Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : TERPANCING EMOSI


__ADS_3

Langkah Kenzi berjalan bersama Alif seperti tak ada beban, entah bo doh atau memang Kenzi yang tak punya pikiran. Kejadian coklat yang Rama bagikan harusnya menjadi peringatan untuk Kenzi agar tak lagi mendekati Nara, jika ucapan Rama kemarin adalah bentuk pengumuman kalau Nara dan Rama adalah sepasang kekasih.


Nara meloloskan nafas kasarnya, gadis itu berdecak seraya menepuk jidat melihat kedatangan Kenzi, untung saja MIPA 3 belum sepenuhnya hadir, jika sampai kondisinya seperti kemarin maka tak menutup kemungkinan Kenzi akan babak belur keluar dari koridor ini.


"Ken, ada perlu apa lagi sih kesini ?" tanya Nara frustasi kembali berdiri dari tempat duduknya. Bahkan Rama yang baru saja duduk dan menaruh tasnya ikut bangkit.


"Engga, cuman mau ngajakin bareng ke tempat les nanti," jawabnya dengan santai, raut wajahnya seperti orang tak memiliki dosa.


"Belum nyerah juga ternyata?" tanya Rama, mungkin ia pun kesal, nih orang ngga bisa dikasih tau pake bahasa manusia.


"Lo ngerti ngga bahasa manusia, kalo gue bilang Nara pacar gue, itu berarti dia ngga butuh bantuan apalagi tumpangan dari cowok lain, dia udah punya supir pribadi." jawab Rama mulai terpancing emosi, pagi-pagi udah bikin orang da rah tinggi---nih anak sarapan apa?!


Ia tertawa sumbang, "oh, Nara cuma nganggap lo sebagai supir pribadi? Gue kira dia anggap lo pacar, tapi ternyata cuma sebagai supir pribadi, menyedihkan," desisnya.


"Kenzi!" bentak Nara ingin maju tapi Rama menahan Nara dan tertawa seolah ucapan Kenzi barusan adalah lelucon garing. Tapi sejurus kemudian Rama melayangkan bogeman mentahnya pada Kenzi.


Bughh!


"Lain kali tuh mulut cuci, ngga usah nyampah disini!"


Nara dan teman-teman yang ada disana sampai terhenyak sesaat, menyaksikan Rama melayangkan bogeman mentahnya, tindakan Kenzi memang sudah kelewat batas.


"Wo--wo, selow pa selow!" Andy langsung melompat dari bangkunya begitupun Tama yang menjadi penengah aga sedikit mendorong dada Kenzi agar menjauh.


Nara refleks memegangi lengan Rama, "udah Ram, jangan."


"Ha-ha-ha," tawanya miring, "aku nggak percaya kamu punya pacar sekasar ini, Ra. Kalo nanti kamu disakiti aku bakal ada buatmu Ra, always..." ucap Kenzi seolah menantang dan terus saja memancing amarah Rama, padahal sudut bibir bagian atas sudah dihadiahi luka robekan dari bogeman Rama, hingga sedikit mengeluarkan da rah.


"Mulut lo lemes amat men, kaya betina!" Andy bahkan sudah mendorong kepala Kenzi.


"Ken, udah ayo!" ajak Alif.


"Lo mendingan balik deh Ken, ngga usah cari gara-gara sama MIPA 3," Tama ikut menginterupsi.


"Cowok saravv kaya dia ngga akan ngerti bahasa manusia, Tam!" sahut Rama.


Sebelum benar benar pergi dibantu Alif, Kenzi maju dan berucap, "THANKS!" lalu ia menyentuh bibirnya yang sobek.


Entah apa maksudnya hanya saja Nara merasa itu bukan pertanda baik.


"Hey, udah. Dia tuh sengaja Ram mau manas-manasin kamu," Nara mengambil air minum dari tumbler miliknya untuk Rama.


"Morning!" seru yang lain masuk, seruan dan senyum ceria pagi mereka meredup seiring melihat keadaan kelas berwajah-wajah suram dan keruh.


"Kenapa sih?"


"Ada apa?"


"Adaaaa-----gajah !" tawa Andy.


"Ihhh, onde!"


"Heuh, si onde--ditanya serius juga ah!"


Hening...


__ADS_1


Hanya terdengar suara kibasan kipas angin yang berada tepat di atas tengah ruangan. Semua murid kelas sedang serius mencatat sedangkan si guru sedang asyik dengan dunianya sendiri menatap catatan nilai para murid. Harusnya sih selametan, karena ini kali pertamanya mereka bisa anteng dalam kelas sambil nyatet.



Meski tetap saja bisikan syaitan berhembus kencang di belakang guru.



*Tok---tok---tok*.



"Assalamu'alaikum,"



Seorang wanita paruh baya berseragam korpri dan berkacamata mengusik keheningan kelas dengan memanjangkan kepalanya di ambang pintu, mereka semua kompak menoleh.



"Wa'alaikumsalam, bu Mega ...ada perlu apa bu?" ucap pak Beni.



"Maaf mengganggu pak Beni, mau manggil ananda Ramadhan Restu Al-Kahfi?" ia melirik sekilas kertas yang ia bawa. Mendengar nama Rama disebut siswa kelas saling lirik dan menjatuhkan pandangannya ke arah Rama.



"Oh, silahkan. Ramadhan, silahkan ikut bu Mega," panggil pak Beni. Rama terlihat biasa saja, mungkin karena memang ia kebal akan hukuman.




Rama berdiri seraya menatap Nara yang melihatnya penuh kecemasan, "aku ngga apa-apa."



"Gue udah ganteng belum?" tanya nya pada Gilang di sebelahnya seraya memasukkan seragam ke dalam pinggang celana.



"Selalu," Gilang memberinya dua jempol.



"Haha, saravvv!" umpat Bayu.



"Mamaasss mah ganteng always polepel!" jawab Ridwan.



"Hati-hati Pa, kalo jatoh bangun lagi!" suara Muti membuka forum komedi.


__ADS_1


"Ram, nitip teh botol 1, yang dingin!" ujar Rifal diokei Rama.



Rama membungkuk sekilas di depan pak Beni, wajah tenangnya menyimpan tanda tanya besar dalam benak semua orang termasuk ia sendiri. Mata mereka mengikuti sosok Rama sampai hilang dari pintu kelas.



"Mari pak," angguk bu Mega singkat membawa Rama ke ruang BP/BK.



"Oke kita lanjutkan!" tandas pak Beni.



Lama Rama tak muncul, sampai jam pelajaran hampir habis.


Tap---tap---tap.


"Permisi pak,"


"Ya, masuk!"


Rama muncul dari ambang pintu kelas dan ijin masuk, ia mendudukkan pan tat di bangku miliknya. Dengan seragam yang sudah keluar ia tersenyum pada Nara. Gadis itu begitu terlihat tegang karena khawatir padanya.


Ia mengalihkan pandanga pada Gilang dan menatapnya penuh misteri. Pun, dengan Gilang yang mengangguk seolah ada sesuatu isyarat yang hanya mereka saja yang tau.


"Gimana Ram, ada apa?" tanya Nara.


Rama menggeleng, "ngga ada apa-apa. Bu Mega cuma lagi kangen sama aku katanya udah lama ngga diapelin," jawabnya ngasal.


Nara langsung merengut kesal dan memukul lengannya.


"Serius. Tapi aku bilang, kalo sekarang dihatiku udah diisi wanita lain, kamu...." jawabnya lagi.


Nara memukulnya lagi dan memutar kembali badannya ke depan," bisa serius ngga sih?!"


"Hobby baru yah neng, mukul-mukul gitu?" tanyanya membuat Nara mendelik sinis dan benar-benar kembali fokus ke arah pak Beni di depan sana.


Rama mencondongkan wajahnya dari belakang hingga kini tepat di sebelah Nara, "kamu ngga usah khawatir ya. Ini cuma masalah sepele aja," ujarnya mengacak rambut Nara.


Apapun itu rasa penasaran Nara kini sudah hilang, karena tingkah usil Rama.


Sementara di belakang Nara, Gilang sudah beranjak dari duduknya menghampiri bangku Ridwan dan Bayu.


"Aa kena skors, gara-gara kejadian tadi pagi." bisik Gilang.


"Perlu kita hajar tuh anak apa gimana? Lama-lama kok gue gatel banget liat tuh bocah?!"


"Nanti lah kita obrolin lagi," Gilang kemudian menegakkan kembali ke bangkunya karena di depan masih ada pak Beni.


"Gilang, sedang apa kamu?" tanya pak Beni membuat semua mata ikut melihat Gilang.


"Om Lang jalan-jalan terus ih!"


"Ini pak, pinjem tipe x!" ia menunjukkan benda yang ia sebutkan barusan sebagai pengalihan dan kembali ke bangkunya.

__ADS_1


____________________


__ADS_2