Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
RAMA-NARA : ANAK CALEG


__ADS_3

"Assalamu'alaikum abah...."


sapa Nara, tangannya terulur bukan mau meminta makan atau jajan, melainkan hendak meraih telapak tangan Abah Haji, dimana jari-jarinha dipenuhi cincin batu akik beraneka warna persis pelangi, apalagi pada jari tengahnya yang tampak paling besar, mungkin hampir menyerupai biji jengkol. Gadis itu sempat ragu dan bergidik ngeri menimbang-nimbang jika sampai keningnya terantuk bukan tidak mungkin jidatnya itu akan benjol sebesar telur.


"Wa'alaikumsalam, eh! Ada calon mantu abah. Jangan salim dulu neng...tangan abah bau daging, nanti jidatmu bau amis," jawab abah menarik tangannya ke belakang.


Nara mengangguk setuju, setidaknya jidatnya aman dari musibah.


"A, kenapa atuh mantu abah dibawa ke pasar? Bukannya ditinggal aja di rumah," ucap Abah bersungut.


"Dianya sendiri yang mau ikut, biarin bah--- biar nanti terbiasa, kan calon istri harus tau kerjaan suami," kelakarnya.


"Istri---istri, sekolah dulu yang bener!" tukas abah.


"Punteun, ini teh a Rama bukan?" tanya seorang pria berumur sekitar 20 tahunan, berpakaian t-shirt rapi, ketiganya serempak menoleh padanya.


Rama mengangguk namun menatapnya penuh telisik, "iya betul, saya Rama. Kenapa a?"


Ia terlihat berwajah ceria, akhirnya bisa menemukan orang yang dicari-cari, tapi tak sangka saja jika orang yang disebutkan oleh pengelola pasar adalah anak sekolah.


"Bisa ngobrol sebentar ?" angguknya meminta ijin. Sejenak Rama menoleh pada Abah dan Nara bergantian, begitu abah menganggukkan kepalanya Rama pergi bersama laki-laki itu. Posisi mereka sedikit menjauh dari kios abah, mungkin yang dibutuhkan lelaki itu adalah privasi, sejak melengosnya Rama, mata abah dan Nara selalu memantau keduanya yang terlihat mengobrol santai disana, terkadang Rama mengangguk dan tersenyum tak jarang pula lelaki tadi melebarkan senyuman sepanjang obrolan.


Sekitar 15 menit keduanya mengobrol, Rama terlihat kembali namun si pria tadi membalikkan badannya menuju ke lain arah.


"Kenapa a?" tanya Abah penasaran.


"Itu bah, kayanya tim sukses salah satu calon legislatif, mau ijin nempel poster disini. Udah minta ijin sama pengelola disuruh ijin juga sama pedagang lain lewat Rama," jelas Rama, ia menjelaskan tapi tangannya tak mau diam...jika ada ungkapan panjang tangan, ya inilah contohnya, dengan seenaknya ia mencomot timun dari kios sayur, "nyungkeun teh!" dan dengan santainya ia memakan tanpa ada rasa bersalah meskipun pada akhirnya si teteh pedagang mempersilahkan dengan suka hati.


Nara tertawa melihat kelakuan Rama, "kamu ih! Main comot aja dagangan orang!"


"Si tetehnya aja bilang mangga a," jawabnya mengunyah timun.


"Ya gimana ngga mau mangga, orang timunnya udah kamu gigit duluan!" kelakuan orang kaya begini amat, dan si alnya itu adalah kekasihnya.


aku menatap nya dengan melotot " ihh kebiasaan..." ia hanya cengengesan sambil tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yg rapi dan putih sedang mengunyah timun.


"Nih," Rama menyodorkan kertas berfotokan calon pemimpin daerah berdasi yang siap mengemban tugas sebagai wakil rakyat di meja anggota dewan dengan mata berkantung, bukti lelahnya ia bertugas sehingga untuk tidur pun sulit hingga terkadang saat rapat paripurna sering tertidur.


"Apa?" kata Abah dengan polosnya.


"Kalo-kalo abah penasaran dan mau coblos," kata Rama.


"Aa kasih buat abah, gratis!!" semakin memajukan kertasnya.


Abah menerima, awalnya ia melihat foto caleg itu, "hah! Kasep'an abah!"


Nara sampai melipat bibirnya keras-keras demi menahan tawa.


"Nih, ah! Buat apa paling sama si ambu dibikin buat bungkus bala-bala!" tambah abah dengan wajah tak berdosa-nya, jangankan Nara, Rama saja anaknya sampai tertawa.

__ADS_1


"Ih, jangan gitu atuh bah! Se-ganteng-ganteng gini dipake bungkus gorengan," jawab Rama.


"Coba Nara liat bah?" lama-lama gadis itu penasaran juga dengan sosok yang kini sedang diributkan, sementara Rama memberikan setumpuk poster dan pamflet itu pada Milan dan Iko.


"Nih geulis," dengan senang hati abah memberikannya pada Nara. Alis gadis itu terangkat dengan begitu tinggi, matanya membulat.


"Ahh, kenal ini mah!" seru Nara menunjuk sosok berdasi di pamflet.


"Siapa Ra?" Rama ikut penasaran.


"Ini tuh ayahnya Kenzi, Ram!" jawab Nara menyerahkan itu pada Rama.


"Masa, seriusan?" seru Rama, dan Nara mengangguk pasti, sangat pasti karena ia pernah beberapa kali melihat ayah Kenzi saat mengantar jemput pemuda itu.


"A, tolong bilang sama kang Jajang, abah butuh 20 kg lagi buat hari ini. Nanti antarkan kesini, sama sekalian itu si Wawan bilangin jangan tidur aja, itu mobil abah tolong panasin nanti mau liat lokasi di Pangalengan," pinta Abah.


"Oke, siap bah laksanakan!"


"Ke RPH dulu ya, sekalian jalan ke tempat les?" Nara mengangguk setuju, ia ikut-ikut saja lagipula sebenarnya ia cukup jengah dengan belajar.


Rama menggeber motornya, "jam berapa sekarang?"


"Jam setengah dua," jawab Nara melihat jam tangan.


"Kayanya ngga akan keburu buat ke jagal dulu, langsung aja nganter kamu dulu--- baru ke RPH, takutnya kamu telat banget."


"Iya terserah aja, padahal tadinya aku pengen liat RPH punya abah," jawab Nara.


Nara menggeleng, "engga." Bahkan semua kegiatan Rama kini ia sukai, menurut Nara, Rama itu unik tidak seperti kebanyakan remaja pada umumnya, dia tidak pernah malu dengan semua yg dilakukannya dan membuat Nara selalu penasaran dengan semua tentangnya.


"Oh iya, baru ngeuh. Jaket kamu mana?" tanya Rama sebelum pergi.


"Tadi kesiram jus sama Mita," jawab Nara.


Rama melepaskan hoddie nya lalu memberikannya pada Nara, "dipake, dingin! Takut masuk angin," ucapnya lagi.


Nara menerimanya lalu memakainya meski sedikit tenggelam didalamnya membuat Rama tertawa kecil, "ngga apa-apa, bagus kok!" ucapnya.


____


"Jangan nakal. Kalo ada yang gangguin kamu panggil namaku 3 kali," ucapnya sedatar triplek. Justru itu membuat Nara tertawa.


"Kaya syaiton ya, kalo dipanggil gitu dateng 'ga ?" tanya Nara.


"Dateng dong! Kan panggilan hati," jawabnya.


"Ck, gombal lagi!" keduanya gersenyum penuh arti.


"Ya udah masuk, nanti kujemput!"

__ADS_1


"Siap bos!" Nara menghormat. Rama memberikan punggung tangannya, membuat Nara menurunkan tangannya, "apa nih, mau kasih uang jajan?!" tawanya berseloroh.


"Nanti, kalo udah halal!" kekehnya menjawab.


Nara mengerti maksudnya, sambil tersenyum ia meraih tangan Rama lalu mengecupnya


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...."


Nara berjalan setengah berlari hingga hilang dari pandangan di balik pintu masuk.


 ~~~~


"Hay Ra," Kenzi ternyata sudah duduk di tempatnya.


Nara yang baru masuk mengedarkan pandangan, mencari tempat duduk kosong lain selain di samping pemuda itu, tapi si al.... tak ada lagi selain di sebelah Kenzi.


"Hay," jawabnya malas


"Kamu kok telat?" tanya nya.


"Emang miss Rachel udah datang ya?" Kenzi mengangguk, "lagi ke ruangannya dulu."


Nara mengangguk-angguk, "iya, aku jalan dulu bareng Rama."


Seketika ekspresi Kenzi langsung berubah keruh, giginya menggertak, tangannya mengepal, dan wajahnya memerah menahan amarah, "Ra--"


"Sebenernya kamu sama Rama ada hubungan apa ?" tanya nya.


Nara menghela nafas demi menjawab pertanyaan Kenzi, "Rama itu pacarku." jawab Nara santai seraya mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya tak begitu peduli reaksi Kenzi.


Brakkk!


.


.


.


Noted :


*Nyungkeun: Minta


*Mangga: silahkan


*Kasep'an: ganteng'an


*Geulis: cantik

__ADS_1


*Bala-bala : bakwan


__ADS_2