
Jika sudah jam pulang begini, warga MIPA 3 berasa kaya rakyat Indonesia yang baru merdeka dari penjajah.
"Oyyy pulang--pulang!"
"Yo, gue ke rumah lah mau ganti knalpot motor jadi racing!" ujar Andy.
"Kuy lah! Si kang Eman ada da!" jawab Rio.
"Ian, ngikut ngga?"
"Gue engga dulu," ujar Tian melirik gadis manis berpipi chubby, yang kini melemparkan sorot mata menusuk, "awas aja kalo ikut!" pelototnya.
"Gue ngikut lah," sahut Vian.
"Jadi ngga nanti malem ngikut ke Braga? Siapa aja, ntar gue ngomong sama kang Ayub?!" tanya Rifal.
"Gue om fal!" Yusuf mengacungkan telunjuknya.
"Kaya yang punya modal aja lu cup?!" tanya Ridwan.
"Pinjem punya Rama, ya ngga Ram?!"
"Di stel dulu cup, nanti ambil aja ke rumah,"
Nara sampai bengong apa yang sedang mereka bicarakan.
"Siap lah! Papa MIPA 3 emang orang paling dermawan,"
"Apa? Ucup mau minjem apa?" tanya Nara mengangkat kedua alisnya, Rama merangkulkan tangan di bahu Nara, berjalan beriringan keluar dari kelas menuju parkiran bersama yang lain.
"Motor," jawab Rama singkat.
Ia semakin mengernyit, "buat apa?"
"Mau pada ikutan event balapan di Braga," jawab Rama.
"Yu ah pulang, ngga usah dipikirin mereka mah!" Rama memasangkan helm di kepala Nara, "maaf itu rambutnya," saat ia ingin menekan pengait di baeah leher Nara, gadis itu menurut dengan membawa rambutnya yang menghalangi ke belakang.
"Kok pulang?" Nara memanyunkan bibirnya.
Rama menautkan alisnya, lalu menyamakan tingginya, "terus sayangku mau kemana?" ia mencolek hidung Nara.
"Kemana dulu kek, lagian mamah masih di rumah sakit nemenin papa, bang Akhsan pulang malem barusan dia chat," jawab Nara.
"Mau ke rumahku?" tawarnya
"Emang ada apa disana?" tanya Nara lagi.
Rama tersenyum usil, "kasur, kursi, tv, ada cucian juga. Mau?"
"Kok cucian? Dikira aku pembantu infal," alisnya berkerut.
"Ya kan tadi nanya nya ada apa, emang iya adanya cucian. Kali aja kamu mau bantuin nyuciin gitu,"
Nara memukul lengan Rama pelan dan ia mengaduh manja, "aduhhh,"
__ADS_1
"Yu naik," ia sudah naik ke atas motornya, kini Nara tak segan lagi untuk naik motor yang awalnya ia ejek butut itu.
Tak sengaja, pandangan Nara jatuh ke arah mobil Willy, dimana keempat teman komplek ternyata sedang memperhatikan Nara juga Rama dengan tatapan tak suka, Rama melajukan motornya meninggalkan gerbang sekolah, tapi kembali tatapan Nara tertumbuk di area warung di sekitar sekolah, motor Tian berhenti untuk menjemput seseorang dan itu----Tasya. Nara mengangkat alisnya, bahkan pandangannya seolah tak ingin melewatkan pemandangan itu barang sedetik saja, leher Nara sampai memutar hingga batas rotasi.
"Ram, itu tadi Tian jemput Tasya kan? Aku ngga salah kan ya, mata aku belum rabun kok!" ujar Nara pada Rama.
"Iya, mereka kayanya punya hubungan di belakang." Jawab Rama acuh, ia memang tau namun tak mempermasalahkan itu.
"Tapi di sekolah bukannya mereka seringnya berantem?" Nara tersenyum geli, lucu saja jenis hubungan macam mereka.
"Karena awalnya mereka sering berantem. Mungkin malu, belum siap go publik, ngga ngerti juga--itu masalah mereka, biarkan aja." jawab Rama tak ingin ikut campur masalah pribadi orang lain, meskipun tak dipungkiri ia tau dari mulut Tian sendiri yang bercerita.
"Hm," gumam Nara sebagai jawaban. Gadis itu mengerutkan dahinya, sejak tadi bicara ia tak melihat arah jalanan, "loh! Ini kan bukan jalan ke rumah kamu, kita mau kemana?" suara Nara beradu dengan angin.
"Kita ke pasar dulu ya ,bawain sesuatu buat ambu, kalo ngga bawa apa-apa nanti beliau ngamuk, sampah di rumah diacak-acak." tawa Rama.
Mata Nara menyipit, ia mencubit pinggang Rama hingga Rama terkejut, "masa ambu nyeremin gitu!" omelnya.
Motor berhenti di parkiran pasar, Nara kembali dibuat melongo saat dengan akrabnya tukang parkir, pedagang dan pengamen yang ada disana silih berganti menyapa Rama.
"Hey aa bro, sehat?"
"Alhamdulillah, kumaha aman?" tanya Rama pada tukang parkir.
"Aman--aman,"
"Duluan ya!" Rama pamit dan mengajak Nara masuk ke dalam.
Bibir Nara tertarik melengkung lebar, ia tertawa gemas melihat dengan luwesnya Rama membeli beberapa jenis sayuran mirip ibu-ibu, seolah kegiatan ini tak memalukan baginya.
"Kamu sering belanja gini?" tawa Nara renyah.
"Udah biasa disuruh ambu,"
"Ngga malu?" tanya Nara, biasanya pemuda jaman sekarang boro-boro mau disuruh belanja ke pasar, dimintai tolong beli gula pasir saja ke warung ogah-ogahan 7 turunan 7 tanjakan.
"Ngapain malu, kan aku pake baju!" jawabnya. Semakin dibuat kagum saja Nara oleh Rama, entah apa lagi yang dimiliki pemuda ini, semakin hari Rama seolah dibuka oleh pintu baru yang membuatnya terkesima. Keduanya mampir terlebih dahulu ke kios abah haji.
"Assalamu'alaikum bah,"
Abah terlihat sedang mengkbrol dengan pedagang lain yang berada dekat dengannya, "eh---aya neng geulis! Calon minantu abah," sapa Abah haji.
"Win!" panggil abah pada pedagang perempuan di depannya, ia pun mendongak, termasuk Nara dan Rama yang menoleh ke arah perempuan berjilbab instan dengan gelang emas yang melingkar banyak di lengannya.
"Tingali calon minantu, ngalongok abah! Geulis nya?!" kelakarnya menunjuk Nara, saat gadis itu hendak salim.
"Geulis bah! Si Aa mau nikah a?! Ahhh patah hati atuh A!" serunya ditertawai Rama, "jangan atuh teh, nanti aa sedih kalo teh Wina nangis, hati aa cuma buat teh Wina da!" kelakar Rama ikut ditertawai pula oleh teh Wina. Rama mengulurkan tangannya untuk salim pada abah,
Dugh! Jidat Rama terantuk batu ali di cincin abah haji.
"Aww...." aduhnya, membuat Nara tertawa tergelak.
"Bah! Sakit atuh, eta cincin batunya kena jidat! " omel Rama, terang saja di jari manis dan tengah abah melingkar dua buah cincin berbatu akik sebesar biji jengkol berwarna hijau dan merah. Padahal tadi saat Nara salim, abah haji melepas dulu cincinnya agar Nara tidak merasa kesakitan. Abah malah tertawa, "biasanya juga kuat!"
"Bah, calon mantu mau ke rumah, katanya bantuin ambu masak!" ucap Rama.
__ADS_1
"Wah! Bagus atuh, sok atuh gera pulang! Hati-hati saja di jalannya, jangan ngebut," pinta Abah haji.
"Iya bah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Nara dan Rama kembali keluar pasar, "kamu yang pegang kereseknya."
Terhitung sudah dua kali Nara ke kampung ini, dan kampung ini memberikan kesan betah dengan semua senyuman ramah, seakan tidak pernah sepi dan rasanya begitu hangat.
Motor sampai di depan pintu gerbang rumah Rama, kedua anak muda ini turun.
"Aku bukain pintu gerbangnya," Nara membuka kunci pagar dan melebarkan pintu gerbang, sementara Rama mendorong motornya masuk dan memarkirkan nya bersama jajaran motor lain, dan Nara mengekor sampai di parkiran dekat lapang samping dapur dan gazzebo.
"Emangnya ambu ada di rumah gituh?" tanya Nara. Rama mengangguk, "ada atuh, makanya ngajak belanja juga." Tapi suara perempuan sukses membuat Nara membalikkan badannya.
"Eh ada si neng geulis lagi, siapa aduh! Ambu lupa namanya," ia menepuk-nepuk jidatnya.
"Nara--ambu...." Nara meraih punggung tangan Ambu.
"Ah! iya Nara," balasnya.
"Ambu, Nara bawain bahan masakan!" imbuhnya menunjukkan keresek di tangan.
"Oh ke dapur berarti kita! Mau ngajakin *anyang-anyangan* ceritanya ini teh?!" Ambu merangkul pundak Nara dan membawanya ke dalam lewat pintu dapur. Konon menurut orangtua jaman dulu, kalo tamu diajakin masuk langsung ke pawon itu artinya si tamu sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
.
.
.
.
Note :
__ADS_1
\*Anyang-anyangan : masak-masak.