Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : OPERASI


__ADS_3

Tasya tampak pucat, kini Ridwan bisa melihat itu saat mengantarnya menuju meja guru piket.


"Sya, lo beneran sakit nih? Bukan prank kan?!" pasalnya gadis ini bukanlah gadis manja yang penyakitan, tapi pun ia usil.


Tasya mendelik sinis, "menurut ngana?" Tasya sudah benar-benar lemas.


"Om Wan, gue boleh peluk lo ngga? Ngga kuat eung!" pintanya pada Ridwan diatas motor, melihat wajah Tasya yang sudah begitu lemah membuat Ridwan kasihan.


"Aduh Sya, kok gue jadi khawatir kalo naik motor ya? Takut lo jatoh,"


"Engga apa-apa om Wan, gue kuat kok!"


Sepanjang jalan menuju rumah baik Ridwan atau Tasya tak ada yang membuka suara, hanya saja lirikan mata Ridwan berkali-kali melihat tautan tangan Tasya di perutnya erat, bukan karena keenakan dipeluk cewek tapi masalahnya Ridwan takut tiba-tiba tangan itu terlepas, "Sya, pegangan yang kuat ya. Gue aga ngebut dikit."


Sepanjang pelajaran terakhir pikiran Tian tak bisa konsentrasi menunggu Ridwan kembali mengantarkan Tasya. Gadis itu menolak, ia benar-benar marah.



*Tok-tok-tok*.



"Assalamualaikum," Ridwan terlihat merapikan rambut dan seragam sebelum benar-benar masuk ke dalam kelas.



Mereka menoleh pada ambang pintu kelas, "ya? Masuk!"



Mata Tian langsung berbinar melihat kedatangan Ridwan. Setelah dirasa guru kembali fokus pada buku, Tian menggeser duduk demi mendekati Ridwan.



"Wan, Tasya?" bisiknya.



"Wah, lo bener-bener parah bro! Tasya beneran sakit, gue aja kaget pas turun dari motor dia langsung muntah, tuh! Gue abis nyiram dulu motor, tadi kecipratan muntahan Tasya."



"Wah?" Bayu ikut bereaksi saat mendengar obrolan pelan mereka.



"Yang bener?"



"Ya bener lah, masa boong," jawab Ridwan.



Wajah Tian semakin dilanda rasa bersalah, ia benar-benar kacau. Tak lagi tunggu lama, bahkan ia ijin berkumpul dengan anak basket, hanya satu tujuannya, rumah boncel tersayang.



Tian menggeber mesin motor begitu kencang, membelah jalanan kota. Hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit ia sampai di depan rumah Tasya. Kediaman gadisnya memang selalu sepi, mama Tasya memang single parent dan bekerja, di rumah banteran Tasya hanya ditemani seorang asisten tukang cuci gosok.

__ADS_1



Ketukan pintu disusul suara salam Tian terdengar menggema bersama angin siang ini. Kibasan daun pohon mangga di depan rumah Tasya seolah menjadi suara satu-satunya penyambut.



"Ay!" Tian bahkan menempelkan pandangan di kaca rumah Tasya siapa tau bisa terlihat keadaan dalam rumah Tasya, berharap jika gadis itu atau asisten rumah tangga keluar membukakan pintu.



"Assalamu'alaikum!" teriak Tian lebih kencang lagi, hingga ia harus menunggu sekitar 10 menit, terdengar daun pintu terbuka.



Tian langsung beranjak, tapi senyumnya sedikit masam saat mendapati jika orang yang membuka pintu bukanlah Tasya.



"Bu, ada Manda?" tanya Tian.



"Neng Manda...tadi dibawa ibu ke rumah sakit a, katanya sih harus di rawat..." bu Wening langsung to the point, ia tau jika Tian adalah pacar anak majikannya, sering antar jemput dan main kesini.



"Di rawat bu? Rumah sakit mana?" tanya Tian.



"Tadi tuh...rumah sakit mana ya, Al Islam kalo ngga salah," begitu si asisten menyebutkan Tian langsung beranjak ke arah motornya, "kalo gitu makasih bu, saya permisi!"




Berkali-kali Tian menghubungi nomor Tasya, tapi gadis itu tidak menjawabnya, "anj immm!" Tian bahkan sudah merasa frustasi. Beberapa kendaraan terlihat sibuk, area parkiran dipenuhi kendaraan calon, pasien, keluarga, bahkan penjenguk.


Semua orang terlihat begitu sibuk, sementara ia masih duduk di atas motor di parkiran rumah sakit.


Tak kehilangan akal, ia mencoba menghubungi mama Tasya.


 -------


Drrttt---drrttt---


Perempuan paruh baya itu mengerutkan alisnya, "Gifaril?" dengan beberapa lembar kertas hasil cek lab. di tangan ia melihat ponsel.


"Hallo?"


(..)


Ada secercah harapan untuk Tian, ia tau jika mama Tasya tak akan sampai mengabaikan panggilan jika ia melihatnya. Tian berlari masuk mencari dimana ruangan administrasi, hingga akhirnya ia menemukan sosok perempuan yang ia kenal dengan seragam sipir penjara berwarna biru dan jilbab senada.


"Tante, maafin Gifaril..." ia salim takzim seraya meminta maaf.


Mama Yuanita mengernyit, "maaf buat apa?"


"Gifaril ngga bisa jagain Tasya, sampe sakit gini..."

__ADS_1


Perempuan itu melebarkan senyumnya, "bukan salah Gifa, ini emang Tasya'nya aja yang ngga bisa jaga kesehatan, salah tante juga ngga bisa awasin Tasya..." jawabnya.


"Pasien Amanda," panggil seorang staf administrasi.


"Ya?" tante Yuanita langsung melongokkan kepalanya di antara bilik kaca.


"Pasien atas nama Amanda Daniarta Syarif, ruang rawat kelas 1 dan operasi sudah terjadwal besok, dengan dokter spesialis penyakit dalam dr. Indriyani dan dokter bedah dr. Kurniasih Hija..."


"Makasih," mama Yuanita melihat catatan administrasi yang dicover oleh bpjs berbayar milik Tasya dan struk obat yang harus ia ambil untuk hari ini.


Betapa terkejutnya Tian mendengar kata operasi, "operasi tante?"


Senyumnya kini kecut, "sambil jalan yuk! Kasian Tasya nunggu di ruangan IGD sendirian," angguknya singkat.


Dada Tian terasa begitu sesak, hanya satu yang ada di benaknya, KENAPA?! Kenapa dengan dirinya, kenapa dengan Tasya, kenapa dirinya begitu emosional.


"Tasya mengeluhkan sudah beberapa hari ini sering sakit perut, kembung, berkurang nav su makan, mual muntah, kadang sembelit, demam juga."


"Katanya tadi dianter pulang sama temen sekolah, Ridwan kalo ngga salah namanya ya," tanya mama Tasya. Demi apa? Mendengar itu rasanya begitu miris, ingin rasanya Tian menghantamkan kepalanya ke dinding, begitu tidak pekanya ia dan malah orang lain yang mengantarkan Tasya.


"Maafin Gifa tante," ucap Tian kembali meminta maaf. Perempuan itu menggeleng, "ngga apa-apa, Tasya bilang katanya Gifaril lagi sibuk persiapan mau ikut Redbull Basketball League sesi Bandung, alhamdulillah Gifa sekarang udah bisa bangkit lagi, gitu dong! Harus semangat!" ia menepuk punggung lebar pemuda yang menjadi kekasihnya.


"Iya insyaAllah tan," tenggorokannya sungguh tercekat, Tasya begitu membelanya di depan semua orang. Hatinya benar-benar bergemuruh dan bergetar.


Langkah mereka membawa keduanya masuk ke dalam ruangan IGD, dimana semua pasien yang datang terlihat dalam kondisi yang cukup bikin ngelus dada, bahkan ada juga keluarga pasien yang menangis karena vonis dokter, ia bergidik ngeri..semoga boncelnya tidak sampai memiliki penyakit parah.


Tante Yuanita menyingkabkan tirai bilik, hingga kini terlihatlah sosok cantik namun pucat yang terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan tangan terpasang infusan.


"Ma, Tian?"


"Ay..." pemuda itu langsung mendekat. Ia membungkuk, "maafin aku..."


Tatapan Tasya sedikit mengabur karena embun di mata memgingat pertengkaran mereka beberapa jam lalu, "bukannya kamu harus ikut kumpulan anak basket ih?! Ngapain kesini?"


Tian menggeleng, "pacar aku lagi di rumah sakit, kamu kenapa ngga bilang aku ay?"


"Kamunya keburu marah-marah ngga jelas, perut aku-nya keburu ngga kuat sakit..." jawab Tasya. Ia benar-benar merasa menyesal karena sudah mengikuti emosi sesaat. Dengan ini ia belajar, jika emosi dapat membunuh semua orang.


"Aku ngga mau putus, Sya."


Tasya tersenyum geli melihat badan sebesar itu merengek meminta untuk tidak diputuskan, badan gede tetep aja kalah sama cinta, "tadi aku cuma lagi kesel sama kamu, jengkel pisan! Kamunya terlalu cemburuan, aku ngga suka."


"Janji! Ngga akan gitu lagi, toh semuanya sekarang udah tau..." jawab Tian, meskipun keduanya mengobrol dengan begitu pelan, tetap saja mama Yuanita dapat mendengarnya.


Mama Yuanita tersenyum geli melihat tingkah Tian pada putrinya. Jika kebanyakan kasus anak remaja yang ia temui adalah si gadis yang sering merengek begini, sementara si pemuda dengan angkuhnya meninggalkan. Tapi sekarang yang sedang di hadapannya adalah kebalikannya. Pemuda putra teman semasa sekolahnya dulu terlihat begitu menyukai Tasya, putrinya, ia menggelengkan kepalanya merasa konyol.


"Pasien Amanda, siap dibawa ke ruang rawat ya bu..." para perawat melebarkan tirai dan mulai mendorong ranjang Tasya. Tian bersama tante Yuanita ikut mengekor.


"Tasya harus operasi usus buntu, Gifa. Harus secepatnya biar ngga terus-terusan begini, karena memang sudah terjadi infeksi dan peradangan..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2