Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
TIAN-TASYA : BACKSTREET


__ADS_3

Gilang kembali dengan membawa sebuah mobil, bukan keluaran terbaru namun cukup membuat silau mata, mesinnya pun sudah berkapasitas mesin balap. Itulah papa Rama yang sebenarnya, kemilau berlian yang memang selalu ditutupi. Tak pernah memperlihatkan jika ia berasal dari keluarga berada. Dengan dipapah Rama, Nara masuk ke dalam mobil dan masih sempat ia bertanya, "ini mobil siapa?"


"Dapet nyewa barusan di garasi mobil orang!" Rama terkekeh di balas kekehan yang lainnya, ia memang pemuda yang selalu usil dan tak pernah serius. Padahal semua juga bisa melihat jika ini mobil milik Rama, bukan karena mereka berteman sejak lama melainkan plat nomor kendaraan yang tertera jelas sangat si pemilik bucinnya Nara.


...D N4124 \= D NARA...


"Mobil taxi online, Ra," jawab Tian ikut menyahut.


Tasya terkekeh melihat pasangan papa-mama'nya MIPA 3 itu.


"Hati-hati Ra," ucap Tasya melambaikan tangan saat mobil Rama melaju keluar sekolah. Oke---kini Rama terlihat keren ketimbang anak the most lainnya.


"Yuk pulang, mau kuantar jemput pake mobil juga? Tapi mobil bak," ajak Tian menarik tangan Tasya, sejak tadi ia menggenggam tangan si mungil kesayangan seolah tak ingin melepaskan.


"Ish, dikira aku domba Garut gitu!" cebiknya.


"Yuk pulang. Kamu yang lebih aku khawatirin!" colek Tian di hidung Tasya.


"Aku? Kenapa?" tanya Tasya menunjuk dirinya sendiri dengan alis mengkerut.


"Kamu tuh punya penyakit lambung, tapi jajannya sembarangan, sukanya curi-curi makan pedes, suka telat makan! Mana si mama jarang bisa awasin kamu, terlalu sibuk," jawab Tian, pacarnya ini memang paling bandel urusan makanan.


"Sya!"


Betapa terkejutnya Tasya mendengar namanya dipanggil Selly. Gadis itu langsung melepaskan tautan tangan Tian. Selly datang kembali ke sekolah dengan seragam karatenya, yup! Hari ini jadwal anak-anak ekskul karate.


"Lo sama..." tunjuk Selly tak percaya setengah kebingungan, Tasya menggeleng, "engga!"


"Hayooo! Lo berdua lagi ngapain?! Jangan bilang sekarang...rival jadi..."


Tasya melotot pada Selly, "engga ih! Ngga sengaja aja keluar bareng, kan sekelas sekarang!" sengitnya langsung pergi sebelum sekolah semakin ramai lagi.


Sementara Tian sudah jengah dengan sandiwara ini, menurutnya biarlah semua orang tau kalau mereka memiliki hubungan dan terima jika mereka akan jadi bahan bullyan sekolah. Tapi rupanya tidak dengan gadis mungil kesayangannya. Apa jadinya saat teman-teman semasa kelas X nya tau kalau ia malah jadian dengan Tian yang jelas-jelas dulu adalah siswa kelas rival. Bayangan kelakuan rusuh mereka dulu selalu terputar jelas di otak Tasya.


"Huuu! Kelas lo kac roet!"


"Kelas lo yang an jimm!"


Rivalitas kelas X B dan X C selalu jadi trending topic pada masanya bahkan terbawa hingga generasi selanjutnya, entah itu saat diadakannya perlombaan ataupun saat keseharian. Sudah sering para punggawanya bertengkar dan digiring ke ruangan BK termasuk Tasya dan Tian. Hingga saat kenaikan kelas Tasya dan Tian disatukan dalam satu kelas berjuluk, MIPA 3.


"Njirrr! Gue sekelas sama si buto!" ujar Tasya setengah menjerit tak percaya saat mengetahui calon kelas mereka saat kenaikan kelas.


"Mamposs tiap hari lo bakalan berantem Sya, kalo butuh bantuan ntar panggil kita!" Riki menepuk pundak dan merangkul si gadis mungil namun mamprang alias bar-bar.


Benar kata orang, cinta dan benci itu beda tipis. Jangan terlalu membenci apalagi sampai bersumpah, karena entah sejak kapan benih-benih cinta itu hadir, mungkin karena seringnya mereka bertengkar dan memikirkan satu sama lain, hingga akhirnya suatu hari di beberapa minggu ke belakang, Tian dengan beraninya menyatakan perasaan dan bo dohnya ia menerima, jadinya kini ia harus menelan sumpah sendiri. Tasya berjalan duluan keluar dari sekolah, meninggalkan Selly dan Tian.

__ADS_1


Selly menatap seraya tersenyum miring pada Tian, "ngga usah ngarepin deketin Tasya," ujarnya menyebalkan. Ingin Tian bungkus saja gadis itu, kalau bukan perempuan sudah Tian tonjok gadis ini, kenapa Tasya dulu harus berada di kelas XB dan berteman dengan orang-orang menyebalkan. Tian menggeleng dan pergi menyusul Tasya dengan langkah santai.



Tasya kini duduk sendirian di bangku kayu warung babeh, itu artinya yang lain sudah pulang. Gadis itu menggoyangkan kakinya persis anak tk, ditambah tubuh mungilnya membuat Tian gemas kaya liat boneka annabelle. Belum lagi angin siang membawa serta anak rambut yang mencuat dari ikatan, gadis ini mengikat rambutnya setengah di bagian belakang, sementara sisanya ia gerai menutupi tengkuk dan kerah seragam.



"Pulang sekarang?"



Tasya mendongak, "sebenernya males soalnya di rumah cuma ada bi Wening aja,"



"Mau ke rumah ketemu ibu sama Ziya?" tawar Tian, sejak pertemuan pertamanya dengan ibu Tian, Tasya nampak cepat akrab dengan ibunya apalagi dengan Ziya sang keponakan.



"Mau! Ada Ziya di rumah?" Tian mengangguk.



"Si aa sama teteh lagi dinas ke luar kota, jadi Ziya dititip ke ibu." Tasya terlihat celingukan ke arah kanan dan kiri, juga sebrang sekolah.



"Atau takut dijauhin sama mereka?" lama-lama ia jengah juga. Tian adalah tipe pemuda yang sedikit emosional.



"Engga gitu, iya nanti aku bilang. Tapi pelan-pelan, butuh waktu. Takut tiba-tiba mereka jantungan terus semaput," kelakar Tasya memegang pundak si bongsor ini untuk menjadi tumpuannya naik ke atas motor Tian.



Laju motor Tian membelah jalanan di siang hari, ia menaikan kecepatan membuat Tasya mengeratkan pelukannya di tubuh Tian, si Jupi MX telah sampai di sebuah perumahan lalu berhenti tepat di depan rumah cukup besar, mungkin seukuran dengan rumah Nara.


Baru berhenti saja, sesosok kecil berkucir dua berlari dari dalam rumah dan membuka pintu pagar besi dengan kepayahan, Tasya langsung berlari membantunya, "eh, kaya yang kuat aja!" tawanya melihat Ziya, bocah 4 tahun itu ingin menghambur menyerbu ia dan Tian.



"Tante Tasya!" serunya membawa boneka barbie.


__ADS_1


"Hay unyu-unyu! Asikkk punya bayi euy! Jadi mamah ceritanya ini teh?" Tasya berjongkok di depan Ziya meraih boneka Ziya dan mengusap layaknya mengelusi seorang bayi.



"Coba liat tante! Bisa nangis dia," Ziya memencet bagian dada boneka.



*Mama--mama*!


*Ea--Ea*!



"Ha-ha-ha!" keduanya tertawa, sementara Tian hanya melihat interaksi keduanya seraya menggeser pagar besi dengan sedikit bertenaga untuk memasukkan motor melewati kedua gadis lintas generasi itu.



"Aku juga mau beli ah! Mau minta sama om bongsor! Tapi pengen suaranya gini, *om duda---om duda*!" tawa Tasya membuat Tian ikut tertawa, "saravvv. Kebanyakan makan seblak jadi gitu!"



"Duda apa tante?" tanya Ziya kebingungan melemparkan tatapan bergantian pada Tian dan Tasya.



"Jangan di dengerin Ya, tante Tasya aga sedikit gila,"



Tasya tertawa, "kamu yang gila! Yu masuk yuk!" Tasya berdiri dan menggandeng Ziya masuk.



Tian tergelak puas, "boncel sama boncel nih lagi gandengan tangan!"



*Bughhh*!


Tasya memukul punggung Tian.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2