
Tasya sudah lebih dari sekali ke rumah Tian, terlebih kedua ibu mereka adalah teman satu SMA dulunya.
"Siapa Ya?"
"Nek, ada tante Tasya..." gadis kecil itu membawa Tasya masuk dengan berlari, jadinya gadis kesayangan Tian itu ikut berlari kecil.
"Ibu," sapa Tasya. Ziya melepaskan tautan tangannya dan berlari ke arah kamar dekat ruang tengah, entah apa yang akan ia ambil.
"Sya," mata yang dibingkai oleh kacamata itu menjatuhkan tatapan pada jam dinding, "eh, udah ashar gening! Baru pada pulang, darimana dulu?" (ternyata)
"Dari sekolah bu," Tasya mengulurkan tangannya demi menyalami ibu Tian. Tian menyusul masuk ke dalam setelah menutup pintu pagar.
"Assalamu'alaikum..."
Ibu menjawabnya pelan meski terlihat seperti berkomat-kamit, "wa'alaikumsalam."
"Sini atuh, pasti belum makan?" tawarnya sukses membuat Tasya tersenyum lebar, "ah ibu mah tau aja kalo calon menantu belum makan!" tawanya.
"Tante---ayo main ini! Tante yang ini!" rupanya keponakan Tian itu memberikan sebuah boneka lain, boneka gadis berkerudung pink.
"Ya, tantenya capek. Baru pulang sekolah, jangan langsung diajak main," jeda ibu Tian menegur Ziya yang di senyumi saja oleh Tasya membuat Ziya merengut, "main sama siapa atuh?!" manyunnya.
"Ngga apa-apa bu...sini, aku yang mana? Aku jadi si masha?" Tasya langsung duduk melantai dengan masih memakai kaos kakinya dan menggendong tas, menyambar boneka gadis berkerudung pink itu.
"Ya udah atuh, ibu tinggal ashar sebentar ya!" pamit ibu Tian diangguki Tasya.
"Ay, aku ganti baju dulu!" mungkin jika di rumah dan luaran saat berdua saja Tian akan berani memanggil Tasya dengan sebutan mesra, lain halnya jika di sekolah atau di depan teman-teman, mereka akan saling ejek.
Tasya menoleh dan mengangguk. Tian tersenyum singkat melihat kedua gadis itu duduk akur di atas karpet rumah sambil memegang boneka.
..."Kalau aku boleh egois, aku akan memaksa pada Tuhan, kalau kamu tercipta hanya untukku."...
Tian kembali melangkah menuju kamarnya.
"Ini namanya siapa?" tanya Tasya menunjuk boneka bayi lucu milik Ziya.
"Putli," jawab Ziya. Tasya mencebik, "ahh, ngga seru masa namanya pasaran, jangan putri lah, banyak teuing yang namanya putri---"
Bocah itu mengerutkan dahi, "siapa atuh?"
Tasya memutar bola matanya ke atah atas, "emmhhh---Marpuah!" jawabnya, Ziya tergelak puas dibalas Tasya, gelak tawa keduanya menghiasi rumah Tian.
Pemuda itu bahkan ikut terkekeh kecil di dalam kamar saat sedang mengganti seragamnya karena suara tawa keduanya membahana terdengar begitu menggemaskan, membuat siapapun yang mendengarnya ingin ikut tertawa, beberapa notif masuk ke dalam ponsel dan ia hanya meliriknya sekilas.
Ian, woy! Buru mabar!
Ian, masih ada satu slot buru!
__ADS_1
Tapi Tian tak mengindahkannya, mungkin hanya Tasya yang mampu mengalihkan jiwa maniak games Tian saat ini, karena gadis ini tak segan-segan mengambil ponsel Tian bahkan memarahi teman-teman seperti Andi dan Rio yang semakin memperparah jiwa maniak Tian. Ia begitu cinta game online sejak ia terpuruk dari dunia basket, semata-mata pengalihannya dari rasa kecewa dan jatuh selain dari keluarga MIPA 3.
Kilauan dari piala yang pernah diraihnya masih berjejer menghiasi atas lemari, piagam-piagam penghargaan beserta fotonya saat sedang bermain basket masih tertempel rapi di dinding, ia telah memaafkan masa lalu, dan menjadikannya kenangan indah tak terlupakan.
"Aduh," Tasya meringis menghentikkan tawanya seraya memegang bagian perutnya.
"Kenapa ateu?"
"Kenapa neng?" ibu yang baru keluar dari kamar ikut melihat reaksi Tasya barusan.
"Eh, engga bu."
"Lapar meren, yuk makan yuk! Tian mana, makan jangan di nanti-nanti, takut jadi penyakit.. Mama kerja?"
Tasya mengangguk, "iya bu, sekarang sering lembur, di rumah paling cuma ada bi Wening aja," jawab Tasya. Ibu Astri tersenyum, ia mengenal mama Tasya sejak SMA, wanita itu adalah pekerja keras, apalagi kini setelah menjadi single parent ialah yang mengambil alih peran ayah untuk mencari nafkah.
"Ya udah atuh, makan yuk! Laper itu mah, salatri!" Tasya terkekeh, "kayanya mah bukan bu, soalnya sekarang suka sering sakit bagian ini, kaya mau mens---"
"Ya, udah dulu mainnya ya, Ziya main dulu sendiri ya?" ia menoleh pada gadis kecil itu.
Tian keluar dari kamarnya, melihat Tasya sedang mengekori ibu ke arah dapur sambil bercanda dan mengobrol.
"Apa atuh, hati-hati diperiksain aja neng, takutnya kenapa--" imbuh ibu Tian seraya menyiapkan dua piring.
"Engga ah bu, takut!" gidik Tasya.
"Ih, do'anya mau aku sakit parah?!" Tasya menggerutu.
"Ya bukan gitu. Abisnya kamu mah bandel kalo dibilangin---dia nih bu, kalo jajan di sekolah, kuah baso belum merah kaya da rah, belum berenti kasih sambel, udah gitu minumnya mesti yang dingin, mana makan suka telat--" omel Tian di dengusi Tasya.
"Ih jangan atuh neng."
Ibu menaruh kedua piring itu di meja, membuat Tasya mengerutkan dahinya, "kok cuma 2, ibu sama Ziya mana?"
"Ya udah atuh neng dari tadi, ini mah bukan jamnya makan siang lagi, sok pada makan aja!" ucapnya tersenyum senang melihat Tian kini selalu tertawa semenjak kehadiran Tasya dan MIPA 3.
"Nih aku ambilin nasinya!" Tian sudah ingin menyendok nasi namun Tasya menahannya, "sama aku sendiri ah, kamu kalo nyendok nasi suka ngga kira-kira kaya mau ngasih makan gorila!"
"Segini?" tanya Tian menyendok satu centong full.
"Ih banyak-banyak teuing, kurangin!" ujar Tasya sewot.(banget)
"Allahu, ini teh sedikit Tasya, cuma secentong---masa si cupid aja kalo datang kesini sampe 3 centong baru dimakan, kadang suka nambah,"
"Jangan disamain sama si cupid, dia mah cu rut segala dimakan, rakus. Kurangin..."
Tian memang menguranginya tapi hanya beberapa butir saja dari centong, "ih! Yang bener atuh, itu mah ngga dikurangin!"
__ADS_1
Ziya sudah tertawa melihat perdebatan om dan kekasihnya itu.
"Udah, masa ngga keliatan?! Mata kamu weh merem. Ini teh udah porsi Ziya, iya Ya?" Tian meminta pembelaan dari Ziya, tentu saja bocah itu hanya mengangguk tanpa tau duduk permasalahannya.
"Bo do ih!" Tasya tertawa mendorong pelan bahu Tian.
"Minta pembelaan sama anak kecil, udah cepet kurangin! Pinta Tasya, bukannya dikurangi Tian malah dengan sengaja menumpahkannya di piring Tasya, "yah, ay---ngga sengaja!" ia tertawa.
"Ih, kamu mah bo do ih! Mana piring aku udah di sayurin!" omel Tasya memukul lengan pemuda ini membuat Tian tergelak seraya menghindar dengan masih memegang centong nasi. Ibu Tian menggelengkan kepalanya ikut mesem-mesem sendiri melihat kelakuan dua muda-mudi yang sedang berantem manja.
Lain hal Tian dan Tasya, maka lain pula Nara.
"This is nanny, panggil suster Ramadhan!" diantara rasa pusing dan demam Nara tak bisa untuk tak tertawa, mendapatkan nanny yang konyol.
"Ngapain juga mama nyuruh kamu yang rawat ih! Pake percaya sama laki-laki yang bukan muhrim," ujar Nara.
"Udah terima aja yank, yuk makan--terus makan obat terus bobo ya, aku kelonin!"
Rama menerima sepiring nasi dengan sayur sop dan teman lauk lain, "cepet yank---pesawat mau masuk, aaaa!" sesekali ia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya juga karena nunggu pasien ngunyah lamanya naudzubillah.
Rama bak suster profesional, bahkan sampai Nara tertidur dan kembali terbangun ia setia memegang amanah mama Nara.
"Ram, maafin aku!" Nara menghambur mengingat kejadian hari ini, hari sebelumnya dan esok hari. Rama menautkan alisnya, "kamu makin sakit yank? Perlu kubawa ke dokter? Tiba-tiba nangis gini?"
"Kamu jadi sering kena masalah waktu pacaran sama aku, pertama Willy, sekarang Kenzi. Kamu lagi bohong sama aku kan? Kamu tuh bukan ijin tapi diskors?"
Rama diam, ia mengulas senyuman, "maafin aku udah boong, aku cuma ngga mau kamu kepikiran---bener kan dugaanku, kamu mikirnya gitu. Aku ngga apa-apa, asal kamu percaya kita baik-baik aja, aku ngga masalah. Jangan tinggalin aku,"
Nara menyeka air matanya dan menggeleng cepat, "tetaplah menjadi Ramadhan, kalo aku boleh egois...aku mau semua! Semua yang ada di diri kamu cuma buatku sendiri. Jangan pergi, tetaplah disini bersamaku."
Rama tersenyum hangat dan mengusap pipi Nara lembut, "Semua? Sama isian perutnya juga?" tanya Rama, membuat Nara tertawa.
"Beuhhh, berasa jadi jam dinding!" keduanya menoleh ke arah sumber suara dimana Akhsan baru saja pulang.
"Aku ke toilet dulu ah!" Nara beranjak.
"Itu mobil siapa di depan?" tanya Akhsan.
"Keren, kaya berasa apal gitu platnya!" cibir Akhsan.
.
.
.
.
__ADS_1
.