
"Nara?!"
"Nara, ya Allah," Vina yang sebelumnya asyik menjelaskan di barisan depan paling menempel dengan Kenzi, ikut menoleh ke belakang melihat Nara terjatuh.
"Awas---awas temen gue nih!" Vina mendorong Kenzi ke samping hingga membuat Kenzi hampir tersungkur. Baik Nara ataupun yang lain sampai mengulum bibirnya ingin tertawa melihat gerak refleks Vina, gadis itu memang berbakat sebagai pengusir hama wereng.
"Aduh Vin, kayanya gue ngga bisa lanjut nemenin Kenzi. Titip temen gue ya, gue ke uks aja lah atau ngga ke kelas aja sama Tasya. Ini kayanya ber darah berliter-liter!" timpal Nara.
"Sue njay, gimana ceritanya cuma ketoel batu bisa ngeluarin da rah seember," cibir Rika pelan seraya mengulum bibirnya, sementara yang lain tertawa renyah. Virus absurd Rama nular juga ke Nara.
"It's oke Ra, gue ngerti ngga apa-apa. Loe tenang aja Kenzi pasti tau kok semua seluk beluk sekolah kalo sama MIPA 3 mah beres, sampe sarang semut aja dia bakalan tau," angguk Rika.
"Ken, sorry ya! Kayanya gue ga bisa nemenin lo keliling sekolah biar yang lain aja..."
Tasya membantu Nara untuk kembali, "yuu Ra!"
"Tapi Ra---gue bantu lo ya?" Kenzi hendak melangkah menyusul namun Rika dan Mita dengan sigap menghalangi, "ko--koko ngga perlu repot-repot, masa anak baru udah dikerjain...pake disuruh anterin Nara, udah dilanjut lagi yuk kelilingnya, biar Nara sama Tasya aja!"
Tasya dan Nara dengan segera berjalan menjauh dari mereka hingga persimpangan lab. Bahasa keduanya berhenti, seraya sesekali melongokkan kepala dari balik tembok lab, melihat wajah tak ikhlas dan memelas Kenzi yang sesekali berbalik memutar.
Diantara sisa-sisa jam istirahat, keduanya menyandarkan tubuh di tembok samping pintu lab. yang terkunci seraya menghembuskan nafas lega, "gila--susah jadi cewek cantik ya ma, banyak fansnya?!" kekeh Tasya, ia kemudian melihat jam di tangan, "masih ada 15 menit lo ma, mau ngapain kita nih? Eh iya, itu lutut lo ngga apa-apa, ma?" Nara menggeleng, "cuma kecium pasir sama batu doang."
Nara menoleh pada Tasya, "susah---kaya dikejar-kejar kreditan surpet," tapi sedetik kemudian kedua gadis ini tergelak bersama.
"Njayy banget, baru kali ini mati-matian buat jauhin cowok ganteng!" ujar Tasya jumawa, gadis chubby nan manis yang tubuhnya memang dibawah tinggi badan Nara, benar saja yang sering Tian katakan jika Tasya mungil lebih mirip boncel---karena dibandingkan badan Tian yang bongsor Tasya seperti adik bungsunya.
"Ganteng tapi punya penyakit. Setau gue ngga tau bipolar atau kepribadian ganda gitu lah. Ngga ngerti deh," kini keduanya berjalan menuju kelas.
"Masaa! Seriusan? Bipolar beda sama kepribadian ganda kan?" mata bolanya membulat sempurna, diangguki Nara, "sempet denger kata temen-temen bimbel lain waktu dia pernah ngga masuk bimbel lama, itu pun yang bilang temen bimbel yang ternyata tetangganya, tapi ngga tau bener apa engga sih---gue ngga bakat ngomongin orang," jelas Nara.
"Serem dong ma, hati-hati--- biasanya kalo yang kaya gitu suka nekat," keduanya berbelok lantas kembali bersembunyi dan terdiam sejenak saat rombongan touring berpapasan di depan koridor.
__ADS_1
"Kenzi!" Keduanya buru-buru masuk ke dalam ruangan IPS 2, "Jon! Ikut ngumpet bentar!" teriak Tasya diangguki Joni, "sip! Siapa Sya, si Tian?"
Tasya menggeleng, "bukan! Ko lor ijo," kelakarnya.
"Njirr, ko lor ijo emang doyan bocil Sya," tawa Selly, Nara dapat melihat jika anak MIPA 3 memang berkawan baik dengan hampir semua siswa di sekolah mungkin karena saat kelas X mereka sempat bersama. Setelah dirasa keadaan sudah aman keduanya keluar.
"Kenapa ngga laporan sama paRam aja si Ra? Yang lain juga bantuin kok, biar ngga kaya gini tiap hari?! Jadinya kan berasa kaya buronan," ujar Tasya.
"Rama sebenernya udah tau Kenzi, dia juga sempet marah kemaren. Tapi kayanya kalo sekarang terlalu dini buat bilang Kenzi keterlaluan, kita liat aja nanti, lagian gue takut..." balas Nara.
"Takut apa? Kan sekarang paRam cowok lo ma,"
"Udah sering dia kena masalah, kemaren aja sampe babak belur sama Willy, gue ngga mau sampe nanti Rama kenapa-napa, apalagi ini sama orang kaya Kenzi."
"Ih, kok gue ngeri ya Ra, tapi kalo menurut gue sih, cepat atau lambat lo mesti cerita sama yang lain juga---khususnya sama paRam," jawab Tasya, tak terasa langkah mereka sudah mendekati kelas.
"Iya, nanti gue pasti cerita." Kedua gadis ini sudah sampai di kelas yang ternyata baru ada Tama, Rio dan beberapanya.
"Loh, tumben cuma ber-2?" tanya Rio, Tian ikut mendongak melihat kedatangan Tasya dan Nara.
"Koko siapa? Koko krunch?" tanya Tian bereaksi.
"Alahhh panas---panas!" goda Yusuf mengompori.
"Koko Kenzi di kelas MIPA 2 ya kan ma?! Ganteng kaya personel boys over flower!" entah sengaja atau memang kelewat jujur kalimat Tasya ini memancing reaksi berlebihan dari Tian bahkan gadis ini malah sedang bernyanyi soundtrack film hits pada jamannya itu, Tian bangkit dari kursi kasar lalu mengangkat tubuh Tasya dan memutar-mutarnya di depan kelas. "Raksasaaaa ihhh!" teriaknya menjerit-jerit memenuhi ruang kelas.
"Nah--nah kan! Aa cemburu neng!" goda Yusuf membuat mereka yang ada di kelas tertawa-tawa tingkah keduanya.
"Anggap aja komedi puter Sya," sahut Tama.
Suara beberapa siswa lain memasuki kelas, mereka adalah Rama cs.
__ADS_1
Melihat Nara yang sedang membersihkan luka di lutut membuat Rama menyipitkan mata, "Ra, kenapa? Jatoh apa gimana?!"
"Tah pa, hukum mama, pa! Abis kenalan sama cowok lain!" adu Yusuf.
Tasya yang sudah kembali duduk karena berhasil menggigit lengan Tian hampir saja melempar tempat pensil pada Yusuf yang ember.
Rama menoleh pada Yusuf bergantian pada Nara yang diam dan nyengir, "cowok siapa?" tanya Rama.
"Anak baru kelas MIPA 2, gleukk!" Nara menelan salivanya sulit.
Pemuda itu mengeluarkan plester dari sakunya dan mengambil alih tissue yang sudah dibasahi air, lalu memasanglan plester berwarna coklat di lutut Nara.
"Lain kali hati-hati, merhatiin cowok sampai jatoh gini!" cibir Rama melihat senyuman yang tanpa rasa marah dan cemburu di wajah Rama membuat Nara menatap Rama nyalang.
"Siapa emangnya?" tanya Rama lagi. Nara jadi mengingat pertengkaran Rama dengan Willy dulu, ia tak mau Rama kembali mendapatkan masalah.
Dengan berat hati Nara meloloskan nama itu, "Kenzi..." matanya sudah berkaca-kaca.
"Kamu jangan layanin kalo misalnya---" Rama sampai menautkan alisnya terheran-heran saat Nara tak melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa ai kamu, eh---kok nangis?" ia semakin bingung melihat Nara meloloskan air matanya.
"Sakit gitu lukanya?" tanya Rama ia lantas mengecup luka yang terbalut plester di lutut Nara, cup!
"Dah sembuh!"
Ia juga mengambil pulpen dan menuliskan maha karya maestro.
INI LUKA ! --- Nara ❤ Rama
Kini plester coklat itu bertuliskan kalimat absurd Rama.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan ih?" tawa kecil Rama.
"Biar estetik!" jawabnya.