
"Mau pulang sekarang?" tanya Rama yang baru saja pulang dari masjid.
"Iya," angguk Nara yang sudah gelisah menunggu Rama pulang, pasalnya ini sudah malam.
"Ya udah, aku ganti dulu baju ya. Tunggu sebentar!"
Ganti bajunya ala laki-laki itu beda dengan perempuan, sat-set langsung siap.
"Ya udah, kamu pulang deh! Aku masuk," titah Nara tapi Rama menggeleng. "Ngga enak kalo ngga nyapa dulu abang, kesannya aku ngga sopan udah anter kamu telat terus kabur!"
Pemuda itu ikut masuk, dan menggandeng tangan Nara ke dalam. Akhsan sudah duduk di sofa tengah berteman sebatang rokok dan ponsel.
"Assalamu'alaikum bang, maaf gue nganterin Nara nya kemaleman," bukan Nara yang meminta maaf atau ijin melainkan Rama.
Senyum Akhsan tersungging, tanda cowok gentle ya begini--bukan berlindung di balik badan perempuan tapi ia sendiri yang berhadapan, "ngga apa-apa, gue percaya sama lo!"
"Kalo gitu, gue pamit bang, udah malem. sorry ngga nemenin mabar kali ini bang," ucap Rama.
"Aha-ha-ha iya ngga apa-apa lah, next time ya?" jawab Akhsan seperti sudah akrab lama saja.
"Ra, aku pamit pulang ya?!" Rama mengacak rambut Nara gemas.
"Iya, hati-hati!" balasnya.
"Kamu dah makan Ra?" tanya Akhsan.
Nara menaruh tasnya sembarang dan melengos mengambil minum, "udah tadi di rumah Rama."
"Oh, jadi ke rumah Rama tuh cuma buat numpang makan." tembak Akhsan.
"Kalo ngomong tuh disaring kenapa sih!" sungut Nara, kalau tak ingat kualat sudah ia siramkan air di gelasnya pada abangnya.
Nara naik ke lantai atas untuk mengambil handuknya lalu kembali ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kembali ke bawah sambil menenteng buku pelajaran.
"Lo tuh mau ngerjain tugas apa mau nonton sih?" tanya Akhsan.
"Mau ngerjain tugas sambil nonton," jawab Nara acuh, ia lebih memilih memindahkan chanel tv mencari acara yang menurutnya asik, lalu membuka bukunya.
Tapi baru saja remote disimpan di meja, Akhsan sudah mengambilnya kembali dan memindahkan chanel televisi ke acara yang ia inginkan, otomatis Nara merengut manyun.
"Ih! Jangan dipindah kenapa sih!"
"Ck! Udah--belajar mah belajar aja!" jawabnya.
__ADS_1
"Tadi sore temen-temen kamu datang kesini nanyain,"
"Nanyain siapa?" tanya Nara.
"Nanyain bi Asih! Ya nanyain lo lah, masa nanyain papa!" matanya tetap fokus ke layar tv.
"Temen-temen---maksud abang temen komplek?" Nara hanya mau memastikan saja.
"Iya lah! Emang temen lo siapa lagi? Kaya yang punya temen banyak aja," jawab Akhsan sengak.
"Mau ngapain---" tanya Nara pada dirinya sendiri terkesan malas saja bukankah tadi di sekolah mereka bilang tak mau lagi berteman?
"Tau, lo punya utang kali!" gidikan bahu Akhsan berbeda kontras dengan tebakannya.
"Enak aja!" sergah Nara tak merasa.
"Terus abang jawab apa?"
"Gue jawab aja lo lagi bareng Rama, lagi pacaran!" tembaknya santai mengambil toples keripik.
"Terus ?" Nara yang semula sudah ingin menulis mendadak menyimpan pulpennya karena penasaran dengan reaksi mereka.
"Aduhhh sakit be go!" Nara mengusap-usap kepalanya.
*Ting*! ponsel Nara berdenting, notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.
Yang pertama jika ia telah ditambahkan ke dalam grup wa kelas MIPA 3, oleh admin Mutiara. Dan yang kedua pesan yang sukses membuat Nara tersenyum-senyum kurang se-ons.
Rama mengirimkan fotonya yang sedang memegang kertas bertuliskan,
...***Selamat malam calon makhrom, have a nice dream, mimpiin aku ya***--"...
Nara cengengesan sendiri, pasalnya tulisan itu dibubuhi tanda bibir tebal nan merah, entah bibir dengan lipstik siapa itu.
Wajah Rama memang tak setampan aktor Korea, namun sungguh Nara sudah jatuh cinta dengan semua kelebihan dan kekurangannya, apalagi sifatnya yang humoris namun tidak dibuat-buat.
"*Hooaammmm*...."
Nara segera membereskan buku lalu pergi ke kamar dan tidur.
__ADS_1
*Have a nice sleep too Rama*---
Nara masih bermalas-malasan di kasurnya. Agendanya sih-- hari ini, ia bersama Akhsan akan menjemput kepulangan papa dari rumah sakit.
"Ini kalo diterusin pasti bawaannya gue merem lagi, mesti di segerin nih!" Nara bangun dan berniat untuk lari muterin konplek barang seputer dua puter yang penting keringetan dan segeran. Ia turun dari kamarnya dengan stelan olahraga.
"Tumben, mau kemana?" tanya Akhsan, pagi-pagi ia sudah ada di meja makan menikmati sarapan paginya.
"Mau lari muterin komplek bentar," jawab Nara menyimpulkan tali sepatunya.
"Ooohh, kirain mau lari--lari dari kenyataan!" tawanya mengejek. Nara memutar bola mata hitamnya.
Dihirupnya udara pagi, dan memulai berlari kecil.
"Hay," sapa seorang gadis mensejajarkan larinya disamping Nara secara tiba-tiba.
"Hay," Nara membalasnya, ia mengerutkan dahi, sepertinya gadis ini tinggal disini juga namun belum pernah bertemu dengan Nara.
"Aku Kirana, rumahku di ujung situ!" ia menunjukkan letak rumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumah Nara. Entah Nara yang terlalu sibuk dan jarang keluar entah memang gadis itu baru muncul ke permukaan sejak Nara tinggal disini, ia belum pernah bertemu sekalipun.
"Aku---"
"Nara! Iya kan?" tembaknya tepat, Nara mengangguk.
"Aku tau kok, dari pertama kamu datang kesini, aku liat cuman---" ucapan nya tersendat-sendat karena kedua gadis ini sambil berlari.
"Duduk di sana dulu yu cape," ajaknya.
"Boleh," Nara mengekor.
Terlihat dia merenggangkan kakinya, "aku mau kenalan sama kamu cuman, keburu keduluan sama mereka!" ucapnya tersenyum miring.
"Mereka ?" Nara menautkan alisnya.
"Willy, Inggrid, Gibran sama Dea," jawabnya pelan, ia menatap lurus tapi bukan jalanan yang sedang ia perhatikan, lebih seperti sedang menerawang kejadian yang lalu.
Lalu kini tatapannya beralih pada Nara dan tersenyum, "terus baru kesampaian sekarang, aku liat sekarang kamu ngga terlalu deket sama mereka lagi, aku liat kamu sering dianter jemput sama cowo pake motor berisik---" kekehnya, Nara pun ikut tertawa. Ia setuju suara knalpot motor Rama itu berisiknya minta ampun. Dari ujung komplek ke ujung lagi semua penghuni blok bisa dengar, makanya Nara sudah tau dari ujung blok kalau Rama datang.
"Dia cowo baik kok! Aku tau, beberapa kali aku pernah liat dia," jawab Kirana membuat Nara menatap aneh pada gadis disampingnya, seolah lebih hafal Rama ketimbang dirinya.
"Kalo ngga salah Ramadhan kan namanya," tambahnya lagi.
"Loh! Kamu tau Rama? Seingetku, kamu bukan murid sekolah, dimana aku sama yang lain sekolah?" Nara semakin kebingungan.
"Iya, sempet tau aja! Dia temen Willy kan? Aku cuma tau aja---pernah jalan bareng sama Willy cs tapi abis itu bubar jalan, karena pikiran yang ngga sejalan!" senyumnya kecut tapi seakan menyimpan begitu banyak misteri. Bukankah Rama dan Willy itu bagaikan rival abadi? Tapi ia bilang tadi teman?
"Aku duluan ya, kalo butuh temen--kamu tau rumahku kan?!" ia berdiri dari duduknya, "bye!"
"Bye!" balas Nara, banyak pertanyaan yang bersarang di otak Nara sekarang, gadis yang bernama Kirana ini---yang tiba-tiba datang dan mengakui mengenal Rama, lalu ucapannya yang mengatakan jika Rama dan Willy berteman.
"Aneh."
"Boncel! Buruan ntar kita telat! Dandan lama amat kaya manten!" teriak Akhsan dari ambang pintu rumah.
"Iya sebentar!"
"Mama sama papa pasti udah nungguin! Kalo sampe 5 menit ngga muncul abang tinggal nih!"
"Iya ih bawel!" Nara turun dengan tergesa bahkan sepatunya ia tenteng sampai masuk mobil.
.
.
.
__ADS_1