Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : MAU JANJI?


__ADS_3

Ia meneliti luka-luka yang didapat Rama, "cowok tuh kenapa harus berantem sih, ngga ada cara penyelesaian lain gitu?" sewotnya.


Rama menyunggingkan senyumnya, "namanya juga cowok, wajar. Masa iya nyelesain nya pake kocokan arisan," jawabnya membuat Nara berdecak dan mendelik.


"Jangan sering-sering kaya gini, aku ngga suka...." protes Nara seraya mengobati luka Rama.


"Kan biar ada yang merhatiin," jawabnya lagi.


Pukkk! Nara menggeplak lengannya yang tak pernah serius jika diberitahu.


Sebenarnya Nara sedikit grogi dengan situasi itu. Bagaimana tidak, wajah Rama berada dihadapannya, ia tau tatapan pemuda ini tak lepas dari wajahnya, bikin hati gedor-gedor pengen kabur.


"Bisa ngga sih ngga usah ngeliatin!" ujar Nara tanpa melihat mata Rama, kini pemuda itu terkekeh, membuat Nara menekan tissue basah itu di atas lukanya, "aww yank--"


"Makanya diem! Lagian tuh mata ngga bisa kontrol!" sengit Nara memberikan sentuhan meniup luka yang sudah dibubuhi obat merah.


"Udah kali Ra, ngga liat nih jiwa jomblo gue meronta-ronta liat kalian sweet momen kaya gitu!" ucap Bayu sambil nyemil keripik talas. Awalnya mereka begitu heboh menceritakan kejadian barusan, tapi melihat sepasang kekasih ini uwu-uwu'an di depan mata, bikin mulut gatel pengen nembak. Ceritanya sih Rama yang luka, tapi Nara memberikan botol minum yang masih tersegel pada Rama, bukan untuk Rama namun ia meminta Rama untuk membukakan penutup botol itu buatnya yang merasa haus.


"Bukain," pintanya.


Krekkk! Dalam sekali putaran segel itu langsung terbuka.


"Kamu laper ngga? Mau cari makan?" tanya Rama.


"Boleh, tapi yang ringan-ringan aja jangan nasi," jawab Nara.


"Hayukk atuh," ajak Rama meraih tangan Nara untuk turun.


"Biar gue aja yang cari makan, daripada ngeliatin orang pacaran! Bikin ngiri," kini Ridwan yang berujar seraya bergegas beranjak dari duduknya.


"Wan, gue ikut lah!" seru Bayu mengekor.


"Wan, kalo ada baso tahu!" teriak Rama dari atas sambil melempar uang dari sakunya sebab tadi Ridwan main turun saja. Seperti biasa, hanya ada Gilang yang setia menjadi nyamuk menemani Nara dan Rama jika sedang berdua begini.


Gilang mengambil sebatang rokok dari bungkusan yang tadi ia beli di warung, "Ram, kok gue ngerasa anak-anak tadi belum sadar sepenuhnya. Bisa jadi mereka ingkar, balik-balik ke pasar bawa pasukan lagi," Gilang berkata seraya menyulut batangan rokok.


"Ya tinggal bawa aja, gitu aja repot! Derr---lah perang!" jawab Rama menyeringai seakan ini adalah sebuah permainan seru untuknya, tentu saja gadis di depannya ini berwajah keruh nan sewot siap-siap menghardik dan menghakimi Rama, menyerang Rama dengan serentetan petuahnya.


"Apa-apaan sih! Bahaya ah, lapor polisi aja kenapa sihh! Aku ngga ijinin, ya Ram! Nanti kalian babak belur, tadi aja dia bawa piso lipet tau ngga!" sewotnya berapi-api seolah itu adalah hal paling menyeramkan di dunia, padahal Nara tak tau bagaimana Rama sepaket kehidupan nakalnya di luar sana, Nara tentu belum mengetahui siapa Ramadhan Restu Al-Kahfi sepenuhnya.


Rama hanya mengulas senyuman sebagai jawaban dan saling melirik dengan Gilang, "iya yank--" jawabnya mengiyakan, tapi lirikan matanya dan Gilang seolah mengisyaratkan sesuatu dan Nara tau itu bukanlah hal bagus.


Nara mengangkat alisnya penuh selidik, "ngga usah pada lirik-lirikan ya, aku aduin sama abah biar kalian dimarahin!" ancam gadis ini menggemaskan, Rama hanya bisa tertawa.


"Dih aduan!" Rama menjiwir hidung Nara gemas.


"Aww, Ih! Lagian, berantem tuh ngga bikin kalian jadi pahlawan, menang jadi arang kalah jadi abu, Rama," imbuh Nara mencoba memberikan pemuda-nya pengertian.


"Iya bu guru. Udah ya, ngga usah dibahas lagi," Rama memegang dan mengelus punggung tangan Rama.


"Janji dulu!" pinta Nara, membuat Rama melirik Gilang kembali, keduanya terdiam.


Nara menghela nafas kasar melihat keterdiaman keduanya. Karena ia tau Rama tak akan bisa menepati itu. Mungkin jalan pikiran pria dan wanita itu berbeda. Bagi kaum jantan mengadu otot adalah harga diri.



__ADS_1


"Sana masuk gih, bilangin sama papa, mama sama bang Akhsan maaf ngga bisa mampir, calon mantu lagi sibuk." Kekeh Rama, sebelah tangannya menangkup pipi Nara dan sebelahnya lagi memegang tangan gadis itu.



"Iya," Nara mengangguk.



"Ram, mau janji?" tanya Nara menunjukkan jari kelingkingnya di depan wajah, Rama menautkan alis tak mengerti.



"Janji?"



"Iya, janji--" Nara mengangguk cepat.



"Janji apa?"



"Janji ngga bakalan berantem dan terluka ?" tantang Nara, pandangan Rama tertumbuk pada jari kelingking Nara yang sengaja ia goyang-goyangkan dengan maksud agar Rama menautkan kelingkingnya lalu berjanji.



Bibir yang semula tertarik ke atas kini mulai merengut saat Rama tak jua menyambut si kelingking, "manusia itu hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan, aku ngga mau janji takut ngga bisa menepati, karena sejatinya janji adalah hutang," jawabnya malah menurunkan tangan Nara.




Rama menarik senyuman miringnya, "insyaAllah, diusahakan," jawabnya.



"Kalo engga?" tanya Nara menaikkan alisnya sebelah.



"Kalo ngga apa?" tanya Rama penasaran.



"Kalo ngga aku mau putus," jawab Nara menantang, meski ucapannya itu murni hanya ngasal.



Sontak saja Rama terkejut "loh kok gitu?"



Sebenarnya Nara hanya sekedar menggertaknya saja, memberikan ancaman agar Rama tak berani untuk berkelahi atau tawuran lagi. Cukup melihatnya terluka saat di Villa, dan Nara tak mau lagi melihat Rama dipenuhi luka atau lebam.


__ADS_1


"Biarin! Biar kamu takut kalo mau berantem. Aku ngga mau liat kamu luka-luka lagi, cukup aku liat kamu kesakitan waktu di villa sama Willy, dan aku ngga mau lagi!" ada sorot mata sedih mengingat kejadian itu dan Rama tau itu.



Rama mengacak rambut Nara," iya ahh bawel, udah lupain masalah tawuran ngga usah dipikirin lagi,"



"Ya udah sana masuk, udah mau maghrib. Aku juga mau cepet-cepet pulang, udah ditungguin anak-anak di masjid," tandas Rama.



"Iya," Nara mengangguk.



"Aku pamit nih ya!" ucapnya tapi tetap saja posisinya masih belum melangkah sejengkal pun.



"Iya sana, " Nara melepaskan pegangan Rama di tangannya, tapi pemuda itu masih belum beranjak sedikitpun.



"Ya udah sana, katanya mau pulang!" ucap Nara heran melihatnya masih diam di tempat.



"Kiss bye nya mana?" tanya Rama, sontak senyum geli Nara tercipta.



Gadis itu meski dengan wajah yang mulai merona namun tak menolak, ia menempelkan dua jarinya di bibir lalu bergantian menempelkannya di pipi Rama membuat pemuda itu terkekeh geli.



"Sekarang masih diwakilin, nanti-nanti kalau udah halal ga ada perwakilan ya," tukas Rama.



"Dasar ustadz mesum!" cibir Nara membuatnya tertawa renyah, "aku bukan ustadz, cuam hamba Allah yang bantuin anak-anak ngafalin ayat Al-Qur'an, masih belum nyampe ilmunya buat jadi guru! Masih bergelimang dosa!" jawab Rama.



Ia lantas naik ke atas motornya "assalamu'alaikum ukhti..."



"Wa'alaikumsalam," cicit Nara membalas.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2