
Udah kaya rombongan touring entah rombongan keluarga jenazah, satu---dua--tiga, semua anak MIPA 3 pergi berboncengan ke rumah Nara persis mau demo buruh. Untungnya tak membawa bendera SPN.
Nara berbalut swetter rajut dan celana selutut duduk di sofa masih dengan keadaan badan yang lemas, menyisakan demam di badannya.
"Temen-temen jadi ke rumah?" tanya mama yang sengaja mengambil cuti untuk mengurus si bungsu.
"Jadi ma,"
Mama menempelkan punggung tangannya di leher Nara, "udah turun sih...Loh, Rama kemana? Udah pulang?"
"Lagi beli makanan ma, anak MIPA 3 pada rakus, kalo ngga ada makanan takut gigitin sofa," tawa Nara.
"Ngaco!"
Tak lama terdengar suara deru mesin motor Rama dari depan.
"Assalamu'alaikum," ia membawa serta dua kresek penuh makanan dan serbuk minuman untuk di seduh.
"Ya Allah, Rama...kenapa mesti repot-repot beli cemilan, di rumah juga ada," ucap mama mengerutkan dahinya melihat belanjaan Rama kaya mau ngasih makan anak kucing 50 ekor.
"Ngga apa-apa ma, soalnya anak MIPA 3 kalo makan udah kaya kuda lumping, omnivora! Disikat, dibabad abis!" jawab Rama duduk di samping Nara.
"Ya udah sini mama bikinin dulu, biar nanti tinggal dicampur es," mama mengulurkan tangannya meminta bungkusan serbuk minuman untuk diseduh.
"Eh, ma. Biar Rama aja yang bikin, ngga usah ngerepotin!" ujar Rama.
"Neng Nara mau dibikinin juga?" tanya Rama berkelakar.
"Mauuu," jawab Nara.
"Ah mau aja! Kalo nutricari 2500, kalo jasjuice 2000 aja, mau yang mana?" balas Rama.
"Kalo aku mau kamu boleh?" tanya Nara.
Ck, dorrr! Rama membuat gerakan menembak dirinya sendiri membuat Nara tergelak.
"Aku bikinin dulu ya,"
"Yang enak ya mang!"
"Siap!" jawabnya.
"Assalamu'alaikum! Nara oh Nara!"
"Mamaaa!"
Suara mesin motor yang beragam kaya paduan suara dimatikan oleh mereka.
"Itu motor paRam, udah menclok disini aja?! Mentang-mentang ngga sekolah!"
"Ram! Bini tua nih mau gerebek!" teriak Bayu.
"Ha-ha, njay.."
"Coba dibuka aja pagernya Wan, kayanya ngga dikunci," Vina berujar seraya mendorong pagar rumah Nara yang memang tak dikunci.
"Eh, ngga dikunci..." Vina mendorong pagar.
"Masukkk pak Eko!" Yusuf nyelonong duluan masuk melewati mereka.
"Si gebleg!" tawa Tasya.
Pintu rumah Nara terbuka memperlihatkan Rama, "maaf udah punya ijin dari rt rw setempat belum?" tanya Rama.
"Hahaha, si anjayy dikira mau minta sumbangan!"
"PaRam, mentang-mentang ngga sekolah, seharian udah stand by disini, pantesan kata ambu dari pagi udah pergi!" ujar Gilang.
Nara keluar dari dalam, saat terdengar suara berisik di teras rumah.
__ADS_1
"Mama! Ma, dedek kangen ma! Mama atit?"
"Jijay gue Cup ih!" Rifal memisahkan diri di dekat pagar karena masih memegang rokok yang mengepulkan asap.
"Eh, ada temen-temen Nara..."
"Assalamu'alaikum bu," imbuh mereka salim, Rifal segera mematikan rokoknya dengan menggerus puntung rokok menggunakan kaki beralas sepatu.
Yusuf menyingkirkan Dian yang berada di samping kanan, paling dekat dengan mama Nara dan langsung mengulurkan tangannya demi salim takzim pada mama Nara.
"Aduh, si cupid ih!" aduh Dian.
"Saya Yusuf bu, siswa paling soleh di MIPA 3!" wajah Yusuf langsung dicengkram Tian untuk menjauh, "muka lo cup---cup!"
"Ha-ha-ha! Cupid!"
"Yang sopan Cup, mama mertua gue nih!" ujar Rama.
Mama Nara tertawa renyah melihat keramaian teman sekelas Nara.
"Rame banget ya, masuk sini masuk! Jangan diluar lah, kaya orang minta sumbangan aja!" jawab mama Nara
"Muka lo cup, cocok !" tandas Vian.
"Sat! Eh---astagfirullahaldzim," umpat Yusuf.
Para perempuan sudah masuk duluan ke dalam rumah Nara, "ma...kesel ngga seharian di rumah, tadi pelajaran bu Neti susahnya minta ampun ih!"
"Hooh!"
"Kaki weh kaki, awas bau kaos kaki!" imbuh Andi saat para kaum adam menanggalkan sepatunya, Tama tertawa, "kamu *meren*! Kaos kakinya ganti 2 minggu sekali,"
Rifal dan Vian duduk di teras rumah karena sesekali mereka menyesap rokok, siswi perempuan berada di dalam, ada yang selonjoran ada pula yang diatas kursi mengobrol bersama.
Sementara sisa siswa lelaki seperti layaknya di kelas, kubu gamers di pojok kanan bersama toples cemilan dan obrolan seputar games yang tak dimengerti oleh sebagian lainnya, sementara kubu anak motor dekat dengan Rifal dan Rama membicarakan arena track dan spare part.
"Ram," Tian menggeser duduknya namun tak membuatnya menyudahi permainan, matanya tetap fokus pada layar ponsel tapi mulutnya berbicara, "si Zaidan ngajak gabung ke tim basket, katanya sih diminta kang Eza buat rekrut, mau narget Redbull minggu besok! Lumayan gede hadiahnya,"
Rama dan yang lain mengernyit, "bukannya basket kita cakep-cakep?"
"Mana ada, biasa aja ah! Gantengan juga gue!" jawab Rio.
"Bukan mukanya bahlul! Permainannya," jawab Tama membenarkan posisi kacamatanya.
"Makin butut, si Willy ngga bener jadi kaptennya, makin merosot prestasi---" tambah Tian kini sebelah tangannya mencomot ciki keju.
"Gaskeun Ram, siapa tau duitnya gede!" jawab Gilang.
"Keheula, kapan ?" tanya Rama.(Ntar dulu)
"Minggu depan babak penyisihan, lo masuk kapan, kita latihan barang sekali dua kali lah, buat setel'in formasi sama strategi!" jawab Tian.
"Kenapa-- kenapa?! PaRam sama om bongsor mau ikut basket?! Wah seru--seru kita dukung!" seru Mutia dari dalam.
"Yank, diijinin engga? Gue mah gimana bini!" jawab Rama, sontak saja Ridwan mendorong kepala Rama refleks, "si anjayy.."
"Ma, papa mau cari uang buat beli kazoot baru dedek! Boleh ya ma?" tanya Yusuf.
"Kimvrit," dengus Rifal terkekeh, "amit-amit punya anak kaya lo cup, emaknya salah ngidam,"
"Ngutang aja cup, ngutang kalo mau sepatu baru!" jawab Vina.
"Dasar emak-emak setan kredit," gumam Gilang.
__ADS_1
"Om Fal gitu, dedek mewek nih, minta su su bo hay nih! Ma, tante Vina ngajarin dedek ngutang, ma! Getok kepalanya pake palu hakim, ma."
Mereka tertawa, "Cupid ih! Mulutnya ngga disaring dulu!" sarkas Muti.
"Eh maaf yayang! Ngga sengaja itu mah refleks, gini kebanyakan gaul sama Rifal, Vian sama paRam!"
"Apaan lo," Vian mendorong punggung Yusuf.
Tasya menatap Tian, tatapan mereka bertemu dan saling bicara diantara suasana candaan MIPA 3.
Disaat yang lain sudah berlalu pulang duluan, Dian masih disana membantu si tuan rumah membereskan kekacauan yang telah MIPA 3 buat.
"Eh, ngga usah neng...biar mama aja sama bibi yang beresin," ucap mama Nara.
"Iya Di, ngga usah ih! Kasian kamu pulangnya ditinggal yang lain, ngangkot kan?" Nara menahan tangan Dian yang sudah merapikan gelas, bahkan ia membereskan sampah dan meraih sapu.
"Eh, ngga apa-apa Ra, ibu. Lagian aku ada yang anter kok," Dian tersenyum lebar menunjukkan dagunya ke teras dimana Rama masih bersama Gilang, Vina, Bayu, Ridwan, Mita dan Rika tapi ada seorang lagi disana.
"Siapa? Tama?" tembak Nara membuat anggukan kepala Dian malu-malu.
"Sama Tama?" Nara bertanya geli bin penasaran dengan berbisik.
"Iya.."
"Sejak kapan?" Nara memanjangkan lehernya mengintip sisa teman-teman yang masih ada.
"Baru deket doang sih Ra, kenalnya mah udah lama dari kelas satu...waktu kita pernah satu grup cerdas cermat...." jawab Dian.
"Cie, banyak yang cinlok!" kekeh Nara.
"Ikutin jejak kamu sama Rama!" tawa Dian.
"Semoga Tama cepet nembak deh!" do'a Nara.
"Aamiin,"
"Di, mau balik engga?" teriak Tama dari luar sudah memakai sepatu.
"Iya bentar!"
"Ra, kalo gitu aku pulang duluan ya. Sehat-sehat, biar bisa cepet masuk lagi!"
"Makasih Di,"
Suara Tasya beradu dengan angin jalanan dan deru mesin motor Tian, "kamu ikut Redbull League?" tangannya melingkar di pinggang Tian meski tak sampai bertaut.
Tian mengangguk, "iya. Do'ain menang ya. Biar bisa beliin kamu boneka segede badan kamu buat temen tidur!"
Tasya tertawa, "jangan atuh mahal. Mendingan uangnya ditabung buat kuliah, udah ngga sakit hati lagi kan?"
Tian tertawa, "ya engga lah. Makanya tawaran Zai diterima. Sambil nostalgiaan lah, siapa tau ketemu temen bekas di perbasi."
"Yakin?" Tasya memiringkan kepalanya, melihat Tian ragu penuh sorot khawatir, pasalnya ia pernah melihat Tian terpuruk, setidaknya dengan melihat teman-teman dulu apakah Tian tidak akan merasa down?
"Yakin, asal ada kamu. Kamu nonton ya...acaranya setiap pulanh sekolah kok...di Gor daerah Cikutra," Tian memegang tangan Tasya.
"Iya. Nanti aku ajak Nara," balasnya.
.
.
__ADS_1
.
.