
"Cie mama, udah bisa senyum lagi. Tadi aja udah kaya dunia paling kejam!" goda Muti. Nara duduk bersama yang lain.
Tanpa berkata, Mita dan Tasya menunjukkan cup pop mie menawari Nara.
"Mau!" angguk Nara.
"Ambil gih ma. Di tas aku masih ada!" balas Tasya. Tas gadis itu memang mirip kantong doraemon, yang selalu bisa memenuhi keinginan orang lain.
"Oke," jawab Nara kembali berdiri dan masuk kamar dimana Tasya tidur untuk mengambilnya.
"Awas ada foto pacar aku, Kim Taehyung ma, jangan diambil!" tawa Tasya.
Tian mendorong kepala Tasya pelan membuat gadis itu sewot, "njirrr ih! Si bongsor ngga mau diem!" salaknya.
"Kim Taehyung---Kim Taehyung, Kimchi meren!"
"Kim Taehyung versi MIPA 3 mah si Tian, Sya!" jawab Rio.
Vina sampai tersedak keripik pedas, "ha-ha-ha uhukkk---uhukkkk! Gelo ih!"
"Pedes!"
"Dih, jauhhhh! Ngga ada seujung kelingkingnya!" decih Tasya memutar bola matanya.
"Kim Taehyung teh saha?" tanya Rama.
Para kaum hawa kelas MIPA 3 sampai melotot dibuatnya, "masa papa ngga tau siapa Kim Taehyung? Pacar aku itu!" ujar Tasya.
"Masa? Padahal udah tunangan sama aku!" sahut Dian.
"Hey--hey, suami aku jangan ngaku-ngaku!" ucap Muti.
"Heuh, meni parebut si payung---tah si cupid masih jomblo!" ujar Rifal.
Mita sampai menjeda suapannya takut tersedak karena tertawa, kasian sekali Kim Taehyung pasti udah panas kuping digibahin MIPA 3.
"Kim Taehyunggg!!!!" teriak mereka bersamaan.
"Payung--payung!" desis mereka kembali.
Ponsel Rama bergetar, untung saja masih terdengar jelas di tengah huru-hara Kim Taehyung, belum lagi kelas lain yang ada disana ikut menyumbang kegaduhan dengan bernyanyi bersama disana. Ia beranjak melengos keluar untuk menerima panggilan telfon.
"Rama mau kemana??" tanya Nara yang baru kembali dari dapur menyeduh pop mie.
"Ngga tau, katanya keluar ngangkat telfon," jawab Vina acuh.
"Ta, nitip dulu jangan ada yang makan. Kalo ada yang berani makan dido'ain, matinya berdiri," kekeh Nara berseloroh.
"Naudzubillah, Ra amit-amit," Mita dan Rika mengetuk ngetuk tangan ke kepala dan meja, termasuk Yusuf.
Langkah Nara menyusul Rama keluar, senyum usilnya terbit, niatnya sih hendak mengagetkan Rama, namun malah ia sendiri yang terkejut mendengar obrolan Rama dengan si penelepon.
Alis Nara berkerut saat mendengar namanya disebut oleh Rama, bahkan gerakan tangan yang sudah siap mengejutkan pun ia urungkan.
"Sukses bang, hatur nuhun alias makasih banyak abang udah bantuin gue, tapi Nara ngga tau kan kalo abang bohong gue yang minta?" tanya Rama.
Nara dibuat melongo dengan pertanyaan itu, "oh---ternyata gitu!" gumamnya membatin.
Suara sandal jepit itu menghentak mendekati Rama bersamaan dengan Rama yang baru saja selesai berkoalisi.
__ADS_1
"Sayang..." ucapnya terkejut.
Gadis itu memandang dengan tatapan siap membunuh, wajahnya keruh tak bersahabat.
"Hemm, sekongkol!" Nara sudah membuat kepalan di tangannya, ia bahkan sudah meniup kepalan tangannya demi memberi pelajaran untuk Rama.
"Ra, tunggu !" Rama menghindar dengan memundurkan badannya seraya memasukkan ponsel ke dalan saku celana.
"Aku jelasin dulu!" tahannya saat Nara hampir saja mendaratkan kepalannya.
"Ngga perlu! Jahat ih!" manyunnya. Nara benar-benar mencoba mendekati Rama karena sejak tadi pemuda ini mundur menghindar. Tapi belum Nara membalas, Rama sudah tersandung batu yang membuat pemuda ini jatuh ke rerumputan.
Brukkk!
Ha-ha-ha, Nara malah tertawa, "kan--kan, makanya jangan ngehindar! Karmanya tuh," Nara mendekat dan menambahnya dengan pukulan-pukulan kecil yang tak berarti untuk Rama.
"Nih! Rasain nih! Kalian berdua jahat ih, yang adiknya tuh aku apa kamu!"
"Aww udah Ra, udah cukup oke aku salah," Rama menahan kedua tangan Nara dengan mudahnya, menghentikan pukulan-pukulan kecil Bara.
"Ah--kiss juga nih! Gemes," ucapnya bergumam.
"Abisnya masalah belum selesai kamu malah mau ngehindar, masalah ngga akan selesai kalo ngga diomongin Nara." Rama menaruh kedua tangannya di bawah kepala. Yap! Pemuda itu malah asik terlen tang di rumput berbantalkan tangannya sendiri, memandangi Nara bersama langit malam.
"Aku bukan mau ngehindar, cuma butuh waktu biar ngga libatin emosi, biar waktu ngomong sama kamu tuh pake kepala dingin." jawab Nara.
"Kalo gitu kepalanya tinggal masukkin ke kulkas kan gampang," kekeh Rama sukses membuatnya mencebik, "udah ah, mie aku keburu dingin--" Nara beranjak untuk masuk.
"Ih, mau kemana yank? Ini aku gimana, udah rebahan gini loh? Ngga mau liatin langit malam sama aku gitu?" teriak Rama.
"Enggak!" balas Nara.
"Rama---Willy---"
Tok--tok!
"Ra, makan dulu!"
Kelopak matanya dipaksa terbuka saat ketukan pintu dibarengi teriakan mama mengganggu tidur nyenyaknya, rupanya Nara tertidur barusan.
"Iya, Nara mandi dulu!" gadis itu masih diam dalam posisi yang sama, mengumpulkan terlebih dahulu nyawanya yang kelayapan bareng kupu-kupu, untung saja bukan kupu-kupu malam.
Hanya berselang 20 menit, Nara turun dari kamarnya dan ikut bergabung untuk makan.
__ADS_1
Matanya memicing saat melihat seseorang di sebrang meja, "dasar tukang boong!" ketus Nara sambil menyendokkan nasi ke atas piringnya. Akhsan tertawa renyah, "Lagian ngambeknya kaya bocah. Minta balik--emang dari sini ke Puncak deket? Mana sore-sore, mau nyampe jam berapa? Dipikir gue pake sapu terbang gitu?" balas Akhsan. Mama dan papa yang tidak tau duduk permasalahannya hanya bisa saling lempar tatapan tak mengerti.
"Ada apa sih ini, ngga ada satu hari aja, akur gitu?!"
"Yang adek lo tuh gue apa Rama sih bang?!" tanya Nara ketus, ia mulai mempertanyakan kebenaran akte kelahiran dan kartu keluarga, kali aja kan mereka bukan saudara kandung.
"*Hey, what happened*. Mama nanya loh ini?" ulang mama.
"Dia tuh ma! Makhluk itu, tukang boong!" ucap Nara sengit.
Akhsan membulatkan matanya disebut makhluk, "wah, sekate-kate. Seenak udel kalo ngomong! Kayanya minta digelitikin!" Akhsan sudah beranjak dari kursinya.
"Oh, berani yokk sini!" Nara menodongkan sendok dan garpu ke arah abangnya.
Papa hanya bisa tersenyum gemas melihat kedua anaknya bertengkar sayang.
Sementara mama yang merasa keduanya mirip bocah mulai bereaksi, "apa perlu mamah ambilin piso di dapur sama gunting rumput biar bisa lebih rame lagi berantemnya?" mama berkacak pinggang di depan putra-putrinya itu, membuat keduanya mendadak bersikap diam.
"Engga ma," keduanya mengatupkan mulut.
"Lo tuh!" Nara melotot tak berani bersuara.
"Lo!" tunjuk Akhsan tanpa bersuara.
"Astagfirullah!" bentak mama, keduanya benar-benar diam, hanya papa yang tertawa renyah disini.
.
.
.
Note :
\*saha : siapa
__ADS_1
\*meren : kalee.