
Yusuf senantiasa menggunakan motor matic yang sudah dipreteli menyisakan dalam an yang terkespos macam ayam botak.
"Kok subuh den?" tanya satpam rumahnya.
"Piket pak," jawabnya singkat mengangguk, mungkin teman-teman sekelas akan menyangka helm yang sedang dipakainya dapet nyolong, karena harga dan merknya yang mahal. Kerjaannya saja di kantin nge-bon, padahal itu memang kedoknya saja di sekolah. Pada akhirnya saat setiap pergi sekolah ia selalu menaruh deposit uang pada ibu kantin 50 ribu sementara di babeh ia selalu cash, udah mirip-mirip perusahaan aja naro deposit.
Seraya mendorong pagar besi, satpam itu berohria meski terasa ada yang janggal.
Satpam itu mengernyitkan dahi, memangnya seberapa luas ruangan kelas anak majikannya itu sampai-sampai pukul 5 ia sudah pergi untuk piket? Memangnya gerbang sekolah sudah dibuka? Pada akhirnya ia hanya bisa garuk-garuk kepala saja pusing.
Jalanan yang sama yang selalu ia lewati jika ingin bertemu si gadis pujaan hati. Bukan tanpa rintangan, Mutia tinggal di perumahan dengan penghuni rumah samping kanan-kiri melihara doggy.
Yusuf memelankan laju motor, bermaksud agar an jing tetangga tak tau, soalnya kalo sampe liat, tuh doggy udah kaya tau aja mana manusia dengan niat baik dan mana manusia yang punya niat busuk subuh-subuh, aturan tuh kalo abis subuh ya tadarusan bukannya nyatronin rumah orang mirip maling semvak.
Ditatapnya rumah Mutia yang tampak sepi dari luar, lampu teras sudah dimatikan, itu tandanya sang pemilik sudah bangun karena biasanya jika gelap lampu akan menyala.
Yusuf menatap jam di pergelangan tangan, "jam 5.20..pantes aja udah ampir terang."
Tapi tidak terlalu terang untuk jemput Mutia, belum cukup manusiawi buat ngajakin berangkat bareng ke sekolah.
Kalau jam segini Mutia pasti sudah mandi. Otak usilnya berpijar layaknya bohlam. Sudah biasa bagi Yusuf manjat memanjat tembok, ia pun sudah tau seluk beluk rumah Mutia. Jadi, yang ia lakukan adalah manjat dinding pembatas di bagian sayap kanan rumah dimana kamar Muti berada yang permukaan bentengnya cukup rawan karena permukaannya kaya rengginang, lumayanlah kalo gesek kulit auto baret-baret. Belum lagi kalau jatuh ke area halaman rumah tetangga itu si Grey udah siap dengan gigi tajam sepaket dendam membara, mungkin karena merasa jika cupid adalah orang asing yang sering ngeledek.
Semua rintangan tak menyurutkan tekad cupid buat ngintip pujaan hati.
"Bismillah," gumamnya, semoga rencana nyatronin kamar ayang dilancarkan dan diberkahi. Ia melepas helm dan mencabut kunci motornya. Mumpung masih belum terlalu ramai ia melompati pagar bagian depan yang tingginya sekitar 2 meter dengan menginjak jok motor yang telah di standar 2.
Jatuh cinta rasanya begitu sueee...
*Gukk--gukkk*!
Dari bawah Grey, begitu nama doggy jenis doberman sudah menggonggong karena melihat sosok Cupid di atas sana.
"Apa lo! Sini tangkep gue disini, ngga bisa kan lo pendek sih!" ejeknya pada doggy yang sudah dengan hebohnya melompat-lompat di bawah sana sambil do'ain tuh manusia satu jatoh nyuksruk di halaman majikannya, biar ta hihh!!
Langkah Yusuf begitu hati-hati melewati tembok benteng yang hanya selebar 15 cm saja, anggap aja dia lagi trening buat sirkus.
Kamar Mutia sudah berada di ujung langkah, senyumnya semakin lebar demi menemui sang pujaan hati. Tangannya sampai juga menyentuh dinding kamar Muti, ia memanjangkan leher menatap jendela dengan gorden putih menerawang, dia ada disana...gadis cantik imut itu ada disana, sedang bersolek si depan cermin.
*Ctok! Ctok*!
"Ayang!" bisiknya macam bisikan setan.
Muti yang tengah bersolek seraya bersenandung sayangnya tak memiliki indera keenam, jadinya tak dapat mendengar bisikan kalbu dari Yusuf.
__ADS_1
Ia beranjak dari kursi di depan cermin sebelum benar-benar meninggalkan kamar, ia akan membuka sedikit jendela agar udara pagi bisa masuk ke dalam kamarnya, maka yang dilakukan Mutia adalah berjalan menuju jendela untuk membuka jendela.
Yusuf tersenyum saat Muti berjalan ke arahnya, ia bahkan sudah tertawa usil ingin menjahili gadis manis itu dengan mengagetkannya saat membuka jendela.
Tapi belum Yusuf siap-siap, Muti dengan tanpa belas kasihannya membuka jendela.
*Krekkk, blag*!
"Ayanggg!"
*Gubrakk*!
"Astagfirullahaladzim!"
"Cupidd!" Mutia terkejut bukan main, begitupun Yusuf bak disamber belati.
*Gukkk---gukkk!! Rawrrrr*,
"Anj imm!"
"Ya Allah! Cupid!" Mutia yang tadi terkejut berseru heboh dari atas kamar saat Yusuf di gigit Grey, pemuda ini menendang wajah si guguk lalu berlari menghindar.
"Lari! Lari!" Ia segera turun dari kamarnya untuk keluar rumah. Yusuf sampai naik ke atas pohon mangga yang ada di halaman tetangga Mutia, percayalah gonggongan Grey membuat geger si empunya rumah.
"Hush!"
"Grey! Sut up boy!" perintah pria paruh baya si pemilik rumah, an jing itu langsung diam, seraya menjulurkan lidahnya.
Terlihat gadis manis dengan seragam SMA berdiri di depan rumah pak Danu.
"Pak Danu, maaf ya! Itu temen aku," ucap Muti.
Pak Danu awalnya berwajah keruh melihat Yusuf yang ia kira anak tanggung berandal kini tertawa, "oh, temen neng Muti...kirain siapa?"
Dengan bantuan pak Danu, Yusuf akhirnya bisa turun dan keluar dari radar Grey, meski tatapannya tetap sengit pada pemuda tanggung itu.
*Bwahahahaha*! Mutiara menyemburkan tertawa melihat Cupid meringis dengan wajah berkeringat. Dielusnya punggung Yusuf, "sueee amat kamu cup! Ngapain sih pake naik-naik ke atas benteng, mana ngagetin!" gadis itu masih tertawa renyah seraya memegang perutnya.
__ADS_1
"Ayang sih, pake buka jendela ngga bilang-bilang jadi guenya jatoh!" ringisnya.
Mutia memutar badan Yusuf, "mana sini coba aku liat celana kamu?"
"Yahh! Sobek Cup, ha-ha-ha, kamu apes tuh diabisin sendiri!" ia kembali tertawa membuat Yusuf menatapnya lama-lama, selalu...senyum dan tawa itu yang membuat hatinya pesta kembang.
*Aa rela sobek celana tiap hari asal liat neng ketawa lepas gitu*...
"Mau ngasih surprise sama kamu, mau ngajakin berangkat bareng yang antimainstream!" jawab Yusuf berjalan bersama ke arah motornya.
Muti menepuk-nepuk dan meneliti keseluruhan bagian tubuh Yusuf, "makanya ngga usah aneh-aneh. Kaya rumahku ngga ada pintu aja nyamper'nya lewat jendela. Itu mah kamu seneng nyusahin diri sendiri... Untung cuma di gigit celana doang, kalo sampe kamu luka-luka gimana, pan tat kamu yang digigit? Itu tadi jatoh sakit engga? Ya Allah, kasiannya anak orang..." Mutia tak bisa berhenti tertawa, bungsu MIPA 3 ini memang gudangnya banyolan dan anehnya ia begitu nyaman, bukan! Bukan hanya ia saja, melainkan semua penghuni MIPA 3 merasa nyaman jika berada dengannya, andai kata si konyol ini tak ada, maka ia akan dicari-cari hingga ke lubang semut sekalipun.
"Cieee! Khawatir nih?" tanya Yusuf mencolek dagu gadis ini membuat Mutia mencebik menepis dagunya yang barusan dicolek Yusuf.
"Iya, khawatir..." Mutia membingkai senyuman manisnya pada si pemuda php ini, jika dilihat-lihat Yusuf sebenarnya pun nampak good looking hanya tertutup dengan sikap konyolnya.
Keduanya lama saling tatap di depan motor hingga suara dentingan sendok yang beradu dengan mangkok tukang bubur memecah keheningan, "Bubur ayammm!"
"Neng, aa bubur ayam?" tanya nya
"Manusia!" sentak Yusuf ketus, dasar tukang bubur, ganggu orang lagi kasmaran aja!
Ha-ha-ha! Mutia kembali tertawa, "anak orang marah!"
"Ya, lagian tukang bubur emang ngga bisa liat? Gue ganteng gini disebut bubur ayam!" balas Yusuf semakin membuat perut Mutia terkocok pagi-pagi.
"Ambil tas kamu, berangkat sekarang yuk! Kutraktir sarapan di luar," ajaknya. Bukan tersenyum atau mengangguk, Mutia menautkan alisnya, "emang kamu punya uang?"
*Jangankan cuma nasi kuning 2 porsi Mut, aku beliin sama gerobak-gerobaknya pun aku bisa*! Tatap Yusuf langsung ke netra Mutiara.
"Ada, semalem disuruh ayah kerokan punggungnya dikasih deh 20 ribu, lumayan buat beli nasi kuning 2 porsi!" balasnya, Mutia lantas tertawa kecil, "ayok deh! Tunggu sebentar, eh...mau ketemu mama sama papa dulu engga, sekalian ambil topi kamu?" tanya Muti.
"Boleh! Sebentar, aku ngaca dulu...takut ketularan aura si Grey!" Yusuf segera bercermin di spion motornya.
Mutiara tergelak, "saravv ih! Takut tiba-tiba abis digigit si Grey menggonggong, hem?"
.
.
.
.
__ADS_1
.