gini dibilang tenyom!"

__ADS_1


Bughh!


Bugghh!


Tian, Rama dan Nara tertawa, "gue bilangin Muti kalo lo horang kaya!"


"Jangan Sya..jangan dulu! Gue takut Muti ngga terima,"


"Lo aneh, kan siapa tau tante Ayu jadi kasih restu gara-gara lo anak orang kaya..."


"Gue ngga mau, gue maunya mama--papa Muti restuin gue karena memang ada sesuatu yang patut dibanggakan dari gue, bukan karena latar belakang orangtua gue.. " jawabnya seraya menepuk dada, plok! Plok!


"Badasss! Cupid gitu loh!" tawa Nara.


Rama dan Tian mengeluarkan skiping dan stopwatch, "entar latihan fisik lo harus dibarengin sama renang cup...biasanya tentara tuh ada tes begituan, gue panggil gurunya cup!" ujar Rama.


"Siapa pa?" tanya Tasya mewakili pertanyaan Nara dan Yusuf sendiri.


"Ikan sapu, tuh banyak di akuarium abah!"


"Saravvv!"


"Beuhh! Si paRam!"


"Kamu ih, aku udah serius..kirain kamu mau manggilin guru renang!" desis Rama.


"Ngapain, si cupid kan kaya...panggil aja sendiri," jawab Rama.


"Buru Cup! Hari ini lo latihan fisik, besok lo les pelajaran sama Nara..." ajak Tian.


Yusuf yang sedang duduk seketika rebahan, "belum apa-apa gue udah begah..."


"Gimana sih, katanya mau jadi perwira, baru denger aja udah membleh...gimana kalo perang," cibir Tasya minum sirup sirsak yang disajikan ambu Rama.


"Okelah! Yuk!" Yusuf membuka seragamnya menyisakkan t shirt dan celana selutut. Tasya lantas memutar musik dari ponselnya yang disambungkan ke speaker bluetooth milik Rama.


🎶 Jantan, pejantan tangguh...itu yang kuharap ada padaku.


Agar, agar diriku bisa melumpuhkan tingkah liarmu


Jangan, jangan siakan kehadiranku pada mimpimu,


Karena, hanya lewat mimpi aku bisa menjamahmu juga memilikimu


Ajari aku tuk jadi pejantan tangguh, mungkin terlalu lama aku tlah bersembunyi.


Menatap matahari pun aku tak mampu


Udara malam pun terlalu menusuk langkahku


Di persembunyian aku menari


Di persembunyian aku bernyanyi


Pejantan tangguh....


Sheila on7 ---Pejantan Tangguh


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2