Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : SWEET


__ADS_3

Nara mematung tepat di depan motor Rama akibat mendengar ucapan pemuda itu, "apa? Kamu nungguin sama ngikutin aku?"


"Perlu diulang? Aku nungguin kamu hampir seharian, di samping rumah kamu, yang ada pos ronda tuh---terus ngikutin kamu sampe ke cafe," ujar Rama memasangkan helm di kepala Nara, klik!


"Yuk! Nyari dulu tempat buat ngisi perut," ajaknya pada Nara yang masih terlihat kebingungan tak percaya, Nara bahkan tak berkedip melihat Rama, apa yang sebenarnya sedang pemuda ini lakukan? Butir-butir air hujan dengan langit yang telah berubah warna menjadi abu-abu memayungi perjalanan keduanya.


"Ujan yank, disitu aja ya sekalian makan, lapar eung!" tunjuknya pada sebuah kedai baso.


"Iya," jawab Nara.


"Kamu duluan," ujar Rama meminta Nara duluan masuk sementara ia memarkirkan motornya. Gadis itu berlari kecil masuk ke dalam kedai yang tak terlalu besar, di dalamnya ada beberapa orang yang sama-sama tengah berteduh seraya makan baso. Nara mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong.


"Disana aja," Rama yang menyusul menunjuk ke arah bangku kayu panjang dekat dengan posisi si mamang bakso dan kaleng kerupuk biru. Rama terlihat menepuk-nepuk jaketnya dari air yang membasahi lalu duduk bersampingan dengan Nara.


"Kang pesen 2 porsi!" ujarnya lantang.


"Kamu mau pake apa aja?" tanya nya.


"Aku pesen jus aja, tadi udah makan masih kenyang--" jawab Nara masih memperhatikan Rama lekat-lekat.


"Jus terus ngga takut kembung?" kelakar Rama.


"Kang 1 aja deh, katanya pacar aku ngga mau. Lagi mogok makan biar irit nasi sama uang jajan!" ujarnya.


"Ram---" panggil Nara meminta pemuda ini agar menghindar terus.


"Ya?" baru saja akan buka suara semangkuk baso tersaji di depan mereka dan itu masih mengepulkan asap, begitupun segelas teh tawar hangat dan jus pesanan Nara. Nara melihat betapa lahapnya Rama makan.


"Kamu lapar?" tanya Nara.


"Lumayan---lumayan lapar," kekehnya.


"Kamu ngapain ngikutin sama nungguin aku seharian, sampe ngga makan gini? Ngga ada kerjaan!" Nara bertanya dengan nada kesal sekaligus kasihan.


"Emang ngga ada, makanya ngikutin kamu." Santainya menikmati baso.


"Mau?" tawarnya menyodorkan baso yang sudah ditusuk garpu "coba deh enak," lanjutnya, Nara menggeleng, "masih kenyang," suara bising kendaraan memburu bersama suara rintik hujan.


"Eh iya, jangan deh nanti gendut," ia nyengir lebar dengan wajah menyebalkan menarik kembali garpu.


Nara menatap Rama dengan berdecak, menunggu memang sesuatu yang menyebalkan, "kamu tuh niat jelasin ngga sih! Nyebelin!"


"Sebentar, aku abisin dulu basonya," pinta Rama mempercepat makannya sementara Nara masih sabar menunggu meski ia pun sudah kepalang kesal seraya menyeruput jus dan memperhatikan Rama makan.


"Alhamdulillah," jawabnya saat semangkok baso itu ludes dimakan.


"Aku masih nunggu loh Rama," ucap Nara, Rama melihat mata penuh harap dari Nara lalu sejurus kemudian menatap berkeliling, warung baso ini cukup ramai juga, rasanya jika ia dan Nara masih disini dan nantinya Nara akan mendebat ia hanya tak mau menjadi tontonan banyak orang mirip cerita sinetron, apalagi sampai diguyur kuah bakso.


"Aku jelasin. Mau disini atau cari tempat yang lebih nyantai?" tunjuk Rama pada sekeliling. Nara ikut mengedarkan pandangan.


"Aku tau tempat yang enak," angguknya singkat.


"Tapi janji kali ini serius?!" Nara menunjukkan kelingkingnya.


"Janji," ia menautkan kelingkingnya, dan membawa Nara keluar dari warung baso, mengingat hujan pun sudah reda.


Kota Bandung semakin dingin karena hujan yang mengguyur tadi, jalanan saja masih terlihat basah. Laju motor itu melewati jalanan arteri kota, membawa Nara memasuki kawasan balkot, dimana taman-taman besar dibuat untuk menyejukkan pusat pemerintahan kotamadya.


Rama membawakan minuman hangat di tangannya yang ia beli barusan pada pedagang bajigur yang melintas dengan gerobaknya, ia sedikit berjinjit karena jalanan sedikit becek akibat genangan air hujan.


Nara duduk di bawah pohon Trembesi seraya menunggu Rama, dimana pohon ini adalah pohon terbesar yang ada di kompleks balai kota Bandung dan menjadi ikonnya balkot, disentuhnya batang yang terasa dingin dan sedikit lembab.


Nara mendongak ke atas, menatap dedaunan yang tinggi dan masih mengatup akibat hujan, memang begitulah karakter pohonnya. Ia akan mengatupkan dedaunan saat hujan turun, sehingga air akan langsung meluncur ke akar, jenis pohon peneduh ini menjulang tinggi layaknya beringin, memiliki daya serap air yang cukup tinggi sampai-sampai karena saking banyaknya, Trembesi akan meneteskan air melalui daun seolah sedang hujan, itu kenapa pohon ini disebut pula ki hujan dan aslinya berasal dari daerah gurun.


"Nih," Rama menyerahkan cup mineral berisi bajigur.


"Makasih," Nara kemudian duduk di bangku yang ada di dekatnya.


"Jangan bilang makasih sama aku bilang sama mamang nya, udah dibikinin minuman anget buat kita." Ia mengulas senyuman tipis penuh arti.


"Makasih juga sama bapak gubernur yang dulu jadi walikota sini karena udah dibikinin tempat buat kita duduk sekarang sambil nyantai-nyantai di bawah pohon rindang," lanjut Rama menyeruput bajigur miliknya.


"Ngga mau sekalian bilang makasih juga buat tukang kayu yang udah bikinin kursi ini buat tempat kita duduk?" tanya Nara mengangkat alisnya sebelah, dikekehi Rama.


"Oke aku cerita, semalem----"


~Flashback on~


Rama sudah memasuki komplek rumah Nara, namub laju motornya tertahan saat melihat Kirana yang tengah celingukan ke sisi selo kan sambil berurai air mata.


"Kirana? Lo Kirana kan?"

__ADS_1


"Rama!!"


"Hay! Udah lama ngga ketemu, masih sama kaya dulu---"


"Lo tinggal disini lagi?" tanya Rama, meski sebenarnya ia sudah tau akan hal itu.


Kirana mengangguk, "iya. Oh iya, Rama---bisa tolongin aku ngga, please!" gadis itu sudah hampir menangis, matanya berkaca-kaca nan frustasi.


"Kenapa?"


"Hape ku jatoh ke situ!" tunjuk nya pada selokan yang airnya dangkal namun kotor. Pemuda itu sempat celingukan, merasa jika daerah itu cukup sepi dan tak ada lagi yang bisa menolong Kirana ditambah waktu yang menunjukkan sudah semakin malam, sisi kemanusiaannya terbangun. Bagaimana pun ia pernah mengenal dan berteman dengan gadis itu.


Rama turun dari motor mencoba mencari ranting atau apapun yang bisa ia pakai untuk mencari benda pipih itu. Diraihnya ranting kayu mati yang tergeletak di samping halaman rumah salah satu warga.


Dirasa menemukan benda keras nan pipih ia menusuk-nusuknya, "yang itu bukan?"


"Yaa! Yaa---itu ponselku! Ambil Ram--ambil!" pekiknya kegirangan.


Rama sedikit berjongkok lalu meraih benda pipih yang sudah mati dan basah serta bau itu.


"Ya, hape ku mati! Gimana dong Ram, padahal ada tugas di dalemnya penting banget! "adunya seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya karena kehilangan mainan.


"Loh ko jadi ke gue?" tanya Rama.


"Please, tolongin lah. Ini ngga ada orang lain disini---" dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Rama menggaruk tengkuknya tak gatal," ya udah. Tapi gue anter ke counter doang ya ,abis itu gue tinggal?!" ucap Rama yang melirik jam di pergelangan tangannya mengingat mempunyai janji dengan Nara, sepertinya terlambat 5 atau 10 menit saja Nara tak akan marah. Rama segera merogoh ponselnya demi menghubungi Nara, namun si alnya ponsel Rama malah mati, kebiasaan buruknya yang selalu lalai dengan kondisi baterai.


Rama buru-buru membalikan motornya, "naik! Tapi kalo di depan pos satpam ada satpam. Sorry lo turun ya--minta anter satpam. Gue ada janji!" Kirana menyetujuinya.


Untung saja di pos satpam para security itu tengah berjaga, Kirana malah cemberut dan mencebik karena itu artinya Rama hanya akan memberikan tumpangan sampai pos satpam saja.


"Sampe ketemu counter kek Ram," pintanya memohon.


"Sorry Na, gue ngga bisa." tolaknya menghentikkan laju motor.


"Turun," pintanya. Dengan berat hati Kirana turun dari motor Rama.


"Tuh, satpam pada lagi anteng disana. Lo mintain tolong deh!" tunjuk Rama kembali memutar motornya ke arah rumah Nara.


Rama telah sampai di dekat rumah Nara, ia sengaja mematikan mesin motor karena ini sudah cukup malam dan takut mengganggu tetangga.




"Aku udah di depan pintu rumah kamu," ucapnya sambil menyelipkan anak rambut Nara ke belakang telinganya.



"Tapi aku ngga mau ganggu kamu, keliatannya kamu lagi seneng." Tatapannya meredup, membuat Nara memutar otak mengingat kembali, itu artinya Rama melihat ia menerima boneka dari Robi malam itu.



"Kamu liat aku..." Rama mengangguk pasti, "semuanya, tanpa ada yang terlewat."



"Maaf, mereka temen-temen dari Jakarta---aku pastikan cuma temen ngga ada yang lebih dari itu termasuk Robi! Kenapa kamu ngga masuk aja?" alisnya berkerut.



"Ngga apa-apa. Aku tau kamu lagi temu kangen sama mereka dan aku rasa kehadiran ku nggak dibutuhkan saat itu. Coba kamu bayangin kalo aku muncul, sudah pasti mereka bakalan risih dan nggak nyaman," ucapnya.



"Tapi kenapa ngga bilang atau telfon," tanya Nara.



"Sayang pulsa ah! Sayang kuota!" kekehnya yang kini wajahnya kembali menyebalkan. Nara mencubit perutnya keras.



"Aw, Ra sakit."



"Lagian ihhh nyebelin." Ketus Nara galak.


__ADS_1


Pemuda itu kembali terkekeh, "canda---aku bukan pacar posesif, Ra...ada kalanya kamu butuh waktu untuk bersama teman-teman mu, tanpa dirisihkan dengan kehadiranku, kehadiranku di hidup kamu bukan buat mendominasi dan merebut kamu dari temen-temen lama kamu," jedanya.



"Tapi aku bakalan selalu ada buat kamu, jagain kamu---" ia menatap dalam manik mata Nara dengan mata teduhnya, membuat hati Nara kembali menghangat.



"Bukan pacar posesif ya? Yakin?" tanya Nara melengkungkan bibirnya, "terus yang hari ini ngikutin sama nungguin aku hampir seharian siapa? Apa namanya kalo ngga posesif?!"



"Justru itu Ra, aku selalu jagain kamu dari laki-laki macam Willy. Bahaya buat kamu, buat kelangsungan hubungan kita ke depannya!" jawabnya. Nara tertawa renyah,betapa tidak ia menyebut Willy ancaman berbahaya.



"Sejak kapan kamu nyatronin rumah aku?" tanya Nara.



"Jam berapa ya, kayanya ba'da subuh!" jawabnya membuat Nara mengangkat kedua alisnya tak percaya.



"Ah bohong! Aku ngga liat kamu tuh tadi pagi,"



"Ba'da subuh lewat 3 jam---" jawabnya.



"Maafin aku yang ngga tau caranya jelasin---atau ngga tau caranya jaga hati kamu," imbuh Rama.



Nara menyentuh dan menangkup rahang tegas Rama, "aku juga minta maaf kalo suka negatif thinking duluan."



"Kenapa kamu bisa bilang kalo aku selingkuh sama Kirana?" tanya Rama.



Nara mengalihkan pandangannya, "dia yang bilang. Katanya semalem kamu nolongin dia sekaligus dengerin curhatnya dia--" jawab Nara.



"Hm," Rama hanya bergumam sebagai tanggapan atas jawaban Nara. Ia tak tau harus komentar apa tentang Kirana, karena satu yang ia tau, ada maksud buruk di balik itu semua.



"Kayanya dia masih suka kamu deh Ram, makanya sengaja mau manas-manasin---"



Rama bergidik acuh, justru yang ia lakukan membuat Nara panas sepanas-panasnya.



Rama mendekatkan wajahnya ke arah samping Nara, dan mengecup pipi gadis itu, "tapi aku sukanya kamu, *love you*!" ucap Rama.



"Yuk pulang, udah hampir magrib! Takut ada----" Rama mendongakkan kepalanya ke arah atas belakang dengan wajah bergidik ngeri lalu beranjak dan kabur duluan membuat Nara ikut beranjak dan berlari.



"Rama ihhhh!"



Pemuda itu tergelak.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2