
"Alhamdulillah udah baikan, mungkin bentar lagi udah boleh pulang. "
"Alhamdulillah, syukur kalo gitu."
Sudah 15 menit berlalu sejak obrolan mereka dan sinar matahari yg menyoroti bumi semakin terik, keringat Nara kembali mengucur membasahi wajahnya yang ayu, ia menolehkan kepalanya ke samping, melihat Rama yang justru lebih kepanasan dari Nara.
"Kenapa, panas ya?" tanya Rama. Memang tak dapat dipungkiri, kini badan Rama tak dapat lagi menghalau sinar matahari.
Pemuda ini menciptakan semilir angin menyejukkan wajahnya. Rama meniupkan angin langsung ke wajah Nara, tak ketinggalan ia juga mengelap keringat di dahi gadis-nya.
"Makasih," ucap Nara.
"Sama-sama...." senyumnya begitu meneduhkan lebih teduh ketimbang payung.
Sontak saja moment sweet itu menjadi tontonan para murid yang kelasnya berada dekat lapang, mereka tersenyum-senyum dan sesekali menyoraki tingkah gentle Rama,
"Ekhem! Citcuwiw!"
Bahkan guru yang mengajar pun sampai menegur mereka karena memicu keributan.
Nara hanya bisa meloloskan nafasnya lelah, mulai sekarang ia harus kuat iman dan mental, berpacaran dengan Rama mungkin akan membuat hari-harinya merona dan penuh debaran juga otaknya miring ke kiri. Jam pertama pelajaran sudah berbunyi, itu artinya hukuman mereka berakhir.
"Yu masuk," Rama meraih tangan Nara, mengajaknya masuk ke kelas.
"Cie! Gandengan biar ngga ilang!"
"Mau nyebrang ya pa?!"
Nara yang baru saja menjejakkan kakinya masuk ke dalam kelas mendadak melongo dan kebingungan saat dengan hebohnya MIPA 3 berebut menyalaminya sampai Rama saja tertinggal di belakang Nara.
"Selamat Nara!" ucap mereka satu satu.
"Selamat menempuh hidup bauu!"
"Selamat berpusing-pusing ria, Ra!"
"Selamat menerima takdir jadi emaknya MIPA 3, Ra!"
"Perhatian !!" teriak Rama yang menginterupsi di depan kelas. Bayu mengambil salah satu bangku dan menggusurnya ke depan agar Rama dapat menjadi perhatian, bahkan Tian sudah mengambil peci hitam milik Fajar dan memakaikannya di kepala Rama sedikit miring biar dikata kaya bung Karno. Oke- mungkin disini hanya Nara--Rama saja yang be gentle, mengakui hubungan benci jadi cinta, sementara yang lain? Masih ogah-ogahan padahal di belakang???
"Dasar koplak!" tawa mereka.
"Konco-konco! Arek-arek! Saderek saparakanca! Saudara seiman yang saya tidak banggakan, dan para penonton yang berbahaya!"
"Berbahagia go vlok ih!" tawa mereka kembali, Nara hanya bisa menepuk jidat dengan kelakuan Rama.
"Kemarin adalah tanggal jadian saya dan Nara, minta do'a restunya dari kawan-kawan semua, semoga hubungan kami langgeng sampai ke jenjang berikutnya." ucapnya somplak.
"Aamiin ya Allah!!!" jawab merrka kencang.
Nara hanya diam mematung memperhatikan tingkah absurd pemuda yang kini menjadi pacarnya itu.
"InsyaAllah sebagai tanda mata gue sama kalian, pulang sekolah gue traktir baso mas Nana.!!" pekik Rama.
"Assiikkkk !"ucap mereka semua , suasana kelas menjadi ricuh aku hanya tertawa sambil menutup telinga karena berisik, Gilang, Bayu dan Ridwan sampai berjoget-joget ria di depan.
Tapi tak lama aksi mereka harus dibubar paksa oleh guru yang masuk ke dalam kelas.
"Ada apa ini? Kaya abis hajatan?!" tanya bu Yati kebingungan.
"Ram kantin !" ajak teman-teman lain.
"Duluan aja!"
"Oke!" mereka memberikan jempol di udara.
"Ra, istirahat yuk! "ajak Mita.
"Boleh, ke kantin?" tanya Nara memasukkan buku ke dalam tas.
"Eh, harusnya kamu minta ijin sama gue Ta, Nara sekarang pacar gue!" ucap Rama.
"Dihhh posesif...." jawab Mita mencebik.
"Yuk, buruan! Mau engga?" kini Mita meraih tangan Nara dan menariknya, karena tarikan Mita yang tiba-tiba, lututnya sampai terantuk ke kaki meja, membuat Nara sedikit mengaduh, ia sampai lupa dengan lukanya tadi pagi.
"Eh, sorry--sorry. Sakit ngga? Kena apa?" tanya Mita refleks melongokkan kepalanya ke bawah lutut Nara.
"Ta, pelan-pelan atuh! Kena bangku yank?" ia pun ikut melihat ke arah lutut Nara, alisnya mengernyit melihat luka lecet di lutut Nara.
"Tunggu, ini kenapa ?" tanya Rama menarik Nara untuk duduk di bangku, lalu ia berjongkok dihadapannya.
"Jatoh tadi pas lari-lari karena telat," jawab Nara.
"Ya ampun, sampe jatoh-jatoh ngga liat jalan apa gimana?" tanya Mita.
__ADS_1
Nara memutus kontak mata Rama pada lukanya, "udah ah itu cuma luka dikit," gadis itu bangkit dari duduk.
"Ta, bisa minta tolong ambilin obat merah sama plester di UKS engga?" pinta Rama
"iya sebentar, gue ambil dulu ya," jawab Mita yang langsung keluar.
"Aduhh, ini cuma luka kecil doang Ram---meni kaya anak kecil aja harus di plesterin," dumelnya.
"Kamu diem!" pinta Rama meniupi luka di lutut Nara.
Hanya 10 menit saja Mita sudah kembali lagi.
"Nih Ram, ya udah kalo gitu gue sendiri aja ke kantinnya, mau nitip ngga Ra?" tanya Mita.
"Ngga usah, Ta." Nara menatap kepergian Mita, padahal perutnya sudah lapar karena tadi pagi hanya sarapan roti saja itu pun tak sempat ia habiskan karena terlambat.
Dengan telaten, Rama mengobati luka Nara, lalu menempelkan plester, "dah selesai, makanya hati-hati. Jangan lari-lari..." ucapnya seperti ayah yang menasihati anaknya.
"Aku tebak, tadi pagi kamu ngga sempet sarapan?" Nara hanya nyengir saja tanpa berkata.
"Tuh kan! Ya udah, kamu tunggu disini, aku beli makan dulu."
"Iya," Nara menatap punggung Rama yang semakin menjauh dan menghilang dari gawang pintu kelas, menyisakkan Nara seorang diri.
"Nara, baby!"
Nara tersentak dengan panggilan seseorang, saat sedang melihat plester yang terpasang menutupi lukanya. Entah kenapa, kehadiran mereka seolah tak Nara inginkan, seperti bayangan hitam yang selalu menghantui Nara kemanapun, bikin risih, bikin malas.
"Hay, " senyum kaku Nara dipaksakan.
"Jujur sama kita kalo lo ngga pacaran kan sama si preman itu?" cecar Inggrid mendesak. Nara terdiam tanpa mau menjawab, ia tau mereka pasti sudah tau dengan kejadian viral tadi pagi.
"Jawab Ra!" bentak Dea gemas juga melihat Nara hanya diam. Nara tersenyum miring melihat sifat Dea yang ternyata berani membentaknya.
"Lo ngga terima gue gara-gara lo suka sama dia, Ra? Apa gue salah?" tanya Willy menatap sayu namun rahangnya sudah mengeras, terlihat menahan kesal dan kecewa.
"Apa yang lo liat dari dia sih Ra? Kita sudah bilang, JAUHI MEREKA, Ra!" ucap Gibran memerintah.
"Mereka itu ngga baik buat lo,Ra---ya Tuhan, harus bilang apa lagi sih kita sama lo," ucap Dea frustasi.
Nara buka suara, "memang apa salahnya berteman sama teman kelas sendiri? Toh mereka baik sama aku selama ini, aku yang menjalani! Aku yang merasakan! Namanya Rama, bukan preman itu!" jawab Nara tanpa emosi atau meledak-ledak, karena percuma saja melawan--mereka seperti tak ingin kalah. Jadi Nara hanya berfikir logis, ia mengalah karena merasa paling bijak dan waras.
Dea meraih kedua bahu kurus Nara, "dia ngga baik buat lo bebs, Willy jauh lebih baik buat lo! Mereka bukan level nya kita."
"Level? Sejak kapan manusia punya level strata sosial, lagian kalian ngga tau kan dalem-dalemnya orang yang kalian judge? Semua itu sama di mata Allah," jawab Nara.
"Cukup bebs, baiknya lo segera akhiri hubungan lo sama dia deh, itu juga kalau lo masih mau temenan sama kita sih," ucap Inggrid mengancam. Nara mengangkat alisnya sebelah, bila itu terjadi Nara hanya bisa bersyukur telah dijauhkan dari orang-orang seperti mereka.
"Lo semua udah cukup ba cotnya?! Kalo gitu keluar dari sini sekarang! Sebelum gue acak-acak dan geret lo ke rumah sakit?!"
Kelima orang itu terjengkat kaget dan melihat Rama kembali bersama teman-temannya,
"Lang titip bentar takut tumpah!" ia menyerahkan semangkuk mie ayam dan segelas jeruk pada Gilang.
Merasa tertantang, Willy ikut beranjak, "jadi gara-gara lo, Nara nolak gue? Jauhi Nara !!!" ucap Willy menunjuk-nunjuk dada Rama, membuat si empunya melirik tangan Willy yang sedang berada di dadanya.
__ADS_1
"Oooo! Itu jari minta di kasiin ke kucing!" seru Rifal tertawa miring, bagi MIPA 3 geng Willy hanya anak ayam yang sering matokin jagung dari seekor elang, ngga ada apa-apanya.
Dengan tatapan tajam nan menusuk, Rama membalas Willy. Tak tau kenapa, Nara melihat seorang Rama yang berbeda sekarang, mungkin inilah sisi Rama yang lain, kok serem?! Nara mengernyit. Jujur saja penampilan Rama menipu, pantas saja pemuda sekelas Rifal, Gilang dan para pengamen dengan tatto seabrek itu tunduk pada Rama, atau jangan--jangan----
"Singkirin tangan loe! Bukannya lo udah kalah taruhan sama gue? Dan lo harus mengakui kekalahan loe. Buktikan kalo lo bukan ayam sayur, laki-laki itu yang dipegang omongannya!" Rama menepis tangan Willy.
"Bank sadh!" Willy menonjok rahang Rama membuat semua yang ada di kelas terhenyak kaget. Tak terima, Rama melawan balik hingga Willy tersungkur ke lantai, pukulan Rama begitu keras sampai sudut bibir Willy terluka.
Nara sontak berdiri dan beranjak ke arah kedua pemuda itu. Willy bangkit dan ingin membalas kembali namun ditahan Gibran, begitupun Rama yang ditahan Bayu. Dan Vian juga Yusuf sudah menengahi.
"Woyy--woyy udah! Jangan ribut disini!"
"Hey ih! Jangan berantem!" ucap Mutiara.
"Pukul gue Will! Barangkali lo belum puas dengan waktu yang lalu!" ucap Rama menatap tajam.
"Karena lo pantes dapetin itu Ram! Pengkhianat!" balas Willy tak kalah memekik sampai urat lehernya terlihat menonjol.
"Cukup!" teriak Nara.
"Kelakuan kalian tuh kaya anak kecil---" alis Nara menukik menatap Rama dan Willy bergantian.
"Lo keluar sekarang Will!" Nara benar-benar habis kesabaran.
Willy menatap Rama penuh kebencian, lalu berganti menatap Nara dengan sorot mata nyalang dan kecewa.
"Ra, kamu bakal nyesel udah nerima dia, kamu bakal tau dia siapa.."
Ditatapnya Willy yang keluar dari kelas MIPA 3 bersama yang lain, dengan tatapan getir, dapat Nara lihat mereka yang kini menaruh tak suka padanya, maka hubungan mereka akan semakin jauh setelah ini.
"Dahhhh! Nanti mampir lagi ya kalo mau berantem!" ujar Vian.
"Saravv om Vian!"
"Bubar--bubar! Gulat bebasnya udahan!" mereka kembali melanjutkan kegiatan istirahat yang sempat tertunda karena iklan adu otot.
Nara kembali duduk di bangkunya, dengan tatapan yang tak beralih sedetik pun dari pemuda yang kini sedang mengambil mie beserta jus jeruk di tangan Gilang.
Ia duduk di bangku Mita, dan menaruh makanan itu di meja.
"Kamu ngapain layanin dia---" desis Nara. Rama tersenyum dan merapikan rambutnya, diraihnya garpu untuk menggulung mie, menyodorkan gulungan mie itu di depan mulut Nara, tapi gadis itu masih bungkam.
"Ayo dong jangan marah, aaaa--- kapal terbang mau masuk nih!"
Nara membuka mulut dan melahapnya, matanya masih menatap Rama, meneliti keseluruhan wajah pemuda itu.
"Kenapa? Makin ganteng ya?" tanya nya tanpa dosa. Nara semakin menatap nyalang, diusapnya luka yang ada di dekat mata, tepatnya di tulang pipi.
"Kamu luka, kayanya Willy pake cincin jadinya luka goresan."
"Udah, aku ngga apa-apa sayang. Ini mah luka kecil," tambahnya lagi.
"Cowok tuh kenapa sih, kalo nyelesain masalah mesti pake otot, " tanya Nara kesal sambil mengelus-elus rahang dan pipi Rama, lalu bergantian menyuapi Rama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.