Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : BESUK TIADA HENTI


__ADS_3

Mama Yuanita membiarkan Tian untuk menunggui Tasya, sementara ia pamit pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian dan menengok keadaan rumah, hanya tinggal berdua saja dengan Tasya, membuatnya merasa sendirian.


Nara membawa satu kresek penuh makanan termasuk buah-buahan yang sebelumnya ia dan Rama beli di jalan bersama Tian.


Rifal masih duduk di kantin rumah sakit bersama Rama, Nara dan Vian, menunggu kloter terakhir masuk membesuk Tasya.


"Dari tadi gue di sele mulu! Tapi ngga apa-apa lah, gue mah soulmate om Fal, bareng Rama aja lah!"


"Bentar lah, gue pengen ke toilet dulu...ntar wa aja kalo udah pada keluar," Rifal beranjak mencari toilet.


Saat kembali ia tak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya sedang bersama seorang pemuda yang masuk ke dalam ruangan dokter seraya mengacak gemas rambutnya, meninggalkan ia seorang diri di luar, gadis itu duduk di kursi tunggu ruangan dokter itu.


Melihat Rama, Nara dan Vian masih mengobrol santai, ia memutuskan untuk mengganggu gadis itu.


Langkahnya ia percepat seiring seringaian di bibir, sudah lama tak bersua, hari ini sepertinya Tuhan sedang berbaik hati mengirimkannya lagi untuk jadi bahan rujakan Rifal, jangan salahkan orang lain jika Rifal membidiknya sebagai ajang pembalasan dendam, ia yang sudah memilih memulai perang dengan MIPA 3, mengganggu Nara dan Rama, juga selalu menghina MIPA 3 di sekolah. Sifat angkuhnya itu mesti ditundukkan dengan cara apapun itu.


Rifal melihat sekilas ruangan yang barusan dimasuki oleh pemuda yang cukup tampan tadi, sepertinya ia berasal dari sekolah lain, terlihat dari almamater dan seragam batik yang berbeda.


Spesialis Obgyn, ia tersenyum miring dan jahat. Apakah gadis ini ada maksud dan tujuan, apa yang terjadi dengan gadis ini menunggu di depan ruangan spesialis kandungan, apakah ada hubungannya dengan pemuda tadi, apakah....? Pela coeerrr.


Tanpa basa-basi Rifal menarik tangannya kencang membuat gadis ini tersentak, "eh!"


Rifal membawa Dea ke arah lorong rumah sakit yang memang terlihat sepi dan melemparkannya tepat di tembok lalu kemudian mengungkungnya, "lo mau ngapain??!!!" teriaknya memejamkan mata, berontak mendorong Rifal menjauh sekeras mungkin, namun percuma saja, Rifal tak bergeser sedikit pun.


"Tolo---ngmmmmppp!" Rifal membekapnya.


"Ngga usah berisik, kalo ngga mau gue macem-macem!" Dea melotot demi mendengar itu, ia hampir menangis, matanya sudah berkaca-kaca...ia bukan tak tau siapa Rifaldi Elvan Januar. Tatapan Rifal jatuh pada setiap lekukan badan Dea.


"Lepass!" terlihat jelas ketakutan di mata Dea.


"Lo ngapain di depan ruangan dokter kandungan? Oh..gue tau, lo mau 4b0rrsii?" Dea melotot mendengarnya, serendah itukah pandangan Rifal padanya.


"Cewek kaya lo emang ngga diraguin lagi sih nakalnya, boleh dong gue coba...berapa bayaran lo?!" tanya Rifal, sontak Dea menamparnya keras, "jaga mulut lo! Gue emang doyan cari hiburan ke club malam, tapi gue tau batasan!" terang saja ia marah, Rifal menuduhnya lont3.


Rifal berdecih tak percaya, "jangan salahin siapa-siapa, gue selalu gangguin lo! Karena sejak awal lo ganggu Nara sama Rama, lo berurusan sama gue, ngga akan pernah gue lepas," Rifal dengan beraninya mengecup bibir Dea, entah setan suster keramas, suster gepeng, ataukah suster ngesot mana yang merasuki pemuda ini.


"Br3nk sek!!!" teriak Dea memukul Rifal berulang kali, tapi tangan Rifal menahannya, "inget itu! Anggap aja ini balasan buat lo yang udah cegat Mita kemaren!" Rifal menatap Dea yang diselimuti kemarahan, "gue janji! Sampai kapanpun lo bakalan jadi makhluk terbr3nk sek yang gue kenal! Aaaaa!" jeritnya sementara Rifal sudah meninggalkannya setelah mencuri ciuman dari bibir Dea dengan senyum mengembang jahat.


"Fal, darimana lo?" tanya Vian.


"Buru, udah jam segini, gue mesti buruan balik..." timpal Rama saat Rifal kembali.


"Gue abis liat orang mewek, yuk!" ajak Rifal merangkulkan tangannya di pundak Vian.


Nara mengerutkan dahi, "apa istimewanya orang mewek?"


"Aneh, kebanyakan slebor lo, kurangi Fal!" tawa Rama renyah menggandeng Nara masuk.

__ADS_1


Pintu dibuka menampakkan Tasya yang sedang dipaksa makan oleh Tian, pemuda itu bahkan tak segan mendekap Tasya dan memegang rahang gadis itu agar mau makan.


"Aaaa, buruan makan ay!" paksanya.


"Udah Ian, aku udah kenyang..."tolaknya.


"Wo..wo..wo...! Apaan nih?!" ujar Vian berseru.


"Ya amsyong engga gitu konsepnya Ian..." Nara tertawa.


"Wah, kebayang kalo MP si Tasya ga mau..." tawa Rama disikut Nara.


"Digencet Ram," timpal Rifal.


"Sya gimana sekarang kondisi lo? Kacau banget anak gue satu ini...." ujar Rama menghampiri bersama Nara.


"Baik, pa."


"Sya, kita ngga bawa apa-apa, cuma tadi beli ini di jalan. Abisnya bingung, kalo orang abis operasi usus buntu dikasih apaan,"


"Ngga apa-apa ma, makasih banget udah jenguk..."


"Buru ay!" geram Tian.


"Udah Ian, udah banyak ini makannya gue...ngga mau, lo aja yang abisin!" balas Tasya.


Rifal duduk di kursi pojok dekat pintu, raganya memang di ruangan ini tapi jiwanya sedang melanglangbuana, rasanya kok manis?! Apa karena ia yang baru saja selesai merokok tadi?


"Nih anak kan bikin bubur merah bubur putih tiap taun, Ra!" jaaab Vian.


"Dih apaan om Vian nih," Tasya melirik sekilas Rifal.


"Om Fal ngapain cengengesan sendiri di pojokan, kok gue jadi ngeri ya di kamar ini?"


Sontak saja semua mata kompak melihat ke arah Rifal, "mulai gila kali!" jawab Vian.


"Udah stelan pabriknya dia itu mah," jawab Rama.


"Kamvrettt!" dengus Rifal, ia beranjak dan mendekat bergabung.


"Eh, ya Ra...gue mau nanya," Nara dan yang lain ikut menyimak.


"Nanya apa?" Nara sudah serius menanggapi, tapi disaat yang lain ikut mendekatkan wajah ke arah Rifal pemuda ini dengan usilnya melepaskan bom beracun dari belakang.


Dut!


"Si alan!"

__ADS_1


"Anj immmm!"


"Om Fal ih!" Tasya langsung mencerukkan kepalanya ke dada Tian, begitupun Nara.


"Kamvrettt anj iirrr!" Vian dan Rama sudah mendorong kepala Rifal keras seraya memencet hidung, sementara Tian tertawa keras.


Rifal tertawa kencang, "abisnya lo semua kepo!"


"Yang gue tanya Nara bukan lo semua," tambahnya.


"Nanya apa sih, abisnya serius amat! Aduh, auto masuk lagi meja operasi gue kalo gini," ujar Tasya masih saja ditertawai Rifal dan Nara.


"Kamvret, njimm, gas beracun bau!" imbuh Rama menjauh membuka jendela kamar Tasya.


"Lo makan apa Fal?" tanya Tian.


"Makan bank kee," jawabnya asal.


"Mau nanya apa Fal?" tanya Nara.


"Tuh kan gue jadi lupa!" jawabnya.


"Beuhhh! !" Vian sudah menjepretnya dengan telunjuk tepat di kepala Rifal.


"Oh, gue inget! Lo satu komplek sama anak MIPA 2 kan? Kalo sama si Deanada Kharisma beda berapa rumah?" terang saja pertanyaan itu membuat seisi ruangan mendadak be go dan ambigu.


"Maksudnya? Dea?" tanya Nara, diangguki Rifal.


"Ngapain lo nanya tuh cewek songong bin sombong?!" tanya Vian, sementara Rama sudah tersenyum miring menatap Tian.


"Ya nanya doang mah kan gratis," jawab Rifal.


"Aga jauh sih lumayan, beda blok!"


"Oh ya gue baru inget, kalo ngga salah dia tuh punya cem-ceman anak sekolah lain, dan seinget gue kakaknya si Jovanka nama cem-ceman Dea tuh praktek disini, jadi dokter kandungan gitu..."


Deg! Rifal seperti tersambar paruh elang di siang bolong.


"Kenapa emangnya Fal?"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2