
Rupanya sejak Rama menurunkan Nara, pemuda itu sudah menunggunya, seolah tau jika Nara dan Rama kini terpisah, "Ra, hay!" sapa Kenzi, pemuda itu menyamai langkah Nara berjalan di koridor kelas.
Nara tak menghentikan langkahnya hanya untuk sekedar membalas sapaan Kenzi, ia terus saja berjalan hanya mengangguk sekilas saja pada pemuda itu sebagai jawaban, seperti yang Rama sering katakan jika ditanya orang lain berlagak bisu saja.
"Tumben sendirian, mau ku anter sampe ke kelas?" tanya Kenzi lagi berharap jika Nara akan menjawabnya. Namun kembali, Nara tak mengindahkan Kenzi, ia justru memanggil Dea dan Inggrid yang kebetulan keluar kelas. Baru kali ini Nara begitu senang melihat kedua gadis itu.
"Inggrid...Dea !" pekik Nara melambaikan tangan pada kedua gadis yang terlihat sumringah melihat Nara bersama Kenzi.
"Ra!" keduanya membalas, tak menunggu lama seakan tau jika Nara tengah memberikan kode kedua gadis centil itu berlari secepat kucing kebelet.
Nara baru menoleh pada Kenzi, "Ken, kenalin...mereka ini temen satu komplekku," ucap Nara memperkenalkan keduanya yang saat ini sudah memasang senyuman semanis mungkin mengalahkan gula aren.
"Udah kenal," gumam Kenzi, wajahnya berubah keruh dan suntuk menatap Inggrid dan Dea.
"Bagus dong, jadi ngga usah cape-cape kenalan lagi. Daripada kamu repot-repot anterin aku ke kelas MIPA 3 terus balik lagi ke kelas kamu, mendingan kamu ke kelas aja barengan mereka. Biar aku bareng sama Gilang, Bayu sama yang lain aja ya!" tunjuk Nara pada teman-teman Rama yang baru saja kembali dari warung babeh.
"Bye guys!" Nara segera berlari pamit sebelum Kenzi menolak dan mencegah.
"Lang! Bareng!" teriak Nara bergabung dengan anak-anak lelaki MIPA 3.
"Ra,"
"Ma!" Yusuf melambaikan tangannya.
Nara menoleh singkat demi melihat wajah ketiga manusia yang tadi ia tinggalkan terutama Kenzi, ia terkekeh kecil melihat wajah keruh Kenzi. Tak lupa Nara memberi sentuhan terakhir dengan merangkulkan tangannya di pundak Yusuf dan Abay, sampai-sampai keduanya terkejut.
"Ngimpi apa gue di rangkul Nara?" tanya Yusuf.
"Ra, si Rama atuh marah!" Bayu mencoba menepis tangan Nara.
"Ijin dulu rangkul bentar, karena Rama ngga ada jadinya yang ada aja! Rama ngga usah dikasih tau," jawab Nara melepaskan rangkulannya saat belokan telah terlewati, sementara Gilang mengulas senyuman, mengerti kenapa Nara bersikap begini.
"Masih belum kapok juga dia Ra?" tanya Gilang. Nara menggeleng.
Nara kemudian menyamakan posisinya dengan Gilang, "Lang, Rama ijin sekolah kok ngga bilang bilang? Ada apa?" selidik Nara, langkah Gilang memelan seiring tatapan nyalangnya pada Nara.
__ADS_1
Ia sempatkan menelan salivanya sulit, "itu apa..." ia sedikit kebingungan menjawab, melihat wajah Nara yang mengharapkan jawaban dari Gilang.
"Mendadak abah haji harus ke Sumedang, katanya sih ada sepupunya Rama gitu atau siapa ya nikah," angguk Gilang meyakinkan Nara sekaligus meyakinkan diri sendiri jika itu alasan yang tepat.
"Oh. Tumben, dia ngga ngomong sama aku. Padahal biasanya kalo ada apa-apa ngomong," angguk Nara.
___________________
"Ra, mikirin apa sih?" tanya Vina mengejutkan Nara, mie goreng yang ada di piringnya hanya ia aduk-aduk saja sejak tadi tanpa berniat dimakan.
"Eh, iya." Nara tersadar, sejak tadi kepalanya terasa berat, tenggorokan tak enak, badannya pun terasa panas dan dingin menyebabkan naf su makannya hilang.
"Girls, gue balik ke kelas dulu ya. Masih kenyang gue," ucap Nara beranjak meninggalkan keramaian kantin di waktu istirahat. Kepalanya mulai cenat-cenut sepertinya virus sudah berhasil menyerang sistem imun tubuhnya saat ini.
"Tapi ini makanannya ngga kamu makan?" tanya Rika.
"Abisin aja, atau kasih yang lain. Belum kumakan kok!" Nara benar-benar hilang di balik pintu kantin.
Karena terbiasa langsung melengos begitu saja, Gilang sampai lupa dengan pesan Rama.
"Kemana om Lang, biarin aja atuh. Nara palingan juga masuk ke kantin!"
Nara berjalan melintasi perpustakaan, ia teringat dengan tugas kemarin yang membutuhkan sumber refernsi dari sana. Langkahnya sempat terhenti demi menimbang-nimbang antara kebutuhan dan rasa tak enak badannya.
"Takutnya besok sampe ijin, jadi mendingan sekarang dulu deh nyari sama minjemnya, soalnya lusa udah harus dikerjain," gumamnya, akhirnya dengan mengesampingkan rasa tak enak badan Nara masuk ke dalam perpustakaan yang tak begitu ramai.
Nara langsung menuju rak buku dimana buku kimia berada, mencari dengan seksama buku yang ia butuhkan. Sampai akhirnya menemukan beberapa buku yang menurutnya cocok.
Gadis itu membawanya ke meja demi melihat isian daftar pustaka, berhubung perpustakaan mungkin hanya akan meminjamkan satu sampain dua saja, maka ia harus meminjam buku yang isinya lumayan lengkap. Di saat ia tengah sibuk membaca isi buku sepasang kaki datang menghampiri.
"Baca juga? Kirain masih di kantin?"
Nara mendongak, namun fokusnya kembali pada buku yang tengah dipegangnya, selain karena rasa sakit kepala yang mendera, ia pun tak berniat menurunkan moodnya dengan membalas Kenzi.
"Boleh gabung?" tanya nya lagi.
__ADS_1
"Ini tempat umum, jadi kalo mau duduk---duduk aja," jawab Nara tanpa mengalihkan pandangannya dari tulisan yang tercetak di buku.
"Ra, jalan yuk!" ajaknya.
"Sorry Ken, aku sibuk. Sebentar lagi ujian kenaikan," jawab Nara datar seperti ubin rumah.
Nampak jelas Kenzi bukan sedang ingin membaca buku ataupun mencari buku bacaan untuk tugas seperti dirinya, tapi cuma mau numpang duduk sambil recokin Nara.
"Ra, Inggrid sama Dea itu temen satu komplek? Ngapain juga kamu kenalin sama aku, mereka agresif, di kelas aja aku kurang suka---"
"Mereka yang minta dikenalin biar deket," jawab Nara membuka lembaran buku berikutnya.
"Kalo gitu nanti pulang sekolah aku anterin kamu ya, aku sekarang tau loh alamat rumah kamu,"
Puk!
Nara menutup buku sedikit kasar, dan sudah menentukan pilihannya.
"Sorry Ken, aku dijemput Rama. Kalo gitu aku permisi ya, udah dapet bukunya," Rama menunjukkan 2 buku tebal dan beranjak dari duduknya. Menyimpan buku lain yang sempat ia ambil dan menghadap pada petugas perpustakaan, menyerahkan kartu keanggotaan agar dapat di catat.
Tak menyerah begitu saja Kenzi mengekor di belakang Nara, gadis itu dapat melihat meskipun hanya dengan ekor matanya. Senyuman menyeringai tercetak jelas di wajah Kenzi, ia sedang tertawa miring, "oh iya. Baru inget, kenapa dia?"
"Dia ijin," jawab Nara singkat menerima buku dan kartu perpusnya keluar.
"Ijin ya?" ia terkekeh sumbang.
"Ternyata dia boong ya sama kamu," tambahnya berjalan menyamai langkah Nara.
"Bohong?" Nara menoleh dengan alis yang terangkat pada Kenzi, kini terlihat wajah Kenzi yang tersenyum miring.
.
.
.
__ADS_1
.