
Semenjak kejadian di rumah sakit tempo hari rasa bersalah melingkupi hati Rifal, Rama meminta anak MIPA 3 untuk datang ke rumah Narasheila, ceritanya sih mau ngasih kejutan 8 bulannya mereka jadian.
Kebetulan sekali, Rifal segera menyambar kaos miliknya yang didominasi dengan warna hitam dan putih, lalu menurunkan jaket berbahan parasut.
"Mandi jangan? Ngga usah lah!" ia menciumi bau tubuhnya yang masih tercium sisa parfum tadi pagi. Sekilas matanya jatuh pada sebuah frame foto yang menampakkan sosok seorang gadis manis bersama dirinya, "Han, menurut kamu aku mesti minta maaf?"
"Aku memang br3ng sek Han, but i can fix it!"
Diusapnya foto itu lalu kembali ia taruh dan pergi.
"Mau kemana lagi kamu?" tanya papa'nya. Rifal melengos tanpa menjawab terkesan tak menanggapnya, lelaki yang tega menceraikan mama karena pelakor hingga mama memutuskan jalan se tan dan bunuh diri.
"Rifalll!" teriaknya, Rifal sudah kebal dengan tamparan, teriakan dan pukulan darinya. Tanpa menghiraukan teriakan lelaki paruh baya itu, Rifal memakai helm miliknya dan melajukan kencang sepeda motornya.
"Anak kurang aj ar !"
Ia sengaja mengelilingi komplek rumah Nara sebelum yang lain sampai duluan.
"Kata Nara blok G," ia menyusuri satu persatu rumah di blok G, dengan mengedarkan matanya mencari rumah dengan nomor 14 berwarna jingga.
Hingga laju motornya ia pelankan saat melihat Gibran sedang menyambangi kediaman Dea.
"De! Buru ih, gue belum mandi anjayyy,"
Dea keluar dari rumahnya dengan stelan piyama berwarna biru. Entah mau pergi kemana mereka.
"Lo jam segini udah piyamaan De, gue aja belum mandi?!" ucap Gibran.
"Udahlah! Ihhh bau! Gue benci orang jorok! Anterin sampe apotik aja, nanti gue balik naik ojek!"
Tak tau ada angin apa Rifal mengikuti keduanya sampai apotik dekat komplek dan mengawasi keduanya dari jauh.
"Dah sana lo balik, biar nanti gue naik ojek!"
"Yakin?" tanya Gibran.
Gadis itu mengangguk, "yakin, udah sana buruan mandi."
Dea terlihat masuk ke dalam apotik, Rifal memajukan sepeda motornya tepat ke depan parkiran apotik berniat menunggu gadis itu.
Pintu apotik terdengar dibuka, hanya saja Dea belum sadar jika Rifal ada disana.
Satu kresek obat asma dan isi ulang inhaler sudah didapat. Dea berniat untuk mencari ojek.
*Grepp*!
__ADS_1
Lengannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang, Dea mendongak melihat si empunya tangan, "Lo?!" refleks saja ia berontak, tatapan kebencian ia perlihatkan untuk Rifal.
"Sorry,"
"Lepas!"
"Gue minta maaf,"
Matanya masih saja menatap penuh sorotan membenci, "lepas atau gue teriakin jambret?!"
"Lo teriak gue cium?!" tak kehilangan akal Rifal mengancam, katakanlah ia memang pemuda gila, br3nk sek, kasar dan sarkas. Selalu semaunya tak pernah memikirkan orang lain.
Deru nafas Dea begitu cepat, dadhanya sampai naik turun, ia berkata gemas nan frustasi, "lo tuh maunya apa sih?! Gue ngga ganggu lagi MIPA 3!" ia mengacak rambutnya, membuat Rifal gemas, bahkan ia mendekap kresek obat yang dibawanya.
"Gue cuma mau minta maaf atas kelakuan br3ng sek gue di lorong rumah sakit, sorry..." ia mengulurkan tangannya sebelah pada Dea. Gadis itu menatap mata Rifal, "gue tuh ngga ngerti apa yang lo mau dan punya maksud tujuan apa, apa lo sengaja kaya gini biar kita lepasin Nara atau buat ngobrak-ngabrik MIPA 2? Tapi yang jelas, gue ngga percaya sama ucapan lo sekarang,"
*Dug*!
Dea sengaja menghantamkan keningnya ke kening Rifal, agar pemuda itu mau melepaskan dirinya.
"Awww!"
Dea berlari kepayahan, saat pasokan oksigen mulai habis untuknya gadis itu mulai memelankan laju larinya, membuka kresek dan mencari inhaler, "inhaler gue?" karena panik dan dirasa sudah begitu sesak, ia sampai menjatuhkan isian kresek miliknya.
Rifal menyeringai saat mampu memotong jalan Dea, melihat gadis itu kelimpungan mengumpulkan isian kresek, ia segera turun dan membantu.
Sebuah oksigen inhaler menggelinding tepat di depan kakinya. Rifal bukan tidak tau itu apa, ia memberikan benda tersebut pada Dea yang langsung membuka segel dengan tangan bergetar dan nafas memburu sesak, gadis ini bahkan sudah banjir keringat, Rifal masih tertegun aneh, tapi tak urung membantu Dea, "sini biar gue buka,"
Dea lantas memasangnya di alat inhaler lalu menghirupnya rakus, gadis itu terduduk di pinggiran jalan, menstabilkan degupan jantung dan tarikan nafas.
Pemuda itu memutuskan untuk duduk di samping Dea memperhatikan gadis itu yang bergerak menjauh, namun tak pergi. Ia menyerahkan kresek dengan obat asma di dalamnya yang barusan ia pungut.
"Lo sekarang tau gue, kalo lo mau bully gue, gue ngga takut!!" sengaknya, seperti biasa...reaksi yang diberikan Rifal adalah menyeringai, sepertinya pemuda ini turunan serigala karena kebanyakan menyeringai, dan Dea tak tau seringaian Rifal itu apa artinya.
Ia malah terkekeh, membuat Dea sewot, "lo kalo mau hina gue silahkan, tapi kalo sampe sebarin ini ke semua murid di sekolah, gue ngga segan-segan minta papa buat bikin perhitungan! Papa gue..."
"Donatur? Komite?" tembak Rifal.
__ADS_1
"Selalu itu senjata lo buat ngancam orang lain. Lo pikir orang-orang bakal takut gitu? Engga! Termasuk gue!" jawab Rifal.
*Katakan Dea, kenapa lo justru jadi pembully*? Ingin sekali Rifal bertanya tentang itu, tapi dering ponsel membuyarkan semua susunan kata yang telah ia susun.
*Om Fal, dimana?! Buru, nih makanan diabisin sama si cupid*!
*Fal, nih si Rama ngga tanggung-tanggung...gerobak cilok, batagor, pada dibawa ke rumah Nara*.
Rifal kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, "kalo lo anggap gue sama MIPA 3 kaya lo, berarti lo salah besar."
Rifal menarik tangan Dea agar ikut dengannya tapi gadis itu tak bergeming, "lo mau gue anter apa engga? Ya...gue sih kasian kalo mesti biarin lo jalan...sesama warga negara gue tolong deh! Sekaligus tanda permintaan maaf gue tulus buat lo,"
"Jangan ngarep!" desisnya, Dea yang terlalu amgkuh lantas memanggil ojek yang kebetulan melintas.
"Ojek!"
"Ya neng," si bapak ojek berhenti, Dea segera bangkit dan naik ke jok belakang motor bebek itu, meninggalkan Rifal yang masih berada disana, mata mereka bertemu sampai Dea hilang dari depannya.
Wajah angkuh itu, membuat jiwa laki-laki petualang Rifal merasa ditampar, "sampai mana lo bakalan nolak gue, nona?!" kemudian Rifal memakai helmnya dan melajukan motor ke arah rumah Nara.
Bayangan Dea yang tadi kelimpungan dan kepayahan menahan rasa sakit juga sesak mengingatkan Rifal pada almarhumah Hana.
"*Han, dia mirip kamu*..." motor berbelok di keriuhan rumah Nara, ternyata ia telat datang, buktinya anak-anak MIPA 3 sudah sibuk mengerubungi beberapa gerobak makanan yang sengaja di panggil paRam.
...***PROKLAMASI CINTA***...
...***kami yg bertanda tangan dibawah ini***...
...***pihak 1 Narasheila Caramelia Yudhistira TTD***...
...***pihak 2 Ramadhan Restu Al Kahfi TTD***...
...***dengan ini menyatakan berjanji untuk setia dan saling menyayangi setiap harinya, hal-hal yg menyangkut keromantisan dan keuwuan akan diselenggarakan secara berkala dan dalam tempo yg selama lamanya***....
...***Bandung tgl hari ini tahun ini juga*** ....
"Saravvv," Rifal tertawa dan turun bergabung saat Rama membacakan proklamasi cintanya, mirip proklamasi kemerdekaan. Dialah Ramadhan, teman rasa saudara. Gelak tawa dan riuh sorakan dengan intensitas tinggi menggema di halaman rumah Nara.
"Merdeka, Indonesia!!!" teriak mereka.
"PaRam, i love you pull! Merdekaaa!"
.
.
.
__ADS_1
.