Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)
CUPID---MUTI : DEN AGAS


__ADS_3

Yusuf Auriga Bagaspati, pemuda itu menanggalkan sepatu, tas begitu saja lalu melangkah ke arah dapur, menarik handle kulkas.


Yang dicarinya adalah botol kaleng soda lalu meneguknya hingga tenggorokan terasa ketir dan perih.


"Den Agas, kata ibu sama bapak disuruh jangan keluar dulu...malem nanti ada pertemuan sama rekan bisnis bapak," ujar asisten ayahnya. Ia memutar bola mata jengah, bisnis...bisnis...dan bisnis...tak bisakah ia hidup bebas menjadi seperti yang dia mau?! Jika diukur, bukan Ramadhan lah anak terkaya di MIPA 3, bukan pula Tian ataupun Rifal melainkan den Agas, tapi ia seolah menyembunyikan identitasnya dari semua teman termasuk MIPA 3, karena baginya kekayaan sungguh memuakkan, ia tak bisa menjadi dirinya sendiri, banyak orang bermuka dua yang ingin berteman hanya karena ia adalah orang berada, setidaknya begitu yang ia dapatkan dulu.


Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai memang akan tercium juga, peribahasa itu benar adanya...meski ia sudah menutup rapat semua identitas diri nyatanya Rama tau jika ia seorang anak pebisnis, tentunya selain dari Gifaril teman sebangku Yusuf.


Bersama MIPA 3 ia merasa dihargai meski ujung-ujungnya selalu jadi bahan bullyan, tapi ia tau bullyan mereka adalah bentuk rasa penghargaan. MIPA 3 tak peduli siapa dirinya, mereka menerima cupid apa adanya.


Yusuf menjatuhkan pan tat nya di atas kursi berputar di depan meja dengan laptop dan buku-buku tersusun rapi, di usia muda begini ia sudah dicekoki dengan buku management dan bisnis. Sungguh ia tak suka, bukan passionnya.


Tok--tok--tok!


"Den Agas,"


"Makan siang udah di meja,"


"Iya bi! Biar aja nanti saya turun.."


Ditatapnya frame foto di meja belajarnya, dimana wajah-wajah anak kelas MIPA 3 terpampang nyata seperti kawanan meerkat saat di puncak. Ada satu wajah yang selalu dipandangnya, gadis manis nan manja, Mutiara Nindya Kamaratih.


Sampai saat ini ia belum berani secara gamblang menyatakan perasaannya pada si bendahara kelas, kenawhy? Karena inilah jawabannya, bagaimana jika Muti tau Cupid adalah Yusuf Auriga Bagaspati, apakah gadis itu akan tetap menerimanya? Muti adalah sosok gadis yang simple, tak macam-macam, ia lebih menyukai Cupid ketimbang anak-anak hedon. Ditambah.....


Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel yang biasa ia pakai di sekolah.


Cup, topi kamu ketinggalan...tadi si mamah beres-beres ruang tamu.


Ia menyunggingkan senyuman miringnya, saban malem nyatronin rumah Muti cuma buat bilang selamat bobo, memang dasar anak gedongan gila.


Oke, yank! Nanti aku ke rumah, bawain sate ayam...


Jangan malam ini Cup, mas Indra mau kesini, ketemu mama sama papa 😔


Tangannya mengepal kuat, mendengar nama Lettu Indra. Adalah seorang tentara negri yang dijodohkan dengan Mutia, dijodohkan? Bukankah Mutia masih muda? Sementara ini begitu, menunggu hingga Mutia berusia 21 tahun, itu artinya hanya tinggal 4 sampai 5 tahun ke depan Mutia akan menjadi milik orang.


Hey, jangan nekuk gitu mukanya. Smile...kalo ngga bisa nanti malem, besok subuh aku ke rumah.


Mau ngapain subuh-subuh?


Kalo bilang ngeronda kesiangan, kalo bilang mau jemput kepagian, yang aman mau ngajak solat subuh berjama'ah😁


🍃🍃🍃


Mutiara tertawa renyah di kamarnya melihat balasan Yusuf. Bungsunya MIPA 3 ini memang pengganggu, pengacau suasana, oon, usil, konyol, tapi Mutia menyukainya. Yeahh! Mutia menyukai Yusuf, siapa yang tak luluh oleh sikapnya yang penggombal ulung, konyol dan selalu mengganggu namun begitu perhatian. Tapi sayangnya hingga detik ini Cupid tak pernah bertanya, Mut...mau ngga kamu jadi pacar aku? Muti tak mengerti, apakah Cupid hanya memberikan harapan palsu saja untuknya? Ia butuh kepastian.


Ditatapnya topi tanpa tulisan apapun, namun satu yang ia tak mengerti ada logo merk ternama di balik topi, "ini Under Armour asli kayanya, setau gue gitu...punya a Pian juga gini," gumam Muti.



Yusuf merapikan jas miliknya, tak ia kancing. Rambut yang biasa ia acak kini tersisir rapi klimis hasil dari pomade'an.

__ADS_1



"Agas, cepet turun!" pekik mama dari lantai bawah. Yusuf menghembuskan nafas lelah merasa jadi boneka orangtua.



"Ma, pa..Agas ngga ikut dulu deh kali ini..." keluhnya.



"Harus Gas, kalo bukan Agas yang membiasakan diri mau sama siapa tahta papa turun? Lumayan buat tau siapa rekanan bisnis dan gimana dunia bisnis," selalu itu yang menjadi alasan papa untuk memaksa Yusuf.



"Ma, Agas mau daftar akmil..." celetuknya.



Alis kedua orangtuanya terangkat setinggi angkasa, lantas mama tertawa, "ngga usah ngaco! Tentara gaji nya berapa sih? Jadi tentara itu cuma cita-cita anak kecil, lagian nanti siapa yang mau nerusin bisnis papa kalo bukan kamu?" ujarnya penuh ejekan.



"Ma," tegur Yusuf tak setuju.



"Udah--udah!" seru papa menengahi.




Hanya haha---hihi seraya ngobrol dunia yang tak membuat Yusuf tertarik, sepertinya keluarganya memang bukan tipe keluarga yang menganut sistem demokrasi sejak dulu. Papa senantiasa mengenalkan dirinya pada rekan-rekan bisnis seperti ia adalah barang dagangan, atau papa memang sedang promosi penerus tahta kerajaan bisnisnya?



"Wah percayalah! Anak mas Brama pasti kaya bapaknya, humble, pinter bisnis...nanti rencana kuliah dimana? Ambil luar negri atau lokal?"



Yusuf hanya tersenyum tipis tak menanggapi, sementara papa dan mamanya seolah-olah membanggakan dirinya yang akan mengambil fakultas di luar negri seakan sedang bicara pada dunia kalau penerus presiden BRAMA group pasti lulusan universitas terbaik di luar sana.



Yusuf lebih memilih memisahkan diri dari keramaian, ia duduk di kursi taman belakang sebuah hotel, ditatapnya ponsel yang kini ramai oleh chat absurd dari MIPA 3, setidaknya itu bisa menghibur dirinya di kala suntuk begini.



Beberapa chat Mutiara yang ikut nimbrung menjadi perhatiannya, belum lagi teman-teman minus akhlak yang menanyakan keberadaan dirinya.



Yusuf mengingat ucapan Mutiara minggu lalu,

__ADS_1



*Mama, mau aku nikah sama mas Indra..katanya masa depan dia gemilang, dapet jaminan negara, terhormat sebagai abdi negara...bikin bangga*,



Yusuf menghembuskan nafasnya panjang nan lelah. Iseng-iseng ia membuka mesin pencarian di ponsel dan mengetik....



**Syarat pendaftaran akmil**....



Bola matanya bergerak membaca dan mencermati setiap kata yang tertera disana.



"Asik nih, suasana baru! Bosen gue sama bisnis ngga masuk di hati dan otak!" gumamnya, ia bahkan sudah menanggalkan jas dan menaruhnya teronggok begitu saja di samping.



*Cup, where are you*?!



*Kucing tetangga gue nyariin lo cup*,



*Jahatnya om bongsor*,



Yusuf tertawa atas kelakar kawan-kawannya.



*Ma! ! papa....liat om bongsor...jahat sama dedek ma, dedek nangis guling-guling nih di kolam kemak siatan*!



*Saravvv*!



Baru saja ia tertawa atas kelakarnya dan kawan-kawan dalam grup whatsapp, om Nasrul asisten papa menghampirinya, "den Agas..bapak nyariin..."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2