
Dea menajamkan pendengarannya, jantungnya mulai memompa darah dengan cepat, sayup-sayup terdengar suara Inggrid, Gibran dan Willy yang mendekat ke rumah.
Suara Gibran bahkan terdengar menggeser pagar rumah Dea.
"Mamposs, itu Gibran sama yang lain!" Dea menarik tangan Rifal agar segera beranjak.
"Kenapa?" tentu saja pemuda itu mengerutkan dahinya.
"Ikut aku!" ajak Dea, gadis itu menarik Rifal lebih masuk ke dalam rumahnya, sementara Rifal sendiri mengekor saja ikut.
"De!" mereka sudah masuk ke dalam ruang tamu mencari dimana si pemilik rumah.
"Bi, bilangin sama Inggrid kalo Dea lagi di kamar mandi dulu," ucap Dea meminta pada bibi.
"Siap neng, eh! Ini temennya mau dibawa kemana?" tunjuk bibi.
"Aduh sampe lupa. Jangan bilang kalo Rifal kesini," jawab Dea. Rifal hanya melihat Dea bergantian dengan tangannya yang digenggam Dea, ia melebarkan lengkungan di bibir. Hatinya terasa menghangat melihat itu.
"Siap!"
Dea menarik Rifal ke arah pintu dapur yang langsung terhubung ke samping rumah dan garasi, agar Rifal langsung bisa mengambil motornya dan pulang.
Dea berbalik ke arah Rifal hingga kini keduanya hanya berjarak tak lebih dari setengah meter, "lo sekarang balik, ntar gue bawa yang lain ke ruang tengah jadi lo bisa dorong motor lo keluar dari teras, nanti lo nyalain aga jauhan dari rumah gue..." Rifal bahkan hanya memperhatikan bibir semanis madu yang pernah ia kecup itu.
"Buru!" perintah Dea membuyarkan lamunannya, ternyata kecupan itu berakibat fatak untuk kesehatan jiwa Rifal.
"I..iya. Tapi.."
"Apalagi?!" sungut Dea.
"Tas gue masih di depan," dengan polosnya Rifal berucap.
"What?! Yang bener aja!" mata Dea membeliak, seolah ujung kelopaknya mau sobek, semoga Inggrid cs tak tau dan ia belum terlambat.
"Udah, nanti aku anterin ke rumah kamu! Sekarang kamu balik, buru!" perintah Dea mutlak seraya mendorong badan Rifal.
"Kamu kasih alamat kamu ke aku!" Rifal meminta Dea menuliskan nomornya, dan dengan segera Dea mencantumkan nomor miliknya di ponsel Rifal, agar pemuda itu cepat-cepat pergi.
"Oke, sana--sana!"
Gadis itu bahkan sudah membuka kacamata miliknya dan bergegas ke dalam.
"Guys!"
"Nah nih anaknya keluar juga, kamu pooping apa tidur di dalem toilet, De?!"
Dea melihat tas Rifal teronggok di bawah samping sofa tamu, ia menghembuskan nafas kasar.
"Di ruang tengah aja lah! Sekalian nonton sama nyemil, si mama arisan kayanya!" Dea mengusap keringat yang sempat mengucur meski tak deras, ia menghampiri teman-temannya yang kini mulai masuk ruang tengah, sontak ia menutup pintu depan dan membawa tas Rifal ke pojokan dekat dengan meja kecil, menaruhnya di bawah agar tersembunyi dari pandangan.
"De, tadi gue liat ada motor baru di carport, punya siapa ya?" tanya Gibran, ia jelas curiga, pasalnya ia hafal betul dengan seluk beluk dan apa saja yanh dimiliki keluarga Deanada.
"Hah? Oh, itu...emh ngga tau gue...ngga tau orang nebeng atau motor siapa..." gidiknya acuh.
"Motor mana sih Gib?!" tanya Willy ikut penasaran.
"Eh, guys! Ada tugas ngga sih? Kayanya besok gue mau masuk aja deh," Dea berteriak membuat ketiganya menoleh.
"Biasa aja kali De, kaget gue!" ujar Gibran.
"Tau nih, aneh!" jawab Inggrid, ia tak sungkan mengambil toples cemilan di atas meja.
"Bi, bikinin minum dong!" pinta Inggrid. Willy menggelengkan kepalanya dengan sikap Inggrid yang seenaknya.
Dea hanya berharap Rifal bisa pergi dengan cepat dari rumahnya.
Dea melengos ke arah kamarnya untuk mengenakan softlens, diantara mereka hanya Gibran lah yang tau jika Dea memang bermasalah dengan penglihatan, jika membaca dan melihat jarak jauh maka benda yang dilihatnya akan menjadi berbayang bahkan sedikit kabur.
Ia kembali turun ke ruang tengah dan duduk bergabung, dimana Gibran dan Willy sudah anteng dengan ponsel.
__ADS_1
"Gimana sekarang lo De? Udah enakan? Kata tante lo demam?" Dea mengangguk, "baik."
"Eh gini---gini! Gue ada permintaan sama kalian, lebih tepatnya sih permintaan Kenzi..." Inggrid senyam-senyum menggelikan, mereka sama-sama tau jika Inggrid dan Kenzi baru menjalin hubungan selama seminggu.
"Apaan?" tanya Dea.
"Katanya sih dia pengen balas dendam sama si Rama!" jika Gibran tak bergeming maka berbeda dengan Willy dan Dea.
"Balas dendam?" tanya Willy.
"Emangnya si Rama pernah ngapain si Kenzi? Sampe harus balas dendam?" tanya Dea mulai merasa jika Kenzi adalah toxic untuk Inggrid.
Inggrid menepis udara, "aduh udah lah! Ya mana gue tau juga sih, cuma katanya dia ngga suka sama Rama, pernah di tonjok si preman, se frekuensi ngga sih sama kita, sama-sama ngga suka Rama sama MIPA 3?" Inggrid tertawa meminta persetujuan, Dea melempar tatapan pada Willy. Mungkin hanya Gibran yang menjawab setuju sementara Dea dan Willy memilih diam.
"Come on guys! Demi gue deh, demi gue! Kenzi kan pacar gue, apapun gue lakuin buat dia,"
"Grid, lo yakin? Kok gue malah jadi ngga sreg sama si Kenzi ya?" Willy berpendapat membuat Inggrid manyun, "fix kalian ngga sayang gue!"
"Apa rencananya?" tanya Gibran. Inggrid mulai memetakan rencana Kenzi, cukup membuat Dea dan Willy terkejut, "lo gila Grid? Nara temen kita loh! Kalo mau balas dendam sama Rama kenapa harus bawa Nara?" tanya Willy berseru.
"Emangnya ngga cukup fitnah Rama doang gitu? Kalo emang mau bales, kenapa ngga kaya Willy dulu di puncak, kan keliatan babak belurnya," tanya Dea menelan saliva sulit, pasalnya aksinya kali ini sudah termasuk kriminalitas.
"Biar kapok, De! Suruh siapa Nara jadian sama si Rama bukan sama Willy, iya kan Will?! Ayolah!" bujuk Inggrid.
Dea menggeleng tak habis pikir, ini sudah tak benar...Kenzi benar-benar toxic, oke Dea akui jika mereka sering membully teman lain, tapi tidak sekriminal ini, kali ini benar-benar ekstrem.
Dea menggigit kuku jarinya bingung, pasalnya Inggrid sempat bersitegang dengannya dan Willy yang tak setuju meski akhirnya Willy mengalah, sementara ia sendiri hanya bisa diam dan Gibran ikut-ikut saja bagaimana ramainya.
Ia tak akan menghalang-halangi tapi tak pula membantu, Dea berada di tengah. Ia memang tak begitu menyukai ketengilang Rama, MIPA 3 tapi tidak sampai begitu. Gadis itu mengingat tas milik Rifal, dengan dalih mengembalikan tas, maka ia akan memberitahu Rifal agar memberitahu Rama juga Nara jikalau mereka akan menjadi sasaran fitnah juga rencana jahat dari Kenzi dan Inggrid.
"Ma! Dea keluar dulu boleh ngga?" tanya Dea menghampiri mama di kursi tengah.
Alis mama berkerut, "loh, ini udah malem, kamu juga kan lagi sakit, De...mau kemana?"
"Ngembaliin tasnya Rifal, ma. Tadi siang ketinggalan. Kasian besok mau sekolah tasnya ketinggalan disini,"
Mama tertawa kecil, "aneh, kok tas segede itu sampe ketinggalan?"
"Ck, kamu teh masih sakit De. Masa mau keluar malem?!"
Dea merengut membujuk mama'nya, "sebentar aja ma. Lagian sambil jajan, Dea bawa inhaler kok, pake jaket tebel!" senyumnya.
Mama menyipitkan matanya aga lama, "ya udah! Mama telfon dulu satpam komplek!" Dea melebarkan senyuman, "mama mau nitip ngga? Dea pengen roti bakar yang di simpang?"
Mama menggeleng, "engga."
Dea sudah turun dengan jaket tebalnya, tas selempang dan tas milik Rifal, di depan sana satpam komplek sudah menunggu dengan motor maticnya.
Gadis itu menengadahkan tangannya di depan mama, "apa?" tanya mama. Dea nyengir lebar, "uang? Buat roti bakar?!" kekehnya.
"Heuuu! Mama juga yang ngeluarin! Si papa belum kasih uang bulan ini ahhh," jawabnya ngomel namun tak urung memberikan selembar uang merah pada putri bungsunya itu.
"Hatur nuhun mama!" Dea langsung meluncur ke depan rumah lalu naik ke jok belakang motor.
"Kemana ini neng?"
Dea melihat ponsel dan membaca pesan dari Rifal.
Dea menyapu seluruh rumah di kompleks ini, "yang mana rumahnya neng Dea?" tanya pak Yayat.
"Sebentar pak, katanya sih blok D nomor 11, yang cat rumahnya ijo melon..." jawab Dea.
"Oh yang itu neng kayanya!" tunjuk pak Yayat ke arah rumah berwarna hijau, Dea mengangguk. Pak Yayat menghentikan laju sepeda motor di rumah samping dari rumah Rifal.
__ADS_1
"Pak tunggu disini dulu ya, nanti Dea balik lagi. Sebentar kok!" pak Yayat mengangguk.
Dea berteriak di depan pagar rumah yang terlihat sepi, "Misi! Assalamualaikum, Fal!" gadis itu mendorong pagar besi yang ternyata tak dikunci.
Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya di halaman, bahkan tangannya masih memegang besi pagar ia sudah dikejutkan dengan suara orang bertengkar dari dalam rumah Rifal.
"Bagus lo ngga gue matiin di depan umum! Lo mikir kalo selingkuh tuh sama yang lebih tajir dari gue! Dasar istri ngga tau diuntung!" teriak seorang lelaki.
"Kamu kurang ajar!! Anak kamu sama-sama kurang ajarnya!"
"Jaga mulut kamu! Dasar wanita se tan!"
Kini suara pemuda yang ia kenali ikut terdengar disana, "ngga usah ribut-ribut, lo berdua ngga malu sama tetangga?!"
"Berisik lo anak kurang ajar!"
"Lo yang cewek pelakor!"
"Gue udah bilang kan, nih perempuan cuma rusak dan ngancurin keluarga orang!" ucap Rifal.
"Kamu DIEM! Ngga usah ikut-ikutan bikin papa pusing!"
*Plakkk*!
*Bughhh*!
Suara era ngan wanita dan teriakan terdengar, begitupun pukulan dan tamparan.
Dea sampai menahan nafasnya mendengar makian seorang wanita, begitupun pria pada suara yang ia kenali adalah Rifal.
Dea memegang dadha'nya di tempatnya membeku, hingga akhirnya Rifal keluar dari rumah menemukan gadis itu tengah diam dengan ekspresi takut.
"Dea?"
.
.
__ADS_1
.
.