Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : BERBAGI ITU INDAH


__ADS_3

Brakkk!


Tumpukan buku tebal ditaruh di atas meja, membuat obrolan keduanya terjeda. Saking seriusnya mengobrol, mereka sampai tak sadar dengan kehadiran miss Rachel yang sudah masuk ke dalam ruangan.


"Afternoon class!" Suara miss Rachel membuat eye contact Kenzi terputus dari Nara, gadis itu menghela nafas lega mengingat reaksi Kenzi seperti orang murka barusan saat Nara menyebutkan jika Rama adalah pacarnya, apakah itu ekspresi marah? Kok serem!


Nara dan yang lain membuka buku serta alat tulisnya, tapi sesekali ia menoleh pada Kenzi, apakah nanti akan terjadi sesuatu pada hubungannya dan Rama, atau----- Nara menggelengkan kepalanya mengusir semua kemungkinan terburuk, berharap dan berdo'a jika semua akan baik-baik saja.




*Dugh*!


*Dugh*!



Suara meja yang beradu dengan kepalan tangan, belum lagi suara musik dari ponsel bersama dengan suara Muti yang bernyanyi bersama Tasya lagu berbahasa negri ginseng,



"Ihhh! Cupid!!"



"Berisik oy ah! Gue ngga fokus mainnya nih," teriak Andy. Tapi seberisik apapun Rifal anteng saja menaruh kepalanya menyender di kepala bangku dengan wajah yang ditutupi jaket, baginya suara bising macam orang lagi hajatan su natan di kelas MIPA 3 adalah nyanyian selamat tidur untuknya.



*Kenapa bisa seperti ini? Tentu jawabannya adalah jam kosong*.



"Coba yang ini deh Ra!" Dian mendorong botol kecil kuteks berwarna peach dengan bling-bling ke depan Nara.



"Tante Di...Ngga ada warna pink fanta ya?" tanya Tasya ikut bergabung menggeser bangku dan membawa serta ponsel yang sedang memutar lagu k-pop. Bangku Nara sudah seperti balai warga tempat para anak perempuan ini berkumpul.



"Jangan pink fanta Dian, warna ijo tai ke bo atau oren-oren pepaya busuk ada kagak?" seloroh Yusuf, pemuda itu tak hentinya mengganggu Muti hingga gadis berponi yang hampir selalu sama dengan Tasya itu menjerit-jerit. Belum lagi Gilang yang selalu mengusili Vina, padahal tau jika Vina itu galak.



"Ha-ha-ha njayy banget! Mana ada warna gitu cupid!" tawa Dian.



"Anj\*mm Gilang ih rese ah !" dengan sengaja kuteks yang sedang Vina aplikasikan dan masih basah disenggol Gilang dengan sengaja hingga membuat kuteks itu terpoleskan kemana-mana.



Tak tanggung-tanggung penghapus whiteboard diraihnya dan dengan penuh dendam kesumat ia lemparkan ke arah Gilang.



*Pukkk*! Penghapus itu mendarat di punggung Gilang hingga membuat pemuda itu mengaduh.



"Aww! Anjayyy, galak!" tapi ia meringis sambil tertawa, entah kenapa di matanya Vina itu galak-galak tapi bikin dia candu untuk menjahili.



"Emm! Sokorr!"



Rama yang memang tengah bermain bersama grup gamers menyudahi permainannya, lalu duduk di bangkunya lagi, ia mengacak rambut Nara dari arah belakang, "lagi ngapain?" pemuda itu mencondongkan wajahnya ke arah Nara.



"Lagi pake ini,"



"Nanti ngga bisa ibadah kalo pake gituan," ia kembali bangkit lalu menggusur bangku dan duduk bergabung di sebelah Mita demi bisa melihat yang sedang Nara lakukan.



"Nanti pulangnya diapusin kok, buat iseng aja daripada gabut," jawab Nara.



"PaRam mau make juga? Biar cocok pa?" tanya Muti.



"Nama gue jadi Rima bukan Rama kalo gitu," balas Rama, tertarik dengan yang dilakukan Nara, pemuda itu bukannya melihat jemari yang sedang diolesi kuteks tapi ia malah memperhatikan wajah serius Nara sambil tersenyum-senyum.



"Ayank aku pakein!" pinta Yusuf, membuat Mutia dengan usilnya mengoleskan kuteks di pipi Yusuf, tapi seolah menjadi budak cinta pemuda ini berubah jadi anak layangan bin lebay nan menjijikan agar dapat membuat Mutia tertawa sekalipun ia harus berda rah-da rah. Wah, jika hati sudah bicara Cupid bisa apa? Ia sudsh termuti-muti!



Sadar ditatap terus menerus oleh Rama, Nara akhirnya bereaksi, "jangan ngeliatin terus ih! Jadi grogi," dengus Nara merasa tak nyaman dan risih dipandangi terus, ia juga mulai salah tingkah dibuatnya. Siapa juga yang tak salah tingkah jika diperhatikan sekian rupa.



"Emmhh, kalo paRam sama MaRa udah nyatu gini kita mah cuma kaktus dalem pot yang ditaro di pojokan jendela, berdebu tak terlihat!" ujar Tasya.



"Ha-ha-ha, perumpamaan lo Sya, berduri dong gue?!" tanya Merry.



"Rama ih!" tegur Nara.



"Kenapa emangnya? Mata itu gunanya buat melihat sesuatu yang indah dan berfaedah," jawab Rama.


__ADS_1


"Ck, udah atuh Ram, si Nara udah kembang kempis gitu, idungnya sebentar lagi terbang menembus genting sekolah!" sahut Rika seraya menunjuk atap kelas dengan kuas kuteks yang dipegangnya.



"Idih, serem Nara ngga punya idung lagi. Ternyata gombalanmu membunuh pa," timpal Muti.



"Iyalah, Nara tuh indah dipandang, berfaedah juga buat kesehatan mata dan jiwa."



"Maaf aku ngga punya receh buat gombalan kamu," balas Nara.



"Uang gede juga ngga apa-apa yank."



"Balik ke bangku yu ah! Bawaannya gue pengen gigit guling saking ngenesnya!" balas Dian ditertawai Vina.



"Kenapa harus guling, nih tutup pulpen masih banyak buat digigitin Di," imbuh Vina kembali mencelupkan kuas ke dalam botol kuteks. Tapi kembali Gilang mengganggunya menguji kesabaran yang sudah diambang batas. Gadis itu mengejarnya dan kali ini Vina tak segan untuk menjambak rambut Gilang juga menghajar dan menjewernya.



Rifal kini merasa tidurnya terganggu lalu melihat pemandangan tindak kdrt di depannya, "Nih kelas ributttt mulu! Kapan senyapnya sih?!" dengan mata yang menyipit menyesuaikan dengan cahaya di dalam kelas.



"Apaan lagi ini lu berdua, laporin nih dua orang, kdrt nih!" ujarnya pada Vian yang tertawa, "hajar Vin."



"Jangan kasih kendor tante Vin!"



"Oyy---oyy, banteng ngamuk!" aduh Gilang menerima setiap pukulan, jeweran dan jambakan Vina seraya tertawa. Entah apalah hubungan mereka, yang jelas dibalik rasa sayang, rasa suka dan pergulatan sengit di depan umum, ada be your self saat di depan satu sama lain, dan itu yang terpenting. Nyaman menjadi diri sendiri, tak perlu jadi orang lain.



"Ram, Ram! Nih cewek kesurupan!" ujar Gilang.



"*Hepp*! Ke kantin yu ah!" ajak Rama yang beranjak dari duduknya. Ia memisahkan Vina dari Gilang dan menarik kerah seragam Gilang menyelamatkannya dari amukan Vina.



"Ikut pa!" teriak Yusuf, Rifal pun sudah beranjak berniat mencari sesuatu yang menyegarkan.



"Kemana Ram?" tanya Tama.



"Kantin ah! Nyari minum, aus!" jawab Rama.




"Sip!" diokei Bayu.



Namun belum Rama keluar, ia berpapasan dengan Kenzi bersama 2 orang teman sekelasnya masuk ke kelas MIPA 3.



Tatapan mereka beradu, membuat Rama menghentikkan langkahnya sejenak di dekat pintu. Sontak saja kehadiran Kenzi membuat suasana gaduh mendadak sepi mirip kuburan.



"Ngapain dia kesini, *wawanianan*!" dengus Tian ikut menghampiri, seperti sudah sehati para siswa disini menatap tak suka dan siap jadi garda terdepan ancaman yang akan datang. (**berani-beraninya**)



Rama menahan teman-temannya untuk tak bertindak berlebihan, ia ingin tau apa yang akan Kenzi lakukan dan sejauh mana ia berani mengusik hubungannya dengan Nara.



"Ck, sikat aja lah Ram." Gilang sudah merasa jengah, baru Willy mundur teratur kini datang gangguan lain.



Antara santai dan tak tau malu Kenzi menghampiri Nara, di tengah-tengah tatapan permusuhan satu kelas MIPA 3.



"Hay girls---" sapanya pertama-tama pada teman-teman Nara namun ia berdiri tepat di depan Nara yang memandangnya melongo.



"Hay ko!" jawab beberapanya, Tasya dan Vina melirik ke arah Nara dengan sorot mata getir.



"Hay Ra," ia menampilkan senyum termanis dengan sentuhan gigi gingsul-nya.



"Brew, sorry nih. Lo ngigo ngga? Lo ngga salah masuk kelas kan?" cibir Andy.



Tatapan datar ia lemparkan pada Andy, "masalah buat lo?"



"An jimmm, nantangin!" Andy dan beberapa bereaksi tapi Rama masih menahan mereka dengan tatapan yang sudah semakin menajam.


__ADS_1


Kenzi kembali menatap Nara, "nih, coklat buat kamu. Kamu suka coklat kan ?" Sebatang coklat ia sodorkan pada Nara, lengkap dengan pita warna merah muda.



"Coklat men! *Hareudang* euyy Ram, padahal hari ini belum pemanasan!" ucap Vian seraya melakukan peregangan, membuat suasana jadi menegangkan. (**gerah**)



"Iya Ram, minta dicium sepatu gue! Mana bekas nginjek ranjau darat, mantep!"



"Seragam masih bersih. Boleh lah dikotorin dikit!" tawa Rio mencibir, sementara kedua teman Kenzi menatap dengan sedikit nyali yang sudah ciut, mereka bukan tak tau pamor MIPA 3 yang kerjaannya tawuran, jika untuk tawuran antar sekolah, bernakal-nakal ria bersama kelas IPS mereka adalah jagonya.



"Kamu ngapain kesini Ken, kemaren kan waktu di tempat les aku udah bilang kalo aku udah punya---" Nara yang merasa terusik tak nyaman buka suara.



"Ini buat kamu, aku sengaja beli ini tadi!" tukasnya memotong ucapan Nara.



Netranya melihat Rama yang kini berdiri di belakang Kenzi. Rama tau akan ketidaknyamanan yang Nara rasakan, ia lantas menghampiri Nara dan berdiri disampingnya.



Rama menyunggingkan senyuman usil, "terima aja, rejeki itu ngga boleh ditolak."



"Yang bener aja pa?!" Tasya sampai melongo dibuatnya, bukan-bukan, bukan hanya Tasya saja, melainkan semua yang ada disana termasuk Nara, mereka tak percaya dengan yang diucapkan Rama dengan santainya.



Nara menatap Rama lama, anggukan Rama membuat Nara akhirnya menggerakan tangan, "beneran?"



"Makasih."



Kenzi tersenyum menang namun itu tak bertahan lama. Setelah menerima coklat pemberian Kenzi, Rama merebutnya dari tangan Nara persis copet hape. Ia mencopot pitanya dan membuang begitu saja, hingga ia jatuh teronggok di lantai kelas. Rama membuka bungkusnya tanpa belas kasihan dan memoteknya satu persatu.



"Nih lo satu--- lo satu!" menyerahkan setiap kepingan coklat pada Tasya, Muti, Vina, Rika, Mita dan yang lain. Nara bahkan sudah menganga dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan dengan tindakan Rama, rupanya sejak tadi ia diam bukan mengalah.



"Yeee! Makasih paRam!"



"Gue mana Ram?" teriak Tian.



"Pa, gue ngga diabsen? Papa jahat! Ma!" Yusuf merengek mewek minta ditampol.



"Woy! Itu coklat gue kasih buat Nara! Bukan buat lo bagiin!" sungut Kenzi tak terima, wajahnya sudah memerah karena marah.



Rama serta merta membuang bungkusnya dengan melemparkan itu pada Yusuf, "nih! Lo bungkusnya aja Cup, siapa tau ketularan ganteng!"



"Saravvv, ogah ah!"



"Nara udah terima kan? Ya udah, terserah dia lah mau diapain, Nara ngga boleh makan coklat nanti sakit gigi. Lagian kalo Nara memang mau gue sebagai pacarnya masih bisa beliin. Mau beli berapa yank, satu---dua---atau mau sama pabriknya sekalian?" tanya Rama.



"Badasss! Gue mah mau sekalian sama mbak kasir yang jual coklatnya aja pa!" sahut Cupid ditertawai yang lain.



"Nara itu mama-nya MIPA 3. Jadi kalau dia dikasih, anak-anak tuyul nih juga mesti kebagian," tunjuk Rama pada semua murid MIPA 3.



"Ih, paRam...anak cantik begini disebut anak tuyul!" sewot Muti.



"Bank sadhhh!" Kenzi mengepalkan tangannya, ia bahkan sudah mengangkat dan ingin mendaratkan pukulannya di wajah Rama, meski pada akhirnya kedua temannya itu menahan tangan Kenzi. Tak ada raut wajah takut di diri Rama, bahkan tidak untuk berkedip apalagi memejam, padahal Nara sudah dengan refleks melingkarkan tangannya di lengan Rama, bersembunyi di balik tubuh Rama.



Siswa kelas MIPA 3 juga bereaksi dengan beranjak dari tempatnya bersiap membela dan melindungi Rama.



"Santai bos," ucap Rama menyunggingkan kembali senyuman miringnya.



"Lo tuh !" tunjuk Kenzi murka.



"Lagian kan coklatnya ngga gue buang, gue bagiin sama yang lain jadi ngga mubadzir---berbagi itu indah broo!" Rama menarik tangan Nara untuk mengikutinya bersamaan dengan bel istirahat yang sudah berbunyi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2