Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : JIWA MUDA DAN MISSKOM


__ADS_3

Istirahat kali ini, lapangan mendadak ramai kaya arena sab ung ayam. Diantara nama-nama yang dielu-elukan tampil nama baru.


"Om Bongsor!" bukan nama sebenarnya melainkan nama samaran kaya penjual baso borak.


"PaRammm!"


Saat Tian atau Rama melakukan aksi mengagumkan, maka terjadilah kerusuhan di sudut sebelah timur. Entah adanya gera'an--gera'an penerus partai kom uniz, ataukah memang manusia-manusianya saja yang kaum hebohlisme.


Dog---dag---dog---dag! Seperangkat alat tabuh dibayar tunai dari pedagang rongsok sebagai alat pembangkit semangat.


"Heboh banget sih, katro!"


"Yeeee! Om bong! PaRam aku padanya!!"


Bughh! Bughh! Bughh!


Mirip-mirip suporter liga besar, padahal cuma berapa biji anak tuyul tapi hebohnya mirip suporter satu batalyon.


Beberapanya terhibur dan menjadikan moment ini sebagai hiburan di kala istirahat.


Tasya sudah melompat-lompat bersama Mutia dan anak-anak perempuan saat Tian atau Rama memasukkan bola.


"Cih, katro. Kampungan!" decih Inggrid dan Dea, pandangan Dea lantas jatuh pada seorang pemuda dari MIPA 3 yang sejak tadi menatapnya smirk, ia bergidik ngeri, "hihhh, serem gue!"


"Ing, pindah yuk!" ajaknya.


"Bilang aja sirikkk bos, huuuuu!" Nara tertawa saat Vina dan Rika memberikan pan tatnya untuk MIPA 2 dimana Willy dan Gibran ada di kelas itu.


Lirikan mata Tasya kini mengedar pada segerombol adik kelas yang ternyata begitu terbawa euforia, hanya saja telinga tajamnya menangkap nama Tian disebutkan, Gifaril Elyandri Gustian.


"Kaka Gifaril!" ia tersenyum manis dengan sepasang lesung pipi.


"Kayanya itu adek kelas ya Sya," senggol Mutia. Pasalnya baik itu kakak kelas ataupun teman seangkatan tak pernah ada yang menyebutkan nama depan Tian. Pemuda yang disorakinya tak pernah sekalipun menoleh, ia justru terlihat bercengkrama dengan Rama dan Zaidan, juga yang lain seraya menyeka keringatnya yang banjir. Lain halnya dengan Nara yang santai saja saat nama Rama selalu di elu-elukan oleh adik kelas maupun teman seangkatan, karena memang pemuda itu sering melemparkan tautan love pada Nara sebagai tanda jika Rama dan Nara memiliki hubungan.


Hawa-hawa panas mulai menjalari Tasya, apalagi saat dengan gamblangnya bekas teman-teman kelas Tian ikut menyoraki Tian sebagai dukungan si bongsor ini.


"Ian! Go---go, lope-lope sekebon!" ujar mereka. Tak ada yang lebih menyakitkan dari cemburu yang dipendam.


"Wah! Tian emang wedaannn lah! Percaya banget gue mah kalo dia emang patut masuk lagi Perbasi," ujar Yusuf.


"Keren ih om bongsor masuk Perbasi, gue suka lah!" jawab Mery, Tasya tau jika Mery hanya bercanda tapi lumayan bikit hati nyut-nyutan, Nara melirik Tasya yang sudah memperlihatkan wajah kecut tertahan, gimana sih kalo kebelet buang air terus ditahan, ya gitulah gambaran visualnya.


"Cemburu emang nyebelin, Sya. Tapi harus percaya dong! Tian setia," bisik Nara membuat Tasya menggidikan bahunya sebelah, "apa sih ma, engga apa-apa gue mah!"


Nara tersenyum miring, "ah yang bener?!" godanya.


Wajahnya semakin masam melihat tatapan gadis itu hanya melihat Tian seorang, seolah yang lain cuma mon yet yang jingjrak-jingkrak.


"Dia siapa? Tau bongsor darimana? Apa mereka saling kenal?" benak Tasya mulai bergumam posesif.


"Yeee om bongsorrr! Keren lah! Om aku padamu!" lamunan Tasya buyar saat suara berisik anak-anak MIPA 3 pecah lagi, saat Tian dengan epicnya memasukkan triple point.


"Oh iya, setau gue Tian dulu di smp-nya juga punya cewek, anak cheers!" ujar Mery.


"Ah yang bener tante Mer?" tanya Rika.


"Bener, tapi semenjak hengkang dan berenti basket mereka putus, ngga tau deh kelanjutan kisahnya,"


Mood Tasya semakin anjlok, ternyata begini rasanya cemburu.


"Gue ke kantin dulu deh, pengen minum!" Tasya mundur dari deretan anak MIPA 3. Ia berjalan menuju kantin seorang diri, berjalan dengan cepat seperti biasanya.


Siapa dia?


Cuma anak kelas X tapi tau bongsor?


Cemburu bikin haus...


Ia berbelok dan masuk ke dalam kantin, mengambil minuman dingin dan langsung meneguknya. Apakah cemburu sepanas ini? Kenapa badannya ikut-ikutan demam, memang sejak kemarin Tasya merasakan jika tubuhnya sudah tak bisa diajak kompromi lagi, hanya saja ia tidak semanja itu untuk ijin. Ia berkeringat, mendadak perutnya terasa kembung.


"Ini perut gue sakit banget, masa sih ini kadaluwarsa?" ia melihat memutari botol minuman, mencari tanggal expire minuman yang dibeli.


Alisnya berkerut, setelah membayar dan meminum seteguk, ia lantas melangkah keluar menuju kelas dengan menenteng botol minuman. Jam istirahat sudah habis.


Gadis itu memilih masuk ke dalam toilet sebentar saat merasakan perutnya semakin sakit.


"Susah kentut njirrr," gumamnya di dalam bilik kamar mandi. Sejak kemarin ia merasa seperti orang yang asam lambungnya sedang melambung naik.


Gadis ini mengatur nafasnya, mencoba tenang. Lantas ia keluar dari kamar mandi.


"Sya,"


Tasya mendongak, rupanya di luar sini ada antrian yang sedang menunggunya keluar dan ingin masuk ke dalam toilet.


"Ki, De?"


"Ngapain hayoo Sya?! Sendirian di toilet, biasanya berdua nyamain bentukan?!" kelakar Dena.


"Saravvv njir, yang ada lo berdua ngapain mau main pedang!"


"Ha-ha-ha, njirrr! Gue nganter Dena, buru prett!" Riki mendorong Dena untuk masuk cepat, karena bel istirahat sudah habis.

__ADS_1


Akhirnya karena bertemu dengan mantan teman satu kelas dulu terlebih satu grup se-frekuensi keduanya mengobrol seraya menunggu Dena keluar.



Tasya berjalan perlahan, karena sejak tadi perutnya terasa sakit, ia sampai menggigir bibir bawahnya.



Tapi saat akan masuk ke dalam kelas tangannya tercekal dan ia tertarik ke samping kelas oleh tenaga kuat.



"Eh, aw!"



"Abis darimana? Ngapain sama Riki?" tanya nya datar.



"Aku abis dari toilet,"



"Mana ada dari toilet bawa-bawa minuman." Lirikan mata Tian ke arah botol orange yang dibawa Tasya.



"Oh aku tau, kamu abis dari kantin sama Riki. Jadi gini di belakang aku?" tuduhnya.



Tasya mengerutkan dahinya, "jangan mulai lagi Ian, kamu tau aku ngga suka di posesifin gini..."



"Kalo gitu jangan mancing-mancing Sya, aku tau Riki itu suka sama kamu, berapa kali dia nembak kamu kan?"



"Terus maunya kamu, aku harus gimana kalo ketemu Riki? Pura-pura ngga kenal? Pura-pura ngga denger gitu?" tanya Tasya.



Tian tau ia salah, tapi kenapa rasanya ia tak bisa mengontrol emosi dan luapan kekesalannya jika menyangkut Tasya, tak tau mungkin karena semua orang terkhusus para pemuda yang menyukai Tasya belum tau jika Tasya sudah memiliki dirinya.




"Apaan? Ngga usah ngarang, coba tanya cupid, pernah engga aku ajak dia kenalan?! Kalo nganter cupid juga paling cuma sampe depan kelas sebelahnya karena disitu ada tetanggaku, jadi ngobrol sama Ginanjar."



Perut Tasya serasa dipelintir, "aduh udah lah, aku mau masuk!"



"Ngga bisa jawab kan, kamu setiap diajakin ngomong kaya gini, ngehindar terus," jawab Tian menahan kembali tangan Tasya.



"Lagian kita kalo berantem masalahnya selalu itu, ngga pernah robah sifat kamu yang posesif itu! Aku cape, putus aja lah!" jawab Tasya semakin membuat hati Tian berkecambuk.



"Sya!" panggil Tian sudah tak peduli lagi jika sikapnya ini membuat para penghuni MIPA 3 menoleh dan bertanya-tanya, ada apa ini?! Apakah dunia sedang terjadi peperangan?



Rama yang sedang menggoda Nara sampai menoleh, begitupun cupid yang sedang joged ubur-ubur, tim gamers sampai mempause permainannya dan yang lain menjeda kegiatannya, untung saja guru belum memasuki kelas.



Tasya berjalan tak peduli lagi dengan panggilan Tian, yang ia rasa hanya kondisi perut yang sudah teramat sakit.



"Aku ngga mau putus!"



"OMG!" mereka sontak terjengkat kaget.



"Kuping dedek berdengung!" ucap Yusuf.



"Ya ampunnnn sejak kapan mereka pacaran?!" jangankan Mery, Dian dan segelintir anak yang belum tau..Nara saja ikut terkejut.

__ADS_1



"Mut, gue mau pulang. Perut gue sakit banget, kayanya lambung kumat!" Tasya tak memperdulikan ucapan Tian dan malah membereskan semua peralatan tulisnya.



"Sakit, Sya?" Tasya mengangguk.



"Kakak pertama, gue ijin ya...nanti gue bilang ke guru piket," ucap Tasya menghampiri Tama, wajahnya sedikit berkeringat, mata berkaca-kaca membuat semua penghuni syok dan terdiam.



"Sya, Ian...jadi??"



"Ihhh, kok gue ngga tau?!"



"Sya," Tian menahan langkah Tasya yang ingin keluar.



"Oke aku minta maaf, aku janji ngga ulangin...tapi tarik kata-kata kamu!"



"Ian please aku mau pulang!" Tasya mencoba menarik tangannya.



"Bilang iya dulu," bukannya melepas, Tian malah menarik tangan Tasya agar gadis itu mau melihat matanya.



"Gifaril ! ! Kamunya intropeksi diri dulu! Kalo mesti berantem terus cuma karena kamu yang cemburuan aku capek! !"



"Lepasin Ian," mohon Tasya.



"Ian," Rama mendekat dan meminta Tian melepaskan tangan Tasya.



"Sya, kalo emang mau ijin...dianter ya...lo kenapa?" tanya Rama.



"Gue sakit pa..."



"Aku anter pulang," ujar Tian.



"Ngga mau, ujung-ujungnya pasti mau ributin Riki lah Dena lah atau siapa lah, pusing aku!"



"Wan, anterin Tasya..."



Tian menatap Tasya nyalang, "Kamu ngga mau aku posesif, kalo gitu orang lain harus pada tau kalo kita pacaran,"



Tasya menatap semua penghuni MIPA 3 yang pada akhirnya tau hubungan keduanya.



"Terserah, tapi aku udah capek, mumet, pusing, pengen pulang!"



Mungkin perkataan Tasya memancing pemahaman yang berbeda, bagi Tian...ia mengira cape dan mumetnya gadis ini karena sudah tak tahan dengan hubungan mereka. Dan bagi para penghuni MIPA 3 Tasya pulang dan sakit itu karena ia sedang bertengkar dengan Tian. Tanpa mereka sadari lambung Tasya semakin melilit, ada rasa ingin muntah dari diri Tasya. Yang ia ingin hanyalah pulang dan bicara hal ini pada mama, jika sudah 4 hari kondisi badannya tak sehat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2