Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
DEA-RIFAL : KEPERCAYAAN MAHAL HARGANYA


__ADS_3

Rifal menyampaikan info dari Dea, namun anak-anak MIPA 3 tak ada yang percaya, wajar...selama ini Deanada adalah bagian dari MIPA 2 akan sangat sulit untuk mereka percaya.


"Lo ngga curiga sedikit pun gitu Fal, gimana kalo si Deanada cuma ngakalin lo doang biar gampang dikibulin?" tanya Merry menyipitkan matanya diangguki Dian yang cukup setuju dengan ucapan Merry.


"Bisa jadi sih, soalnya kan selama ini mereka ngga suka sama kita, apalagi geng Willy cs, si Dea juga kan sering punya masalah sama anak-anak paRam?"angguk Muti.


Pikiran jahat Rifal pun kadang ikut mengambil alih mencurigai Dea, hanya saja Rifal berusaha mawas diri dan menghargai saja, setiap orang bisa berubah tapi pun ia tak bisa percaya sepenuhnya.


"Tenang aja om Fal, Rama mah bakal aman-aman wae!" tepuk Andy bertos ria dengan Tian.


"Kalem Fal, tapi thanks buat Dea... Ngga usah terlalu percaya bulat-bulat, tapi pun tetap mawas diri siapa tau bener," jawab Rama.


"Tapi tunggu deh!" Tasya menyipitkan matanya dan mendekatkan wajah ke arah Rifal.


"Kok gue mencium bau-bau ya..."


"Bau apa Sya?" tanya Vian.


"Bau kembang! Ada yang lagi berbunga nih!" tawanya menggoda Rifal dengan menunjuk hidung Rifal, tembakan pacar Gifaril ini memang selalu ful gar dan tepat sasaran, si kecil cabe rawit.


"Oh heem lah! Sejak kapan om Rifal kita ini deket sama si uler?!" tembak Muti.


Rama hanya menyunggingkan senyuman miring, "kena tulah benci jadi cinta, brad?" kekehnya beranjak menuju bangku Nara. Rifal memilih mengacuhkan mereka karena sejujurnya tebakan mereka membuat hati Rifal cekikikan sendiri, pengen jedotin kepala mereka satu-satu terus bilang lo semua bener.


"Kalo tadi si Tasya nyium aroma-aroma kembang, sekarang lo semua nyium aroma ngga?" tanya Rio.


"Aroma apaan nyet?" tanya Vian sarkas pasalnya ia kini mulai mencium bau tak enak.


"Huwekkk! Njirr ih, lo kentut ya Yo?!"


Mereka langsung membubarkan diri dari bangku belakang, forum ghibah bubar jalan.


"Njirrr, berapa lama lo ngga boker Yo?! Bau kunti!" omel Cupid.


"Apaan sih, berisik weyyy!" decak Vina dari bangku depan. Rio malah tertawa tergelak puas teman-temannya keracunan.



Ternyata apa yang diucapkan Dea benar adanya, secara tiba-tiba dilakukan razia tas oleh pihak kesiswaan.



"Njirr, gue bawa psp euy! Gimana?!" panik Fajar.



Rifal bahkan sudah naik ke atas bangku, menyembunyikan kotak rokok berikut korek bensinnya diatas jendela ventilasi kelas. Muti dan Merry menyembunyikan liptin di belakang papan tulis, begitu sibuk.



"Wayauuu sibuk! Sibuk!" tawa Nara pada teman-temannya.



"Si mama malah ketawa-ketiwi ih! Ini tolongin!"



Tapi rupanya tawa itu menjadi tawa terakhir di hari ini bagi mereka, telah ditemukan sebungkus zat adiktif di dalam tas Rama yang membuat Tama beserta personel lelaki MIPA 3 terkejut.


__ADS_1


"Bangsadhh! Dea bener," Rifal menonjok dinding.



"Nara jangan sampe tau bray, pesen Rama..." ujar Gilang.



"Gue nemenin Rama di ruang BK sama bu Hilda dan kesiswaan, buat kasih sanggahan sama pembelaan," ujar Tama beranjak, kini mereka membubarkan diri dari depan ruangan guru dan kembali ke kelas.



Dian berlari menyusul, penasaran dengan apa yang terjadi...tapi baru saja di depan pintu kelas, mereka sudah kembali meski tak bersama Tama dan Rama.



Sepulang sekolah, Dian menunggu Tama di dekat parkiran, dimana terdapat pohon mangga dan tembok area tanaman yang sejak tadi menemani Rama di ruang BK dan baru saja selesai setelah Rama dibawa oleh pihak guru dan kepolisian.



"Ada apa sih?" tanya Dian mengerutkan dahinya, Tama melepas kacamata sejenak dan memijit pangkal hidung, ia duduk di tembok pembatas area taman samping Dian.



"Rama ditangkep polisi, tadi pas razia di tasnya ada bungkusan eks tasi. Tapi aku yakin itu bukan punya Rama," Tama mengambil botol air mineral dari tas dan meneguknya. Jika dilihat tanpa kacamata, pemuda ini tampak good looking dan sedikit sipit. Angin sedikit menggoyangkan rambut bagian depan yang sudah kehilangan khasiat pomadenya.



"Kok bisa? Berarti yang dibilang Dea itu bener dong?!" seru Dian.




Dian menceritakan info yang dikatakan Dea lewat Rifal, "baji ngan si Kenzi!" gumam Tama, Dian mengusap-usap pundak Tama.



"Kata kesiswaan gimana? Apa ngga bisa gitu Rama dibantu?" tanya Dian.



"Denger-denger si Rama bawa narkoba? Maklum sih, ketua kelasnya aja kacau!" tawa Lutfi bersama anak-anak MIPA 1 mencibir, Dian dan Tama seketika menoleh ke arah sumber suara, Tama sudah mengepalkan tangannya kuat hingga bergetar, rahangnya ikut mengeras melihat Lutfi cs dengan tatapan tajam.


Dian dapat melihat itu, dendam lama Tama pada Lutfi.



"Tam, ngga usah di gubris...ngga usah di denger," ucap Dian.



Tapi bukannya berlalu pemuda itu malah semakin mendekati Tama dan Dian.



"Kenapa, lo marah? Uuu takuttt!" ejek Lutfi tertawa bersama kedua temannya benar-benar menghina, tatapan Tama sudah mengilat.



Tama menarik kerah kemeja Lutfi dan mencengkramnya kuat.

__ADS_1



*Greppp*!



"Eh!"



"Dulu gue selalu ngalah sama lo, tapi sekarang, lo hina gue lo hina keluarga MIPA 3, gue ngga segan-segan buat nunjukkin apa itu nakal!" geram Tama.



"Tam! Tama, jangan Tam!"Dian menahan lengan Tama.



Lutfi tertawa mencibir, "coba kalo lo berani, paling nasib lo jatuh seperti waktu lalu. Saat lo ngga bisa ikut OSN dan gugur dari kandidat pemenang beasiswa,"



*Brakkk*!



Tama mendorong Lutfi hingga terjatuh di jalanan parkiran.



"Mam poss lu an jimmm!" Tama hendak menghadiahi Lutfi dengan bogeman mentah, hatinya kembali bergemuruh melihat pemuda ini, ia begitu muak! Muak dengan ketidakadilan jabatan, harta dan kuasa. Dengan mudahnya uang membolak-balikkan nasib dan pengharapan hanya karena saingan Tama adalah seorang anak Komite, yaitu Lutfi, dengan mudahnya sekolah mempupuskan harapan Tama untuk melenggang mengikuti OSN dan mendapatkan beasiswa untuk dapat meringankan bebannya meneruskan pendidikan di luar negri.



"Lo lupa begitu gampangnya buat gue bikin keadaan dimana lo jadi siswa paling nakal di sekolah?" dengusnya tertawa.



"Lo emang bank sadh Fi, percuma kalo lo dapet semua dengan kecurangan tapi kemampuan lo nol! Makan tuh beasiswa!"



"Tama udah!" Dian menarik Tama mencoba menenangkannya.



"Jangan dilayanin lagi dia!" Dian menaruh tatapan tajam pada Tama seolah sedang memperingati dan mengingatkan Tama pada kejadian lalu saat mereka pertama mengenal di ruang guru saat kesiswaan memanggil beberapa perwakilan siswa sebagai kandidat OSN.



Disanalah mereka bertemu, disanalah Dian melihat sosok pemuda yang menerima perlakuan tak adil pihak komite dan sekolah, Pratama Yuda Nulhakim.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2