
Senyuman itu masih berbekas di wajah Nara, bahkan ia cekikikan sampai masuk ke dalam rumah mirip orang stress.
Kakinya melangkah pelan terkesan melambat naik ke lantai atas, "Rama mana? Kok ngga ikut masuk ?" tanya Akhsan menyela langkah adiknya.
"Kenapa, kangen?" tanya Nara sekenanya.
"Kangen mabar," jawabnya
"Udah lama dia nggak kesini, pasti lo yang larang," matanya tak menoleh sedetik pun dan tetap berfokus ke arah benda pipih yang ia pegang.
"Suudzon!" gadis itu menggerutu dan berlalu.
"Hari ini aku anter kamu pulang ya, aku ada urusan penting dulu---" ijin Rama diangguki Nara.
"Oke,"
Selepas Rama pergi, tak ada yang Nara lakukan. Ia mengganti pakaian dan beranjak menuju ruang makan. Ternyata hari ini bi Asih dan mama masak menu kesukaan Nara dan Akhsan, makin semangat saja ia makan.
*Drrttt*----
Beberapa kali ponselnya bergetar, namun si empunya masih asik makan.
Satu sendawa menjadi tanda jika perutnya kini sudah kenyang.
"Eh!" Nara melirik ponselnya yang menyala, sejak tadi ia tinggalkan di ruang tengah.
"Vina?"
"Hallo?"
(..)
"Oh iya, kok aku lupa ya---oke deh, udah pada nunggu? Aku otewe ke rumah kamu ya!"
Nara bergegas mengganti pakaian dan mengambil buku catatan miliknya, memasukkan ke dalam tas selempang yang cukup untuk membawa buku catatan dan alat tulis.
"Kemana lagi?" tanya Akhsan yang baru saja pulang sepaket wajah lelahnya.
"Bang, gue keluar dulu... punya tugas kelompok," ijinnya pada Akhsan.
"Jangan boong, kok Rama ngga ikut. Emangnya dia ngga ngerjain tugas juga? Biasanya kan kalo kemana-mana juga dianterin?" cerocosnya melebihi spg produk nugget.
"Astagfirullahaladzim, hey abang akhlakless kalo ngga percaya telefon aja adek kesayangan abang itu! Nara tuh punya tugas kelompok, emangnya kalo kelompok mesti sama Rama terus gitu?!" kesal Nara, lama-lama ia gadaikan juga abangnya itu. Akhsan malah cengengesan, "santai aja non--ngga usah ngegas. Ya udah jangan balik malem!" titahnya.
"Iya ah!" decak Nara melotot singkat dan pergi.
__ADS_1
"Vina!"
Dari ruang depan terlihat beberapa kepala yang melongok keluar, "hey! sini masuk Ra, tuh Mita sama Rika udah dari tadi disini. Malah cemilannya udah mau mereka abisin kalo ngga aku simpan," tunjuk Vina pada Rika dan Mita yang tengah asyik nyemil stick keju, sumber makanan tergurih karena banyak mengandung micin.
"Lebay ah! Ngga Ra, tuh masih banyak kok!" desis Rika.
"Sini---sini duduk!"
2 jam sudah terlewati di ruang tamu rumah Vina, tapi tugas yang dikerjakan belum selesai juga, bukan karena susah atau kebanyakan. Tapi jika ciwi-ciwi sudah bersama begini, yang mereka kerjakan ya ngga jauh dari ngobrol sambil ngerjain hal yang infaedah khas anak gadis.
"Oh iya Ra, gue pikir kamu ngga jadi ikut kerja kelompok," ucap Mita sesekali fokus pandangannya terbagi antara mengobrol dan menulis.
"Kriikkkk---"
"Kriuukkk---"
"Kressss---kresss"
"Ka, bisa dikecilin ngga sih volume makan lo, berisik!" ketus Vina, Rika hanya nyengir kuda.
"Ya ikut lah, masa ngga ikut. Kenapa bisa punya anggapan kaya gitu?" jawab Nara balik bertanya, ia mencomot keripik kentang dari tempatnya yang di kuasai Rika.
"Ya kali aja kamu ikut Rama olahraga," ujar Rika enteng diangguki Mita.
Nara menautkan kedua alisnya tak mengerti dengan pernyataan Mita dan Rika, juga melihat wajah Vina seolah ia tau sesuatu namun tak mau terlibat perbincangan.
"Maksud lo ikut Rama kemana?" Nara menautkan alisnya semakin tak mengerti namun mulutnya masih mengunyah.
"Loh, Rama emangnya ga bilang sama kamu?" tanya Mita.
"Udah lah, palingan urusan anak cowok. Masa harus tau juga!" ujar Vina memotong obrolan agar tak berlanjut, lalu tatapannya beralih pada Rika dan menggerakan alisnya hingga berkerut.
"Rama emang ada bilang katanya ada urusan penting, ngga tau deh apa urusannya," balas Nara, ia bukan tipe gadis yang terlampau kepo sampai-sampai harus tau apa urusan Rama, kapan, dimana sama siapa, itu sungguh bukan dirinya.
"Iya, tadi aku liat Rama sama yang lain pergi. Pas ditanya bilang nya mau olahraga, masa iya olahraga rame-rame gitu." jawab Mita yang memang tak tau menau.
Nara menautkan alis, "olahraga? Siang-siang, terik begini?" ujar Nara keheranan.
"Bener Vin, kebetulan udah selesai kan! Yu beresin--beresin, ngga usah kebanyakan belajar, nanti Einstein punya saingan---" Rika cepat-cepat membereskan alat tulisnya.
"Gaya banget mau jadi saingan Einstein," Nara tertawa.
"Maksudnya saingan botaknya!" lanjut Rika.
"Ha-ha-ha, saravv saking kelamaan belajar rambut auto rontok!" tambah Vina.
"Terus kita naik apa nih?!" tanya Rika.
"Naik sapu terbang! Pake nanya lagi, ojek banyak--angkot masih berjejer, gitu aja repot!" jawab Vina.
"Kita pesen taxi online aja ya. Biar aku pesenin!" Nara mengambil ponselnya dan memesan.
"Eh, mau kemana dulu nih kita?!"
"Udah nge-moll aja nge-moll! Nanti kemana-kemananya gampang lah! Mau nonton kek atau cuma jalan jajan kek,"
Nara mengangguk dan mengetik tujuan destinasi.
"Eh, bulan ini ada film komedi romantis baru loh! Horor juga ada!" seru Mita menscroll laman di layar ponselnya demi memperlihatkan rekomendasi film bioskop terbaru.
__ADS_1
"So, mau nonton aja dulu nih? Film apa?" tanya Vina menengok dari kursi depan.
"Gue ngikut aja, horor oke. Komedi romantis boleh!" jawab Mita.
"Horor gimana? Biar ada sensasi-sensasi menantangnya!" tanya Rika.
"No, gue takut ah! Entar ga bisa tidur lagi," tukas Nara cepat yang memang kurang suka film horor. Teringat kejadian dulu, saat ia menonton film horor bersama teman temannya di Jakarta, alhasil malamnya Nara menumpang tidur bersama papa--mama'nya, endingnya ia kena ceramah papa karena telah mengganggu ritual sunnahnya mereka.
"Oke, kalo gitu komedi romantis aja."
Begini cobaannya jika mereka membelah jalanan memakai mobil, harus mau macet-macetan atau sekedar menunggu antrian lampu merah seperti nungguin jodoh lewat. Seharusnya mereka pake tongkat nabi Musa agar jalanan lancar jaya.
"Cih! Macet," decaknya menggerutu.
"Sekarang Bandung ketularan macetnya ibukota, apalagi kalo musim liburan, semua pada tumpah ke Bandung,"
Nara melihat jam di tangannya dengan sesekali mengibas-ngibaskan tangan ke wajah, berharap bisa menambah rasa sejuk karena ia rasa AC mobil saja tak cukup mendinginkan hawa di dalam mobil.
"Panjang ya pak, macetnya? Tumben!"
"Iya neng, biasanya juga ngga sampe selama ini. Kayanya di depan ada kecelakaan gitu makanya lama," ucap si pak supir setuju.
Nara membuka kaca jendela mobil, mencari tau apa yang sudah membuat jalanan menjadi macet. Terlihat kaca mobil sebelah juga ikut terbuka. Bahkan beberapa pengendara lain turut keluar dari mobilnya.
"Ck! Dasar anak jaman sekarang, bukannya belajar di rumah malah tawuran ngga jelas!" gerutu si supir yang masuk kembali ke mobilnya sambil mencak-mencak.
"Ada apa sih?" gumamnya ikut membuka pintu mobil.
"Ra, mau kemana ntar mobil depan keburu jalan?!" tanya Vina dan yang lain.
"Sebentar, gue penasaran!" balas Nara.
Nara melangkahkan kakinya, berjalan di tengah kebisingan dan kemacetan jalanan. Klakson mobil saling bersahutan, langkah Nara semakin mendekat ke arah lokasi kerumunan orang.
Langkahnya mendadak berhenti mendapati sesuatu yang mengejutkan.
"Bayu?" gumam Nara.
Nara semakin mendekat, ia mengenali beberapa orang dari para pemuda yang menjadi biang kerusuhan dan kemacetan di bahu jalan sana.
Para pemuda ini sedang di kumpulkan oleh para warga di pinggiran jalan.
Tiittt ! Suara klakson mobil memecah fokus Nara.
"Ra, ayo naik! Udah lancar nih!" Vina melongokkan kepalanya dari kaca jendela mobil.
Nara menoleh, "kalo kalian mau nonton, nonton aja gue turun sini!" jawabnya berteriak.
"Loh, kok gitu? Lo mau apa disini? Buruan macet Ra!"
"Itu !" tunjuknya pada sekumpulan remaja yang tengah di ceramahi.
Ketiganya mengedarkan pandangan kearah telunjuk Nara.
"Ya Allah,"
.
.
.
__ADS_1
.