
Tautan tangannya mengerat di perut Yusuf, "kamu ngapain janji gitu ke papa, itu berat cup!" ia menumpukan dagunya di pundak Yusuf, harum aroma maskulin tercium begitu kuat...bukan parfum-parfum murah yang biasa dipakai anak-anak tanggung lainnya, ini berbeda...wanginya itu, berkelas bikin Mutia mabuk kepayang nan nyaman.
"Kita ngga pernah tau gimana masa depan, tapi do'ain aja aku sukses. Kita jalanin sama-sama, semoga ke depannya jalan kita mulus buat bareng-bareng..."
"Aamiin, kamu mau dagang atau usaha apa? 4 tahun itu bukan waktu lama buat usaha loh!" dalam pikirannya, Yusuf memang anak biasa-biasa saja bukan terlahir dari kalangan jetset.
"Atau justru..." Mutia menegakkan badannya, "kamu mau daftar ABRI? Berat cup?!"
Yusuf menyeringai, "ngga usah kamu pikirin sekarang....kita nikmatin aja masa muda kita, masih lama..." balasnya menggeber motornya saat jalanan di depan lengang.
****
"Minggu depan kamu ultah, yank! Mau kubeliin apa?" tanya Yusuf menggandeng tangan Mutia.
"Cup, ngga usah ngerepotin! Beneran deh, kamu kan ngga kerja, cuma ngandelin uang jajan dari orangtua, jadi...ngga usah, aku ngga minta apa-apa," jawab Mutia. Ucapan Mutia tidak sepenuhnya salah, ia memang mengandalkan uang jajan yang diberikan kedua orangtuanya, tapi cukup bahkan jika ia meminta tas jutaan pun Yusuf mampu belikan.
"Masa aku ngga beliin apa-apa yank? Ngga romantis amat! Beliin boneka yang suaranya oeek--oeekk mau ngga? Atau justru yang aslinya?" tanya Yusuf, sontak membuat gadis ini memukul lengannya keras, "idih!"
"Aku cuma minta dikasih sehat, bisa ketawa-ketiwi bareng MIPA 3, bisa selalu bareng kamu...udah itu aja!" jawab Mutia simple, ternyata sikap matrealistis Mutia di kelas hanyalah candaannya saja bersama siswi lain, tapi nyatanya gadis ini tidak begitu, yang ia mau dan butuhkan saat ini hanyalah menikmati masa muda bersama teman-teman dan Yusuf, gejolak masa muda yang harus ia warnai dengan moment-moment manis.
Yusuf menatap Mutia dalam, menangkup wajahnya dan menyentuhkan kedua ujung hidung mereka, "baiknya ibu bendahara kelas MIPA 3, kalo gitu kubeliin permen kiloan itu!" tunjuk Yusuf ke arah dimana gerai yang memajang bermacam permen dan coklat dalam etalase.
"Mauuu!" serunya. Sepanjang jalan-jalan mereka, Muti terkadang menunjuk beberapa barang yang dianggapnya menarik dan bicara mengenai kelebihan, entah itu karena sedang viral atau memang para anak gadis menginginkannya.
Yusuf mengangguk, sesekali ia mengetik pesan di ponselnya,
🍃Om Nasrul, toko sweetheart warmer, boneka beruang merah muda price tag 125.000
🍃Om Nasrul, toko Ahjusi, tas ransel kecil bahan kulit putih, price tag 240.000
"Ayang mut-mut! Kalo mau jajan di kantin bilang aja sama si ibu kantin nanti aku yang bayar! Bilang aja dedek ucup!" teriak Yusuf di jam istirahat, sepertinya ia memang gemar bicara berteriak mirip tarzan kota atau lebih tepatnya bicara pada orang dengan gangguan pendengaran, biar apa cobak? Biar teman sekelas tau obrolan mereka.
"Anjayyyy, dede ucup...mamah dede kaleee...."
"Dede Lestoyyy!"
"Hahahaha!"
"Lo Riski biliard'nya!" decak Yusuf.
"Alaahh, paling disuruh ngutang Mut..apaan cowok kaya gitu mah buang aja ke laut, biar jadi ganjelan tambak udang! Jangan mau sama si cupid, mut...ujungnya bikin malu, duh...." ujar Rio, Tian dan Tasya kini hanya cengengesan saja pasalnya mereka tak tau kebenaran Yusuf.
"Yoi, so so'an mau jajanin, ujungnya nge-bon, muka kresekin cup! Lagian lo doyan amat gombal sana sini, modal kagak ada! Ncup---ncup!"
"Ma--pa! Timpuk om Onde sama om Fajar pa, pake batu pondasi kalo bisa! Dede terdzolimi disini," balasnya.
__ADS_1
"Jangan gitu, siapa tau rejeki cupid melimpah abis ini...nemu duit sekoper terus jadi milyarder!" bela Dian.
"Alhamdulillah tante Di, belain dede...makasih tante, ntar gue kasih ciki!"
"Ha-ha-ha anjay ciki."
"Nemu duit sekoper cup, tapi besoknya lo ketabrak soang sampe struk sebelah!" tawa Rio.
"Amit-amit ih!"
Nara sampai tersedak minumnya, "tumbal itu mah, ya Allah..."
"Tuh liat ma, dede di dzolimi se-rt cobak! Ayank kamu tetep percaya sama aku kan yank, kalo kamu bakalan bahagia sama aku!" paksanya pada Muti.
Gadis itu mendorong jidat pemuda ini, "lebay ah! Awas aku mau jajan dulu,"
"Cup buru!" ajak Rama, "warung babeh ngga?!"
"Tahan---tahan si cupid jangan suruh keluar!" Ridwan, Bayu dan Rifal mendorong bangku Tian seraya tertawa.
"Emang anjirrr boga temen!" geram Yusuf setengah tertawa.
"Ampun gue mah, dah ah! Sya, buruan ke kantin ah!" ajak Mutia terkadang pusing sendiri dengan kelakuan pacarnya dan keluarga MIPA 3.
"Ayankkk, jangan lupa! Bilang aja ke ibu kantin!" teriak Yusuf.
"Ram, jangan lupa!" Yusuf menyedot teh botol dingin miliknya.
"Apaan sih, apa a?" tanya Gilang.
"Sip! Gue siangan lah ke rumah lo...Lang, Bay, Wan, bantuin gue ntar...dikasih buat rokok lah dari cupid," jawab Rama kalem menyendok mie goreng miliknya seraya bergantian sibuk memainkan stick playstation.
"Gue MU ahh!"
"Oke, kalo gitu gue Madrid.." jawab Ridwan.
__ADS_1
"Ngapain a?"
Tian menggelengkan kepalanya, "ntar lo semua siap-siap nyediain obat jantung, obat sesek nafas...!" balasnya menyeringai.
"Ngapain bong? Gue ngga bengek, ngga lemah jantung juga?" tanya Andy.
"Iyee, lo lemah iman!" balas cupid mencomot tahu isi.
"Ha-ha-ha saravv njirrr!"
Rama datang bersama trio cs'nya, awalnya Gilang, Ridwan dan Bayu tak percaya apa yang dilihatnya, tapi saat si asisten rumah tangga dan foto yang terpajang menyadarkan mereka jika cupid yang selama ini mereka kenal adalah anak-anak dari kalangan biasa ternyata adalah si empunya rumah gedongan, mereka cukup jantungan.
"PaRam katanya ngajakin makan buat ngerayain ultah si cimut, tapi kok ini mah malah masuk perumahan elite! Ini kita dikerjain apa gimana sih?" tanya Mery berulang kali melirik ponsel dan men-zoom shareloc yang dikirim Rama.
Tian yang memandu mereka berujar mendesak, "buru, beneran! Gue tunjukin tempatnya!"
"Udah ngga usah banyak ngobrol, mau pada makan gratis ngga?!" tanya Tasya.
"Si om Fal mana?!" tanya Rio.
"Ngajakin si k-pop dulu katanya!"
"Ellah, yang kesemsem cewek k-pop, bentar lagi cowok garang berubah jadi garang asem!" omel Andy.
"Onde, sirik aja! Gitu tuh ciri-ciri jomblo akut mah!" tawa Fajar.
"Ini, cuma kita doang? Si cupid mana? Mama sama papa udah di tkp?" tanya Dian.
"Udah, yu cepet lah!" Tama kembali menstaterkan motornya setelah mereka sempat berhenti hanya untuk berdebat masalah lokasi dan tujuan.
Mutiara baru saja selesai menghadap bu Hilda demi laporan keuangan dan menyerahkan uang kas untuk pembelian atk kelas.
"Yuk! Udah beres kan?" ajak Yusuf.
"Udah, tapi ini beneran kan cuma makan-makan doang, jangan diusilin lah, aku ngga bawa bekel baju!" ujarnya sudah tak enak hati, tradisi MIPA 3 adalah disiram air, terigu dan telur jika ada penghuninya yang berulang tahun.
.
.
.
.
__ADS_1