Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : PUNCAK 3


__ADS_3

"Wah bener-bener si Rama! Kalau bener dia jalan-jalan, ngga ngajak gue jitak kepalanya!" ucap Andy.


"Kayanya paRam ngga kaya gitu deh!" sela Tasya.


"Kok gue curiga ya---" ujar Rio.


"Curiga apa nyet?"


"Curiga kalo Rama---lagi tidur di gudang!"


"Ha-ha-ha saravv!"


"Apa mungkin dia di mintain tolong lagi sama pak Marwan?" tanya Nara menatap temannya satu persatu.


"Coba deh tanyain!" timpal Vina.


"Oke, gue coba tanyain deh!" Tama bergegas, namun baru saja ingin menyusul, pak Marwan keluar dari ruangan lain,


"Anak-anak, jangan ada yang ngelayap! Buat km masing-masing kelas coba dikoordinasikan dan didata teman-temannya,"


Tama segera menghampiri pak Marwan dan bertanya pasal Rama. Tapi dapat mereka lihat dari gestur bicara guru itu, bahwa pak Marwan tak mengetahui dimana Rama.


Sudah beberapa jam Rama hilang namun ia belum juga nampak bahkan adzan maghrib pun sudah berkumandang.


"Rama tuh ngga akan mungkin ngelewatin solat magrib Wan!" ujar Nara dilanda cemas.


Vina merangkul Nara dari samping dan mengusapnya lembut, "tenang dulu Ra, kita cari aja lah!" angguk singkat Gilang, pasalnya Rama adalah pemuda yang menurut Gilang tangguh, jika ia sampai selama ini itu artinya ada masalah serius.


Hari ini Tuhan seolah melimpahkan berkahnya dalam bentuk hujan, bahkan selepas maghrib hujan belum juga reda.


"Belum reda juga," Nara keluar Villa dan menengadahkan kepalanya untuk melihat seberapa besar intensitas curah hujan.


Hari semakin gelap begitu pula dengan hawa yang semakin dingin, ia menggosok-gosok lengan di balik jaket tebalnya.


Sesaat Nara melamun, tiba-tiba ucapan Kirana saat jogging pagi melintas begitu saja dipikirannya,


"Hati-hati, Inggrid dan kawan-kawan itu nekat orangnya. Mereka ngga sebaik yang kamu kira,"


Nara memegang dadanya, rasa khawatir dan takut kini menyerang saraf jantung gadis itu.


"Apa----" gumamnya memandang jauh ke depan, mengingat tempo hari saat Willy dan Rama bertengkar di kelas.


"Awas lo Ram,"


Karena rasa penasaran, akhirnya Nara memberanikan diri ke villa sebelah, tempat dimana teman-teman kompleknya bermalam, hanya untuk memastikan saja kalau pikiran buruknya itu salah.


Nara berlari membelah guyuran hujan dengan alis yang berkerut menghalau air hujan bersama tangan yang ia jadikan payung atas kepalanya, tapi langkah Nara melamban, "apa alasannya aku kesana? Kalau ternyata mereka ada disana gimana, ngga ngapa-ngapain Rama gimana? Malu aku!" gumam Nara.

__ADS_1


Netranya tertumbuk pada rumput yang menutupi halaman depan villa, "ah! Gimana ntar aja lah!"


Nara sedikit berjinjit menghindari jalanan yang becek. Dari luar terlihat beberapa orang siswa lain.


"Sorry mau nanya, ada yang liat Inggrid sama Dea ngga?" tanya Nara pada mereka.


Mereka menoleh pada Nara, gadis itu sedikit kebasahan, "oh inggrid sama Dea dikamarnya kalee, tuh kamarnya di lantai 2!" tunjuknya asal pada Nara.


Dipijakinya satu persatu anak tangga hingga sampailah di beberapa kamar. Nara memanjangkan lehernya ke setiap kamar, sesekali ia mengetuk dan bertanya.


"Kamarnya Inggrid sama Dea di pojok!"


"Oh oke, makasih!" jawab Nara.


Tok-tok-tok!


"Bentar!"


Pintu kamar itu terbuka menyuguhkan penampakan gadis dengan clay mask di hidungnya.


"Bebs, tumben lo kesini? Masuk deh!" Nara masuk meskipun ragu, gadis itu mengedarkan pandangan menyapu seluruh kamar mengeksplore setiap incinya, dimana Inggrid pun sedang telungkup seraya mendengarkan lagu.


"Hay Ing, gue cuma bosen aja di villa sebelah!" seru Nara duduk di tepian ranjang, memasang tampang tersenyum.


"Oh kirain, ya udah sini aja! Kita lagi maskeran, mau ikutan ngga?" tanya Dea yang memoleskan masker di wajahnya bersama seorang gadis teman sekelas lainnya. Nara menggeleng, "bentar lagi mau isya--sayang maskernya kalo kepake bentar!" alasan Nara.


"Gib...ran?" Inggrid yang semula berbaring kini malah tertawa garing.


"Willy sama Gibran--itu apa lagi---" Dea menggaruk kepalanya.


"Mereka lagi cari makan!" sahut Inggrid.


"Kenapa kangen ya?" goda Dea menyenggol Nara.


Nara menggeleng, "engga kok, cuma nanya aja, biasanya kan barengan terus gitu," jawab Nara.


"Udah sii bebs, jujur aja!"


"Auuu---Ra, lo kangen Willy kan? Ngaku aja deh kalo lo nyesel pacaran sama si preman kampung itu," tambah Inggrid membuat Nara menautkan kedua alisnya.


Cukup lama Nara disana, sampai-sampai yang awalnya tak ikut memakai clay mask dan masker jadi ikut-ikutan memakai masker.


Nara melihat jam di tangannya, "udah jam setengah 9," gumamnya dan Nara tak mendapatkan informasi apapun selain dari hujatan Inggrid dan Dea terhadap MIPA 3 yang membuat kuping Nara seperti ditaruh di atas kompor.


"Ing--De--aku pamit deh. Udah malem juga, takut pak Marwan sama bu Hilda nyariin!" Nara melepas clay mask dan membersihkan masker di wajahnya.


"Oh oke deh, ini juga udah malem. Mau dianterin ngga bebs ke villa-nya?" tanya Dea.

__ADS_1


"Iya, ntar gue telfonin Willy?"


Nara menggeleng cepat, "oh ngga usah, cuma 10 langkah juga nyampe kok! Thanks ya maskernya, gue balik!" pamit Nara.


"Oke baby!"


Nara membuka pintu kamar namun pada saat yang bersamaan di depannya nampak wajah Willy dan Gibran, dengan wajah yang sama-sama terkejut dengan Nara.


"Nara?"


"Hay Ra, udah lama?" pertanyaan Willy memutus pandangan Nara.


"Oh, udah--udah. Udah lama, ini mau balik lagi ke villa!" jawab Nara.


"Eh," mata gadis itu meneliti Willy dan Gibran dari atas hingga bawah, tunggu! Wajah keduanya----


"Eh, itu kenapa?!" tanya Nara menunjuk wajah Willy dan Gibran yang sama-sama ada bekas lebam di wajahnya seperti orang habis tawuran.


"Ah, engga apa-apa tadi ngga sengaja jatoh gue!"


"Jatoh?! Barengan? Kok Aneh?!" tanya Nara, bahkan sejak tadi Gibran seperti menghindari tatapan mata Nara dengan mengalihkan wajah dan mengusap-usap ujung bibirnya.


"Aneh gimana sih bebs, orang jatoh mah ya wajar! Yu masuk!" Inggrid dan Dea memutus kontak mata Nara dan meminta keduanya masuk.


"Kalian darimana?" tanya Nara.


"Inih!" tunjuknya pada keresek yang dibawa.


"Abis nyari makanan, ikut gabung yuk!" ajak Willy, ia bersama Gibran melesak masuk, saat Nara mundur selangkah demi membiarkan keduanya masuk.


"Kalian masuk ke kamar cewek ngga kena marah?" tanya Nara.


"Ck! Ngga apa-apa Ra, toh rame-rame kok, tuh ada Vanya! Nanti yang lain gabung," jawab Gibran mengusap-usap ujung bibirnya.


Nara masih mematung di dekat pintu, tapi kemudian matanya menyipit tatkala melihat baju bagian belakang Willy terlihat begitu kotor.


"Kalo gitu gue balik aja deh, kayanya bu Hilda nyariin--ini Vina nelfonin dari tadi," alasan Nara, mata gadis itu tak lepas dari pakaian Gibran dan Willy yang terdapat bekas kotor.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2